NovelToon NovelToon
Summer Between Jonas & Arnas

Summer Between Jonas & Arnas

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:30.1k
Nilai: 4.5
Nama Author: @l_uci_ous

"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.

Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.

Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.

Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Amnesia

"Hai," suara tak asing menyapa.

Achilla berpaling ke sisi. Menjumpai iris kelabu yang membuatnya ingin waktu membeku.

"Hai," Chilla membalas. Lupa es krim apa yang mau ia ambil. Mendadak pikirannya kosong. Efek berada di dekat Jonas sungguh tak baik. Linglung dan berdebar tak normal.

"Kamu mau es krim yang mana?" tanya Jonas, mengambil dua es krim stroberi. Lalu menatap Chilla yang mendadak kelabakan dan memungut es krim yang sama.

"Udah?"

Chilla mengangguk. Jonas pun menarik tertutup pintu kotak es krim, kemudian berjalan lebih dulu.

Chilla mengekori Jonas. Punggung tegap berselimut hoodie warna biru muda senada dengan yang ia kenakan, membuatnya tersenyum. Mereka couple-an. Dan itu terjadi tanpa perencanaan. Pertanda jodoh ini mah. Pipi Chilla bersemu oleh pikiran itu.

Setiap momen seolah mengawang-awang, sampai Chilla tidak begitu ingat bagaimana kejadiannya hingga ia sudah mengiringi Jonas berjalan meninggalkan Indomaret dengan es krimnya juga dibayari.

"Kak Largha ke mana? Tumben kamu pergi sendiri," tanya Jonas disela jilatan es krimnya.

"Belum pulang. Lagian deket ini," jawab Chilla. Mencoba menikmati es krim yang entah bagaimana tiba-tiba jadi hambar. Mungkin karena kalah manis dengan yang melangkah di samping. Kebanting manisnya.

"Aneh lihat kamu pergi sendirian, gak bareng Kak Largha."

Bibir Chilla mengerucut. Ini menyebalkan. Stigma gadis manja melekat sekali pada dirinya karena Kak Largha yang terlalu protektif. Saking lebay-nya, jika sedang ada di rumah Kak Largha akan memaksa mengantar dirinya yang cuma mau ke Indomaret depan kompleks. Terlalu berlebihan.

Kak Largha hampir tak pernah membiarkan Chilla sendirian, pengecualian jika itu benar-benar tidak memungkinkan seperti hari ini. Itu juga Kak Largha tahunya ia pulang naik gojek bukan naik angkot. Jika sampai kakaknya tahu ia naik angkot seorang diri, habis ia diomeli. Dan karena itu juga tak ada satu laki-laki pun yang benar terang-terangan mendekatinya! Mereka kicep melihat Kak Largha.

"Itu nyebelin banget tahu gak? Kak Largha gak pernah biarin aku sendirian. Lebay banget."

Jonas menoleh. "Dih, gak boleh gitu," tegurnya. Lalu kembali memandang ke depan. "Dia gitu karena sayang sama kamu, juga khawatir kalo kamu pergi-pergi sendirian."

"Tapi gak harus segitunya juga, kan," keluh Chilla. Kali ini ia tak mau memandang Jonas, cemberutnya bisa batal jika melihat wajah laki-laki di sisinya.

"Wajar, kok, apalagi adeknya kayak kamu."

Chilla mengernyit. "Emangnya aku kenapa?"

"Cantik."

Langkah Chilla berhenti. Ia tak salah dengarkan? Chilla melipat bibirnya menahan senyum. Pipinya terasa memanas. Jatungnya berdegup dua kali lebih cepat. Perutnya pun mulas. Astaga, Chilla berusaha keras agar tak meloncat-loncat kegirangan.

Chill, Chilla, chill... Achilla mengingatkan dirinya.

Terlihat Jonas berhenti, menoleh ke belakang. "Chilla?"

Chilla mati-matian berusaha menghampiri Jonas dengan kaki yang segoyah jeli buatan Kak Largha yang overdosis air. Kemudian keduanya kembali melenggang santai. Seiring.

"Kamu capek?" tanya Jonas.

Chilla menggeleng. "Enggak, kok." senyumnya terkembang lebar, membuat Jonas ikut tersenyum kecil.

Untuk sejenak tak ada lagi percakapan di antara mereka, hanya sesekali suara kendaraan melintas mengisi telinga keduanya. Sementara sang empu sibuk masing-masing. Jonas—sebagaimana yang sesekali dilirik Chilla, khusyuk menikmati es krimnya, sedang Chilla sendiri sibuk dengan jantungnya yang masih bertalu-talu tak menentu.

"Eh," Jonas memulai lagi, memandang Chilla, "aku lupa nanya ke Arnas di mana servis handphone-nya. Besok ya?"

"Iya gak pa-pa."

"Mmm, Chill," panggil Jonas setelah beberapa waktu tak ada suara.

Chilla menoleh. "Apa?"

"Kamu belum maafin Arnas?"

"Eh?" Chilla gelagapan. Rasanya ia ditodong, dan tak pilihan yang cukup baik untuk diambil. Jika berkata 'belum', kok kesannya ia jahat dan pendendam sekali—walau itu benar, tapi kan tidak bagus bagi image-nya yang harus dijaga di depan pacar masa depan. Jika menjawab 'sudah' berarti ia berbohong, nambah-nambahin dosa dong jadinya.

"Gak usah panik gitu," Jonas tersenyum, "Hak kamu kok buat maafin atau enggak."

Diam-diam Chilla memperhatikan Jonas yang tampak cool dan memukau walau menggenggam es krim stoberi yang bungkusnya berwarna merah muda. Tak salah ia jatuh hati pada remaja semenawan ini. Sudah ganteng, baik, keren, dewasa, pengertian pula. Kurang apa coba? Ada satu sebenarnya, kenapa Jonas harus menjadi saudara kembar Arnas?!

Tapi ngomong-ngomong kenapa Jonas tiba-tiba bertanya? Apa karena hubungan Chilla dan Arnas yang memanas belakangan ini? Atau jangan-jangan, Arnas menjelek-jelekannya di depan Jonas seraya playing victim?

"Mmm... Kenapa tiba-tiba kamu nanyain itu, Jo? Arnas cerita sesuatu?"

"Enggak," jawab Jonas kalem. "Arnas gak cerita apa-apa. Cuma agak kasian aja sama dia."

"Kasian kenapa?"

Saat Jonas mengatakan kasihan pada saudaranya, seketika Chilla merasa menjadi tersangka.

"Dia itu bener-bener pengen baikan sama kamu. Bahkan belakangan ini dia nyoba sok asik kan sama kamu?"

Chilla mengernyit. Hei! Sok asik yang dimaksud Jonas bukan perkara Arnas jadi super menyebalkan dengan ledekan-ledekannya itu, kan?

Chilla menoleh pada Jonas yang ternyata melakukan hal serupa. Mereka pun berpandangan. Dan seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Chilla bahkan sebelum ia sempat bersuara, Jonas telah lebih dulu mangut-mangut.

"Sok asiknya Arnas memang agak gak asik," tambah Jonas, meringis.

So, jadi itu maksud sikap Arnas beberapa hari ini? Manusia hina itu mau minta maaf?

"Tapi dia itu baik, kok," Jonas mempromosikan adiknya.

Chilla meragukan itu. Arnas baik? Halah, enggak mungkin.

Bersama penolakan Chilla pada ucapan Jonas, terlintas di benaknya gambaran sebuah senja, di mana Arnas menggerutu namun tetap membantunya menemukan permen loli stroberi dari Jonas.

Ya... mungkin Arnas memang baik, kadang. Jarang. Chilla memperbaiki persepsinya terhadap Arnas.

"Cuma ya kadang dia emang agak ngeselin."

Kadang? Sering.

"Tapi kalo kalian baikan, kan bagus. Apalagi kalian sekelas."

Bagus dari sisi mana coba? Satu-satunya hal yang bagus dari Arnas hanya laki-laki itu pandai dalam bidang olahraga. Dan itu sama sekali tak menarik minat Chilla. Ia tak bisa mendapatkan keuntungan apapun dari hal itu, jadi membaiknya hubungan ia dan Arnas sama sekali tak akan membawa kebaikan baginya. Jadi tak ada bagus-bagusnya.

"Kamu bahkan bisa manfaatin status populernya Arnas."

"Buat?" tanya Chilla, syok. Ini benar Jonas berkata untuk memanfaatkan kembarannya?

"Arnas kan temenan sama banyak anak-anak famous sekolah. Siapa tahu ada yang kamu suka, kan kamu bisa minta bantuan Arnas," ungkap Jonas, diiringi tawa kecil.

"Apaan sih, Jo..." Chilla mengelak. Memang ada yang ia suka, tapi itu bukan teman Arnas, melain kan saudaranya. Dan dia berada tepat di sebelah Chilla.

Tapi, ide Jonas bagus juga, pikir Chilla. Mungkin ia akan memaafkan Arnas saja.

"Atau jangan-jangan... kamu suka sama Arnas?"

"Enggak!" jawab Chilla cepat, nyaris berteriak.

Meledaklah tawa Jonas. Sementara wajah Chilla memerah, malu. Reaksinya terlalu cepat.

"Iya, iya," ujar Jonas begitu tawanya mereda. "Becanda."

Chilla hanya tertunduk, masih agak malu. Bayangkan, ia nyaris berteriak di depan wajah orang yang ditaksirnya. Kan memalukan sekali.

"Ya udah," ujar Jonas ketika tiba di jalan depan rumah mereka yang berseberangan. "Aku masuk dulu," pamit Jonas.

Chilla mengangguk.

"Kamu gak pa-pa sendirian di rumah? Gak mau mampir dulu, mungkin?" tawar Jonas. "Ada Ibu di rumah, sambil nunggu Kak Largha pulang."

"Gak, deh, mau langsung pulang aja. Mau ngerjain tugas."

Mengerjakan tugas? Sejak kapan ia begitu rajin? Tapi ya, mulutnya bisa saja diandalkan agar terlihat baik di mana Jonas. Padahal ya ia menolak karena takut Kak Largha pulang sedang ia tak di rumah, selain itu ia juga gugup bertemu calon mertua.

"Oke," Jonas mengangguk. "Masih mau es krim lagi gak?" Ia menyuluhkan plastik Indomaretnya. "Aku salah beliin Arnas, lupa dia gak suka rasa stroberi. Padahal dia yang tadi nyuruh aku beli es krim."

Chilla menerima es krim itu. Jika dipikir-pikir, ia dan Jonas pergi ke depan kompleks yang lumayan jauh hanya untuk membeli es krim, kurang kerjaan sekali. Okelah, Jonas beli dua es krim, Chila hanya beli satu! Kerajinan sekali.

Astaga! Chilla menepuk jidatnya. Ia baru teringat tadi tujuannya untuk membeli obat nyamuk. Gara-gara bertemu Jonas ia malah amnesia, dan hanya membeli es krim yang pertama kali ia sambangi posisinya. Subhanallah Chilla...

"Kenapa?" tanya Jonas.

"Lupa, tadi aku mau beli obat nyamuk."

Jonas tertawa, maka Chilla pun mengiringinya.

ΔΔΔ

Jam pertama, cuaca cerah, pelajaran sejarah, beban pikiran juga mood yang buruk bukanlah kombinasi yang baik menurut Arnas. Apalagi suara pria yang tuanya tampak sebanding dengan sejarah yang diterangkannya terdengar sayup-sayup, seperti angin sepoi-sepoi di tengah hari musim kemarau, membangkitkan kantuk. Arnas membuat gerakan melingkar di lembar terakhir bukunya dengan konsisten. Matanya sayu, wajahnya kuyu.

Puk!

Sesuatu membentur pelipis Arnas. Dengan ogah-ogahan ia melirik, melihat bola kertas kecil di atas mejanya. Lalu ia menoleh sekilas pada suspect pertama. Chilla.

'Buka, buka,' bibir gadis itu bergerak menggumamkan kata itu tanpa suara. Wajahnya bersemangat, berbanding terbalik dengan Arnas.

Sebetulnya Arnas malas, hanya saja ia penasaran apa yang mau Chilla sampaikan. Maka sambil menguap lebar ia mengurai gumpalan kertas itu, meratakannya agar bisa di baca.

Lo mau gue maafin? Ada syaratnya.

Arnas mengernyit. Mencurigakan. Chilla menawarkan perdamaian? Padahal tampaknya belakangan ini usahanya malah mengobarkan kebencian gadis itu. Perasaannya jadi tidak enak. Tapi terserahlah, yang penting ia mengusaikan segalah urusan dengan gadis itu. Menghilangkan perasaan bersalah karena ketidaksengajaan yang naas itu.

'Apa?' gumam Arnas tanpa suara pada Chilla di seberang sana.

Tampak Chilla menuliskan sesuatu lalu merobeknya dari buku. Tak lama satu bola kertas mendarat lagi di meja Arnas. Segera Arnas membukanya.

Bantuin gue deketin Jonas.

Apaan?!

Arnas melotot pada Chilla. Darimana Chilla mendapat ide semacam ini? Setelah sekian lama gadis itu sama sekali tak pernah menunjukan kecerdasan semacam ini? Pasti ada yang memberinya ide. Orang sesat macam apa yang melakukan itu?

Di seberang sana Chilla menaikkan alis menunggu jawaban. Sementara Arnas menggaruk ringan sudut rahangnya, memikirkan dilema yang menjebaknya. Ia ingin menuntaskan segala perkara dengan Chilla, ia tak mau lagi merasa bersalah saat bertemu tatap dengan siswi satu itu. Tapi ia tak bisa membiarkan hati nuraninya ternodai, masa ia mau menjodohkan satu-satunya saudara yang dimilikinya dengan gadis sejenis Chilla?

Lagi, Arnas melirik Chilla. Songong sekali gadis itu menaik-turun-kan alisnya. Bukan tipe Jonas sekali. Kakaknya itu suka gadis yang anggun, bukan gadis seperti Chilla. Kecil kemungkinan Jonas akan tertarik pada Chilla.

Oke, seharusnya dengan fakta itu ia tak perlu mengkhawatirkan Jonas. Chilla hanya meminta Arnas mendekatkannya dengan Jonas, hanya itu. Bukan untuk membuat mereka jadian—yang mana itu tidak mungkin. Lagi pula presentase keberhasilan Chilla membuat Jonas tertarik sangat kecil. Dan untuk membuat angka keberhasilan itu menjadi kemustahilan, ia hanya perlu mendorong Jonas lebih dekat dengan Zeeta. Masih ada Zeeta.

Nice! Sudah diputuskan.

Puk!

Arnas berdecak. Mengambil gumplan kertas yang menghantam pipinya. Dasar Chilla.

Buruan, gak usah kelamaan mikir. Mumpung lagi baik gue.

Arnas mencebik. Lagi baik? Baik dari sisi mana sih ini? Memanfaatkannya itu bisa dikategorikan hal baik? Sejak kapan?

"Baca apa kamu Arnas?" suara merdu selembut beledu menelusupi rungu Arnas.

Arnas mengangkat mata. Bertemu rupa guru sejarah yang mirip makhluk purbakala. Kurus, kering, dengan fitur-fitur wajah yang menonjol. Ngeri pokoknya. Segera ia meremas kembali kertas di tangannya.

"Bukan apa-apa, Pak," jawab Arnas. Menggaruk sudut rahangnya yang tak gatal.

"Saya baru tahu kalo ini," Bapak Sejarah merebut kertas di tangan Arnas, "namanya 'bukan apa-apa'."

Belum sempat kertas itu dibaca, Chilla yang entah bagaimana tiba-tiba ada di sisi Arnas menjambret kertas itu dari tangan Pak Sejarah, berikut dua kepal kertas lain di meja Arnas, seraya berucap, "Maaf, Pak!"

"ACHILLA!" Mengejutkan tubuh kurus kering itu bisa mengeluarkan suara yang menggelegar, membuat seisi kelas yang menonton jadi kicep.

"Maaf, Pak, maaf, Pak," rapal Chilla.

"Bawa sini kertas-kertas itu!"

Chilla menggeleng kuat-kuat, menyembunyikan kertas-kertasnya di belakang punggung.

Arnas menganggumi ketegaran gadis itu. Rasanya baru kemarin Chilla menangis di ruang BK. Sekarang dia berdiri tegar menghadapi salah satu 'penyakit' di sekolah.

"Chilla!"

Chilla mundur. Guru yang menegur bergerak maju.

"Achilla, kasih ke saya kertas-kertas itu," bisik Pak Sejarah dengan mengerikan. Menengadahkan tangannya, meminta.

Chilla keukeuh mempertahankan kertas itu. Arnas mengerti sih, Chilla akan sangat malu jika sekelas tahu bahwa ia menyukai Jonas, bahkan berusaha berbuat kesepakatan mengenai itu. Terlebih lagi jika hal itu sampai ke telinga Jonas sendiri. Iya bagus jika Jonas juga suka—yang mana itu mustahil. Jika tidak, Chilla mungkin merasa lebih baik untuk mengubur dirinya sendiri seketika, sebab satu sekolahan pasti akan mengolok-oloknya. 'Tragedi berdarah' pas MPLS itu pasti lewat malunya.

Arnas mengernyit. Jika hal itu sampai terjadi Chilla tak akan menyalahkannya, kan? Maksudnya, bukan ia yang memberikan kertas-kertas itu walau benda itu ditujukan untuknya. Salah siapa main surat-suratan bagai anak SD? Tapi ini kan Chilla, si anak manja nan pendendam.

Arnas berdiri. Ia tak mau memperburuk persoalan dengan Chilla. Cukup soal 'tagedi berdarah', tidak usah ada 'tragedi surat-suratan'.

Arnas melerai jarak antara Pak Sejarah dan Chilla dengan berdiri di hadapan keduanya. Ia berposisi seolah melindungi Chilla, menghadirkan dengung semangat dari para murid lain.

"Maaf Pak, kalo Chilla gak mau ngasih lihat ke Bapak artinya itu hal yang privasi buat dia," Arnas memulai. "Dan Bapak gak berhak melanggar privasi murid sekolah ini."

Pak Sejarah menyipit. "Oke, kalo gitu saya gak akan ambil kertas-kertas itu." Ia mengangkat tangannya. "Tapi kalian harus KELUAAARRR dari kelas saya... Berdiri hormat di lapangan sampai jam pelajaran saya selesai." Giginya bergemeletuk. "Dan besok saya mau orang tua/wali kalian menghadap saya."

Sial.

Arnas menutup matanyanya frustrasi. Sepertinya guru sejarahnya ini sedang PMS. Sensi sekali. Cuma masalah seperti ini saja!

ΔΔΔ

1
Ochi_Ara Alleta
huhuuuuu sampai loncat chapter gara2 penasaran endingnya....kirain bakal sad ending😭gak nyangka finally.....akhir yg bahagia....😩
S2 yuk kak....
Ochi_Ara Alleta
cerita bagus berkualitas kayak gini sepi like dan pembaca🤧Eman banget...
Ochi_Ara Alleta
telat banget tau gak....Nemu cerita kayak gini.huuhuu🤧
Ochi_Ara Alleta
Nemu cerita seru🥰
kenapa baru sekarang nemunya....
Zakiatu Anastasya
q jga pernah thor,sakit mah g terlalu tp malu y itu lah thor,,,,🤭🤭🤭😅
Ny Anwar
ngeri2 sedap... 😱😱
Santai Dyah
like
Santai Dyah
hadir
Santai Dyah
ceritanya bagus boom like untuk karya terbaikmu thor salam dari Kabut cinta
Buahnaga.putih
arnas gmn thor ?
newtoon🐇
keren
Conny Radiansyah
makasih Thor... happy ending untuk Jonas dan Chilla, btw Arnas apa ceritanya Thor...
Conny Radiansyah
kalo sampe sini ceritanya belum bisa dibilang tamat Thor...
Conny Radiansyah
lanjut
yul,🙋🍌💥💥💥
makasih.... semua karyamu bagus.


sungguh
Pitara Lusiana: Terima kasih
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
arnas mana?
Pitara Lusiana: Arnas ada di rumah. Udah move on
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
1 cangkir kopi buat arnas....
zkdlinmy
uuu akhirnya dilanjut jga.. thanks thorr
Pitara Lusiana: Sama-sama
total 1 replies
Ruliyah Yu Yah
makasih kak,tak tunggu kelanjutanya ghatan
Ruliyah Yu Yah
arnas,vita,sekarang mah nungguin ghatan....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!