NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

air mata sang ratu dan nyawa diujung tanduk

Lembah Aethelgard yang biasanya tenang kini diliputi suasana haru yang menyesakkan. Portal dimensi ungu keemasan perlahan menutup di depan sebuah gubuk kayu sederhana, meninggalkan sisa-sisa aroma ozon dan sihir yang terbakar.

Di atas tanah yang lembap, Vani bersimpuh sambil memeluk tubuh Ferdi yang tak berdaya.

Dengan susah payah, Vani memapah tubuh suaminya yang berat. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung tinggi, namun kekuatan cinta memberinya tenaga yang tak masuk akal.

Vani berhasil membawa Ferdi masuk ke dalam kamar mereka. Ia membaringkan tubuh suaminya di atas kasur jerami yang empuk, tempat di mana biasanya mereka tertidur sambil berpelukan setiap malam setelah lelah bertani. Vani duduk di tepi kasur, lalu perlahan mengangkat kepala Ferdi dan meletakkannya di atas pangkuannya.

Tangan Vani yang gemetar mulai membelai rambut Ferdi yang kotor oleh debu peperangan dan darah kering. Di sana, di dalam kesunyian kamar yang hanya diterangi oleh sinar bulan dari balik jendela, tangis Vani pecah. Namun, di tengah isak tangisnya, sifat aslinya tidak hilang.

"Kau bodoh, Ferdi... hiks... kau benar-benar pria paling bodoh yang pernah aku temui," bisik Vani dengan suara serak. "Kenapa kau harus melakukan itu? Kenapa kau harus melawan sembilan alam sendirian? Kau pikir kau ini apa? Dewa? Kau itu hanya suamiku, Ferdi! Hanya seorang petani!"

Vani mulai membuka sisa-sisa zirah hitam Ferdi yang telah hancur. Saat ia menyingkap bagian perut sebelah kiri, jantung Vani seakan berhenti berdetak. Sebuah lubang menganga, hasil dari serangan kombo sembilan panglima alam, terlihat sangat mengerikan. Daging di sekitar luka itu menghitam karena racun sihir, dan darah terus merembes keluar.

"Lihat ini! Perutmu berlubang, Ferdi! Hiks... bagaimana kalau kau mati? Siapa yang akan memperbaiki pagar kandang babi kita? Siapa yang akan menemaniku ke pasar?" Vani terus mengomel sambil tangannya dengan cekatan membersihkan luka itu menggunakan air hangat dan kain bersih.

Ia mengeluarkan energi cahaya dari telapak tangannya. Sinar putih lembut mencoba menutup luka itu, namun energi kegelapan sisa perang di tubuh Ferdi menolaknya. Vani meringis, keringat dingin bercucuran di dahinya, namun ia tidak menyerah.

"Jangan mati... kumohon jangan mati. Kalau kau mati, aku akan menyusulmu ke neraka hanya untuk menjewer telingamu karena telah meninggalkanku sendirian!" tangisnya semakin kencang, membasahi wajah Ferdi yang semakin pucat pasi.

Sepanjang malam, Vani tidak tidur. Ia terus berjaga, mengganti kompres, dan menyalurkan sihir penyembuh meski tubuhnya sendiri sudah di ambang batas. Memasuki pagi hari, suhu tubuh Ferdi menurun drastis. Ia kedinginan dan kulitnya membiru.

Tiba-tiba, ketukan pelan terdengar di pintu gubuk. Vani waspada, ia mengambil belati kecil di bawah bantal, siap melindungi Ferdi hingga tetes darah terakhir. Namun, saat pintu terbuka, yang berdiri di sana bukanlah musuh.

Sekelompok kaum Elf, dipimpin oleh Jenderal Elrond, berdiri dengan kepala tertunduk. Di tangan mereka terdapat sebuah kotak kristal yang memancarkan aroma bunga segar.

"Baginda Vani," ujar Elrond dengan suara penuh penyesalan. "Kami datang untuk memohon maaf. Bangsa Elf telah dipaksa mengikuti aliansi sembilan alam karena ancaman Luxeria. Kami melihat apa yang dilakukan Baginda Ferdi demi dirimu... dan kami sadar kami berada di pihak yang salah."

Vani menatap mereka dengan mata sembab dan bengkak. "Apa yang kalian inginkan?"

"Kami membawa Nektar Alfheim," Elrond menyodorkan kotak itu. "Ini adalah obat penyembuh instan yang hanya dimiliki raja kami. Ini bisa menutup luka yang disebabkan oleh sihir penghancur dunia. Ambillah, demi keselamatan Baginda Ferdi."

Tanpa banyak bicara, Vani mengambil obat itu. Ia segera kembali ke sisi Ferdi. Ia meminumkan cairan keemasan itu ke mulut Ferdi yang teratup rapat.

Beberapa saat kemudian, keajaiban terjadi. Badan Ferdi yang tadinya sedingin es perlahan mulai menghangat. Lubang di perutnya mulai menutup, menyisakan jaringan kulit baru meskipun masih meninggalkan bekas luka yang besar.

Vani menghela napas lega yang sangat panjang. Beban berat di pundaknya seolah terangkat sedikit. Namun, rasa lelah yang luar biasa akhirnya menang. Dengan posisi masih memangku kepala Ferdi, Vani jatuh tertidur. Matanya lebam, wajahnya kusam, namun tangannya masih menggenggam erat tangan Ferdi.

Dua hari berlalu dalam keheningan. Pada pagi hari ketiga, jari-jari tangan Ferdi mulai bergerak.

Kelopak matanya terbuka perlahan, menampakkan mata hitamnya yang sayu. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kayu rumah mereka yang familiar.

"Ugh..." Ferdi mencoba bergerak, namun seluruh badannya terasa seperti dihantam oleh ribuan palu raksasa.

Vani yang merasakan gerakan di pangkuannya langsung terbangun. Matanya yang lebam langsung berbinar melihat Ferdi sudah sadar. Namun, rasa syukur itu segera berganti menjadi omelan yang sudah ia simpan selama dua hari.

"KAU SUDAH BANGUN?!" teriak Vani, suaranya menggelegar di kamar kecil itu.

Ferdi meringis kesakitan. "Vani... suaramu... kepalaku sakit..."

"BIAR SAJA SAKIT! BIAR KAU TAHU RASA!" Vani berdiri sambil berkacak pinggang, meskipun air mata kembali mengalir di pipinya. "Kau tahu tidak berapa hari aku menangis? Kau tahu tidak betapa takutnya aku melihat perutmu bolong seperti donat?! Kau benar-benar egois! Kau ingin jadi pahlawan, hah?!"

Ferdi hanya bisa terdiam, menatap istrinya dengan tatapan lemah namun penuh kasih. Ia ingin tersenyum, tapi otot wajahnya terlalu kaku.

"Maaf... Sayang..." bisik Ferdi pendek.

"MAAF?! Kau pikir maaf bisa menutup lubang di perutmu?! Kau pikir maaf bisa mengganti air mataku?!" Vani terus mengomel sambil berjalan menuju dapur darurat di sudut ruangan.

Ia kembali membawa semangkuk sup jamur hutan yang masih mengepul panas. Aromanya sangat menggoda, sup paling enak yang pernah Vani buat. Dengan kasar namun hati-hati, ia duduk kembali di samping Ferdi.

"Ayo buka mulutmu! Makan ini sampai habis! Kalau tidak habis, aku akan memanggil Irfan untuk menyuapimu pakai tangan iblisnya!" ancam Vani.

Ferdi membuka mulutnya. Rasa hangat sup itu mengalir ke tenggorokannya, memberi energi baru ke sel-sel tubuhnya yang rusak.

Vani: (Menyuapkan sendok kedua) "Makan yang benar! Jangan belepotan! Kau ini Raja Kegelapan atau bayi besar, sih?"

Ferdi: (Bicara pelan) "Supnya... enak sekali. Terima kasih, Vani."

Vani: (Suaranya bergetar) "Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada nyawamu yang keras kepala itu. Kenapa kau melakukan itu, Ferdi? Melawan sembilan alam... itu bunuh diri."

Ferdi: "Mereka menyakitimu. Aku tidak peduli dengan sembilan alam, aku tidak peduli dengan dunia. Jika mereka menyentuhmu, aku akan membakar semuanya, meskipun aku harus hancur bersamanya."

Vani: (Berhenti menyuap, menatap mata Ferdi) "Kau bodoh. Kalau kau hancur, untuk apa dunia ini bagiku? Aku lebih baik dipenjara di Luxeria selamanya asalkan aku tahu kau masih hidup dan menanam jagung di sini. Jangan pernah lakukan itu lagi, Ferdi. Janji padaku!"

Ferdi: (Meraih tangan Vani yang memegang sendok) "Aku tidak bisa janji jika itu menyangkut keselamatanmu. Tapi aku janji... aku akan berusaha untuk tidak membuatmu menangis sesedih kemarin."

Vani: (Menangis lagi sambil memukul dada Ferdi pelan) "Kau jahat... kau selalu tahu cara membuatku tidak bisa marah lagi. Makan lagi! Habiskan supnya! Habis ini kau harus mandi, bau badanmu sudah seperti bangkai naga!"

Ferdi tertawa kecil, meskipun perutnya terasa perih. Ia melihat Vani yang sedang sibuk menyeka air matanya sendiri sambil terus mengomel tentang betapa berantakannya rumah mereka selama Ferdi pingsan.

Di balik semua omelan itu, Ferdi tahu, ia adalah pria paling beruntung di semesta. Ia telah mengalahkan sembilan alam, ia telah mengusir tetua agung, namun di hadapan wanita cerewet yang sedang menyuapinya sup ini, ia hanyalah seorang pria yang telah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

"Vani," panggil Ferdi.

"Apa lagi?! Mau tambah sup?!"

"Aku mencintaimu."

Vani terdiam sejenak, wajahnya memerah hingga ke telinga. Ia memalingkan muka, mencoba menyembunyikan senyumnya.

"Hmph! Simpan bicaramu itu sampai kau bisa membelah kayu lagi! Dasar tukang pamer!"

Pagi itu di Aethelgard, meskipun sisa-sisa perang masih membekas, kehangatan kembali menyelimuti gubuk mereka. Sang Ratu Cahaya dan Sang Raja Kegelapan telah kembali ke rutinitas mereka yang paling indah: Saling mencintai di balik omelan.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!