Ini bukan kisah istri yang terus-terusan disakiti, tetapi kisah tentang cinta terlambat seorang suami kepada istrinya.
Ini bukan kisah suami yang kejam dan pelakor penuh intrik di luar nalar kemanusiaan, tetapi kisah dilema tiga anak manusia.
Hangga telah memiliki Nata, kekasih pujaan hati yang sangat dicintainya. Namun, keadaan membuat Hangga harus menerima Harum sebagai istri pilihan ibundanya.
Hati, cinta dan dunia Hangga hanyalah untuk Nata, meskipun telah ada Harum di sisinya. Hingga kemudian, di usia 3 minggu pernikahannya, atas izin Harum, Hangga juga menikahi Nata.
Perlakuan tidak adil Hangga pada Harum membuat Harum berpikir untuk mundur sebagai istri pertama yang tidak dicintai. Saat itulah, Hangga baru menyadari bahwa ada benih-benih cinta yang mulai tumbuh kepada Harum.
Bagaimana jadinya jika Hangga justru mencintai Harum saat ia telah memutuskan untuk mendua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Nanti malam, Mas mau makan di rumah?” tanya Harum yang tengah membersihkan perabot rumah dengan kemoceng.
“Boleh, kalau enggak merepotkan kamu," jawab Hangga yang tengah duduk di depan laptop usai sarapan. Ada schedule pekerjaan yang harus ia cek sebelum pergi ke kantor
“Enggak sama sekali, Mas. Saya malah senang Mas mau makan di rumah,” sahut Harum riang. Selama dua minggu ini Hangga belum pernah sekalipun makan di rumah. Baik itu sarapan, makan siang atau makan malam.Sepertinya ucapan Harum subuh tadi yang mempengaruhi perubahan sikap Hangga.
Hangga sedikit menarik sudut bibirnya, membalas senyuman Harum. Setelahnya, ia menutup laptop dan beranjak menuju kamar untuk mengganti kausnya dengan pakaian kerja.
Harum memandang langkah Hangga yang naik ke kamar atas dengan sorot mata berbinar. Tidak menyangka, Hangga bisa berubah secepat ini. Ia mengarahkan telapak tangannya di dada. Ada desir bahagia terasa di sana. Perubahan Hangga pagi ini sungguh luar biasa baginya. Semangatnya kini mulai menyala. Semangat untuk mendapatkan hati Hangga.
“Ayo, Harum, kamu bisa menaklukkan hati Mas Hangga.” Harum berbicara sendiri sembari senyum-senyum. Tanpa disadarinya, Hangga telah turun dari kamar dengan pakaian kerjanya.
Sembari mengancing lengan kemejanya, Hangga menuruni tangga. Matanya memicing saat melihat Harum senyum-senyum sendiri.
"Kamu kenapa?” tanyanya setelah menginjakkan kaki di anak tangga terakhir.
“Eh, enggak apa-apa, Mas.” Harum menjawab kikuk. “Mas mau berangkat sekarang?”
“Iya.” Hangga menjawab sembari merapikan pakaiannya.
Harum segera menyimpan kemocengnya, lalu pergi ke teras samping untuk mengambil sepatu Hangga. Ia pernah melakukan hal ini di hari-hari pertama pernikahannya, tetapi Hangga menolak dan melarang untuk mengurusinya.
“Sepatunya, Mas.” Harum meletakkan sepatu hitam mengkilat itu di dekat kaki Hangga.
“Terima kasih, Rum.” Jika hari-hari sebelumnya Hangga selalu marah dan menolak pelayanan Harum, maka pagi ini pria bertubuh jangkung itu mulai bersikap hangat.
Harum berdiri setia di samping Hangga sembari memperhatikan suaminya yang tengah memakai sepatu. Hangga memang tampan. Kulitnya tidak putih, namun juga tidak hitam. Warna kulit yang pas untuk orang Indonesia. Alisnya hitam dan rapi. Hidungnya tinggi dan mancung. Yang menjadi favorit Harum adalah cekungan di pipi kala Hangga tersenyum. Lesung pipi itu membuat Hangga tidak hanya tampan, tetapi juga sangat manis.
Satu lagi, pria berusia 26 tahun itu memiliki cambang yang membuatnya makin menawan.
Setelah memakai sepatu, Hangga meraih tas kerjanya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia pergi menuju mobilnya.
“Mas Hangga,” panggil Harum saat Hangga baru keluar pintu.
“Ya.” Hangga menghentikan langkahnya dan menoleh pada Harum.
Hangga melihat Harum berjalan mendekatinya. Setelah dekat, istrinya itu mengelap tangan di baju daster yang dikenakannya. Kemudian meraih tangan kanannya untuk salim.
“Hati-hati, Mas,” ucap Harum setelah salim.
Menatap Harum sejenak, Hangga menganggukkan kepalanya. Setelahnya, ia masuk ke dalam mobil dan melajukannya.
Setelah melepas kepergian Hangga, Harum kembali masuk ke rumah. Ia duduk di meja makan sembari berpikir tentang masakan apa yang akan dimasaknya.
Hangga sudah menyetujui akan makan malam di rumah. Harum berencana menghidangkan masakan spesial untuk momen pertama suaminya makan malam di rumah.
Setelah beberapa saat berpikir dan belum juga menemukan ide masakan, akhirnya Harum memutuskan untuk menelepon Bu Mirna. Ibu mertuanya itu pasti mengetahui menu masakan kesukaan Hangga.
*
Hangga duduk di meja kerjanya sembari membuka ponsel. Ia sedang menatap foto-foto dalam galeri ponselnya yang dipenuhi oleh foto seorang perempuan yang sangat dicintainya. Natalia Friska Wayong.
Hangga dan Nata telah menjalin hubungan yang lama sejak saat masih kuliah dulu. Mereka saling mencintai meski perbedaan menghalangi keduanya.
Perbedaan itulah yang membuat kedua orangtua Hangga tidak dapat merestui hubungan mereka. Perbedaan itu pula yang membuat Hangga kesulitan untuk melangkah menyatukan cinta dalam sebuah ikatan pernikahan bersama Nata.
“Mas Hangga, ada yang nyari tuh,” kata seorang satpam kepadanya.
“Siapa?”
“Biasa, Ayang Beb,” goda satpam berkulit hitam itu.
Hangga tahu persis bahwa yang dimaksud satpam tersebut adalah Nata, kekasihnya.
“Makasih, Pak,” ucap Hangga sebelum bergegas menemui Nata di lobi kantor.
Saat ini adalah sudah masuk jam istirahat sehingga banyak karyawan hilir mudik. Ada yang pergi ke kantin, ada yang memilih makan di luar kantor dan ada pula yang pergi ke musala untuk menunaikan kewajiban waktu zuhurnya.
Dengan langkah semangat, Hangga berjalan menuju lobi. Ia pun sudah sangat rindu pada Nata. Lebih dari dua minggu mereka tidak bertemu, karena kekasihnya itu tengah pulang kampung ke daerah asalnya di kota Manado.
Sampai di lobi, Hangga malah tidak menemukan Nata di sofa tunggu lobi. Hangga menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari keberadaan pujaan hatinya.
“Door!” Nata menggoda Hangga dengan mengejutkannya dari belakang.
Hangga berbalik badan, lalu menjawil gemas pipi Nata. Seandainya saja bukan di tempat kerja, ia pasti sudah meraih perempuan cantik itu ke dalam pelukannya.
“Kok sudah pulang? Katanya mau sebulan di sana?” lontar Hangga.
“Memangnya kamu mau aku lama-lama di sana? Yakin enggak bakalan kangen?” Nata mengerucutkan bibirnya.
“Mana mungkin aku enggak kangen kamu.” Hangga mengusap pelan puncak kepala gadis berambut sebahu itu.
“Sedetik aja enggak ketemu kamu itu berasa kaya seribu tahun. Nah, kalau lebih dua minggu enggak ketemu, jadi berasa berapa tahun? Ayo itung sendiri,” gurau Hangga.
“Idih gombal.” Nata tertawa renyah. “Coba kamu yang itung, katanya kamu jago matematika,” sahutnya.
“Aku enggak jago matematika. Jagonya menyayangi kamu,” kata Hangga lagi.
Nata mencebik. "Daripada ngegombal, kita makan, yuk!” ajak Nata.
“Ayo! Makan di mana kita?”
“Ke kedai sop duren ya,”usul Nata.
“Enggak, enggak, jangan di sana,” tolak Hangga cepat.
Kedai sop duren yang dimaksud Nata adalah kedai milik orang tua Hangga yang setahun ini telah membuka cabang di kota Tangerang.
“Kenapa sih, orang aku suka sama menu di sana. Meskipun kedai itu punya orangtuamu, tapi aku bayar kok, enggak gratisan makannya,” protes Nata.
Selama ini Hangga memang kerap menolak jika Nata mengajaknya untuk mengunjungi kedai tersebut.
“Iya, iya, kalau mau nanti aku bungkusin buat kamu. Tapi sekarang kita makan nasi aja ya. Aku lagi pengen makan nasi. Di kedai enggak ada menu nasi kecuali nasi goreng,” kilah Hangga.
Sebenarnya ia sendiri pun tidak tahu pasti menu di kedai sop duren yang sangat terkenal di kota kelahirannya itu. Ia menolak membawa Nata ke sana dikarenakan khawatir Bu Mirna akan mengetahui kalau ia masih berhubungan dengan Nata. Bisa saja ‘kan ada karyawan kedai yang melaporkannya pada sang ibunda.
Akhirnya Nata mengalah, dan menurut saja pada keputusan Hangga. Kekasihnya itu membawa ke sebuah rumah makan bebek goreng tidak jauh dari kantornya.
“Gimana kabar papamu?” tanya Hangga di sela menunggu pesanannya. Mereka duduk berhadapan dengan berselang sebuah meja kecil.
“Sudah lebih baik,” jawab Nata.
Kepulangannya ke Manado adalah karena kesehatan sang papa yang menurun.
“Syukurlah. Semoga papamu bisa sehat kembali.” Hangga menjulurkan tangan, mengusap punggung tangan Nata untuk memberi kekuatan sekaligus tanda bersimpati.
“Terima kasih,” ucap Nata. Gadis itu kemudian menundukkan kepala seolah tengah memikirkan sesuatu.
“Sayang, ada apa?” selidik Hangga.
“Papa maunya aku tetap di sana. Papa maunya aku cari kerja di sana. Papa maunya aku tinggal di sana menemani Papa. Terus aku bilang, aku enggak bisa tinggal di sana,” tutur Nata.
“Biar saja lah, Papa juga punya istri yang bisa merawatnya,” sambung gadis berkulit putih bersih itu.
Sejak belia, saat sang mama berpulang ke pangkuan Tuhan, Nata memang tidak tinggal bersama papanya. Ia diasuh oleh neneknya dan tinggal di Jakarta.
“Yang penting kamu selalu mendoakan papamu,” sahut Hangga. Hubungannya dengan Nata yang sudah berjalan lama membuat Hangga cukup mengetahui kisah kehidupan keluarga Nata.
“Kamu tahu enggak, kenapa aku enggak bisa tinggal di sana sama Papa?” lontar Nata.
“Kenapa memangnya?” Hangga balik bertanya.
“Karena aku enggak bisa jauh dari kamu, Hangga. Aku sangat mencintai kamu,” ujar Nata menatap Hangga tidak berkedip.
Hangga menggenggam tangan Nata. “Aku juga cinta kamu, Nata.”
“Hangga.“
“Hemm.”
“Apa suatu hari nanti kita bisa menikah?” tanya Nata menatap lekat lelaki pujaannya.
sungguh nikmat kn mas Hangga poligami itu 😈
yg bener nggak sadar diri
perempuan yang merendahkan diri sendiri demi cinta yg akhirnya di telan waktu