Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pengantin
Hening menyelimuti perjalanan Damian dan juga Bintang menuju ke tempat yang akan menjadi rumah baru bagi gadis itu. Sepanjang perjalanan hanya terdengar deru mesin mobil dan juga petir yang saling bersahut sahutan juga hujan yang lumayan lebat mengguyur kota pada malam itu.
"Bagaimana rasanya menjadi mempelaiku? Tidak, maksudku bagaimana rasanya mencuri kursi pengantin milik Lidya?Apakah kau puas?"Tanya Damian dengan dingin, pria itu bahkan sama sekali tidak menatapnya saat menanyakan hal yang menurut Bintang sama sekali tidak masuk akal.
"Kenapa diam saja? Udah bisu ya? Atau ngerasa malas ngomong karna sudah menjadi istri milyader?"Tanya Damian tanpa landasan apapun.
"Maaf, tuan."Balas Bintang dengan nada pelan. Gadis itu tertunduk, selama ini yang dia pelajari dari keluarga Bramono jika mereka marah tak peduli Bintang salah atau pun tidak gadis itu hanya bisa diam dan menerima segalanya. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan,mengingat Bintang juga berpikir tidak perlu menjelaskan apapun karna dia pasti akan di tetapkan sebagai tersangka saat ini.
"Maaf? Kau piki maaf bisa mengembalikan Lidya kepadaku, huh? Kau pikir maaf bisa mengembalikan uang pernikahan impian yang sudah ku persiapkan untuk Lidya, begitu?"Tanya Damian dengan amarah yang sudah hampir mencapai ujung kepala. Pria itu menginjak pedal gasnya dalam dalam, membuat Bintang hanya bisa diam dan memejamkan matanya sementara pria itu melakukan segala yang di inginkannya.
'Ya tuhan selamatkan aku, aku masih ingin mencari kedua orang tuaku.' Bintang tak henti hentinya merapalkan doa saat di perjalanan menuju ke rumah baru Damian.
Sampai akhirnya, entah di menit yang keberapa kecepatan mobil itu melambat saat mereka sudah berada di halaman sebuah rumah mewah yang sepertinya akan menjadi neraka baru baginya.
"Mungkin kamu pikir kamu sudah berhasil merebut posisi kekasihku, tapi kamu salah Bintang. Sampai kapan pun hanya Lidya yang ada di hatiku!"Ujar Damian dengan nada pelan.
"Turun!"Titahnya dengan nada dingin.
"Maaf, tuan."Balas Bintang, dia bahkan sama sekali tidak tahu untuk apa dia mengucapkan kata kata itu sejak pagi tadi.
"Aku tidak ingin mendengar kata maaf dari kamu! Sekarang turun dari mobilku, gadis menjijikkan."Ujar Damian tanpa berperasaan.
Tanpa menjawab, Bintang pun langsung keluar dari mobil Damian seperti yang di inginkan oleh pria itu. Tak lama setelah dia turun mobil itu pun langsung melesat pergi, meninggalkan Bintang di bawah guyuran hujan yang nampak sangat lebat malam itu.
"Ini benar benar tidak seperti pernikahan yang aku impikan."Gumam Bintang, air matanya perlahan jatuh dan membasahi pipinya di bawah rintik hujan dan juga hiruknya petir malam itu.
Dulu, dalam bayangannya pernikahan akan menjadi satu satunya hal yang dia impikan.Karna dalam ikatan itu, dia akan membangun rumahnya yang semula rusak dan menjadikannya tempat bernaung. Tapi ternyata dia salah, pernikahan bukanlah hal yang membahagiakan seperti yang dahulu dia dambakan.
Di tengah guyuran hujan itu Bintang melangkahkan kakinya dengan gontai menuju ke arah rumah besar itu. Rintik hujan malam itu terasa sangat menyakitkan bagi Bintang yang dahulu sangat mencintai hujan.
"Permisi."Ujarnya, dia mengetuk pelan pintu rumah itu tapi tak peduli berapa lama pun dia mengetuknya tak ada jawaban sama sekali dari dalam sana.
Rumah itu nampak sangat hening, seolah tak ada kehidupan sama sekali di dalam sana, " Apa tuan Damian memang sengaja meninggalkan aku di sini untuk menyiksaku? Karna tidak ada orang sama sekali di sini?"Gumam Bintang tepat sasaran, gadis itu terduduk lemas. Air hujan sudah membasahi dirinya bahkan hingga ke helai pakaian terdalamnya.
"Sakit banget.."Ujar Bintang, entah perutnya yang sakit karna lapar, kakinya yang sakit karna heels atau mungkin hatinya yang terasa sakit? Tidak peduli berapa kali pun dia berpikir, dia sama sekali tidak mendapatkan jawabannya.
Tanpa ada pilihan lain, Bintang akhirnya terduduk lemas di teras rumah itu. Memeluk dirinya sendiri dengan harapan pagi akan segera menyingsing dan menyelamatkannya dari dinginnya hujan pada malam ini.
Sementara itu di saat yang bersamaan, setelah meninggalkan Bintang. Damian memilih untuk menghabiskan malam pengantinnya di bar langganannya. Pria itu melangkahkan kakinya dengan terburu buru menuju ke room yang sudah dia pesan sebelumnya.
"Wow wow, pengantin baru macam apa yang menghabiskan malam pengantinnya di bar seperti ini?"Tanya Leon, sahabat dekat Damian. Dia jelas tahu apa yang baru saja terjadi kepada pria itu.
"Diam kau."Ujarnya, pria itu mengambil botol wine yang ada di atas meja kemudian menenggaknya hingga tandas.
"Pelan pelan, bro! Wine itu tidak akan hilang."Ujar Leon yang nampak panik ketika Damian tergesa gesa menenggak minuman keras itu.
"Aku akan menyiksanya."Ujar Damian dengan dingin.
"Aku akan membuatnya menyesal!"Imbuhnya dengan nada pelan dan sarat dengan kebencian.
"Kamu yakin? Jangan sampai kamu menyesal."Ujar Leon memperingatkan.
"Apa yang perlu aku sesali? Gadis itu pantas mendapatkan ganjaran karna sudah membuat Lidya kabur dari pernikahan ini."Jawab Damian tanpa adanya keraguan bahkan sedikit pun.
"Kamu yakin dia yang membuatnya kabur? Dia nampak sangat polos dan ringkih."Ujar Leon yang nampak sedikit ragu.
"Lidya tidak mungkin meninggalkan aku jika bukan karna gadis itu. Dia pasti melakukan sesuatu agar Lidya meninggalkan pernikahan kami, aku yakin."Ujar Damian dengan nada tegas tak terbantahkan.
"Semoga saja apa yang kamu katakan benar adanya, jika tidak kamu pasti akan sangat menyesal."Ujar Leon, lagi lagi dia memberikan peringatan kepada Damian.
"Aku tidak akan menyesal, tidak akan pernah."Ujar Damian. Setelah mengatakan itu dia pun langsung mengakhiri percakapan itu dan kembali menenggak minumannya sampai pagi menjelang.