NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: PERJAMUAN TERAKHIR SEBELUM PERANG

Melihat tingkah Intania dan Bima yang saling menggoda di tepi taman joglo, Amelia tersenyum kecil sembari berkata dengan nada sedikit jail,

"Kalian berdua sungguh asik sampai aku merasa terabaikan di sini," kata Amelia dengan senyum manis.

"Kakak merasa terabaikan atau cemburu...?" kata Intan balik mengoda Amelia dengan mata berbinar.

"Bicara apa kamu ini, Intan...?" kata Amelia sambil tersipu malu, wajahnya yang biasanya tenang jadi ikut memerah.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dengan penuh canda tawa di bawah langit senja Desa Ngargoyoso. Angin sore Gunung Lawu bertiup sejuk membawa harum bunga anggrek. Malam pun tiba, saatnya mereka menghadiri perjamuan besar di aula utama Perguruan Anggrek Putih.

Sesampainya di aula utama yang diterangi ratusan lampion, mereka langsung menjadi pusat perhatian seluruh perguruan.

Bagaimana tidak, satu orang pria tampan dengan pakaian sederhana namun berwibawa, diapit oleh dua wanita super cantik, putri dari Ketua Perguruan sendiri. Di kiri dan kanan, kedua wanita itu menggandeng tangan Bima dengan erat, seolah tidak ingin lepas.

Ketua Perguruan Pak Wijaya Kusuma dan istrinya Bu Lastri hanya bisa tersenyum penuh arti melihat tingkah kedua putrinya itu.

"Salam, Ayah, Ibu," kata Intan dan Amelia seraya sedikit membungkuk dengan sopan.

Bima pun ikut memberi salam dengan hormat, "Salam hormat, Pak Wijaya, Bu Lastri."

Setelah memberikan salam, mereka bertiga pun duduk di meja kehormatan yang berada di paling depan. Setelah semua murid dan tetua perguruan hadir, Ketua Perguruan Anggrek Putih berdiri dan memberikan beberapa pengumuman penting.

Pengumuman pertama, beliau memberitahukan tentang Bima Samudra yang sudah menolong putri-putrinya dari serangan Raja Kadal Api di hutan Lawu, serta telah menyembuhkan penyakit langka putri sulungnya, Amelia, yang sudah tiga bulan tidak sadarkan diri.

"Oleh karena itu, sebagai ungkapan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bima Samudra, saya mengadakan pesta perjamuan malam ini. Anggaplah ini sebagai tanda persaudaraan antara Perguruan Anggrek Putih dengan Bima Samudra," ucap Pak Wijaya dengan suara lantang.

Seluruh aula bertepuk tangan meriah untuk Bima.

Setelah menceritakan hal tersebut, Ketua Perguruan pun memberitahukan hasil pertemuannya dengan para petinggi perguruan, keluarga besar bangsawan, bahkan perwakilan dari Keraton Solo dan Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Yang mana menurut pengamatan para tetua spiritual di Candi Cetho dan Candi Sukuh, Segel Pembatas Dunia Iblis di Lembah Kematian Gunung Merapi sudah retak parah. Retakannya sudah sebesar rumah. Sebentar lagi, jutaan iblis yang terkurung di dalamnya akan lepas dan akan menghancurkan seluruh tanah Jawa ini.

Setelah bicara, Ketua Perguruan berhenti sejenak dan melihat reaksi orang-orang di aula yang mulai panik, berbisik-bisik, dan ketakutan. Wajah mereka pucat.

Dia melihat ke arah Bima, namun Bima hanya duduk santai sambil menyeruput teh hangat, seolah tidak terjadi apa-apa. Ketenangannya membuat Pak Wijaya sedikit heran.

Tak lama kemudian, Intania yang tidak tahan dengan suasana tegang itu bertanya dengan suara gemetar, "Lalu apa yang harus kita lakukan, Ayah...? Lari atau sembunyi...? Sepertinya akan sia-sia saja jika segel itu benar-benar pecah..."

"Yah, kamu benar, Intan. Kita tidak bisa lari atau pun sembunyi. Iblis itu akan mengejar kita sampai ke ujung Pulau Jawa sekalipun," jawab Pak Wijaya dengan nada berat. "Jadi dari pertemuan kemarin di Kota Solo, kami memutuskan untuk mengerahkan seluruh kekuatan yang ada dari semua perguruan di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk bertarung sampai titik darah penghabisan. Meski harus mati, kami semua hanya berharap dunia akan tetap aman untuk generasi mendatang, untuk kalian semua."

"Besok pagi-pagi sekali kita akan berangkat untuk ikut bertempur di medan perang perbatasan Klaten dan Boyolali. Siapkan diri kalian, manfaatkan malam ini dengan baik, berpamitanlah dengan keluarga kalian," kata Ketua Perguruan menambahkan dengan suara yang bergetar.

Meskipun terlihat takut dan cemas, semua orang di perguruan itu tetap mengangguk dengan mantap. Mereka akan tetap ikut Ketua mereka untuk berperang. Inilah jiwa kesatria Perguruan Anggrek Putih.

Setelah itu, Ketua Perguruan melihat ke arah Bima yang terlihat sangat tenang.

"Bima, kau bukan murid perguruan ini. Aku tidak akan membawa mu dalam bahaya perang besar ini. Kau boleh tetap tinggal di sini dan menjaga perguruan," kata Ketua Perguruan Anggrek Putih kepada Bima dengan bijaksana, karena ia tidak ingin melibatkan orang luar.

Dengan penuh hormat, Bima menjawab sambil berdiri.

"Terima kasih, Tuan Wijaya, atas perhatian mu. Memang benar saya bukan murid Perguruan Anggrek Putih, dan dunia ini pun mungkin bukan dunia asal saya yang sebenarnya. Tapi di dunia ini, di perguruan ini, saya sudah memiliki dua orang teman yang harus saya lindungi dan ada sebuah perguruan yang sudah seperti rumah saya sendiri yang harus saya lindungi," kata Bima dengan tenang namun suaranya menggema di seluruh aula.

Sambil merangkul Intan dan Amelia yang ada di kiri dan kanannya dengan lembut, dengan senyum manisnya yang penuh percaya diri Bima berkata,

"Apapun tantangan yang ada di depan, kita hadapi bersama. Hanya sekumpulan iblis liar dari Merapi, tidak perlu terlalu ditakuti. Selagi saya, Bima Samudra, masih bernafas di sini, jutaan bahkan miliaran iblis tidak boleh merusak rumah kita ini."

Mendengar ucapan Bima yang begitu berani dan tulus, seluruh aula menjadi hening, lalu bersorak kagum.

Melihat Bima yang begitu serius dan tulus, Ketua Perguruan pun akhirnya mengizinkan Bima untuk ikut berperang melawan iblis bersama mereka.

"Baiklah, besok kita semua akan berangkat bersama. Sekarang, mari kita berpesta dan isi tenaga kalian semua. Makanlah yang banyak, karena besok kita butuh tenaga," kata Ketua Perguruan.

Malam terus berlalu, pesta masih berlanjut dengan meriah. Sebagian murid sudah tertidur kelelahan di sudut aula, sebagian masih tetap sibuk mengobrol dan menyiapkan senjata masing-masing.

Bima juga sibuk di sudut dapur darurat, membakar daging Ikan Mas Ajaib bersama Amelia dan Intan. Daging panggang buatan Bima sangat menggugah selera sampai aromanya tercium ke seluruh area pesta, membuat seluruh area aula diselimuti aroma wangi rempah dan madu hutan yang sangat harum.

Bima pun mengajak Amelia dan Intan memberi daging panggang itu kepada Ketua Perguruan dan istrinya.

"Ayah, Ibu, coba cicip masakan Bima ini, rasanya sangat lezat sekali, seperti masakan Keraton," kata Intan pada orang tuanya dengan bangga.

Kedua pasangan suami istri itu pun mencicipi makanan yang diberikan putrinya.

"Wahhh... benar-benar sangat enak sekali, Bima. Daging apa ini, empuk sekali...? Dengan siapa kamu belajar memasak seenak ini, Bima...?" tanya Bu Lastri dengan mata berbinar.

"Aku hanya sedikit bisa memasak, Bu, karena waktu tinggal di gunung bersama ketujuh kakak seperguruan ku di Gunung Lawu, saat habis berlatih kami suka berburu di hutan dan langsung memasaknya bersama-sama di tepi Sendang," Bima bercerita sambil wajahnya terlihat sedikit murung karena ia tiba-tiba sangat merindukan ketujuh kakak seperguruannya yang kini tersebar di kota-kota besar.

"Bima, apakah kamu merindukan keluarga mu di gunung...?" tanya Intania dengan lembut, melihat perubahan wajah Bima.

"Iya, Intan, aku pergi sudah cukup lama dari Gunung Lawu, tapi belum ada petunjuk jalan untuk kembali ke puncak padepokan ku. Aku juga khawatir dengan ketujuh kakak ku," kata Bima dengan wajah yang murung.

"Tapi tidak apa-apa, setelah perang melawan iblis ini selesai, aku akan mencari cara untuk pulang dan bertemu mereka lagi," kata Bima mencoba tersenyum.

Intan yang melihat kesedihan di mata Bima, tiba-tiba memanggilnya dengan suara pelan.

"Bima...?"

"Iya, ada apa, Intan...?" tanya Bima.

"Apakah setelah kamu bisa pulang nanti, kamu akan melupakan ku...? Apakah kita tidak akan berjumpa lagi...?" tanya Intan dengan suara lirih, seolah-olah tak ingin berpisah dengan Bima. Terlihat Intan yang menunduk dengan wajah sedih dan mata yang mulai berkaca-kaca.

Bima menatap Intan dengan lembut dan tulus.

"Intan, jika takdir menghendaki kita terus bersama, pasti akan ada cara untuk kita berjumpa kembali. Tak perlu bersedih, aku tidak mungkin bisa melupakan gadis sebaik dan secantik dirimu yang sudah memberiku rumah kedua," kata Bima menyakinkan Intan dengan suara yang hangat.

"Sungguh...? Kau janji...?" tanya Intan dengan semangat, matanya langsung berbinar lagi.

"Tentu saja, aku janji," jawab Bima sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

Tanpa sadar, karena terlalu bahagia, Intan langsung memeluk Bima dengan erat di depan semua orang yang ada di pesta.

Kedua orang tua Intan yang melihatnya hanya bisa tersenyum penuh arti melihat tingkah putri mereka yang sedang jatuh cinta.

"Intan, apakah dunia ini hanya milik kita berdua, apakah kau melupakan orang lain yang ada di sini...?" tanya Bima pada Intan dengan nada bercanda, karena semua orang di aula kini melihat mereka.

Mendengar perkataan Bima, Intan segera melepas pelukannya dengan sangat malu, wajahnya sudah memerah seperti buah tomat matang, lalu bersembunyi di balik punggung Amelia.

Semua orang di aula pun tertawa melihat kelucuan mereka.

Tak terasa, malam hampir berlalu. Ketua Perguruan memerintahkan semua orang untuk segera beristirahat dan bersiap untuk berangkat menuju medan perang untuk membasmi iblis di perbatasan Klaten.

Saat matahari baru saja bersinar malu-malu dari balik Gunung Merapi, semua orang di Perguruan Anggrek Putih sudah siap dengan senjata masing-masing. Ada yang terbang dengan pedang pusaka, ada yang naik kapal kayu terbang buatan Empu dari Jepara.

Bima yang melihat itu bertanya kepada Intan dengan penasaran,

"Kenapa ada yang naik pedang dan kenapa ada yang naik kapal kayu terbang...?"

"Setiap tunggangan itu mencerminkan kekuatan, Bima. Yang bisa naik pedang, kultivasinya sudah di atas Alam Satria, yang naik kapal kayu terbang biasanya masih di bawah itu," jelas Intania.

"Lalu kalau terbang tanpa naik apa-apa bagaimana...?" tanya Bima lagi.

"Itu berarti kultivasinya sudah di tingkat Alam Dewa, hanya para tetua Keraton saja yang bisa," kata Intan lagi.

"Jadi kita nanti naik apa...?" tanya Bima terus-menerus.

"Kita bisa naik pedang ku, Bima," kata Amelia menawarkan.

"Pedang terlalu kecil, kita bertiga tidak bisa duduk santai dan mengobrol," kata Bima lagi dengan alasan.

"Ya sudah kita naik kapal kayu saja, kan luas," kata Amelia menyarankan.

"Tapi itu lambat sekali, butuh setengah hari. Bagaimana kalau kita naik peliharaan ku saja...?" kata Bima minta pendapat Intan dan Amelia dengan senyum misterius.

"Peliharaan...? Apa itu...?" tanya Intan dengan penasaran, matanya membelalak.

Bima pun menghubungi salah satu ratunya melalui telepati di dalam Alam Jiwa.

"Sekar Lestari, apakah kau bisa menjadi tunggangan ku sebentar, jadi burung Phoenix raksasa yang super besar...?" tanya Bima.

"Tentu, Tuan Muda, dengan senang hati," jawab Ratu Phoenix Sekar Lestari dengan sopan dan manja.

Seketika, dari dalam Alam Jiwa Bima, Sekar Lestari keluar dengan wujud raksasanya. Seekor burung Phoenix merah keemasan raksasa sebesar rumah joglo, dengan bentangan sayap yang menutupi setengah halaman perguruan, muncul dengan api yang indah namun tidak panas.

Semua orang di Perguruan Anggrek Putih sontak ketakutan dan berlutut melihat wujud makhluk legendaris itu. Bahkan Ketua Perguruan Wijaya pun sampai mundur selangkah karena aura Phoenix itu begitu agung.

"Aaaaa, Bima, ini peliharaan mu...?" tanya Intan dengan ketakutan sekaligus kagum, sambil memegang erat lengan Bima.

"Iya," jawab Bima dengan santai sambil mengelus kepala Phoenix raksasa itu.

"Ini kan binatang legendaris dari Gunung Bromo, Phoenix Sejati...! Bagaimana bisa kamu punya...?" ujar Amelia dengan penuh kekaguman dan tidak percaya.

"Sudah, jangan banyak bicara, ayo naik. Kita berangkat paling depan," kata Bima sambil menarik Intan dan Amelia naik ke atas punggung burung Phoenix yang empuk dan hangat itu.

Karena burung itu sangat besar, Bima juga mengajak Ketua Perguruan dan istrinya serta Mbah Wiro untuk ikut naik di atas punggung Phoenix saja, agar lebih cepat dan aman.

Setelah semuanya siap dan duduk dengan nyaman di atas punggung Phoenix, dengan satu kepakan sayap yang megah,

"Wussshhh..."

Mereka pun memulai perjalanannya, terbang membelah langit pagi Desa Ngargoyoso, menuju medan peperangan besar di perbatasan Klaten dan Boyolali, tempat segel Dunia Iblis Gunung Merapi mulai retak.

Dari bawah, ratusan murid Perguruan Anggrek Putih yang naik pedang dan kapal kayu melihat pemandangan itu dengan penuh semangat.

Hari itu, langit Jawa Tengah akan menjadi saksi lahirnya seorang legenda baru bernama Bima Samudra.

BERSAMBUNG

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!