"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Waktu makan siang telah datang. Para pekerja di perusahan itu sudah berada di kantin perusahaan, mengantri untuk mendapatkan makan siang yang ditanggung perusahaan.
Beberapa lainnya ada yang menerobos begitu saja. Tanpa yang mengantri bisa protes. Itu bukanlah pemandangan baru. Lily yang sudah bertahun-tahun di dunia kerja, sudah sering melihat, sikap arogan seperti itu.
Saat tiba gilirannya, tiba-tiba antrian kembali disela, membuat Lily tersentak dan mundur dengan langkah kecil.
Ia melihat Daisy dengan wajah sinisnya mengambil nampan makanan. Lily hanya bisa menghela nafas tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Tadi pagi apa maksudmu mual setelah aku bicara?" sahut Daisy membalikkan tubuh ke arah Lily, dengan mengangkat nampan di sebelah wajahnya, seolah akan digunakan untuk memukul.
Lily mengangkat sebelah alisnya, membuatnya teringat dengan ucapan Vina tadi pagi.
"Orang-orang yang berhubungan dengan Pak Axton punya kuasa di sini. Jadi, sebisa mungkin hindari konflik. Terutama sama Daisy, dia sangat mudah emosi, dan sudah beberapa orang yang di pecat karena bermasalah dengannya."
Mengingat itu membuat Lily kini berpikir apa yang harus dijawabnya. "Tidak ada maksud apa-apa. Saya hanya ada asam lambung," jawab Lily seadanya.
Daisy terdiam meski tatapan tajamnya masih menyorot. Ia menurunkan nampannya menggantung di tangan, sedang tangan lainnya berkacak pinggang.
"Oh ya? Kau yakin tidak menipuku?"
Lily langsung menjawab. "Perusahaan mempunyai kebijakan memberikan riwayat kesehatan saat melamar kerja. Saya baru diterima kerja dua hari. Ibu bisa mengecek riwayat kesehatan saya."
Daisy berdecih, matanya mendelik, tanpa mengatakan apapun, ia mengambil makanan yang tersedia. Membuat Lily menghela nafas lega, karena artinya ia terlepas.
"Lagian hal seperti itu dipertanyakan. Padahal jelas karena dia punya suami malah berhubungan dengan pria lain. Aneh, menjijikkan!" batin Lily turut mengambil makanan, diikuti beberapa orang di belakangnya.
"Ayo kita makan di sana," ajak Vina menunjuk tempat di sudut.
"Ayo," angguk Lily setuju.
Sampai di meja sudut. Vina dan Lily duduk berdampingan.
Vina langsung berucap, "untung saja kamu kasih alasan logis. Dan ya, sepertinya, masih banyak yang harus ku ajari padamu."
Lily mengulum senyum, dan mengangguk. "Terima kasih."
"Pokoknya ingat saja. Jangan pernah lawan atau bantah ucapan orang-orang yang berhubungan dengan Pak Axton," ucap Vina.
"Ya aku mana tau siapa saja wanita-wanita itu."
Vina terdiam, mengerjapkan mata menatap Lily, tampak bingung apa yang harus diucapkan. Ia lalu menatap sekitar, di mana para wanita di perusahaan itu, memakai pakaian terbuka.
"Ya, pokoknya lumayan banyak. Tidak semua, tapi banyak. Yang pasti cleaning service seperti kita cuma Maria, dia arogan jadi hindari berdebar dengannya juga," ucap Vina.
"Hm, oke."
Vina mengangguk, menatap beberapa wanita di sana, lalu menunjuk. "Nah yang pake blazer merah tanktop putih itu, jangan dilawan. Dia juga arogan."
Lily memperhatikan, lalu mengangguk. "Hm oke."
Seseorang tiba-tiba duduk di depan Lily, yang juga merupakan cleaning service di sana. "Di sini bukan hanya Pak Axton yang memakai karyawan wanitanya, beberapa petinggi perusahaan juga mengikuti jejaknya," ucapnya.
"Hah?" Lily terkejut mendengar fakta itu. Lalu menatap beberapa pria yang diyakini memiliki posisi tinggi, di sana yang memang tampak menyentuh bagian tubuh wanita di sebelahnya.
"Astaga, ternyata tempat ini sangat kotor," batin Lily merasa dirinya akan semakin menyerah.
"Itu benar Lily. Dan wanita yang berhasil tidur dengan atasan-atasan itu pasti memiliki posisi kuat. Tapi, khusus untuk Pak Axton jika dia sudah mencicipi satu wanita maka atasan lainnya tidak boleh menyentuhnya, karena itu jadi milik Pak Axton saja," ucap Vina yang membuat Lily semakin memandangnya horor.
"Axton kau sudah sangat menjijikkan!" batin Lily merasa tubuhnya merinding.
"Kamu sendiri sudah tidur dengan atasan-atasan itu?" tanya Lily menatap Vina dengan tatapan curiga.
"Tidak, aku jelek. Hanya bisa membayangkan, hm," ucap Vina yang tampak mengasihani dirinya.
"Tapi kamu punya potensi untuk dilihat Lily, kamu cantik, dan manis."
Bola mata Lily melebar, tubuhnya merasa merinding mendengar pujian itu. "Jangan seperti itu Hendry, kalau bukan karena gajinya tinggi demi biaya pengobatan ibuku, mana mau aku bekerja di sini. Meski aku bukan lagi perawan, bukan wanita baik-baik yang menjaga diri. Tetap saja, satu pria yang banyak wanita itu menjijikkan," celetoh Lily yang nyaris tak memiliki semangat kerja.
Hendry mengulum senyum dan menganggukkan kepala. "Ya aku paham. Kalau kamu tidak mencolok, kamu tidak akan dilirik. Kamu akan aman."
Lily menghela nafas kasar. "Gimana tidak mencolok, aku di sini bahkan karena Axton, si pembuat aturan itu," batinnya menggerutu.
"Itu benar, kalau kamu tidak mau, jangan pernah mencolok," ucap Vina lalu melirik Hendry.
"Nah lihat, Hendry cukup tampan, di sini bukan hanya atasan pria yang bisa meminta karyawan perempuan melayani, tapi atasan perempuan juga bisa meminta ke laki-laki, tapi hingga saat ini, Hendry aman, karena dia selalu bersembunyi dari pandangan wanita-wanita haus belaian itu," ucap Vina yang membuat Lily hanya bisa menghela nafas kasar, karena semakin mendengar informasi yang membuatnya syok.
Vina mendekat, lalu berbisik pelan yang masih bisa di dengar Hendry. "Pastinya atasan wanita yang menarik karyawan pria, tidak ada yang cantik, semuanya biasa saja, dan tidak menarik di mata Pak Axton."
"Tempat ini selalu diagungkan di luar sana. Disebut luar biasa, dan gaji tinggi, itu sebabnya aku ke sini, tapi Axton sialan, aturan konyolnya, membuatku harus terjebak sekarang!" batinnya menggerutu.
"Satu lagi ...."
"Maaf Vina. Terima kasih informasinya, tapi cukup sampai sini dulu. Aku mulai mual mendengarnya," potong Lily menghentikan Vina yang ingin bicara lagi.
"Oh, oke. Nanti kita lanjut," ucap Vina akhirnya diam dan mulai menikmati makanannya.
Hendry menyodorkan botol minum yang sudah dilonggarkan penutupnya. "Sudah tidak perlu dipikirkan. Ingat saja jangan mencolok, maka kamu akan aman," ucapnya.
Lily mengulum senyum, dan mengangguk. "Iya," jawabnya menerima minuman itu dan meneguknya, berharap perasaan mual itu segera menghilang.
Kantin yang tadinya sedikit tenang, dan hanya ada suara-suara obrolan kecil, menjadi sedikit riuh, membuat Lily menoleh ke sumber suara.
"Eh, selamat siang pak Axton," sapa mereka pada sosok bos mereka itu.
Axton hanya mengangguk sembari terus berjalan. "Pak Axton, ayo duduk di sini," ajak Daisy menepuk kursi di sebelahnya.
Axton tidak menggubris. Membuat Daisy cemberut. Beberapa lainnya ikut memanggil, dengan suara rayuan menggoda. Namun, tak satupun yang ditanggapi.
Hingga Axton berhenti di meja yang sama dengan Lily. Meja panjang yang bisa menampung beberapa orang.
Axton menarik kursi kosong di meja itu. Maria yang berada di meja yang sama, langsung menghampiri. "Eh, Pak Axton mau makan bareng? Saya ambilkan makanan dulu ya," ucap Maria dengan senyuman manisnya.
"Tidak perlu," ucap Axton cepat.
Axton menoleh menatap ke arah Lily, membuat Lily langsung mengalihkan pandangannya.
"Lily Gabriella, ambilkan aku makanan!" Perintah Axton dengan suara lantang yang membuat Lily langsung meringis.
"Akh, lihat bukan aku yang ingin mencolok, tapi dia yang membuatku mencolok!" ringis Lily.