NovelToon NovelToon
Aluna : Bayang - Bayang Luka

Aluna : Bayang - Bayang Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pelakor / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Naik ranjang/turun ranjang / Cintapertama
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Surat dari Surga

​Aku terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuh. Bau obat-obatan yang tajam langsung menyerbu indra penciumanku, memaksaku sadar bahwa kejadian semalam bukanlah mimpi buruk belaka. Itu nyata.

​Aku melirik punggung tanganku. Infus kembali terpasang. Rupanya aku pingsan cukup lama setelah Arvino menghempaskanku di ruang operasi.

​"Sudah sadar?"

​Suara berat Papa terdengar dari sofa di sudut ruangan. Beliau duduk membungkuk, kacamata medisnya tergeletak di meja, matanya bengkak dan merah. Papa terlihat menua sepuluh tahun hanya dalam satu malam.

​"Pa..." suaraku parau, tenggorokan terasa kering kerontang. "Mbak Sarah... dimana?"

​Papa tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah jendela dengan dagunya. Di luar, langit Jakarta berwarna abu-abu pekat, menurunkan hujan rintik-rintik yang seolah ikut berduka.

​"Jenazahnya sudah dimandikan. Kita akan memakamkannya siang ini," ujar Papa pelan, nyaris tak terdengar.

​Aku memaksakan diri untuk bangun, mencabut selang infus di tanganku dengan kasar. Darah merembes sedikit, tapi aku tidak peduli.

​"Aluna, jangan..." Papa mencoba menahan, tapi beliau pun tampak tak bertenaga.

​"Aku harus melihatnya, Pa. Sekali lagi. Sebelum dia ditimbun tanah," ucapku sambil menahan tangis.

​Aku berjalan tertatih keluar dari ruang rawat inap VIP itu. Koridor rumah sakit yang biasanya terasa seperti rumah kedua bagiku, kini terasa seperti labirin kematian. Setiap perawat dan dokter yang berpapasan denganku menunduk, menghindari tatapan mataku. Mereka tahu. Semua orang tahu putri pemilik rumah sakit meninggal di meja operasi, dan adiknya ada di sana.

​Sesampainya di rumah duka, suasana hening mencekam. Isak tangis Mama terdengar paling dominan.

​Aku melangkah masuk, dan seketika atmosfer ruangan berubah.

​Mama yang sedang duduk di samping peti mati Sarah langsung mendongak. Tatapannya penuh amarah. "Untuk apa kau ke sini? Belum puas kau melihat kakakmu terbujur kaku?"

​"Ma, aku ingin mendoakan Mbak Sarah..."

​"Pergi!" Mama melempar kotak tisu ke arahku. Kotak itu mengenai bahuku, tapi sakitnya tak seberapa dibanding perih di hati. "Kau pembawa sial! Sejak kau pulang, rumah ini jadi neraka!"

​"Ma, sudah," Ardo menahan tangan Mama.

​Mataku mencari sosok Arvino. Dia duduk di sudut ruangan, jauh dari keramaian pelayat. Dia menggendong buntalan kain putih di pelukannya. Lili.

​Arvino menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Dia seperti patung. Tidak bergerak, tidak menangis, tidak berkedip. Dia terlihat mati rasa.

​Aku memberanikan diri mendekatinya. Aku ingin melihat wajah keponakanku. Satu-satunya peninggalan Mbak Sarah.

​"Kak Vino..." panggilku pelan.

​Arvino tidak menoleh. Dia hanya mengeratkan pelukannya pada bayi itu, seolah melindunginya dari virus berbahaya.

​"Boleh aku... melihat Lili?" pintaku ragu.

​Perlahan, Arvino menoleh. Tatapannya membuat darahku membeku. Tidak ada lagi kemarahan berapi-api seperti semalam, yang tersisa hanya dingin yang menusuk tulang.

​"Jangan berani-berani kau menyentuhnya," bisik Arvino datar. "Tanganmu kotor. Kau yang membunuh ibunya. Jangan harap kau bisa menyentuh anaknya."

​"Kak, itu kecelakaan medis... tolong jangan seperti ini..."

​"Pergi dari hadapanku, Aluna. Atau aku akan memanggil satpam untuk menyeretmu keluar dari pemakaman kakakmu sendiri."

​Aku mundur perlahan. Air mataku jatuh tanpa suara. Di tengah ratusan pelayat yang hadir, aku merasa benar-benar sendirian. Diasingkan oleh keluargaku sendiri di hari kematian kakakku.

​Pemakaman berlangsung di bawah guyuran hujan deras. Langit seakan menumpahkan seluruh kesedihannya.

​Aku berdiri paling belakang, bernaung di bawah payung hitam yang dipegang oleh sopir keluarga. Aku melihat peti putih itu perlahan diturunkan ke liang lahat. Aku melihat Arvino yang turun ke bawah, mengazankan jenazah istrinya dengan suara bergetar hebat yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.

​Saat gundukan tanah merah itu mulai meninggi, menutupi peti Mbak Sarah selamanya, separuh jiwaku ikut terkubur di sana.

​"Selamat jalan, Mbak," bisikku pada angin. "Maafkan aku yang tak bisa menyelamatkanmu."

​Setelah prosesi selesai dan para pelayat mulai pulang, keluarga inti berkumpul di ruang tengah rumah Hardinata. Suasana suram masih menggantung tebal.

​Nenek duduk di kursi rodanya, memegang sebuah amplop berwarna biru muda. Amplop yang sangat ku kenal. Itu jenis kertas surat kesukaan Mbak Sarah.

​"Sebelum kalian larut dalam saling menyalahkan," suara Nenek memecah keheningan. "Ada sesuatu yang harus kalian dengar. Sarah menitipkan surat ini pada Nenek dua minggu lalu. Dia bilang, 'Nek, simpan ini. Buka kalau terjadi sesuatu padaku saat melahirkan.'"

​Jantungku berdegup kencang. Arvino yang sedang menimang Lili di sofa langsung mengangkat wajahnya.

​"Surat apa?" tanya Arvino tajam.

​"Wasiat istrimu," jawab Nenek. Beliau membuka amplop itu dengan tangan gemetar, lalu mulai membacanya.

​Untuk Suamiku tercinta, Arvino. Dan Adikku tersayang, Aluna.

​Jika kalian membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada di sana untuk memeluk kalian. Jangan menangis terlalu lama ya? Nanti cantiknya luntur, nanti gantengnya hilang.

​Vino sayang, maafkan aku. Sebenarnya aku tahu kandunganku bermasalah sejak bulan ke-7. Dokter bilang plasentaku lemah dan posisinya berbahaya. Tapi aku melarang dokter memberitahumu. Aku takut kamu akan menyuruhku menggugurkannya demi keselamatanku. Aku tidak mau, Vino. Aku ingin memberimu keturunan. Aku ingin menjadi ibu yang sempurna.

​Jadi tolong, jangan salahkan siapapun atas kepergianku. Ini pilihanku.

​Dan untuk Aluna, adik kecilku yang jenius. Maafkan Mbak ya sering merepotkanmu. Mbak tahu kamu mencintai Arvino. Jangan elak, Mbak tahu dari tatapan matamu selama ini. Kamu selalu mengalah untukku.

​Vino, Aluna... aku punya satu permintaan terakhir. Permintaan egois dari orang yang akan pergi.

​Lili butuh seorang ibu. Aku tidak percaya pada wanita lain di luar sana untuk mengurus putriku dan suamiku. Aku hanya percaya pada darah dagingku sendiri.

​Vino, menikahlah dengan Aluna.

Aluna, tolong gantikan tempatku. Cintai Lili seperti anakmu sendiri. Cintai Arvino seperti kamu mencintainya diam-diam selama ini.

​Berjanjilah padaku. Ini satu-satunya cara agar aku bisa pergi dengan tenang.

​Aku mencintai kalian selamanya.

​Sarah.

​Hening.

Keheningan yang memekakkan telinga.

​Aku menutup mulutku dengan tangan, menahan isak tangis yang meledak. Mbak Sarah tahu? Dia tahu tentang perasaanku? Dan dia menyembunyikan penyakitnya sendiri?

​"Omong kosong!"

​Arvino tiba-tiba berdiri, membanting vas bunga di meja hingga pecah berkeping-keping. Bayi Lili menangis kaget mendengar suara pecahan itu.

​"Ini pasti rekayasa!" Arvino menunjuk Nenek, lalu menunjukku. "Kalian bersekongkol kan?! Aluna memalsukan surat ini supaya dia bisa memilikiku!"

​"Jaga mulutmu, Arvino!" bentak Papa yang sedari tadi diam. Papa mengambil surat itu dari tangan Nenek. "Ini tulisan tangan Sarah. Papa hafal tulisan putri Papa!"

​"Aku tidak mau!" tolak Arvino keras. Wajahnya merah padam karena amarah. Dia menatapku dengan jijik. "Menikah dengan pembunuh istriku? Menikah dengan wanita yang membiarkan kakaknya mati? Lebih baik aku mati!"

​"Tapi ini permintaan terakhir Sarah, Vino," ucap Mama lirih. Mama yang tadi membenciku, kini tampak bingung. Wasiat orang meninggal adalah hal sakral bagi Mama. "Kalau kau menolak, arwah Sarah tidak akan tenang."

​"Persetan dengan wasiat!" teriak Arvino. "Dia..." Arvino menunjuk tepat ke wajahku. "...Wanita ini pasti senang sekali sekarang. Rencananya berhasil. Kakaknya mati, dan sekarang dia dapat 'hadiah' suaminya."

​Aku menggeleng kuat, air mata membanjiri wajahku. "Tidak, Kak... Aku tidak pernah menginginkan ini dengan cara seperti ini..."

​"Cukup!" sela Papa tegas. Aura otoritasnya kembali muncul.

​Papa menatap Arvino, lalu menatapku.

​"Lili butuh ibu yang bisa menyusuinya. Lili butuh sosok yang memiliki darah yang sama dengan Sarah. Dan Sarah sudah memintanya," kata Papa dingin. "Minggu depan, setelah tahlilan 7 hari, kalian akan menikah."

​"Pa!" aku terbelalak.

​"Saya tidak sudi, Pa!" bantah Arvino.

​"Kalau kau tidak mau menikah dengan Aluna," Papa menatap Arvino tajam, "Maka hak asuh Lili akan Papa ambil. Papa akan bawa Lili pergi jauh darimu karena kau jelas-jelas tidak stabil secara emosional untuk mengurus bayi."

​Ancaman itu telak.

Wajah Arvino memucat. Kehilangan Sarah sudah membuatnya gila, dia tidak akan sanggup jika harus kehilangan Lili juga.

​Arvino menatapku. Tatapan itu penuh dendam, penuh janji penyiksaan batin yang akan datang.

​"Baik," desis Arvino, suaranya terdengar seperti geraman hewan buas. "Aku akan menikahinya. Demi Lili. Dan demi wasiat Sarah."

​Dia berjalan mendekatiku, membisikkan sesuatu tepat di telingaku yang membuat bulu kudukku berdiri.

​"Siapkan dirimu, Aluna. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Kau akan menjadi Nyonya Raharja. Tapi aku bersumpah, aku akan membuat hidupmu di rumah ini lebih menyakitkan daripada kematian."

​Arvino berbalik dan pergi membawa Lili ke kamarnya, membanting pintu dengan keras.

​Aku terduduk lemas di lantai.

Aku akan menikah dengan pria yang kucintai.

Tapi bukan pernikahan impian yang kudapatkan.

Aku baru saja menandatangani kontrak masuk ke dalam neraka.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
leahlaurance
kabur aja menjau sana aluna.hatinya tetap untuk sarah istrinya
leahlaurance
tungu aja istri mu mati ,mungkin rasa bersalamu sampai masuk kubur
leahlaurance
kenapa si kamu bodoh amat wajai perempuan tingalin aja dia
اختی وحی
trllu bertele² ceritanya, sampe bab ini msih bgitu² aja,kejadian berulang
leahlaurance
kan ada pengasuh
leahlaurance
makanya jangan bodoh,masa enga ada kamar lain
اختی وحی
ada bab yg seolah² mrk ini tinggal bareng sma mertua,tp ad bab yg menjelaskan klw mrk tdk serumah dngn orang tuanya, bingung jg
leahlaurance
perempuan bodoh,kau pantas dapat perlekuan seperti itu.
leahlaurance
bagus bangat ceritanya,jiwa ku ikut terseksa tambah beben fikiran😂🤭
leahlaurance
menurut ku aluna juga punya hak menolok.tapi demi cinta butanya kali ya.
leahlaurance
bertepuk sebelah tangan ya aluna
shabiru Al
sebaiknya jika ingin memulai lagi,, carilah rumah baru agar suasana nya pun baru tanpa ada kenangan menyakitkan dan bayangan sarah
leahlaurance: enga dapak ku bayangkan kalau aku menikah dgn ipar ,walau itu wasiatnya
total 1 replies
shabiru Al
entah dengan cara apa arvino bisa meluluhkan hati aluna
shabiru Al
hukuman yang terberat adalah pengabaian dan rasa yang sudah hilang sepenuhnya
shabiru Al
benar maaf saja tdk cukup untuk satu tahun penyiksaan yang kejam dan tdk berdasar.. enak aja
shabiru Al
aluna yang malang tpi hebat mau bangkit dan ttp maju kedepan💪
shabiru Al
bodoh kalau aluna ttp bertahan demi lili
shabiru Al
ya kirain bakalan berubah fikiran aluna nya,, good aluna setidaknya tdk terlalu tercekik berada dlm atap yang sama
shabiru Al
aku kira aluna tdk akan berani memperjuangkan kebahagiaan nya sendiri kebebasan nya sendiri,, good job aluna... 👍
Yulianti Yulianti
ini udah tamat sampai sini bukan kak
tanty rahayu: belum ka 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!