NovelToon NovelToon
Biarkan Aku Menyerah

Biarkan Aku Menyerah

Status: tamat
Genre:Poligami / Romansa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:12M
Nilai: 4.8
Nama Author: Pasha Ayu

Dalam rumah tangga, CINTA saja tidak cukup, ... Masih diperlukan kesetiaan untuk membangun kokoh sebuah BIDUK.

Namun, tak dipungkiri TAKDIR ikut andil untuk segala alur yang tercipta di kehidupan FANA.

Seperti, Fasha misalnya; dia menjadi yang KEDUA tanpa adanya sebuah RENCANA. Dia menjadi yang KEDUA, walau suaminya amat sangat MENCINTAI dirinya. Dia menjadi yang KEDUA, meski statusnya ISTRI PERTAMA.

Satu tahun menikah, bukannya menimang bayi mungil hasil dari buah cinta. Fasha justru dihadapkan kepada pernikahan kedua suaminya.

Sebuah kondisi memaksa Samsul Bakhrie untuk menikah lagi. Azahra Khairunnisa adalah wanita titipan kakak Bakhrie yang telah wafat.

Tepatnya sebelum meninggal, almarhum Manaf memberikan wasiat agar Bakhrie menikahi kekasihnya yang telah hamil.

Wasiat terakhir almarhum Manaf, akhirnya disetujui oleh Bakhrie dan keluarganya tanpa melihat ada hati yang remuk menjadi ribuan keping.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYM ENAM

Sudah satu bulan, bahkan berlanjut hingga hampir dua bulan, Bachrie masih menunda untuk menyusul Fasha. Yang jelas, pekerjaan menumpuk, Azalea rewel, dan Azahra tak bisa ditinggal begitu saja di rumah.

Rencananya, Bachrie menunggu waktu libur yang sedikit lebih banyak. Bulan ini, Bachrie sampai sengaja tidak mengambil satu hari pun libur supaya bisa dirapel untuk menjemput Fasha di Indonesia.

Siang tadi Fasha izin pamit ke salon karena memang sudah bosan terus di Rumah tanpa siapa pun. Rayyan sudah disibukan kembali dengan kuliah S2, Syahrul pun sibuk, apa lagi Nabeel yang sudah menjadi komisaris.

Minggu pertama Fasha di Indonesia, tiga saudaranya sempat kumpul di rumah meluangkan waktu bersenda gurau hingga sedikitnya Fasha mampu melupakan rasa kekhawatirannya terhadap Bachrie.

Namun, di minggu kedua, semua saudaranya sibuk dengan masing- masing keseharian yang bisa dibilang sangat padat. Mimi Aisha juga harus berkunjung ke Semarang bersama cucu kembarnya.

Papa King masih memimpin perusahaan besar yang, ah, Papa King memang jarang di rumah jika sudah mulai waktu kerja. Dan kini, tinggallah Fasha merana sendiri.

Sepi, sunyi, rindu, kosong, semuanya merayapi aliran darahnya. Beruntung, siang ini Bachrie mengizinkannya keluar.

Asalkan, dengan catatan bahwa Fasha pergi ditemani seseorang wanita. Dan, Fasha menurut untuk mengajak sahabat kecil sekaligus iparnya, Maureen Gazza yaitu istri saudara kembar Fasha; Syahrul.

Keduanya baru selesai creambath, berlanjut berjalan- jalan di gedung milik Millers corpora yang dipimpin ayah Fasha.

"Tumben, Bachrie nggak nelepon melulu, biasanya, dia sibuk banget nelepon kamu terus kalo kita lagi pergi." Maureen meledek, dan kenyatannya sedari tadi tak ada satu pun telepon masuk dari Bachrie.

Fasha juga heran, chat yang dia kirim sedari siang belum ada balasan. "Dia sibuk sama kerjaan," kilahnya pada akhirnya.

"Bagus deh. Aku jadi ada waktu buat mesra mesra-an sama kamu lagi!" Maureen dan Fasha teman sedari kecil, susah, senang, mereka tahu sama tahu, tapi, untuk urusan rumah tangga, Fasha tidak seterbuka itu.

Maureen menggandeng Fasha yang juga menggandengnya. "Kita pulang ya, aku harus shalat Maghrib di rumah."

"Okay!" Maureen setuju, dua wanita berhijab merah muda cantik itu beranjak menuju parkiran mobil untuk segera berlalu bersama kendaraan yang juga merah muda.

Jalanan mulai gelap, awan di atas mulai membentuk gimbal. Tak lama, kota pun diguyur hujan yang cukup deras.

Maureen yang menyetir, jam menunjukkan pukul lima sore, jalanan semakin licin saja, Maureen tak boleh mengebut, makanya dia perlu mencari masjid untuk shalat.

Namun, di hujan deras begini, yang mereka pikirkan hanya ingin cepat- cepat sampai ke rumah. Makanya Maureen sedikit melaju lebih kencang dari biasanya.

"Hey, Buk!!" BRAK!!! Lihat, bukannya cepat sampai, di perempatan jalan mobil Maureen menabrak tiang lampu jalanan.

"Ah, dasar emak- emak!" Maureen merutuk.

Barusan saja ada motor ibu- ibu yang dengan percaya dirinya menyebrang tanpa peduli dengan mobil Maureen yang akhirnya memilih membanting stir dan berakhir menabrak tiang.

Fasha pun menatap ke depan sambil celingukan setelah sempat shock oleh benturan kabin depan mobil di keningnya akibat tekanan rem yang Maureen buat.

Beruntung ini Indonesia. Warga segera mendatangi dan berbondong bondong memberikan kepedulian pada dua wanita cantik tersebut.

Fasha dan Maureen terpaksa keluar karena kap depan mobilnya ringsek. "Ini sih harus ke bengkel, Cha!" katanya.

Fasha berlari memayungi Maureen yang sempat kebasahan derasnya hujan. Maureen bertanya pada seseorang, lalu diarahkan ke sebuah ruko yang cukup ramai.

Sebuah bengkel yang kata orang akan tutup sebentar lagi. Maka sebelum jam enam teng, Maureen dan Fasha diharuskan mendatangi tempat tersebut.

Tak pikir lagi, Maureen dan Fasha berjalan dengan berpayung. Walau tetap basah karena tak seberapa lebar payung yang dibawanya.

Bahkan, untuk sesekali abaya mereka diterpa angin berair dari cipratan ban mobil yang melaju cepat di jalanan. Sial sekali, tapi Fasha berharap, bengkelnya tidak tutup dulu.

Namun, benar ketakutannya, rolling door bengkel yang masih ramai itu sudah akan ditarik oleh seseorang. "Hey, tunggu, Bang!"

Fasha sampai melepas payung agar bisa berlari lebih kencang. Lalu ketika tiba di tempat tersebut, dirinya disambut oleh sepasang mata, setangkup bibir, sesosok tubuh bidang yang cukup dia kenal.

"Awh!" Pria itu menjatuhkan alat dongkrak yang mengenai kakinya. Agaknya, pria itu tak percaya pada yang dilihatnya sore ini.

"Mmh, N-non, Acha." Yah, Fasha mengenal lelaki tampan itu. Dia, Gantara, anak dari mantan sopir keluarga Fasha.

"Ehm!" Gantara terlihat berdehem sambil menggaruk tengkuk. "Nona."

"Bang Tara di sini?" Fasha segera bertanya setelah memastikan jika di hadapannya itu benar pria bernama Gantara.

"Hmm." Sedari dulu, Gantara irit bicara, dan Fasha tahu perangai tenang lelaki itu sedari masih sangat kecil. "Nona kenapa?"

Fasha menunjuk mobil Maureen yang masih teronggok di tepi jalan. "Mobil Acha di ujung jalan sana, barusan kami nabrak tiang, terus kata orang lewat, di sini ada bengkel bagus, makanya Acha ke sini."

"Oh." Gantara membuka kemejanya, dia lalu mendekati Fasha dan Maureen yang sempat beristighfar karena dada bidangnya.

"Kalau begitu tunggu sebentar." Gantara berlari menerjang tirai hujan. Di susul beberapa orang yang sebelumnya telah diteriaki Gantara untuk ikut dengannya.

Fasha dan Maureen melongo, mereka baru tahu kalau ternyata Bang Gantara bekerja di bengkel yang cukup ramai.

Tak berapa lama, teman teman Gantara lainnya menyuruh Fasha dan Maureen masuk ke bengkel besar tersebut.

Diberikan duduk dengan baik, bahkan sofa empuk yang agaknya dikeluarkan secara khusus hanya untuk mereka. "Silahkan."

"Terima kasih." Fasha menyengir, sambil sesekali melirik jam tangannya. Sudah adzan Maghrib, tapi untungnya bertemu Gantara, setidaknya dia mungkin bisa tanya musholla.

"Dari kapan kenal, Bang Tara, Neng?" Pria dengan banyak noda hitam di tangannya itu menegur sambil meraih lap basah.

Fasha dan Maureen kikuk, kenapa tiba tiba mereka sok kenal sok dekat. "Kenal lama sama Bang Boss?!"

Belum selesai pria itu menyelidiki, seseorang melempar pekerjaan padanya. Namun, itu bukan lelaki terakhir yang ingin tahu kenapa dua wanita tersebut bisa mengenal Gantara.

"Mmh, memang, Bang Tara lama di sini?"

Maureen yang penasaran menanyakan balik pada pria paling muda tersebut. Namanya Izzul, diketahui dari papan nama di dadanya.

"Ya, ... Lama, Neng. Bang Tara mah, dari jaman penjajahan sudah di sini kayaknya."

"Serius, Mas," sergah Maureen. "Maksudnya, dari kapan Bang Tara kerja di sini?"

"Kurang tahu saya. Saya sendiri diajakin gabung sama dia," jawabnya, lantas lekas berlari menyambut kedatangan mobil merah muda milik Maureen yang diderek untuk masuk ke dalam bengkel berlogo FSH.

Segera, Gantara mendatangi sofa di mana Fasha dan Maureen duduk. "Gimana, Bang? Parah kan?" Maureen mencecar karena mobil tersebut masih sangat baru.

"Kalo kerusakannya begini, sudah pasti harus ditinggal. Jadi, sambil menunggu mobilnya jadi, saya antar saja kalian ke rumah."

1
WHATEA SALA
Saya parnah di komeni penulis seperti author bilang,ya kaget aja...padahal komen ku gak membahas author nya "bikin cerita kok gini" cuma kesel sama si peran dalan ceritanya" ...ya sudah aku bilang"klu gak boleh komen ya maaf"gitu aja sih😁😁
WHATEA SALA
Azara sudah terbongkar kedoknya,mungkinkah fasha mau kembali pada bakrie..?? berharap sih enggak
WHATEA SALA
Klu masih cinta kenapa pulang ke indonesia,pake marah nangis kecewa..di nikmati aja apa yang terjadi meskipun sakit yang penting kan cinta..cinta...cinta,makan tu cinta klu sudah sampai muntah2 masih bilang masih cinta kah....!!??
WHATEA SALA
Syukurin kena tuduh...sudah suami di ambil orang e sok2an peduli sama anak nya,tinggal panggil emaknya kasih tau anak nya nangis
WHATEA SALA
Sombong amat anak nya miller tapi sombong mu gak ada guna karna suamimu nikah lagi....masih mau bertahan..??
WHATEA SALA
Preettt....mulai agama jadi sasaran
WHATEA SALA
oalah....fasha plus mu tambah😩😩
WHATEA SALA
Pergi aja fasha...kesannya kok seperti rebutan minta di kelon,pada kurang kerjaan,uuuphs...maaf cuma komen
WHATEA SALA
Andai bakrie dapat wasiat untuk terjun dari gedung mencakar langit kira kira mau gak ya...? ya jelas gak maulah karna tidak menguntungkan dan ada orang tercinta yang akan menangisin nya tapi wasiat ini sangat menguntungkannya walau ada hati tersakiti.keren ya laki laki macam ini
Eli Elieboy Eboy
𝑏𝑖𝑎𝑟 𝑔𝑎𝑘 𝑗𝑑 𝑑𝑢𝑑𝑎 𝑛𝑔𝑒𝑛𝑒𝑠 𝑙𝑜🤣🤣🤣
Eli Elieboy Eboy
𝑘𝑒𝑟𝑒𝑛 𝑔𝑎𝑘 𝑡𝑢ℎ 𝑠𝑚𝑢𝑎 𝑏𝑎𝑙𝑎𝑠𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑡𝑎2 𝑑𝑟 𝑔𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑐ℎ𝑟𝑖𝑒 🤣🤣🤣
Eli Elieboy Eboy
𝑖𝑡𝑢 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑐𝑖𝑛𝑡𝑎 𝑢𝑔𝑎𝑙2𝑎𝑛 𝑡𝑝 𝑐𝑖𝑛𝑡𝑎 𝑒𝑔𝑜𝑖𝑠 𝑦𝑔 𝑔𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢 𝑚𝑎𝑛𝑡𝑎𝑛 𝑖𝑠𝑡𝑟𝑖 𝑑𝑖 𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖 𝑝𝑟𝑖𝑎 𝑙𝑎𝑖𝑛 😡😡😡
Eli Elieboy Eboy
🤣🤣🤣 𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠 𝑑𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑔𝑖𝑔𝑖𝑙
Retno aja
bener nabeel jangan sama ayana
Eli Elieboy Eboy
𝑘𝑤 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑖𝑡𝑢 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑘𝑒𝑏𝑜𝑠𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑚𝑢 𝑦𝑔 𝑘𝑤 𝑢𝑐𝑎𝑝 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒 𝑎𝑐ℎ𝑎.... 🤣🤣🤣
Eli Elieboy Eboy
𝑚𝑎𝑚𝑝𝑜𝑠 𝑘𝑤 𝑏𝑎𝑐ℎ𝑟𝑖𝑒
Sari Nilam
Bahrie...ampun deh gamon ...
fasha udah bahagia ngapain masih ngarepin sesuatu yang sudah kamu buang dan abaikan. Gimana rasaya...nano nanokan
Mama lilik Lilik
ceritanya bagus banget suka, terimakasih KK author semoga sukses selalu buat karya yg menarik lagi, terimakasih banyak🙏
Sari Nilam
bachrie laki2 gak punya urat malu sama dengan umminya yang angkuh.
acha sudahlah untuk apa masih peduli sana manfan syami dan mertua jahat
Sari Nilam
mantap cha...hiduplah bahagia dengan anakmu yang sempat diragukan oleh suami bodohmu itu. Biarkan bachrie menyesal seumur hidupnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!