Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Hendra mengabaikan Marni, menuntun Aisya masuk kamar, dan segera mengunci pintu. Keheningan kamar terasa seperti surga setelah hiruk pikuk amarah dan tuduhan di luar.
Aisya langsung berjalan ke ranjang, ambruk di sana, dan kembali menangis tersedu-sedu. Ia memeluk dirinya sendiri, berusaha meredakan rasa sakit di kepala dan pipinya.
Hendra mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia menghela napas panjang, mengusap bahu Aisya lembut.
“Sayang, lihat Mas,” pinta Hendra pelan.
Aisya mendongak, matanya merah sembab. Hendra menangkup wajahnya, membelai pipi kirinya yang membekas merah karena tamparan Marni.
“Jelaskan ke Mas. Dengan jujur. Ada apa di pasar? Siapa pria itu? Kenapa Ibu sampai menuduh yang tidak-tidak?” tanya Hendra. Tidak ada amarah dalam suaranya, hanya permintaan dan kesedihan.
Aisya menarik napas dalam, menenangkan diri. Ia menceritakan semuanya, dari ketidakmampuannya membeli lauk karena harga mahal, kebingungannya dengan uang lima puluh ribu, hingga saat seorang preman menodongnya.
“Aku sudah pasrah, Mas. Tapi tiba-tiba ada pria itu. Rambutnya gondrong, penampilannya memang kayak preman. Dia langsung nolongin aku. Dia berkelahi, Mas. Terus pisaunya… pisau itu kena lengannya. Darahnya banyak banget.” Aisya bergidik ngeri mengingat kejadian itu.
“Aku nggak tega, Mas. Dia terluka karena aku. Uang belanja itu akhirnya aku pakai beli Betadine sama perban. Aku obatin dia di musala. Aku cuma obatin lukanya, Mas. Sumpah, aku nggak selingkuh. Mas Kaisar itu cuma nolongin.” Aisya menatap Hendra dengan mata memohon.
Hendra mendengarkan tanpa memotong. Ia melihat kejujuran dan ketulusan di mata Aisya. Ia tahu betul, istrinya bukan tipe wanita yang pandai berbohong.
Setelah Aisya selesai bicara, Hendra memeluknya erat-erat, membiarkan Aisya menangis di bahunya.
“Maafkan Mas, Sayang. Maafkan Mas yang bodoh ini. Maaf sudah sempat curiga sama kamu,” bisik Hendra, hatinya terasa remuk melihat penderitaan istrinya.
“Mas… kenapa Mas tadi diam saja waktu Ibu menuduh aku selingkuh?” tanya Aisya lirih, air matanya membasahi kemeja Hendra. “Itu rasanya sakit banget, Mas.”
Hendra melepaskan pelukan, menatap Aisya dengan penyesalan yang mendalam.
“Mas minta maaf, Sayang. Mas janji tidak akan membiarkan Ibu sekejam ini lagi. Mas cuma terlalu terkejut mendengar tuduhan selingkuh. Tapi Mas percaya, kamu nggak mungkin setega itu.”
Hendra bangkit, mengambil kotak obat yang ada di lemari. Ia kembali duduk di samping Aisya.
“Sini, Mas obati lukanya. Pipi kamu memar, Sayang.”
Hendra dengan lembut mengoleskan balsem di pipi Aisya yang memerah.
Tangannya bergerak sangat hati-hati, seolah takut melukai istrinya lebih jauh. Sentuhan Hendra memang lembut, tapi setiap sentuhan itu terasa seperti penyesalan yang tulus.
“Sakit?” tanya Hendra.
Aisya menggeleng, meskipun terasa perih. “Nggak sesakit hati aku, Mas.”
“Mas tahu,” balas Hendra, suaranya pelan. “Mas tahu kamu menderita. Mas tahu Ibu kejam. Mas janji, Mas akan cari jalan keluar. Mas akan cari cara supaya kita bisa cepat punya anak, ya? Mas akan bawa kamu ke dokter terbaik.”
Aisya hanya bisa mengangguk, menerima setiap janji itu. Di tengah badai caci maki Ibu Marni, kelembutan Hendra adalah satu-satunya pelabuhan.
Namun, kelembutan ini terkadang terasa ambigu. Hendra mencintainya, tetapi cintanya terlalu lemah untuk membawanya keluar dari cengkeraman penderitaan ini.
Hendra mencium kening Aisya lama. “Istirahatlah. Lupakan Ibu. Lupakan pasar. Mas akan carikan kita makanan di luar. Tidak ada tahu tempe malam ini.”
Aisya tersenyum tipis. Ia bersandar di dada Hendra, mencari ketenangan.
Meskipun keraguan Hendra telah hilang, Aisya sadar bahwa insiden hari ini telah meninggalkan luka yang dalam, luka yang mungkin tidak bisa disembuhkan hanya dengan janji atau Betadine.
Suatu hari, ia harus memilih, bertahan di dalam rumah penuh nestapa ini, atau memilih kebebasan, meski itu berarti meninggalkan suaminya yang masih ia cintai.
“Semoga kita memang dijodohkan bersama, sampai mau memisahkan Mas.”
lanjut thor 💪💪bnykin bab nya🤣🤣
itu si kaisar tau gak y bapaknya gundik bawahannya jg... 🤔
Hendra jg dipecat biarin dia melihat aisyah bahagia...
jadikan aisyah sekertaris mu biar Hendra dilema
pas sdh tau kebenarannya tth aisyah mau balik jg gk bs karena karir taruhannya sebab aisyah sdh dijaga oleh big boss nya🤣🤣🤣
kau tau bulan aisyah yh seperti sampah tapi kau seperti binatang jd bersyukurlah kau aisyah lepas sr binatang karena hanya binatang lah yg bersenggama tampa menikah dan tanpa mandi junub mengucapkan talak🤣
bersyukur lah kepada Allah krn mata mu dibuka selebarnya dan Allah sayang padamu bahwa kamu tidak di biarkan tidur dengan binatang yg berupa manusia🤣🤣
lebih baik buat Hendra seyakin yakinnya untuk menceraikan mu... percaya aja sma Allah kebenaran itu pasti ada jalannya untuk membuka siapa yg jahat