Edelweiss Javanica adalah seorang gadis cantik keturunan Jawa Eropa. El memiliki mata hazel sama seperti ibunya sehingga membuat banyak orang terhipnotis oleh tatapannya.
El juga seorang primadona kampus. Siapapun pasti mengenal si gadis cantik, pintar, kaya, ramah dan baik. Apalagi dia juga mempunyai kekasih yang tampan. Sungguh hidupnya terlihat begitu sempurna hingga banyak gadis yang iri padanya. Bahkan mereka memimpikan hidup seperti dirinya.
Namun ternyata hidupnya tak sesempurna yang terlihat. Kekasih tampannya sering membentak bahkan memukulnya jika ada pria lain yang menatap kagum padanya.
Akankah Edelweiss bertahan dengan kekasih posesif nya? Atau dia akan menemukan tempat bersandar yang baru dan lebih nyaman?
Baca kisah selengkapnya di SORRY, But I Love You.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terhipnotis
"El bangun sayang. Kamu jadi kan hari ini mulai bekerja di perusahaan sahabat papa." Terdengar suara ketukan pintu dan teriakan Aditya dari luar kamar. El yang kaget langsung terbangun dan melihat jam di atas nakas sudah menunjukan pukul enam lebih empat puluh lima menit.
"El bangun sayang." Masih terdengar teriakan dan ketukan pintu dari luar kamar El.
"Iya pa El sudah bangun." El membuka pintu kamarnya dan melihat Aditya yang sudah rapi mengenakan setelan jas kerja.
"Ya ampun sayang kamu belum siap-siap? Ini sudah jam berapa? Kamu jadi kan bekerja di perusahaan uncle Michael?" tanya Aditya yang melihat penampilan bangun tidur putrinya. Rambut acak-acakan dan melilitkan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Iya pah, maaf aku kesiangan. Aku akan langsung siap-siap dan berangkat."
"Baiklah. Papa harap kamu bekerja dengan baik dan tidak mengecewakan uncle Michael. Kalau gitu papa berangkat duluan karna ada meeting dengan klien pagi ini. Kamu nanti berangkatnya hati-hati.
"Iya pa."
Sebelum meninggalkan El, Aditya tidak lupa mengelus rambut putri kesayangannya. Dia memang selalu melakukan hal itu untuk menunjukan rasa sayangnya pada El.
Setelah melihat papanya menghilang di ujung tangga El langsung berlari menuju kamar mandi. Dia menguyur tubuhnya di bawah shower dengan secepat kilat karna kalau tidak dia pasti akan terlambat.
El mengenakan pakaian yang di berikan Leo kemarin. Setelah memakai softlens tidak lupa dia memakai kaca mata tebalnya. El menghela nafas saat menatap bayangannya di cermin. Dia tidak menyangka penampilannya bekerja akan seperti ini. Bahkan hari ini untuk memoles bedak di wajahnya pun dia tidak sempat.
El langsung menyambar tas dan ponselnya yang berada di atas nakas. Tidak lupa kunci mobil kesayangannya. Dengan sedikit berlari El menuruni tangga.
"Non El gak sarapan dulu?" Suara bu Asih menghentikan langkahnya. El berbalik dan tersenyum pada asisten rumah tangganya itu.
"Enggak bu, aku udah terlambat." Bu Asih tidak fokus dengan jawaban yang di lontarkan El padanya. Dia justru melongo melihat penampilan gadis yang sudah di rawatnya sejak 15 tahun terakhir ini.
El bergegas menuju garasi dan meninggalkan Bu Asih yang belum sadar jika El sudah pergi dari hadapannya.
El keluar dari rumahnya saat mbak Ira salah satu asisten rumah tangganya membukakan pintu gerbang untuknya. Sebelumnya El sudah mengatur google map agar tidak salah jalan karna ini baru pertama kalinya dia datang ke perusahaan tersebut.
El melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut. Namun karna jalanan ibu kota yang sangat padat membuatnya harus mengeluarkan ekstra kesabaran.
El memarkirkan mobilnya di basement gedung perusahaannya. Dia keluar dari mobil dan berlari menuju lobby untuk bertanya pada resepsionis dilantai berapa ruang CEO berada.
"Mbak ruang CEO di lantai berapa ya?" tanya El dengan nafas yang naik turun karna habis berlari dari basement.
Dua orang resepsionis saling lempar pandangan saat melihat penampilan El.
"Maaf mbak tapi ada keperluan apa ya bertanya dilantai berapa ruangan CEO?" Salah satu dari penjaga resepsionis itu bertanya heran. Tidak mungkin CEO nya yang tampan memiliki tamu seperti wanita didepannya.
"Saya sekertaris baru tuan Kennan Mallory. Tolong beri tahu saya dimana ruangannya." El mendesak kedua resepsionis di depannya karna saat melihat jam di tangannya sekarang sudah menunjukan pukul 07.57 menit dan artinya 3 menit lagi waktu masuk kerja dimulai. Dan bisa dibayangkan bagaimana marahnya si Kennan jika di hari pertama saja dia sudah terlambat.
"Maaf mbak, kenpa anda tidak tau di lantai berapa ruangan CEO kami, jika anda benar-benar sekertaris baru tuan Kennan." Kedua sekertaris itu masih kekeh tidak mau memberitahu dimana ruangan CEO berada dan berhasil membuat El kesal. Tidak mungkinkan El berkata jika dia menjadi sekertaris Kennan karna permintaan uncle Michael. Bukannya percaya mereka malah akan semakin mentertawakannya. Mungkin kalau dia berpenampilan seperti biasa mereka akan percaya. Namun sekarang dia sedang menampilkan dirinya yang seorang gadis culun karna syarat dari Leo.
El ingin meminta tolong papanya untuk menghubungi uncle Michael agar dia diperbolehkan pergi ke ruangan Kennan oleh dua resepsionis ini. Namun saat ingat papanya sedang ada meeting pagi ini membuat El mengurungkan niatnya.
Akhirnya El pun kembali memohon agar di beri tahu dilantai berapa ruangan Kennan. Dan lagi-lagi kedua resepsionis masih kekeh tidak mau memberi tahunya. Hingga menimbulkan sedikit keributan di meja resepsionis.
"Ada apa ini?" terdengar suara pria dari arah belakang yang langsung menghentikan perdebatan ketiganya. Kedua resepsionis langsung menundukkan kepala mereka. El memutar tubuhnya dan mengarahkan pandangan matanya pada sosok pria tampan dengan setelan jas berwarna hitam yang tengah berdiri di belakangnya.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya pria itu lagi karna tak mendapat jawaban.
"Maaf pak Sean, nona ini memaksa kita memberi tahu di lantai berapa ruangan CEO, wanita ini berkata jika dia adalah sekertaris baru tuan Kennan," jawab salah satu resepsionis dengan suara bergetar. El heran kenapa dua resepsionis ini begitu takut dengan pria tampan di hadapannya ini.
Pria itu menatap El dari atas sampai bawah lalu mengerutkan dahinya.
"Apakah anda nona Edelweiss Javanica?" tanya Sean pada El.
"Iya benar. Apakah anda mengenal saya?" tanya El heran. Karna seingatnya dia belum pernah bertemu dengan pria tampan di depannya itu.
Sean memang belum pernah bertemu langsung dengan El. Dia hanya tau dari tuan Michael Mallory jika akan ada anak sahabatnya yang akan menjadi sekertaris baru tuan Kennan. Saat melihat El, Sean langsung kaget karna dari foto yang ditunjukan tuan Michael, Edelwiess adalah seorang gadia yang cantik dengan mata hazelnya. Pada akhirnya Sean menyimpulkan jika mungkin saja foto itu hanya editan agar El terlihat cantik di dalam foto. Bukankah itu yang biasa orang-orang saat ini lakukan. Cantik di sosial media namun saat bertemu langsung berbeda.
"Perkenalkan nama saya Sean, saya adalah asisten pribadi Pak Kennan," Sean mengulurkan tangannya pada El yang langsung di sambut olehnya.
"Lanjutkan pekerjaan kalian, dan jangan buat keributan lagi," ucap Sean pada dua orang resepsionis.
"Baik pak."
"Nona Edelweiss silahkan ikut saya, saya akan mengantarkan anda ke tempat kerja anda." Sean melangkah menuju lift dan disusul El dibelakangnya.
Di dalam lift El berdiri tepat di belakang Sean. Mereka bedua saling diam dan tidak berbicara sepatah kata pun sampai lift tiba di lantai teratas gedung perusahaan.
El masih melangkah mengikuti Sean yang berada di depannya hingga Sean berhenti dan berbalik kearahnya ketika mereka sampai tepat di depan sebuah pintu yang diatasnya tertulis Chief Executive Officer.
"Nona tolong nanti kalau di dalam anda harus menjawab pertanyaan tuan Kennan dengan singkat, padat dan jelas. Karna dia tidak suka dengan orang yang terlalu banyak bicara. Dan usahakan jangan membantah apapun yang dia ucapkannya. Apa nona mengerti?"
"Baiklah," jawab El sekenanya.
Belum bertemu saja sudah membuat banyak perarturan. Apa lagi nanti jika aku sudah menjadi sekertarisnya. Sudah bisa di bayangkan semenyebalkan apa si Kennan itu.
Sean mengetuk pintu ruangan CEO dan tak lama terdengar perintah dari dalam untuk masuk.
Ceklek.. saat pintu terbuka mereka masuk ke dalam ruangan tersebut.
El langsung terpesona oleh ruangan tersebut. Desain interiornya begitu menghipnotis indra penglihatannya. Dari pandangan matanya dia dapat melihat meja kerja CEO yang terbuat dari kayu Ebony yang dipadukan dengan kayu Gaharu, ukuran meja tersebut pun cukup lebar dengan sebuah kursi kebesaran dan dua buah kursi di sebrangnya. Dibelakang kursi kebangsaan CEO itu terdapat jendela kaca berukuran besar yang menampilkan keindahan ibu kota dari ketinggian.
Disudut kiri terdapat satu set sofa yang terlihat mewah dan elegan. Dan disudut kanan terdapat rak buku yang panjang dan tinggi yang di penuhi dengan berbagai macam berkas dan buku-buku tebal. Dan yang membuatnya kembali terpesona adalah ditengah ruangan terdapat miniatur gedung Mallory'S CEC yang berada di atas meja yang cukup besar. Wow sungguh Edelweiss memimpikan ruangan kerja seperti ini.
"Siapa dia?" terdengar suara baritone yang membuyarkan keterpesonaan El terhadap ruangan mewah CEO.
gimn Megan thort