Pria, 30 tahun. keturunan gelap dari pewaris utama klan, terpaksa menikah untuk memangkas opini keluarga tentang kehidupannya dan demi kesepakatan-kesepakatan lainnya demi menjaga kehormatan klan.
"Bagian mana dari tubuhku yang membuatmu tak pernah berselera untuk menyentuhnya," protes Dorrota sambil menanggalkan seluruh pakaiannya.
"Aku bukannya tak berselera, tapi..."
"Jadi benar kabar yang kudengar, kamu memiliki wanita lain. Ah, bukan! tapi Pria lain!"
"Aku tidak peduli apapun yang kamu pikirkan, kesepakatan tetaplah kesepakatan. Ingat batasanmu!" ucap tegas Math Male meninggalkan Dorrota yang terisak dalam kemarahan dan kekecewaannya.
mampukah Dorrota mengambil hati Math Male?
ataukah Math Male akan menemukan hati yang lainnya?
.......
Hallo reader, karya ini hanya berdasarkan imajinasi author sepenuhnya. jika ada kesamaan nama tokoh, latar atau kejadian, hanya merupakan kebetulan yang tidak disengaja.
selamat membaca,
Salam, author Yoshua,
Semoga Semua Bebahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 06
Melihat ada rombongan lain yang berjalan memasuki aula utama, Redrik melepaskan Math sejenak, memperhatikan siapa tamu yang datang. "Tetap di sini dan jangan mengacau!"
Redrik menyambut rombongan, tepat di depan pintu aula. Namun setelah mengetahui mereka adalah rombongan Xillas Codi yang bertugas membawa barang upeti, Redrik kembali pada Math setelah mengijinkan anak buah Xillas Codi memasuki aula utama.
Math masih terlihat kesal, "Paman, katakan pada kakek, aku tidak mau menikahinya!" pinta Math pada Jhonan yang tentu membuat Redrik semakin murka karena mendengarnya.
"Math! Pikirkan kelakuanmu yang tidur dengan sembarang wanita, bahkan pria! Kamu bukan lagi anak kecil! Pikirkanlah bagaimana klan ini akan berlangsung kedepannya!" gertak Redrik tanpa ampun. "Kamu bahkan sering berkeliaran dan berkelahi diluaran sana mengatasnamakan klan, sudah berapa kali kami harus menyelamatkanmu dari amukan banyak orang seperti hari ini?!"
"Tapi kenapa harus aku? Bukankah kalian selalu menunjukku sebagai si pemilik darah kotor?!" bantah Math.
"Dasar bocah tak tahu diri!" Redrik begitu emosional, ia kembali mengangkat tangannya berniat melayangkan tinju pada Math, namun Jhonan menangkisnya.
"Biarkan aku yang bicara padanya, ingatlah bagaimana ia lahir dan masa kecilnya yang berat, Redrik. Jangan terlalu keras padanya." Jhonan membela Math.
...........🌾
FLASH BACK KE MASA BAYI MATH
Pagi itu, seorang petani tengah berjalan dari tempatnya berkebun, seperti biasanya ia berjalan melewati depan rumah besar milik keluarga utama Male. Sayup-sayup si petani mendengar tangis bayi yang tak kunjung terhenti.
"Kenapa ada bayi ditinggalkan di sini? Kemana para penjaga?" ujar si petani saat menemukan bayi terbungkus kain bedong berwarna biru langit, tergeletak dalam keranjang anyaman dengan aksen pemanis anyaman berbentuk kepala angsa.
Si petani memberanikan diri mengetuk pintu gerbang setinggi 3 meter itu. "Tangisan se-keras ini apa nggak terdengar dari dalam?" gumam si petani sambil menunggu ada yg membuka pintu.
"Cup-cup-cup ... sss ... sss ... sss ...." Suara si petani membuat si bayi lebih tenang. "Tunggu sebentar ya, baru kupanggilkan keluargamu."
Tak lama tangis si bayi mereda, dan bertepatan dengan itu, pintu gerbang terbuka perlahan. Seorang penjaga melongok keluar,l alu memperhatikan penampilan si petani. "Ada perlu apa seorang petani mengetuk pintu rumah sebesar ini?"
"Anu tuan penjaga, ada bayi tergeletak di sana," ucap si petani sedikit takut sambil menunjuk keranjang bayi tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Bukan urusanku!" jawab ketus si penjaga lalu menutup pintu.
"Jangan!! Tunggu!!" teriak sang petani tak ingin mengambil keputusan yang salah. "Ada catatan di sini!!"
Penjaga kembali melongok keluar, lalu mengambil lipatan kertas yang diikat pada kaki sang bayi. Menyadari isi pesan menyangkut keluarga tuannya, si penjaga bergegas memanggil Mattew Male.
"Tuan Mattew, ada bayi di depan gerbang, disertai catatan ini," ujar si penjaga sambil terengah karena berlari.
Mattew Male yang saat itu tengah memotongi daun-daun di tanaman bonsai di halaman belakang rumahnya, menerima lalu membaca catatan dari si penjaga sambil berjalan menuju gerbang.
Syok, dan marah! Hal pertama yang ingin sekali dilakukan Mattew. Namun, setelah melihat wajah si bayi yang benar-benar berbeda dengan rasnya, Mattew berpikir sesaat, "Jika bayi ini kubiarkan di jalanan, maka ia akan menjadi santapan empuk anjin9-anjin9 jalanan."
"Ini bayinya, Tuan, petani itu yang menemukannya," ujar si penjaga.
"Di mana kamu melihat bayi ini pertama kali?" tanya Mattew.
"Di tempat itu," sahut cepat si petani sambil menunjuk satu tempat di bawah pohon rindang. "Aku merasa kasihan, lalu kubawa mendekat ke sini."
"Baiklah, bayi ini akan aku bawa, tapi biarkan hal ini berhenti sampai di sini. Jika kudengar ada yang membicarakan bayi ini, aku tak segan menghabisinya."
Si petani tentu saja sangat takut akan gertakan Mattew, namun ternyata ada telinga lain yang menguping pembicaraan itu.
"Kira-kira catatan itu isinya apa ya? Aku yakin bayi itu anak dari hubungan gelap salah satu pria Male," gumam si penguping yang bersembunyi di balik pagar tanaman pembatas jalan.
Sementara itu, Mattew membawa bayi itu masuk dan membawanya ke kamar Taddeus.
BRAAAK!!!
Mattew mendorong keras pintu kamar Taddeus. "Katakan dengan benar, benarkah yang tertulis di sini?!!!"
Taddeus yang saat itu tengah melukis di sudut kamarnya, terjingkat sampai membuat lukisannya tercoret karena kaget oleh bentakan sang ayah.
"Ayah?!!" reflek Taddeus membalas bentakan sang ayah.
"Jangan membentakku! Baca lalu jelaskan!" Mattew melemparkan kertas catatan dari ibu si bayi dengan kasar tepat mengenai wajah Taddeus. Untung gerak reflek Taddeus berhasil menangkapnya.
........
Teruntuk cintaku Taddeus Male, Percayalah bahwa aku sangat mencintaimu sampai akhir. Peperangan yang terjadi biarkan aku yang menanggungnya. Namun buah cinta kita, jangan sampai dibenci karenanya. Aku mohon, besarkan dia dengan cintamu yang seluas samudra. Aku yakin kamu dan keluargamu memilikinya. Aku telah memberinya nama Math. Maafkan aku yang tak mampu bertahan pada akhirnya. -Yang selalu mencintaimu, -Hellena-.
.........
"Ayah? Apa yang...." raut wajah sendu dan air mata begitu jelas membayang di wajah Taddeus, pria penyayang berhati lembut itu.
"Bawa bayi itu masuk!" perintah Mattew Male pada ajudan yang menunggunya di depan pintu.
Taddeus Male tak mampu menahan haru saat semakin ia mendekati bayi yang dalam keranjang kecilnya, ditenteng masuk oleh ajudan ayahnya.
"Ayah ... dia benar-benar anakku. Lihatlah ayah, kamu adalah kakeknya!" ucap Taddeus Male lalu mengambil si bayi dari dalam boxnya.
"Dasar bodoh!! Sadarlah Taddeus!! Pikirkan bagaimana aku harus menjelaskan ini pada seluruh klan!!" Mattew Male memukul punggung putranya sebagai ungkapan kekesalan.
"Apalagi? Katakan saja bayi ini adalah putraku. Tak perlu ada yang ditutupi, Ayah. Semua orang tahu aku telah menikah dengan Hellena di tanahnya."
Mattew Male tertegun dengan jawaban berani Taddeus. Memang tidak ada salahnya, tapi membawa bayi dengan ciri fisik yang berbeda ke dalam keluarganya, sudah dipastikan akan sangat sulit diterima oleh semua anggota klan. Baik laki-laki atau pun perempuan.
Mattew Male memijat dahinya, ia tak menyangka dengan apa yang terjadi. Ia begitu marah karena Taddeus melanggar aturan adat, namun di sisi lain, ia sangat mendambakan kehadiran seorang cucu laki-laki, yang akan ia didik untuk menjadi penerus tahtanya nanti. Tapi sayangnya, cucu yang datang memiliki wajah yang dominan menyerupai ibunya.
Mattew Male berpikir cepat, agar bisa mengambil jalan tengah tanpa menyakiti siapa pun. "Jika anak ini datang tanpa memiliki seorang ibu, maka kamu harus menerima hukuman dari klan! jadi, tolong menikahlah sekarang juga dengan wanita bodoh yang ayah pilih."
"Ayah! jangan tergesa-gesa, aku yakin Hellena masih hidup, berikan aku waktu untuk mencarinya," kilah Taddeus tetap kukuh tak ingin menerima perjodohan dari ayahnya.
"Tidak! pilihan hanya satu! Kamu menikahi Kallida Boen maka akan kubiarkan anak ini tetap hidup di atas rumah ini, atau kamu harus merelakan anak ini untuk aku kirim ke jalanan."
"Ayah!!"
"Cukup Taddeus!! Ayah sudah cukup bersabar dengan semua yang kamu lakukan. Tak ada lagi ampun. Kamu putra pertama ku, tapi kamu selalu menguji kesabaranku. Pilih sekarang juga, atau kamu tidak akan merasakan udara luar pagar lagi."
Taddeus bukannya tidak mau melarikan diri, namun setelah peperangan besar karena ulahnya yang ketahuan menikahi Hellena, membuat Zicha sang ibu, melemah dan sering jatuh sakit. Hal itulah yang membuat Taddeus sadar dan merasa sangat bersalah.
Taddeus masih membopong bayi mungil Math, memikirkan bagaimana nasib putranya jika hidup di luar istana, pasti akan sangat menyesakkan. Kali ini ia benar-benar tak memiliki pilihan selain menuruti keinginan Mattew Male.
"Baiklah, aku terima pernikahan ini, tapi ijinkan aku bertemu dahulu dengan Kallida. Aku harus membuat sebuah kesepakatan dengannya."
...****************...
To be continue...
Makasih juga buat bang yosh,keren novelnya, walaupun kadang2 bikin pengen demo wkwk 🤣 semangat terus bang,ditunggu karya2 selanjutnya 😄 jangan bikin yang sad ending Mulu bang hehe
tapi masih kurang sebenarnya... masih belum sebanding sama kejahatan yang dilakukan Kallida 😣