Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Dengan penuh amarah dan kekecewaan, Shela membanting tinju ke samsak di depannya. Setiap pukulan keras yang ia hantamkan seolah mengekspresikan kemarahan terhadap Dika yang menampar pipinya, Marvin yang mengabaikannya, serta Flora, si gadis polos yang dengan mudahnya merebut perhatian orang-orang yang ia cintai. Shela bertanya-tanya mengapa ia tak bisa seperti Flora?
"Shela, lo gak pulang?" Suara Rena memecahkan kesunyian. Latihan sebenarnya sudah berakhir beberapa menit lalu, namun Shela masih tetap bertahan, berhadapan dengan samsak yang tak berdaya.
"Gak," jawab Shela ketus.
Rena menggelengkan kepala lalu menepuk bahu Shela. "Ada masalah ya?"
Sesaat Shela menghentikan pukulannya, berbalik menghadap Rena. Gadis itu satu-satunya orang yang bisa diajak bicara selain Mbok Inah, dia baik, meski Shela masih merasa ragu untuk terlalu dekat dengannya. Di titik ini, ia memerlukan pertemanan dan dukungan yang tulus.
Dalam kesendirian yang memilukan ini, apakah ia dapat benar-benar mempercayai Rena untuk menjadi teman yang ia butuhkan dalam perjuangan hidup yang kian berat ini?
"Gak perlu cerita kalau gak mau, yaudah gue mau bal-"
" Segitu gak pentesnya ya gue dapat perhatian mereka? Apapun yang gue lakuin selalu salah di mata mereka. Gue capek, Ren," Shela berbicara dengan nada rendah.
Rena mengelus punggung Shela." Sabar ya. Gue gak bisa nasehatin apapun tapi gue siap jadi telinga buat dengar keluh kesah lo. Tapi gue juga punya nasib yang gak beruntung karena lahir di keluarga yang tak utuh, mungkin dengan itu gue bisa sedikit mengerti akan masalah lo."
Shela menatap Rena dengan wajah serius." Terima kasih karena mau dengerin cerita gue, gue gak bermaksud buat ngungkit apa yang lo alami," ujar Shela dengan tulus, tak apa ia tak punya keluarga tak peduli padanya setidaknya masih ada orang yang peduli padanya meski itu bisa dihitung dengan jari.
Rena tertawa kecil." Gak masalah, lagipula gue udah terbiasa. Ngomong-ngomong, yang lo bicarain itu soal keluarga Lo kan?"
Shela mengangguk kecil." Ya begitulah, gue lahir tanpa seorang ibu. Beliau meninggal beberapa hari setelah melahirkan gue. Dan hal itu lah yang menjadikan gue dibenci oleh ayah dan ketiga kakak gue."
"Tunggu, mereka benci Lo karena ibu lo meninggal setelah melahirkan lo, lalu apa hubungannya dengan lo? Kenapa mereka benci Lo? Ini kan bukan salah lo," tanya Rena dengan nada geram.
"Gue pikir juga begitu, bertahun-tahun gue berusaha buat mereka sadar kalau apa yang dialami ibu bukan salah gue, gue selalu cari perhatian mereka. Tapi sampai sekarang mereka tetap sama, tidak peduli. Gue ngerasa asing di rumah gue sendiri."
Rena tersenyum lembut pada Shela, lalu gadis itu memeluknya dengan hangat. "Sabar ya, hanya itu yang bisa gue katakan sebagai penyemangat li. Percayalah, suatu saat nanti keluarga lo pasti akan berubah." Rena melepas pelukannya, matanya bersinar penuh harapan.
"Yaudah, gue harus pulang duluan ya. Udah sore banget, nanti nyokap gue ngomel kalau gue telat pulang." Rena mengecup pipi Shela dengan ringan, seakan ingin menghapus sedih yang memenuhi wajah sahabatnya.
Shela mengangguk lalu tersenyum lebar, wajahnya memerah. "Iya, terima kasih ya udah mau dengar curhatan gue. Gue jadi lega sekarang."
" Sama-sama, kalau ada apa-apa cerita sama gue, jangan dipendem sendiri. Gue juga akan cerita sama lo lain kali, janji!" kata Rena, seraya melambaikan tangan perpisahan. Setelah itu, sosoknya perlahan menghilang di balik pintu, meninggalkan Shela dengan rasa haru, merasa dikuatkan oleh dukungan sahabatnya.
----
Hari ini, sekolah terasa begitu damai karena Shela yang selalu di juluki ratu bully, tak melakukan apapun. Dia hanya diam duduk di bangkunya sambil menatap kosong ke arah depan. Tidak seperti biasanya, dia yang selalu menyuruh-nyuruh teman kelasnya untuk melakukan ini-itu, kini dia hanya diam menatap teman-temannya. Mereka yang menjadi teman sekelas Shela heran sekaligus lega dengan diamnya gadis itu.
Sepuluh menit berlalu setelah bel istirahat berbunyi, Shela masih diam menikmati kesendiriannya di dalam kelas. Ia rasanya malas untuk menuju kantin, tapi perutnya tidak bisa diajak kompromi. Beberapa kali terdengar bunyi keras berasal dari perutnya, dengan begitu mau tidak mau, dia harus ke kantin untuk mengisi perutnya.
Shela berjalan sendirian di lorong menuju ke arah tangga, kelasnya yang ada di lantai tiga, mengharuskan dirinya turun ke bawah.
Ketika sudah turun di beberapa anak tangga, Shela terdiam begitu mendengar seseorang meminta tolong. Ia terdiam lalu kakinya melangkah mendekati suara itu. Matanya terbelalak begitu melihat tangan seseorang tergantung di pembatas tembok lantai dua gedung sekolahnya.
Dengan langkah ragu Shela mendekat,betapa terkejutnya Shela begitu mendekat dia melihat Flora yang sedang bergelantung di sana menahan beban tubuh dengan kedua tangannya yang memegang membatas agar dia tidak terjatuh ke bawah. Dia melihat sekitarnya, tak ada siapapun. Kenapa Flora bisa tergantung seperti ini?
Dia mendekat lalu memegang kedua tangan Flora,berusaha untuk menyelamatkan gadis itu." Ra, Lo kenapa bisa hampir jatuh gini?"
Flora mendongak dengan wajah yang sudah basah oleh keringat dan air mata." Shela, tolong! Tangan gue gak kuat buat nahan," ujar Flora tanpa menjawab pertanyaan Shela.
Sekuat tenaga Shela menarik tangan gadis itu,hingga selang beberapa menit kemudian dengan usahanya Shela berhasil menarik tubuh Flora agar tidak terjatuh.
Shela menatap Flora yang pucat,lalu gadis itu jatuh terkapar di lantai karena pingsan.
"Ra, bangun!"
Tak ada sahutan apapun, dia khawatir terjadi apa-apa pada gadis itu, meski dia tak suka pada Flora, bukan berarti dia akan tega membiarkan gadis itu terkapar begini. Dia berdiri hendak mencari bantuan tapi sebelum dirinya melangkah ada Marvin, Dika serta anak geng Black Eagle datang menghampirinya wajah emosi sekaligus khawatir.
Ia menghela napasnya, sudah pasti mereka akan menuduh Shela berbuat sesuatu pada Flora sehingga gadis itu pingsan. Sebelum itu terjadi, dia segera naik ke menghampiri mereka dan meminta bantuan
Namun bukannya mendapatkan bantuan yang dia harapkan, niat baiknya malah dibalas dengan sebuah tamparan keras dari Marvin. Tamparan terkeras yang pernah dia dapatkan seumur hidupnya, bahkan ia yakin pipinya akan membiru setelah ini.
"Sialan! Gak cukup Lo ganggu gue dan bully Flora, sekarang lo bahkan nyelakain dia?!" Ujar Marvin dengan wajah yang terlihat sangat emosi.
Benar kan dugaannya,sebaik apapun niatnya pasti mereka akan menganggap Shela adalah penjahatnya.
" Aku gak nyelakain dia, Vin. Aku bahkan baru aja keluar dari kelas, aku liat dia hampir jatuh.Dan juga sebelumnya Flora baik-baik aja dia cuma pingsan." ujar Shela berusaha menjelaskan.
Kini Marvin dan Dika berhadapan dengannya sedangkan beberapa orang turun untuk menggotong Flora.
Marvin menatapnya nyalang."Lo pikir gue akan percaya?!Dengan apa yang selalu lo lakuin sama pacar gue, jelas gue gak akan percaya sama omong kosong lo. Maling mana yang akan ngaku kalau dia mencuri."
Tatapan Shela beralih pada kakaknya. "Bang, Abang percaya kan sama aku? Aku gak akan pernah nyelakain siapapun." Namun, untuk kedua kalinya, sebuah tamparan mendarat di pipinya. Sudah jelas, tak ada yang percaya padanya. "Gue bahkan lebih gak percaya! Lo itu pembunuh, gak punya hati dan pembawa sial. Mana ada orang yang akan percaya kalau lo bukan pelaku yang nyelakain Flora?"
Hati Shela terasa mencelos, sebegitu jeleknya kah bayangannya di mata mereka? Shela tahu sikapnya selama ini pada Flora memang tidak baik, bahkan dengan teman-temannya yang lain. Namun, selama ini dia tak pernah mencelakai siapapun, apalagi secara fisik. Dia masih punya akal sehat, dan hatinya sebagai manusia berfungsi dengan baik.
Shela hanya mengusili gadis-gadis itu dengan cara yang dia anggap tak berbahaya: menjambak mereka, membentak, dan melumuri mereka dengan tepung serta telur busuk. Tapi kini, dia menyadari bahwa tindakannya itu sebenarnya telah melukai perasaan mereka lebih dalam daripada yang dia sangka.
"Bang, aku bisa terima kalau kamu caci maki aku. Tapi untuk saat ini aku mau membela diri, aku bukan pembunuh, aku gak nyelakain Flora. Aku memang suka membully, tapi sekalipun gak pernah bermain fisik pada mereka."
" Siapa yang bisa menjamin kalau lo gak nyelakain mereka?" tanya Dika dengan wajah sinis yang penuh prasangka.
"Abang bisa tanya langsung sama mereka kalau gak percaya." balas Shela dengan rasa putus asa.
"Tapi nyatanya, kemarin ada yang ngadu ke gue kalau lo bully dia dengan cara menjambak rambutnya. Apa lo pikir itu bukan tindakan secara fisik?!" Marvin berucap dengan emosi yang meletup, suaranya serak akibat amarah yang menumpuk.
Shela terdiam sejenak, menelan ludah. Saat itu Shela terlalu emosi sehingga tanpa sadar menjambak rambut gadis yang ada di rooftop itu. "I-itu..."
"Alah omong kosong!" Marvin yang sudah sangat emosi tiba-tiba, tak mampu menahan amarahnya, mendorong Shela
yang kebetulan berada di dekat tembok pembatas lantai dua yang memang cukup rendah.
Shela, yang belum siap, tak bisa menyeimbangkan tubuhnya ketika dorongan Marvin datang begitu kencang. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan terjatuh dengan keras. Marvin dan Dika sontak terkejut.
Di bawah sana,Shela yang terkapar merasakan sakit di seluruh tubuhnya, terutama di bagian kepala. Pandangan matanya semakin samar, ia melihat ke atas, menatap Marvin dan kakaknya yang pergi begitu saja, meninggalkan dirinya yang terluka akibat ulah Marvin. Mereka tampak tak peduli padanya. Saat kesadaran Shela mulai menghilang, seorang pemuda terlihat berlari menghampirinya dan menatapnya cukup lama.
Laki-laki itu menatap prihatin Shela yang tergeletak tak berdaya, ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya peduli padanya. Pemuda itu meraih ponselnya dan menghubungi ambulan untuk membawa Shela ke rumah sakit sebelum dia kembali menyusul teman-temannya. Dengan perasaan tak tenang, dia berlalu meninggalkan Shela yang terkapar di sana untuk menyusul teman-temannya.