NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Pesta Perpisahan Kelulusan

Ruang tengah Wisma Lavender malam ini tidak seperti biasanya. Biasanya, jam delapan malam adalah waktu bagi Ziva untuk masker-an sambil menonton drama Korea dengan volume televisi yang sering diprotes, atau waktu bagi Gendis untuk berkutat dengan tumpukan buku-buku kedokterannya yang tebal dan jurnal medis yang membosankan. Namun malam ini, suasana riuh rendah itu digantikan oleh kehangatan yang berbeda. Lantai ruang tamu dilapisi permadani besar bergaya Maroko yang biasanya hanya dikeluarkan saat Lebaran, dan aroma ayam bakar bumbu rujak buatan Sari yang kaya rempah memenuhi setiap sudut ruangan, menyusup hingga ke sela-sela pintu kamar.

Di tengah ruangan, Arka duduk bersila dengan kemeja putih yang disetrika sangat rapi—kemeja keberuntungan yang sama yang ia gunakan saat menghadapi serangan pertanyaan dosen penguji di sidang skripsi tiga hari lalu. Di lehernya melingkar sebuah selempang kain hitam satin dengan tulisan bordir emas yang berkilau terkena lampu ruangan: Arka Wijaya, S.T. Gelar yang dulunya terasa seperti mimpi di siang bolong bagi seorang mekanik yang nyaris putus asa.

"Selamat ya, Mas Arka! Akhirnya gelar Sarjana Teknik-nya bukan cuma mitos atau sekadar pajangan di mimpi lagi," seru Ziva dengan nada ceria yang sedikit dipaksakan, sambil meletakkan sepiring besar kerupuk kaleng di tengah lingkaran. "Sekarang panggilannya bukan 'Arka si Oli' lagi, tapi 'Pak Insinyur'."

Arka tersenyum lebar, tapi senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya yang tampak sedikit berkaca-kaca. Ada binar kebahagiaan yang meluap karena perjuangan berdarah-darahnya di depan laptop tua—yang sempat 'tewas' di tengah jalan—akhirnya tuntas dengan hasil memuaskan. Namun, di saat yang sama, ada ganjalan di dadanya yang terasa lebih berat daripada tumpukan revisi dosen pembimbing paling perfeksionis sekalipun. Ia menyadari bahwa pencapaian ini adalah gerbang menuju perpisahan.

Oma Rosa duduk di kursi goyang jati kesayangannya di sudut ruangan yang sedikit redup, memperhatikan "anak-anak asuhnya" dengan tatapan yang sulit diartikan di balik kacamata bingkai emasnya. Ia tidak banyak bicara sejak pengumuman kelulusan Arka secara resmi di papan pengumuman kampus. Ia hanya memberikan izin bagi para gadis untuk mengadakan pesta kecil-kecilan ini—sebuah anomali besar di Wisma Lavender yang punya aturan jam malam super ketat dan larangan keras mengadakan keramaian di atas jam tujuh malam.

"Jadi, kapan Mas Arka mulai kerja di Jakarta? Sudah siap mental menghadapi macet dan polusi di sana?" tanya Gendis pelan, suaranya sedikit bergetar sambil menuangkan es sirup cocopandan ke gelas plastik masing-masing.

Pertanyaan itu seketika membuat suasana yang tadinya ceria oleh candaan Ziva menjadi sedikit sunyi dan melankolis. Denting es batu di dalam gelas terasa begitu keras di tengah keheningan yang mendadak. Arka berdeham, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba menyumbat tenggorokannya.

"Minggu depan, Gen. Senin depan sudah harus mulai training di kantor pusat perusahaan manufaktur itu. Jadi... mungkin lusa saya sudah harus beres-beres kardus dan koper," jawab Arka, mencoba terdengar antusias meski hatinya mencelos.

"Cepat banget, Ka," sahut Dira yang biasanya paling cuek dan jarang menunjukkan emosi. Ia meletakkan garpunya begitu saja di atas piring yang masih penuh. "Padahal baru aja kita ngerayain kemenangan kecil waktu kamu nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi di kamar mandi kalau Bu RT lewat. Sekarang, kamu malah mau pergi beneran."

Mereka semua tertawa kecil, teringat kejadian heroik sekaligus konyol di Bab 28 saat Oma Rosa pasang badan menghadapi fitnah dan sindiran tajam ibu-ibu komplek sebelah. Namun tawa itu segera surut, menyisakan ruang hampa. Keberadaan Arka di Wisma Lavender, meski awalnya merupakan sebuah "kecelakaan" administratif dan pelanggaran aturan kos putri yang paling sakral, perlahan-lahan telah mengubah dinamika di sana secara permanen. Arka bukan lagi sekadar laki-laki asing yang menumpang secara ilegal, tapi sudah menjadi sosok kakak pelindung, teman diskusi yang mendengarkan keluh kesah skripsi mereka, hingga "teknisi darurat" yang selalu siap memperbaiki lampu redup, kran air mampet, atau kompor yang mogok.

"Oma," panggil Arka pelan, menoleh ke arah wanita tua yang masih diam dalam ritme kursi goyangnya itu. "Terima kasih banyak untuk semuanya. Kalau bukan karena kebaikan—atau mungkin karena rasa kasihan yang sangat besar—Oma malam itu, saya mungkin sudah putus kuliah di tengah jalan dan luntang-lantung nggak punya tempat tinggal."

Oma Rosa menghentikan gerakan kursi goyangnya secara mendadak. Ia menatap Arka cukup lama melalui lensa kacamatanya yang tebal, meneliti wajah pemuda yang kini sudah tampak jauh lebih dewasa daripada saat pertama kali ia temukan bersembunyi di gudang belakang.

"Jangan geer dan terlalu percaya diri, Arka. Saya cuma tidak mau ada berita di koran tentang mayat mahasiswa mati kelaparan di depan pagar rumah saya, nanti harga tanah dan bangunan saya turun drastis," ucap Oma dengan nada ketus yang dibuat-buat, meski ada sedikit getaran di ujung kalimatnya.

Namun, semua penghuni Lavender tahu itu hanyalah topeng kebanggaan Oma Rosa yang keras. Oma kemudian berdiri dengan anggun, berjalan perlahan mendekati Arka yang sedang duduk lesehan, dan meletakkan sebuah bungkusan kecil berbalut kain beludru di pangkuan pemuda itu.

"Buka di Jakarta nanti saja, jangan sekarang. Itu kunci tambahan untuk keberuntunganmu di tanah perantauan," kata Oma Rosa dengan nada yang sedikit melembut. "Dan ingat satu hal, Arka. Kamu adalah satu-satunya laki-laki yang pernah saya izinkan menginap di sini lebih dari semalam sejak mendiang suami saya meninggal belasan tahun lalu. Jangan bikin malu nama Wisma Lavender di sana. Tunjukkan kalau mekanik dari sini bisa jadi pemimpin di luar sana."

Mata Arka memanas hebat. Ia segera menunduk, pura-pura sangat sibuk mengamati tekstur ayam bakar di piringnya agar air matanya tidak jatuh di depan para gadis yang mulai terisak pelan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Wisma Lavender bukan sekadar tempat kos atau tempat bernaung dari hujan dan panas. Di sini, di antara omelan Ziva yang cerewet, kebaikan hati Sari yang tulus, kecerdasan Gendis yang menginspirasi, ketegasan Dira yang jujur, dan perlindungan tangan besi Oma Rosa, ia telah menemukan definisi "keluarga" yang sebenarnya di perantauan yang kejam.

"Lusa, siapa yang mau bantu Mas Arka angkat kardus-kardus berat itu ke taksi? Jangan sampai dia pergi dengan tangan hampa," tanya Sari mencoba mencairkan suasana yang mulai terasa menyesakkan.

"Semuanya harus bantu! Nggak ada alasan belajar atau praktikum!" seru Ziva dengan semangat yang dipaksakan. "Tapi Mas Arka harus traktir kita martabak manis paling mahal dengan topping melimpah besok malam sebagai salam perpisahan terakhir. Kita harus buat Mas Arka bangkrut sedikit sebelum dia jadi orang kaya di Jakarta!"

Arka tertawa, kali ini lebih lepas dan tulus, meski ada sedikit rasa getir. "Oke, deal. Martabak spesial dengan keju melimpah buat penghuni Lavender paling spesial yang pernah ada."

Malam semakin larut dan udara mendingin. Di luar sana, angin malam berhembus pelan, menggoyahkan papan nama kayu bertuliskan "Wisma Lavender" yang tergantung di gerbang depan, menimbulkan bunyi decit yang familiar. Arka menatap sekeliling ruangan sekali lagi, mencoba merekam setiap detail kecil ke dalam ingatannya—warna cat tembok krem yang sedikit mengelupas di pojok atas, koleksi foto-foto konyol penghuni kos di dinding ruang tamu, hingga aroma pengharum ruangan otomatis rasa lavender yang dulu sangat ia benci karena terlalu menyengat, tapi kini terasa sangat menenangkan dan identik dengan rasa aman.

Ia tahu, setelah lusa, ia akan memulai lembaran hidup baru di antara hutan beton dan gedung-gedung tinggi Jakarta. Tapi separuh hatinya, ia tahu pasti dengan segenap jiwanya, akan selalu tertinggal di kamar kecil yang sempit namun hangat di belakang dapur Wisma Lavender ini. Tempat di mana seorang mekanik biasa diubah menjadi seorang pria yang siap menaklukkan dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!