Inayah, gadis cantik nan solehah, lahir disalah satu desa di kota Semarang harus menjalani takdir yang tak di sangka-sangka sebelumnya.
Tragedi tenggelam di sungai demi menyelamatkan baju kesayangan Ibunya, membawa dirinya harus menerima takdir menikah dengan laki-laki menyelamatkannya.
Menikah didesak warga karena sebuah kesalahfahaman. Menerima takdir adalah keputusan akhir yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Inayah yang berprinsip tidak mau berpacaran, dan Mas Gagah yang beberapa bulan lalu di tolak saat melamar kekasihnya. Mereka berdua ditakdirkan menjadi suami istri secara mendadak.
Bagaimana ya perasaan Inayah dan Mas Gagah, campur aduk tentunya.
Bagaimana kisah mereka yang sebenarnya??
Nantikan terus ya setiap episodenya, jangan lupa like, komen dan Vote😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5
Assalamualaikum Readers semuanya, novel Kekasih Halal mohon dukungannya yah dengan cara like (tekan tombol icon jempol di bawah, jangan lupa icon love juga biar selalu tahu jadwal updatenya), komen (kritik, saran, kesan boleh banget😘), dan Vote. Terimakasih ya😘😘
☘️Selamat membaca☘️
(🍁Takdir itu lucu. Ada saja caranya mempertemukan dua orang yang tak punya urusan dengan cara yang seolah kebetulan.)
Selesai mandi aku segera melaksanakan kewajibanku, lalu mengaji sebentar, setelah itu menemui Bi Asih di dapur.
Bi Asih segera melepaskan celemeknya karena kebetulan sekali Bi Asih juga baru saja selesai memasak.
Aku diajak Bi Asih keliling rumah yang sangat besar ini, Bi Asih lalu menunjukan foto keluarga dan menunjukan laki-laki yang nanti akan menjadi majikanku.
“ Ini Mas Gagah, kamu nanti akan menyiapkan segala keperluannya.” Bi Asih menunjukan foto Mas Gagah, aku tertegun ternyata Mas Gagah begitu Gagah sesuai sekali dengan namanya. Dalam bahasa jawa ‘Gagah’ itu berarti tampan.
Lalu Bi Asih memberitahu lagi yang di samping Mas Gagah ada Mas Guntur, dua-duanya tampan menurutku.
Bi Asih memberitahu jika Mas Guntur tidak ada dirumah ini tapi ada di Jepang mengurus perusahaan dengan Ayahnya. Aku lalu ditunjukan letak kamar Mas Gagah.
Bi Asih memberitahu jika Mas Gagah sangat disiplin, jadi Aku harus tepat waktu menyiapkan segala hal tentangnya nanti.
Hari ini aku belum bisa bertemu dengan Mas Gagah karena Mas Gagah sedang ke Bandung menghadiri acara wisuda kekasihnya.
Karena hari ini aku belum bekerja, aku meminta izin pada Bi Asih untuk meminjam telfon yang ada di rumah ini untuk memberi kabar dikampung jika aku sudah sampai Jakarta dengan selamat, Bi Asih mempersilahkannya dan memberitahu letak telfon rumah yang ada dirumah ini.
Aku mengambil secarik kertas yang berisi nomor telfon rumah Kinar yang aku simpan ditas, setelah mengambilnya aku segera menelfon Kinar dan memberi kabar bahwa aku sudah sampai Jakarta dengan selamat.
Terdengar di sebrang sana Kinar begitu senang mendapat kabar dariku, aku juga meminta bantuan Kinar agar Kinar memberitahu pada Ibuku bahwa aku sudah sampai Jakarta dengan selamat.
Aku hanya mengobrol sebentar dengan Kinar karena aku merasa tidak enak, takut tagihan telfonnya mahal. Aku berpesan pada Kinar jika aku akan sering-sering menghubunginya, lalu aku memutuskan sambungan telfonnya.
Selesai menelfon aku menemui Bi Asih, di dapur sambil makan, aku sambil bertanya-tanya tentang rumah ini juga tentang Mas Gagah dan keluarganya. Hingga petang tiba aku baru masuk ke kamar dan beristirahat kembali.
***
Adzan awal berkumandang, adzan awal dikumandangkan untuk membangunkan mereka yang ingin melaksanakan sholat sunah tahajud.
Aku langsung terbangun, ini sudah menjadi kebiasaanku di pesantren, harus bangun pagi dan melaksanakan sholat sunah tahajud, setelah sholat biasanya aku isi dengan mengaji serta berdzikir untuk menunggu waktu subuh tiba.
Aku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu berwudlu dan segera melaksanakan sholat. Selesai sholat aku berdzikir lalu berdoa, doa dalam sholat tahajud ibarat anak panah yang tidak akan meleset dari sasarannya.
Waktu di pesantren Abah pernah berkata bahwa kunci keihklasan seseorang adalah sholat tahajud, karena yang dapat melakukannya adalah orang yang berjuang untuk bangun dengan keikhlasan disaat orang lain terlelap.
Saat ingin mengambil Al-Qur’an aku merasa haus, aku terlebih dahulu mengambil air minum di dapur, aku menuangkannya kedalam gelas besar agar aku tidak bolak balik mengambilnya lagi karena biasanya setelah mengaji aku merasa haus.
"Pyarrr … Bugh …"
Aku begitu terkejut mendengar seperti ada benda pecah. Aku melihat sekelilingku tapi tidak ada benda pecah, aku langsung berjalan ke depan ruang tamu takut ada maling karena aku juga sudah termasuk bagian dari rumah ini jadi aku harus ikut andil menjaga rumah ini.
Aku mencari saklar untuk menyalakan lampu depan, setelah aku mendapatkannya aku langsung memencetnya, aku terkejut melihat seseorang yang sudah terkapar di lantai dengan pecahan beling dimana-mana dan bau menyengat sangat tidak enak.
Aku menghampirinya perlahan, ternyata Mas Gagah yang terkapar setengah sadar sambil sedikit menggulingkan badannya dilantai. Aku bingung harus bagaimana karena aku tidak akan kuat jika harus menggendong badan Mas Gagah, badan Mas Gagah dua kali lipat dari badanku yang imut-imut ini.
Aku menggoyangkan badan Mas Gagah agar Mas Gagah mau terbangun dan berjalan sendiri ke kamarnya.
Aku padahal sudah tidak tahan dengan bau menyengat di ruangan dan badan Mas Gagah, apakah ini bau minuman keras. Aku tidak pernah sekalipun mencium bau minuman keras sebelumnya tapi bau ini sangat menyengat dan prediksiku ini memang minuman keras.
“ Tega sekali kamu Van, kamu memutuskan hubungan ini, padahal aku sudah menunggumu sekian lama, kamu dengan mudahnya memutuskan hubungan ini demi cita-citamu itu, apa salahku Van.” Mas Gagah mulai meracau tidak karuan.
“Apakah kurangnya aku Van, tapi ini balasanmu, ini balasan kesetiaanku Van?” Mas Gagah tiba-tiba menangis sambil guling-guling dilantai.
Aku merasa kasihan melihat seorang laki-laki menangis, bukankah biasanya laki-laki pantang menangis, jika sudah sampai menangis berarti itu hal yang paling menyakitkan untuknya atau yang paling membahagiakan baginya.
Aku langsung menarik lengan Mas Gagah dengan sekuat tenagaku, untung saja Mas Gagah terbangun dengan sendirinya walaupun masih saja terus meracau, kadang terdengar jelas, kadang meracau tidak jelas, aku hanya fokus agar Mas Gagah segera sampai kamarnya.
Aku akhirnya memapahnya, ini pertama kalinya aku berada sangat dekat dengan laki-laki, aku niatkan ini hanya menolong, Mas Gagah tidak menyentuh kulitku karena aku masih menggunakan mukenah, aku juga berusaha memegangnya dengan beralaskan kain mukenahku.
Aku masuk ke dalam kamar Mas Gagah, aku begitu takjup dengan kemewahan kamar Mas Gagah, aku segera merebahkan Mas Gagah di atas ranjangnya, selesai sudah tugasku, pikirku. Aku berniat segera keluar dari kamar Mas Gagah tapi mukenahku ditarik Mas Gagah.
“ Jangan pergi, jangan pergi!” Mas Gagah meracau sambil memejamkan matanya namun tangannya masih memegangi mukenahku.
Aku akhirnya terduduk di kapet lantai dekat ranjang Mas Gagah, aku mengaji beberapa ayat Al-Qur’an yang aku hafal. Ketika Mas Gagah mulai terlelap dan mulai melepaskan genggaman ujung mukenahku aku langsung menarik mukenahku lalu pergi dari kamar Mas Gagah menuju kamarku.
Aku kembali mengaji di kamar sambil menunggu waktu subuh tiba. Setelah mengaji cukup lama, terdengar adzan berkumandang, selesainya adzan aku melaksanakan sholat sunah fajar.
Saat aku belajar di pesantren ada sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Sayyidah Aisyah, “ Dua rokaat sholat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya.”
Rosulullah sangat mencintai ibadah sholat sunah fajar ini. Manusia lebih bangga dengan rumah yang dia tinggali, mobil yang dia kendarai, dibandingkan dengan bangun sebelum sholat subuh dan beristigfar kepada Allah, padahal itu lebih mulia dari dunia dan seisinya.
Setelah melaksanakan sholat sunah fajar di lanjutkan dengan sholat subuh. Lalu aku merapikan kamarku dan bergegas ke dapur. Di dapur ternyata sudah ada Bi Asih yang sedang memasak, baunya sangat menusuk hidungku, membuat perutku seketika langsung keroncongan, tapi aku teringat tugasku yang harus menyiapkan segala keperluan Mas Gagah.
Aku sedikit bercerita pada Bi Asih jika semalam Mas Gagah sudah pulang dalam keadaan mabuk dan meracau tak jelas tentang putus cinta, Bi Asih akhinya bercerita sedikit tentang Mas Gagah jika Mas Gagah adalah tipe laki-laki setia hanya saja pacar Mas Gagah kurang menghargai Mas Gagah mungkin karena merasa Mas Gagah sangat mencintainya jadi pacarnya seenaknya sendiri.
Aku yang mendengarnya sedikit merasa iba. Bi Asih juga memberitahuku jika Mas Gagah tegas hanya dalam pekerjaan namun diluar itu Mas Gagah sangatlah ramah dan baik hati seperti laki-laki biasa diluaran sana.
menurut ku ya thor 🤭✌