NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:746
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Pondok Murid Luar

Jian Chen terbangun dengan tangan kanan menekan dada kiri. Napasnya memburu, seperti orang yang baru diangkat dari air. Ia meraba dadanya, lalu punggungnya, lalu sela tulang rusuk tempat bilah itu keluar. Kulitnya rata. Tidak ada darah, tidak ada luka, tidak ada rasa sakit selain denyut jantung yang terlalu cepat.

Ia menatap langit-langit. Baloknya menghitam oleh asap, dan di salah satu sudut ada sarang laba-laba yang pernah ia lihat ratusan kali. Pondok murid luar nomor tujuh. Sudah hampir dua puluh tahun ia tidak tidur di sini.

Ia mengangkat tangan di depan wajah. Jari-jarinya kurus, kukunya pendek, dan ada kapalan baru di pangkal telapak karena terlalu sering memegang sapu. Tangan itu tidak punya satu pun bekas pedang.

"Kau ini kenapa?"

Suara itu datang dari dipan di sebelahnya. Teman sekamarnya duduk sambil mengucek mata, rambutnya mencuat ke satu sisi. Di sepanjang dinding pondok masih ada enam dipan lain, semuanya berisi orang yang belum mau bangun.

"Teriakanmu membangunkan satu pondok," lanjut teman sekamarnya.

"Aku berteriak?" tanya Jian Chen. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, lebih tinggi dan lebih tipis dari yang ia ingat.

"Dua kali. Yang kedua bunyinya seperti orang dicekik." Teman sekamarnya menguap lebar. "Mimpi buruk lagi?"

"Diam, aku baru bisa tidur!" gerutu seorang murid dari dipan paling ujung.

"Kalau begitu pindah ke kandang babi," sahut teman sekamar Jian Chen tanpa menoleh. Ia kembali menatap Jian Chen. "Jadi?"

"Mungkin mimpi buruk." Jian Chen menurunkan kaki ke lantai tanah yang dingin. "Hari ini tanggal berapa?"

"Kau benar-benar belum sadar, ya." Teman sekamarnya menggaruk kepala. "Hari ketujuh bulan ketiga. Kenapa, kau lupa giliran menyapu kampung?"

"Tidak lupa," jawab Jian Chen. Ia menjaga suaranya tetap datar.

Hari ketujuh bulan ketiga. Ia menghitung dalam hati. Tambang batu napas runtuh pada hari kedua puluh bulan yang sama, dan dua puluh tahun lalu ia berada di dalam tambang itu ketika atapnya turun. Dua belas murid luar tidak keluar. Tiga belas hari lagi.

"Omong-omong," kata Jian Chen, "kelompok kita dapat giliran ke tambang batu napas kapan?"

"Kelompok ketiga, kan?" Teman sekamarnya menoleh dengan curiga. "Kau tidak pernah bertanya soal giliran. Biasanya kau mengeluh kalau dengar kata tambang."

"Aku cuma ingin tahu."

"Aneh. Tapi hari kedua puluh, kalau aku tidak salah ingat."

Jian Chen terdiam sebentar. Hari yang sama. Kelompok yang sama seperti dulu. "Baik," katanya.

"Bagus. Sekarang aku tidak mau menyapu bagianmu seperti minggu lalu," kata teman sekamarnya sambil berdiri dan menyambar handuk kasar dari paku di dinding. "Lonceng pagi sebentar lagi. Aku ke sumur dulu. Kalau kau masih duduk begitu waktu aku kembali, aku siram."

Ia keluar. Pintu pondok berderit dan menutup dengan bunyi yang sama seperti dulu.

Jian Chen duduk diam sampai langkah itu hilang. Lalu ia menarik napas dalam dan mencoba mengalirkan qi.

Hasilnya menyedihkan. Di pusat dadanya hanya ada satu gumpalan kecil Napas Langit, seukuran biji kacang, dan ketika ia mendorongnya naik ke bahu, aliran itu putus di tengah jalan. Dadanya terasa seperti ditusuk jarum. Pengumpul Napas tahap awal, bahkan belum mencapai tengah. Ia pernah menahan satu aliran qi sebesar sungai selama tiga hari penuh tanpa berkedip.

Perutnya berbunyi. Ia menarik kaus dalamnya ke atas dan melihat tulang rusuknya menonjol jelas. Murid luar hanya makan bubur dan sayur rebus, dan tubuh ini sudah terbiasa kekurangan. Sebelum ia bisa melatih apa pun, ia harus memberinya makan.

Ia berdiri, mengambil gagang sapu dari sudut ruangan, dan membuka sikap pertama Pedang Tanpa Bayangan. Kaki dibuka selebar bahu, berat badan di tumit belakang, ujung gagang sapu sejajar dengan tenggorokan lawan. Posisinya benar. Setiap sudut sendi ia tahu. Tubuhnya yang tidak tahu.

Pada tarikan napas ketiga, lengannya gemetar. Pada tarikan kelima, gagang sapu itu jatuh ke lantai dan menggelinding ke bawah dipan.

"Sial," gumam Jian Chen.

Ia memungutnya dan menaruhnya kembali di sudut. Duduk di tepi dipan, ia menatap tangannya sendiri sampai gemetarnya berhenti. Teknik tanpa tubuh tidak ada gunanya. Ia harus membangun tubuh ini dari awal, sedikit demi sedikit, dan ia tidak punya banyak waktu.

Pintu berderit lagi. Teman sekamarnya masuk membawa ember kayu berisi air sumur, rambutnya basah dan wajahnya lebih segar.

"Nih," kata teman sekamarnya sambil menaruh ember itu di depan dipan Jian Chen. "Cuci muka. Kau pucat seperti mayat."

"Terima kasih," ujar Jian Chen.

"Hei, sejak kapan kau bilang terima kasih sepagi ini?" Teman sekamarnya menyipitkan mata. "Biasanya kau cuma mendengus."

"Aku baru bangun dari mimpi buruk," kata Jian Chen. "Orang jadi sopan."

"Kalau begitu mimpi buruk lagi malam ini."

Jian Chen mencelupkan kedua tangan ke dalam ember dan membasuh wajahnya. Ketika air itu tenang, ia melihat pantulannya. Wajah delapan belas tahun menatap balik: pipi tirus, alis tipis, mata yang terlalu waspada untuk anak seusia itu. Tidak ada garis di sekitar mulut. Tidak ada bekas luka di dagu yang dulu ia dapat dari pertempuran di perbatasan Lembah Kabut.

'Aku benar-benar kembali,' pikir Jian Chen.

Ingatannya sempat melompat ke Puncak Lentera. Api putih sebesar kuku ibu jari. Suara yang pecah. Dua sosok yang wajahnya tidak mau terbentuk. Tangannya berhenti di air.

"Kau melamun lagi," kata teman sekamarnya.

"Aku sedang berpikir."

"Berpikir jangan lama-lama. Lonceng pagi." Teman sekamarnya melemparkan baju luar ke dipan Jian Chen. "Cepat pakai. Kalau kita terlambat ke lapangan, Kepala Murid Luar akan mengurangi jatah bubur kita."

Dari luar terdengar lonceng, tiga kali, panjang dan sumbang. Jian Chen memakai baju luar yang bahannya kasar dan sedikit kebesaran di bahu, lalu mengikat sabuk dengan dua lilitan. Ia berhenti sebentar di depan pintu.

Dua puluh tahun ia tidak pernah melihat Sekte Pedang Fajar dari sudut ini. Dari kampung murid luar, gerbang sekte tampak jauh dan tinggi. Orang yang hidup di sini hanya bisa melihat atap sekte dalam dari kejauhan dan mendengar bunyi pedang dari lapangan latihan. Dulu ia menganggap tempat ini sesak. Sekarang ia tahu betapa banyak orang di sini yang akan mati kalau ia bertindak ceroboh.

"Kau menunggu apa?" tanya teman sekamarnya dari ambang pintu.

"Tidak ada," jawab Jian Chen. "Aku datang."

Ia keluar ke halaman. Udara pagi dingin dan berbau asap dapur. Puluhan murid luar berjalan menuju lapangan sambil menguap dan menggerutu. Tidak ada yang menoleh pada murid lemah berinti kecil itu, dan itu cocok untuknya.

"Kau betul-betul aneh hari ini," kata teman sekamarnya sambil berjalan di sampingnya.

"Kau sudah mengatakannya dua kali."

"Karena memang benar."

Jian Chen tidak membalas. Di dalam kepalanya ia mulai menyusun urutan. Pertama, ia harus tahu apa yang sudah berubah dan apa yang belum. Kedua, ia harus bertemu orang-orang yang masih hidup di kampung ini. Dan sebelum semua itu, ia tidak boleh memercayakan kebenaran kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang dulu paling ia percayai.

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!