Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Baru
Setelah keluar dari gedung V. Corp dengan perasaan yang masih campur aduk, Yoselin memutuskan untuk membolos kerja sebentar. Langkah kakinya membawa dirinya menuju sebuah kafe kecil yang tenang di pinggir jalan. Ia harus segera mencari tempat tinggal sementara. Yoselin sudah bertekad bulat bahwa ia tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah Edward. Hari ini juga, setelah urusan tempat tinggal selesai, ia akan mendaftarkan gugatan perceraian ke pengadilan. Semalam Edward tega menampar dan mencekiknya hingga nyaris kehabisan napas, siapa yang tahu apa yang akan dilakukan pria temperamental itu besok? Biar bagaimanapun, Yoselin masih sangat menyayangi nyawa dan tubuhnya sendiri.
Yoselin membuka aplikasi pencarian hunian di ponselnya, mengetikkan beberapa kata kunci dengan jemari yang masih sedikit gemetar. Namun, ternyata mencari rumah kontrakan yang siap huni secara mendadak dan sesuai dengan kriteria kebersihan serta keamanannya sangatlah sulit. Beberapa unit membutuhkan proses administrasi yang rumit, sementara yang lain lokasinya terlalu jauh dari pusat kota.
"Aduh, bagaimana ini?" gumam Yoselin pelan seraya memijat pelipisnya.
"Masa aku harus menginap di hotel terus-menerus? Itu pasti makan biaya banyak dan kurang aman untuk jangka panjang..."
Saat terus menggeser layar ponselnya, mata cokelat Yoselin mendadak bersinar terang. Sebuah iklan baru saja diunggah beberapa menit yang lalu, perumahan kluster baru bernama Green Valley Residence yang menawarkan unit rumah siap huni secara sewa harian maupun tahunan.
Kebetulan, lokasinya sangat strategis terletak di tengah-tengah antara kantor Habbit Net dan gedung V. Corp, sehingga ia tidak akan kesulitan untuk bolak-balik bekerja. Tanpa membuang waktu, Yoselin langsung menekan tombol panggilan yang tertera pada iklan tersebut.
"Halo, selamat siang dengan pihak pengelola Green Valley Residence?" sapa Yoselin ramah begitu sambungan terhubung.
"Selamat siang, Mbak. Benar, dengan kantor pemasaran Green Valley. Ada yang bisa kami bantu?" sahut suara seorang wanita di seberang telepon dengan ramah.
"Saya lihat di iklan ada unit rumah tipe 60 yang siap huni dan bisa langsung disewa hari ini juga. Apakah unitnya masih tersedia, Mbak?" tanya Yoselin penuh harap.
"Masih ada, Mbak. Kami baru saja menyelesaikan tahap pembersihan akhir untuk dua unit di blok B. Jika Mbak berminat, Mbak bisa langsung datang ke lokasi untuk cek unitnya sekarang."
"Wah, kebetulan sekali! Baik, Mbak, saya akan langsung ke sana sekarang," jawab Yoselin lega.
"Terima kasih banyak, ya."
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil Yoselin sudah memasuki gerbang utama Green Valley Residence. Kompleks perumahan itu terlihat sangat bersih, rapi, dan mengusung konsep modern minimalis dengan sistem keamanan one gate system. Seorang staf wanita berseragam kantor pemasaran sudah menunggunya di depan kantor pengelola.
"Mbak Yoselin, ya? Saya Maya dari pengelola," sapa wanita itu ramah seraya menjabat tangan Yoselin.
"Iya, Mbak Maya. Salam kenal," balas Yoselin mengulas senyum tulus, mengabaikan rasa perih di sudut bibirnya.
"Mari, Mbak, saya antar langsung melihat unit di Blok B2 Nomor 5," ajak Maya menuntun Yoselin menyusuri jalanan perumahan yang masih sangat mulus dan bersih.
Sambil berjalan, Yoselin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Perumahan ini memang tergolong sangat baru. Baru ada beberapa rumah saja yang berpenghuni di blok depan. Khusus di area Blok B yang ditujunya, belum ada satu pun penghuni lain, yang berarti Yoselin akan menjadi penghuni pertama di lorong jalan tersebut. Suasananya terasa begitu tenang, sepi, dan jauh dari kebisingan kota.
"Di blok ini memang masih agak sepi, Mbak Yoselin, karena pembangunan tahap dua baru selesai minggu lalu. Tapi untuk sistem keamanan, pos satpam 24 jam beroperasi penuh dan CCTV terpasang di setiap sudut lorong," jelas Maya seolah mengerti kekhawatiran Yoselin.
"Justru saya suka suasananya yang tenang seperti ini, Mbak Maya," sahut Yoselin sejujurnya.
"Asal keamanannya terjamin, itu sudah lebih dari cukup buat saya."
Maya membukakan pintu utama rumah bernomor B2/5 tersebut menggunakan kunci master.
"Silakan masuk, Mbak Yoselin."
Yoselin melangkah masuk ke dalam rumah. Bau cat segar dan kebersihan langsung menyapa indra penciumannya. Ruang tamunya cukup luas dengan pencahayaan alami yang sangat baik, memiliki dua kamar tidur, satu dapur bersih, serta kamar mandi yang modern. Semua perabotan dasar seperti tempat tidur, lemari, pendingin ruangan, dan kompor gas sudah tertata rapi.
Sejauh mata memandang, semuanya tampak sangat bagus dan melebihi ekspektasinya untuk sebuah rumah kontrakan mendadak.
"Bagaimana, Mbak Yoselin?" tanya Maya memperhatikan ekspresi puas di wajah calon penyewanya.
"Semua perabotan di sini fully furnished, jadi Mbak tinggal bawa pakaian dan barang pribadi saja. Kalau Mbak cocok, proses administrasinya bisa kita selesaikan siang ini juga di kantor."
Yoselin mengangguk tanpa ragu sedikit pun. "Saya sangat cocok dengan rumah ini, Mbak Maya. Fasilitasnya lengkap dan lokasinya pas sekali dengan tempat kerja saya. Saya ambil unit ini ya, langsung sewa untuk satu tahun ke depan."
Maya tersenyum cerah. "Wah, pilihan yang sangat bagus, Mbak Yoselin! Mari kita ke kantor pemasaran untuk penandatanganan kontrak dan penyerahan kunci."
"Baik, Mbak Maya. Terima kasih banyak atas bantuannya yang cepat," ucap Yoselin lega.
Setelah menyelesaikan proses pembayaran dan administrasi di kantor pemasaran, kunci rumah baru itu kini resmi berada di genggaman Yoselin. Beban berat yang tadinya menumpuk di dadanya seakan terangkat sebagian. Dengan memiliki tempat tinggal sendiri yang aman dan tersembunyi dari jangkauan Edward, ia tidak perlu takut lagi akan ancaman atau tindakan kasar suaminya.
Yoselin melangkah kembali ke mobilnya dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan lega.
"Sekarang tinggal urus surat gugatan cerai ke pengadilan, lalu ambil sisanya barang-barangku di rumah itu," bisik Yoselin pada dirinya sendiri dengan pandangan mantap.
Dengan perasaan mantap dan senyuman yang kini kembali terukir di wajah cantiknya, Yoselin menancap gas mobilnya menuju kantor Aura Beauty untuk melanjutkan pekerjaannya hari ini.
Bersambung...