Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Rasa itu tetap sama.
Bang Oscar tak sanggup menjawabnya. Ia hanya membelai rambut Pitta.
"Bisakah Abang ambil Pitta dari Bang Sam?? Pitta benar-benar nggak sanggup hidup sama ibunya. Berkali-kali pacar ibunya hampir celakai Pitta dan Bang Sam percaya ibunya." Kata Pitta.
Melihat Bang Oscar masih terdiam, Pitta semakin frustasi.
"Oommm.. Bantuin Pittaaaa..!!!!!" Pitta menggoyang lengan Bang Oscar dengan frustasi memikirkan nasibnya.
Bang Oscar menarik senyum getir mengingat awal pertemuannya dengan Pitta dua tahun lalu.
Flashback Bang Oscar on..
"Itu yang di belakang pohon pisang mau buat apa????" Teriak Bang Oscar melihat seorang gadis dengan kuncir telinga kelinci di kepala, memakai nama dada Anjani Pramudhita di atas nama julukannya si Tupai imut.
Kemudian gadis itu bergeser dari pohon pisang itu dan menunduk, namun bibirnya tidak diam dan berkomat kamit seolah mencibir.
"Angkat kepalamu..!!" Perintah Bang Oscar. Ia melihat papan nama
Gadis itu mengangkat kepala. Wajahnya seketika tak bersahabat.
Sungguh saat itu Bang Oscar bak melihat bidadari turun dari khayangan. 'Masya Allah. Cantiknya mahakaryaMu Tuhan.'
"Saya sudah bilang, cari tempat sembunyi yang kokoh, kuat dan mampu melindungimu. Kalau saja ini betul di medan perang, kau duluan yang habis di sikat lawan.. Jangankan kuat, menahan peluru pun tidak." Omel Bang Oscar.
Pitta bergeser kebelakang punggung Bang Oscar. "Kalau begitu disini saja."
"Apa maksudmu, jangan main-main..!!" Ancam Bang Oscar yang sebenarnya tidak ada niat untuk mengancam.
"Hanya punggung ini yang kuat, kokoh dan mampu melindungi, rasanya sangat nyaman. Jangankan peluru, badai pun pasti sanggup Om tahan.. Iya, kan??"
Sejenak Bang Oscar tertegun, dirinya yang selama ini malas berurusan dengan wanita tiba-tiba saja mendapatkan sebuah rayuan gombal dari seorang gadis belia balasan tahun.. Usia lima belas tahun dalam usianya yang sudah mencapai dua puluh lima tahun.
"Bercandaa pelatih." Kata gadis itu kemudian.
"Anjani........"
"Panggil Pitta saja, pelatih..!!" Sambar Pitta.
"Whatever.. Jangan banyak bercanda dalam latihan, Pitta..!!!! Itu bahaya. Fokus dalam setiap kegiatanmu..!!" Arahan Bang Oscar.
"Kan, ada pelatih."
Bang Oscar menggeleng, ia meninggalkan gadis centil itu. Namun siapa sangka ada seulas senyum menghias wajahnya dari sikapnya yang kaku dan dingin.
'Anjani Pramudhita.. Pitta. Kalau saja gede dikit Abang ambil istri, kau dek.. dek..!!'
\=\=\=
"Ada cewek cantik banget, bro. Pemikirannya bagus, nggak pecicilan, yaaa.. Energik doank. Wajar lah seusianya. Cocok tuh buat cuci mata di acara jelajah malam, nanti." Kata Bang Samuel.
"Kodenya??"
"Si tupai imut." Jawab Bang Samuel.
"Nggak usah macam-macam, itu bagianku. 3.1 jangan di usik." Balas Bang Oscar sambil merokok santai, pria tampan itu memang seorang perokok aktif dan peneguk kopi hitam pahit.
"Lah.. Sejak kapan kelompok 3 tenda 1 kau lirik?? Kau kan, hanya penanggung jawab utama." Kata Bang Samuel.
Tak perlu jawaban tapi lirikan Bang Oscar sudah cukup membuat sahabatnya mengerti hingga menelan ludah. "Naksir kau, sama si tupai imut??"
Lagi-lagi Bang Oscar tak menjawab, tapi diamnya sudah menjadi sebuah jawaban.
"Masih bocah tuh, Mbon. Bumper depan belakang tipis. Kiri kanan lempeng bae, nggak modis."
"Biarin dah..!! Biar kata bumper belakang kosong, depan macam tatakan cangkir, kiri kanan lurus macam tower signal. Jangan ada yang berani colek si tupai..!!" Ujar Bang Oscar.
Merasa sahabatnya mungkin menaruh perhatian khusus pada seorang gadis, ia pun mundur teratur. Ada kode etik persahabatan yang tidak mungkin ia langkahi. 'Milik sahabatnya, haram untuk di miliki.'
Flashback Letnan Oscar off..
Hanya Letnan Oscar dan Tuhan saja yang tau alasan diamnya saat itu. Sang Letnan ternyata punya alasan tersendiri.
Pitta yang merasa terabaikan akhirnya beranjak, namun Bang Oscar langsung menarik tanganya.
"Bukan hal sulit mengambilmu darinya, tapi.. Kau harus nurut apa kata saya. Masalahnya, kamu percaya saya atau tidak????"
Pitta menelan ludah mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang sama, namun dari orang yang berbeda.
Seakan bisa membaca keadaan, Bang Oscar menarik Pitta agar tak ada jarak di antara mereka. Ia pun menyisir rambut Pitta dengan jemarinya. "Ini saya yang bertanya, bukan Samuel."
"Pitta percaya."
Entah di sadari atau tidak, wajah Bang Oscar menghampiri Pitta. Hela nafas mereka beradu ringan, ada bau rokok yang pekat, begitu pun Bang Oscar, semerbak wangi parfum beraroma bunga bercampur permen karet begitu kental dalam indera penciuman. Bagai ada yang mendesak, Bang Oscar memeluk Pitta hingga bibir mereka saling beradu, tangan Bang Oscar mulai menyentuh.
Namun sesaat kemudian Bang Oscar tersentak, ia menarik diri dengan cepat. "Astaghfirullah hal adzim." Ia mengusap dadanya, denyut jantungnya tak terkendali, pikirannya kacau balau. Matanya terpejam, ia beralih mengusap wajahnya.
"A_bang, marah sama Pitta??" Rasanya Pitta begitu kecewa, ia merasa Bang Oscar menolaknya. Ada hal yang selalu membuatnya takut dan down oleh keadaan.
"Nggak Pitta, bukan itu????"
"Lantas apa, Bang??" Pitta begitu sedih, ia kembali beranjak tapi lagi-lagi Bang Oscar menarik tangannya hingga Pitta jatuh duduk di atas paha pria gagah itu. "Lepas..!!!!"
"Sabar.. Kamu bisa sabar atau tidak?? Saya tidak mau salah langkah yang akhirnya buat kamu nangis nantinya." Kata Bang Oscar.
"Nggak, Pitta nggak bisa sabar. Pitta hanya mau di sayangi. Kalau Pitta nggak pernah di inginkan, buat apa Pitta ada disini." Oceh Pitta berontak.
"Kata siapa kamu tidak di sayangi???? Saya hanya menunggu waktu yang tepat." Ujar Bang Oscar sampai harus mencekal tangan Pitta.
"Kapan waktu yang tepat??? Pitta hanya ingin membuktikan kalau Pitta di inginkan, Pitta mau hamil sekarang, kalau Abang nggak sanggup, Pitta mau cari laki-laki lain."
"Pitta, stop..!!! Jangan ngawur, kamu..!!!"
"Ya sudah, ayoooo.." Pitta semakin tak terkendali. Ia marah dan sulit di tenangkan.
Bang Oscar lalu memeluknya dengan erat. "Tolong, kamu jangan menantang saya, Pitta. Saya ini sedang mengusahakan yang terbaik untuk kamu. Kapan saya tidak sayang sama kamu?? Dengar kamu nikah saja, saya hampir gila, sekarang kamu menangis sampai seperti ini, bagaimana hati saya tidak sakit?? Jangan uji kemampuan saya, kamu minta hamil.. Jadi anak bulan depan pun saya sanggupi, tapi kalau sampai tindakan saya bisa mencelakai kamu, lebih baik saya tahan dan mengalahkan ego saya sebagai laki-laki. Hamil itu perkara yang tidak mudah, Pittaaa.. Kamu sedang marah, bukan karena ikhlas. Nanti, kalau kamu benar-benar siap, kamu sudah ikhlas.. Saya buatkan 'teman kecil' untukmu."
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍