NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TATAPAN DARI SEBERANG PAGAR

Pagi berikutnya, Laras bangun dengan kepala berat dan keputusan yang belum bulat.

Dimas sudah berangkat kerja lebih awal. Di meja makan hanya tersisa cangkir kopi yang separuh kosong dan secarik catatan: *Aku lembur lagi. Jangan tunggu.* Tulisannya terburu-buru, tanpa satu pun kata sayang.

Laras meremas kertas itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Setelah mengantar Kenzo ke sekolah, ia tidak langsung pulang. Ada satu hal yang harus ia lakukan, dan ia tak ingin melakukannya di rumah.

Ia berjalan ke toko perhiasan kecil di dekat pasar, satu-satunya yang mungkin dikunjungi Dimas karena letaknya searah dengan kantornya. Dari saku dasternya ia mengeluarkan struk yang tadi ia selamatkan, lalu menunjukkannya pada pemilik toko, seorang pria tua berkacamata tebal.

"Maaf, Pak. Ini struk dari toko Bapak?"

Pria itu memicingkan mata. "Bukan, Bu. Logo ini toko di Surabaya. Tapi gelang rantai dengan liontin huruf memang model yang cukup laku. Biasanya dipesan untuk hadiah."

"Hadiah," ulang Laras pelan.

"Iya. Biasanya untuk pasangan." Pria itu menatapnya dengan simpati yang tidak diminta. "Ibu baik-baik saja?"

"Baik, Pak. Terima kasih."

Ia keluar dari toko dengan dada sesak. Di trotoar, di bawah terik matahari pukul sembilan, ia berdiri sambil memegang struk itu, merasa seperti orang yang sedang membaca peta menuju tempat yang tak ingin ia datangi.

*R.*

Kalau V adalah Vania, siapa R?

Ponselnya bergetar. Pesan dari Mira: *Ras, aku sudah buat daftar dokumen. Nanti kukirim. Kamu baik-baik saja?*

Laras mengetik cepat: *Aku butuh tahu satu hal lagi. Bisa kamu cari tahu soal perempuan bernama Vania, tetangga baruku? Nama lengkap, dari mana, kerja apa. Apa pun yang bisa dicari tanpa melanggar hukum.*

Balasan datang dalam semenit: *Ras, itu mulai berbahaya.*

*Aku tahu. Tapi aku harus tahu sedang berhadapan dengan siapa.*

Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi. Akhirnya: *Oke. Beri aku dua hari.*

---

Sore harinya, ketika Laras menyiram tanaman di halaman depan, sebuah suara memanggil dari seberang pagar.

"Mbak Laras."

Bukan suara Vania. Laras menoleh dan melihat Reza berdiri di dekat pagar, mengenakan kaus abu-abu dan celana pendek, tampak jauh lebih santai dibanding kemarin. Tapi matanya masih membawa bayangan yang sama seperti semalam.

"Mas Reza. Sudah pulang kerja?"

"Hari ini saya kerja dari rumah." Ia mendekat, memasukkan tangan ke saku. "Boleh saya bicara sebentar? Cuma lima menit."

Laras mematikan keran dan meletakkan selang. "Tentu."

Reza ragu. Ia melirik ke arah jendela rumahnya, lalu ke jalan, seperti memastikan tak ada yang memperhatikan. "Mbak, saya mau tanya sesuatu yang mungkin aneh. Kemarin malam, saat Mbak pulang dari rumah saya, apakah Mbak melihat sesuatu? Orang di sekitar rumah, atau mobil yang parkir di dekat sini?"

Laras mengerutkan dahi. "Nggak. Kenapa, Mas?"

"Saya merasa..." Reza menggosok tengkuknya. "Mungkin saya terlalu berlebihan. Tapi sejak Vania pulang dari Surabaya, ada yang berubah. Dia terlalu... baik. Terlalu banyak memeluk saya. Terlalu banyak bilang cinta." Ia tertawa getir. "Orang yang sedang bersalah biasanya begitu, kan?"

Kalimat itu menusuk Laras tepat di ulu hati. Ia memandang pria di hadapannya, yang tampak begitu rapuh dalam kejujurannya, dan untuk pertama kalinya ia sadar bahwa Reza bukan orang yang sepenuhnya buta.

"Mas Reza curiga pada Vania?"

"Saya nggak mau curiga." Suaranya pelan. "Saya mencintai dia. Tapi tadi malam, waktu dia mandi, ponselnya menyala di meja. Ada pesan masuk dari nomor tanpa nama. Isinya cuma satu kalimat." Ia berhenti, menelan ludah. "*Aku merindukanmu. Jangan lupa pakai gelang pemberianku.*"

Laras menahan napas.

*Gelang pemberianku.* Berarti gelang perak berliontin V itu bukan pemberian Reza. Dan struk huruf R...

"Mas Reza sudah tanya ke Vania?"

"Belum. Saya takut." Reza menatap tanah. "Kalau saya tanya dan jawabannya yang saya takutkan, saya nggak tahu harus bagaimana. Saya nggak punya siapa-siapa lagi selain dia. Orang tua saya sudah meninggal. Saya nggak punya saudara."

Keheningan jatuh di antara mereka. Burung-burung kecil bertengger di kabel listrik, tak peduli pada drama kecil yang berlangsung di bawahnya.

"Mas," kata Laras akhirnya, dengan suara yang hampir tak ia kenali sebagai suaranya sendiri. "Kalau suatu hari Mas butuh teman bicara, saya ada di sini."

Reza mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya tersenyum tipis. "Terima kasih, Mbak. Saya nggak tahu kenapa, tapi saya merasa Mbak orang yang bisa saya percaya."

*Percaya*, ulang Laras dalam hati. Kata itu terasa seperti beban yang jatuh di pundaknya.

Ia ingin mengatakan semuanya, saat itu juga: pesan di ponsel Dimas, struk hotel, kebohongan tentang Surabaya. Tapi lidahnya kelu. Karena ia sadar, begitu ia mengucapkannya, tak ada jalan kembali. Reza akan hancur, dan Laras tidak yakin ia siap menyaksikannya.

Atau lebih jujur lagi: ia tidak yakin apakah ia ingin membuka mata Reza demi kebenaran, atau demi pembalasannya sendiri.

"Sama-sama, Mas," katanya lirih.

---

Malam itu Dimas pulang pukul sebelas.

Laras sudah berbaring di ranjang, pura-pura tidur. Ia mendengar bunyi kunci, langkah pelan, pintu kamar mandi, air mengalir. Lalu ranjang bergoyang saat Dimas naik. Bau sabun bercampur samar aroma parfum yang bukan miliknya.

"Ras," bisik Dimas. "Kamu tidur?"

Laras tidak menjawab.

Ada keheningan panjang. Lalu ia merasakan telapak tangan Dimas menyentuh bahunya, ragu-ragu, seperti seseorang yang menyentuh sesuatu yang bukan lagi miliknya.

"Maaf," bisik Dimas, sangat pelan. "Maaf, Ras."

Laras memejamkan matanya lebih rapat. Air matanya mengalir diam-diam ke bantal.

*Maaf untuk apa?* ia ingin bertanya. *Untuk kebohongan, atau untuk hal yang belum kau lakukan?*

Tapi ia tetap diam. Dimas menarik tangannya, berbalik membelakangi, dan tak lama kemudian napasnya teratur. Pria itu tidur dengan tenang. Yang tak tidur justru perempuan di sampingnya, menatap kegelapan dengan mata terbuka.

Pukul dua dini hari, ponsel Dimas yang tergeletak di nakas bergetar.

Laras bergerak hati-hati. Layarnya menyala sekilas, memperlihatkan notifikasi di bagian atas. Nama pengirimnya bukan V.

**R.**

*"Mas, kapan kita bisa bertemu lagi? Aku nggak tahan. Istrimu masih belum tahu, kan?"*

Laras membeku.

Jadi benar. Ada perempuan kedua, perempuan *ketiga*, yang lebih dulu hadir sebelum Vania, atau mungkin bersamaan. R untuk siapa, ia belum tahu. Tapi satu hal kini terang benderang: bukan hanya Vania yang menggerogoti rumah tangganya. Dimas bukan korban rayuan. Dimas memang penjelajah yang sama sekali tak berhenti di satu tempat.

Ia menutup mata dan menarik napas panjang. Rasa sakit yang tadinya tajam kini berubah menjadi sesuatu yang lain: kejelasan dingin, nyaris tenang.

Ia mengambil ponselnya sendiri dari bawah bantal dan memotret layar itu dengan cepat, tanpa suara. Lalu ia meletakkan ponsel Dimas kembali persis di tempat semula.

Di balik gelap, ia mendengar sesuatu yang aneh. Bukan suara dari kamar. Suara dari luar jendela: pagar rumah sebelah berderit, lalu langkah kaki pelan di atas kerikil.

Laras bangkit dan mengintip dari celah gorden.

Di bawah cahaya bulan yang pucat, ia melihat Vania berdiri di halaman rumahnya, hanya mengenakan jubah tidur tipis. Ia menatap ke arah rumah Laras. Bukan ke jendela dapur, bukan ke garasi. Ia menatap lurus ke jendela kamar tempat Laras berdiri.

Mata mereka bertemu di kegelapan.

Vania tidak tersenyum. Ia tidak menyapa. Ia hanya mengangkat tangan kirinya perlahan dan memperlihatkan pergelangan tangannya, tempat gelang perak itu berkilau di bawah cahaya bulan. Lalu, sangat perlahan, ia melepaskannya dan menjatuhkannya ke tanah.

Gelang itu jatuh tanpa suara di antara rerumputan.

Setelah itu Vania berbalik dan masuk ke rumah, meninggalkan Laras berdiri kaku di balik gorden, dengan pertanyaan yang kini tidak lagi bisa ia abaikan.

*Apa maksudnya?*

Apakah itu pernyataan perang? Atau permintaan damai? Atau, kemungkinan yang paling menakutkan, sebuah isyarat bahwa Vania sendiri sedang berusaha lepas dari sesuatu?

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!