Kaina Chandrina terpaksa harus menikah dengan seorang CEO perusahaan besar. Ia harus menjadi tumbal akibat perbuatan orang tua, yang tega menukar dirinya dengan saham perusahaan.
Kini ia harus terjebak dalam sebuah pernikahan kontrak dengan Haikal Kusumanegara, CEO yang begitu berkuasa dan juga kejam.
Keluar dari kandang singa, masuk ke kandang harimau. Bagitulah ungkapan kata yang cocok untuk gadis malang itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bucin fi sabilillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengandalkan Diri Sendiri
Sudah dua hari Kaina di rawat di rumah sakit. Kondisinya semakin pulih dan kini ia sudah di jemput oleh Along agar bisa kembali pulang.
Walaupun ia merasa senang, karena sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, namun ia merasa tidak bersemangat. Mengingat, Haikal tidak memperlihatkan batang hidungnya sedari kemarin.
Mungkin hanya aku yang terlalu berharap. Batin Kaina.
Along menangkap sesuatu di wajah gadis cantik itu.
"Nyonya. Tuan sedang melakukan perjalanan keluar kota. Jadi nanti sore, tuan muda akan pulang," ucap Along.
"Iya, Tuan Asisten. Yang penting sekarang saya sudah bisa pulang," ucap Kaina tersenyum.
"Panggil saya Along saja Nyonya," ucap Asisten tampan itu.
"Tidak, itu tidak akan sopan!" ucap Kaina tersenyum.
"Nyonya," ucap Along menatap Kaina.
"Baiklah, Asisten Along," ucap Kaina.
"Itu lebih baik," ucap Along.
Mereka segera keluar dari ruang rawat VIP dan berpapasan dengan Rasya.
"Sudah mau pulang?" tanya Dokter tampan itu.
"Iya, Dokter. Terima kasih sudah merawat saya," ucap Kaina tersenyum.
"Sama-sama. Ingat pesanku, kalau sakit jangan ditahan sendiri lagi!" ucap Rasya tegas.
Kaina mengangguk dan segera berpamitan. Berjalan beriringan bersama Along, membuat gadis itu menjadi pusat perhatian dari beberapa orang yang berpapasan dengannya.
Kaina tidak menghiraukan sama sekali. Sebab ia sudah terbiasa mendengar omongan buruk orang lain tentang dirinya.
Setelah keluar dari rumah sakit, ia langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di lobby.
"Kita akan kemana, Asisten Along?" tanya Kaina.
"Kita akan ke apartemen tuan muda, Nyonya. untuk sementara waktu, anda akan tinggal di sana hingga benar-benar pulih sebelum pindah ke kediaman utama," ucap Along dingin.
"Apa saya boleh pulang dulu sebentar?" tanya Kaina penuh harap.
"Semua barang-barang anda sudah saya pindahkan sebagian ke rumah utama dan sebagian lagi ke apartemen. Anda jangan risau," ucap Along.
Kaina hanya meengangguk dan tidak bersuara lagi. Hingga mobil berhenti di sebuah gedung apartemen termahal di kota itu.
Kaina hanya terdiam sambil mengamati sekitarnya, apakah berbahaya atau tidak.
"Asisten Along, nanti saya akan tinggal bersama siapa?" tanya Kaina mulai was-was.
"Anda akan tinggal bersama dengan tuan muda, jika beliau ada di kota ini," ucap Haikal.
Kaina mengangguk dan keluar dari mobil. Dengan membawa sling bag kecilnya, ia berjalan
didepan Along dengan waspada.
Mereka menaiki lift eksekutif agar bisa sampai ke lantai paling atas, dimana unit milik Haikal berada.
"Nyonya, anda bisa menggunakan kartu ini, atau sandi untuk membuka pintu. Nanti sidik jari anda akan saya daftarkan pada akses sistem di unit ini," ucap Haikal.
"Terima kasih, Asisten Along," ucap Kaina tersenyum.
Along hanya mengangguk dan membawa gadis itu masuk kedalam kamar yang akan ia tempati selama berada di sana.
"Di sana kamar tuan muda. Untuk sementara asisten rumah tangga yang biasa membersihkan apartemen sedang izin cuti. Jadi, jika anda butuh sesuatu, anda bisa menelfon di nomor 004. Itu pengawal pribadi untuk anda," ucap Along.
Kaina mengangguk sambil menatap kamar utama yang masih tertutup rapat.
Apa yang kau harapkan Kaina? Bukankah dari awal sudah ada batasan jika kau hanya sebatas istri kontrak. Ini semua akan berakhir setelah masa kontrak perjanjian berakhir, atau Tuan Muda itu menceraikan aku. Batin Kaina lesu.
Ia memilih untuk berbaring di atas sofa setelah kepergian Along. Barang-barangnya masih belum tersusun didalam kamar dan masih terlihat berantakan.
"Kemewahan. Tidak ada yang spesial dari kata itu, jika tidak ada kebahagiaan di dalamnya," ucap Kaina menghela napas.
Ia menatap sesuatu yang mulai mencuri perhatiannya. Foto Haikal bersama dengan seorang gadis yang begitu cantik, sedang tersenyum penuh kebahagiaan.
"Apa dia pacar tuan muda? Sangat cantik dan sempurna jika dibandingkan dengaku," ucap Kaina tersenyum kecut.
Ia hanya melihat tanpa berani untuk menyentuhnya. Ia takut akan memancing emosi dari tuan muda yang sangat pemarah itu.
Drrtt, ddrrtt, ddrrtt.
Ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk dari sang ayah.
"Jadilah istri yang baik. Jangan memancing amarah tuan muda atau kita semua akan hidup melarat jika sampai dia menarik sahamnya kembali. Kirimkan ibu uang 100 juta hari ini juga!" Isi pesan itu membuat Kaina mengernyit.
"100 juta? Huh, sudah keluar dari rumah itu pun, aku masih di mintai uang. Padahal 70 persen uang sakuku dari ayah sudah dia potong," ucap Kaina menghela nafasnya.
Ia menghapus pesan itu tanpa berniat untuk membalasnya. Kaina memilih untuk pergi ke dapur dan melihat apa yang bisa ia masak.
"Dapur yang sangat mewah," ucap Kaina tersenyum.
Ia membuka kulkas dan melihat isi yang ada di dalamnya. Hanya ada minuman kaleng dan alkohol.
"Apa Tuan sering meminum ini? Tidak ada makanan apapun di sini," ucap Kaina lirih.
Ia segera kembali ke ruang tengah dan mengambil dompet lusuhnya. Ia menghubungi Along dan meminta izin untuk pergi keluar sebentar.
"Apa anda membutuhkan sesuatu? Biar saya suruh pengawal untuk membelinya," ucap Along mengernyit.
"Iya, tapi saya bisa sendiri. Sekarang saya pergi dulu," ucap Kaina.
"Baiklah, Nyonya. Cepat pulang sebelum tuan muda sampai di sana," ucap Along memperingati.
"Baiklah, terima kasih." Kaina mematikan panggilan dan bergegas untuk pergi ke supermarket terdekat yang berada tak jauh dari apartemen.
"Setidaknya aku masih bisa menghemat dengan berbelanja setiap minggunya. Ibu pasti tidak akan memberiku uang lagi. Jadi, mungkin sekarang aku harus mencari kerja, atau apa saja yang bisa menghasilkan uang," ucap Kaina tersenyum.
Ia segera keluar dari apartemen dengan membawa kartu yang diberikan oleh Along tadi.
Tanpa ia sadari, seseorang tengah menatap dirinya melalui kamera cctv. Ia tersenyum tipis melihat gadis itu yang terlalu takut untuk melakukan kesalahan.
Haikal tau, jika Sisca meminta uang kepada Kaina. Sebab ponsel gadis itu sudah ia sadap dan percakapan maupun pesan akan masuk juga ke dalam ponselnya.
Kita lihat, seberapa kau tidak tahan tanpa uang, gadis kecil. Aku penasaran, bagaimana cara kau meminta uang sebanyak itu nantinya. Batin Haikal tersenyum smirk.
Ia memilih pulang dan melihat apa yang akan di kerjakan oleh gadis itu. Tanpa ia sadari, sedikit perhatian susah ia berikan kepada Kaina walaupun dengan cara berbeda.
Sementara di Super Market, Kaina memilih beberapa bahan masakan yang harus tersedia di dalam kulkas itu. Entah sampai kapan ia akan tinggal di sana. Yang jelas, kini ia harus makan dan tetap bertenaga untuk menghadapi tuan muda kejam dan kasar itu.
Belanja sebanyak ini, semoga cukup untuk satu minggu. Batinnya.
Setelah selesai, ia segera pulang dan memilih untuk berjalan kaki, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh.
Panas terik tidak membuat gadis itu mengeluh. Ia sudah menjalani segala macam cobaan dalam. hidupnya. Namun kali ini, cobaan terbesar datang dan membawa serta keluarga.
Jika aku boleh egois, ingin rasanya aku pergi jauh dari sini. Menentukan jalan hidupku sendiri dan hanya dengan mengandalkan diri sendiri. Hinaan bahkan juga kekerasan, sudah banyak aku alami, itu sudah cukup menjadi bekalku untuk bertahan di negri orang. Tidak ada hal yang lebih berharga selain percaya kepada diri sendiri. Aku pasti mampu untuk melewati semuanya dengan baik. Walaupun harus bermandikan air mata. Batinnya selama perjalanan pulang.
Sayang bgt lho gak dilanjutin mana ceritanya bagus bgt..
Ayo kk semangat buat lanjutin lg ceritanya