Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Angkara
Suasana meja makan di rumah keluarga Antasena pagi ini sudah kembali seperti dulu lagi. Jika kemarin-kemarin lebih ke tegang, pagi ini mereka terlihat lebih santai. Menyantap sarapan pagi dengan damai, meski masih ada sisa-sisa luka hari kemarin, tapi senyum dan tawa susah mengisi pagi hari yang indah ini.
Tinggal Angkara dan Yara yang masih di meja makan. Kebetulan ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan Angkara mengenai perusahaan. Angkara mengatakan jika pekerjaan adalah teman patah hati paling serasi. Daripada pergi ke club atau melakukan hal-hal berbau negatif, mending pergi kerja. Dengan kerja, duit masuk kantong lancar hati senang patah hati hilang.
" Aku bukan mas Ang, ya. Mana bisa aku dipasrahi pimpin perusahaan selama seminggu mas Ang pergi. " protes Yara.
" Mas nggak bisa batalin rencana ini, dek. Udah di planning dari bulan-bulan kemarin. "
" Lagian besok lusa Senja udah balik ke perusahaan, dia bisa bantu kamu. " santai sekali Angkara bicara sambil makan nasi goreng Jawa buatan ibunya. Padahal Yara pusing ini, gimana nasibnya mengurus perusahaan selama satu minggu ke depan.
" Ck... "
" Nggak usah ngambek. Mas sering lho kamu tinggal-tinggal mengejar yang tak pasti. " sindir Angkara dengan muka menyebalkan.
" Udah main pergi tinggal kerjaan, mas yang harus handle semuanya. Iya kalau dapat yang dikejar, nggak tahunya.... Patah hati juga. " ngakaklah Angkara karena berhasil membuat wajah Yara mirip katak.
" Mulai deh. Sindir terus sampai mas puas. " Yara melengos. Sebalnya dari kemarin digodain mulu sama Angkara.
Ketularan Senjana nih pastinya, soalnya masnya itu dari dulu agak kaku. Cuma kok makin kenal Senjana, masnya ini jadi punya jiwa-jiwa usil.
" Lagian kamu itu kayaknya perlu periksa mata sama hati deh, dek. "
Alis Yara berkerut, " Apaan pakai periksa mata sama hati? " herannya.
" Daripada Santana, yang lebih cocok sama karakter kamu itu si Welly. Kalian kelihatan cocok banget itu. " Angkara menaik turunkan alisnya, menggoda Yara.
" Pait.. Pait... "
Hahahahahahahaha.....
Angkara rasanya puas sekali, tawanya menggelegar memenuhi ruang makan, " Ganteng juga itu anak. Cuma ketutupan sama tengilnya. " komen Angkara.
" Ganteng dari Hongkong... Males banget sama cowok modelan julid kek mas Welly tahu, mas.. " protes Yara yang jadi alergi setiap ada yang sebut nama Welly.
" MaDeSu tahu nggak. Masa daripada kerja dia malah milih jadi asisten Santana. Trus kalau Yara sama cowok model begituan, Yara gitu yang nafkahi dia... "
" Dih ogah... " mulut Yara sampai keriting mengomentari Welly.
" Sembarang kamu bilang MaDeSu... Dia itu lebih dari yang kamu pikir. Dia emang nggak kerja kantoran kek kamu, tapi uang yang mengalir di rekening banknya itu nggak ada hentinya... " bela Angkara sesuai dengan apa yang dia ketahui.
" Alah prettt.. Bayaran jadi asisten berapa sih? Masa iya masuk per hari. " Yara memasang wajah meledek.
" Pppffffffff.... Dia itu punya usaha cafe di beberapa kota di Italia, dek. Trus sekarang pagi bikin proyek pengen buat nama dagang sendiri untuk pakaian-pakaian yang dia design sendiri. Kalau yang ini dia duet sama Santana. Prosesnya udah sampai 70%." wajah Yara nampak tak percaya.
" Dikasih tahu malah nggak percaya.. "
" Ya mesti lah nggak percaya, nggak ada tuh tampangnya dia beneran kek yang mas Ang bilang.. " setelah mengatakannya Yara langsung bergegas pergi sebelum Angkara makin menjadi menggodanya dengan Welly terus.
Amit-amit kalau kata Yara.. Ntar jodoh malah mumet kamu Yara.
*********
" Mama apaan sih? Tiba-tiba banget pengen ke panti. " protes Welly yang dipaksa bangun bu Mi.
" Mumpung mama di negara ini, Wel.. Ntar balik Itali lagi nggak ada kesempatan buat ke panti lagi. " tangan bu Mi cekatan memasukan semua keperluan putranya yang satu ini.
Welly punya kebiasaan aneh bin ajaib kalau mau diajak pergi jauh. Dari kecil, sampai sekarang sudah setengah tua juga kebiasaan itu tidak berubah. Dia selalu harus membawa minyak telon dan bedak bayi. Dibawa doang sih, nggak dikeluarin juga dari tas mininya. Cuma kalau itu dua benda nggak ada, Welly bakalan kelimpungan kaya orang mabok.
" Aku masih ngantuk, ma. Kemarin sampai jam 2 sama San. " berharap alasannya ini bisa membuat mamanya membatalkan rencananya ke panti.
" Alah alasan aja kamu. Itu San aja udah siap dari tadi malahan. Kamu aja yang emang males, Wel. " mata Welly melotot.
Beneran lho, mereka semalam sampai jam 2 membahas masalah proyek kerja yang akan mereka garap bulan depan. Welly aja merasa sebadan-badan sakit semua, tapi kok bisa gitu Santana terlihat baik-baik saja.
" Vampire dia itu, ma.. Bukan manusia lagi itu orang. Gila.. gila.. "
" Sembarangan ya mulut kamu, Wel.. Kebanyakan nonton film nih, kerjaannya mengkhayal aja. "
Setelah drama di kamar Welly tadi, akhirnya ketiga orang ini sudah berada di mobil yang membawa mereka pergi ke panti asuhan tempat dimana Santana besar. Selama ini Santana selalu menyisihkan hasil kerjanya untuk bisa menjadi donatur di panti ini begitu juga dengan bu Mi.
Setelah dua belas tahun lamanya, akhirnya Santana punya kesempatan untuk melihat tempat dimana dia dibesarkan. Tempat yang menerimanya setelah nestapa menghampirinya kala itu. Tempat dia tumbuh, tempat dia belajar berteman dengan sepi.
Santana dapat tugas menyetir pagi ini. Pak sopir tiba-tiba ngambek, katanya masih mengantuk. Alhasil Santana yang menyetir sedangan pak sopir duduk di kursi samping kemudi, memakai bantal leher dan kacamata hitam. Dia tertidur sejak masuk ke dalam mobil.
" Bawaan ibu banyak banget, memangnya mau menginap? " tanya Santana yang takjub melihat bagian belakang mobil dan setengah bagian tengah tempat bu Mi duduk sudah dipenuhi barang-barang yang entah apa dan kapan bu Mi membelinya.
" Mama yakin kamu pasti ngajak nginep nanti. Makanya mama bawa barang sebanyak ini. " jawab bu Mi riang sekali.
Santana sendiri heran, karena baru masuk ke dalam apartemen miliknya, bu Mi langsung mengutarakan keinginannya pergi ke panti asuhan. Pagi tadi, Santana yang niatnya ambil minum lalu pergi tidur lagi, malah harus mandi karena diajak ke panti asuhan pagi ini juga.
Aneh aja, seperti bu Mi punya rencana sendiri dengan pergi ke panti, tapi tidak mau mengatakannya pada Santana. Wajah bu Mi juga terlihat ceria sekali.
" Mama mau ketemu seseorang di sana nanti, San. Orang yang paling berjasa dalam hidup mama. Kalau aja nggak ada orang ini, mama mungkin sekarang udah sakit-sakitan. " ujar bu Mi yang menjawab pertanyaan San yang tidak diutarakannya.
" Maksud ibu? "
" Nanti di sana kamu juga bakalan tahu, San. Sabar ya, jangan sampai penasaran banget sampai bikin kamu nggak konsen nyetir. Soalnya supir mama lagi mode ngambek itu. " Santana terkekeh.