NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama di Atas Takdir Baru

Satu bulan telah berlalu sejak gema ketukan palu hakim di Pengadilan Agama meresmikan perceraian Dimas dan Arini. Udara pagi di kawasan industri timur Jakarta bertiup sejuk, membawa aroma tanah basah dan kesegaran dari barisan pohon peneduh yang berjejer rapi di sepanjang jalan raya utama.

Di atas lahan seluas dua hektar yang dikelilingi pagar besi kokoh, sebuah kompleks bangunan modern berdiri megah. Papan nama berbahan stainless steel berkilau tertimpa sinar matahari pagi: PT BUANA TEKNIK MANDIRI – PUSAT DISTRIBUSI & LOGISTIK REGIONAL.

Sebuah mobil sedan hitam melambat dan memasuki pelataran parkir khusus pimpinan. Dimas Kurniawan melangkah keluar dari kabin mobil. Pria itu mengenakan kemeja kasmir berwarna biru tua yang terpotong rapi, dipadu dengan celana bahan hitam dan sepatu kulit yang mengkilap. Sosoknya tampak begitu tegap, memancarkan wibawa kepemimpinan yang matang namun tetap rendah hati.

Beberapa staf gudang dan karyawan berkemeja seragam yang sedang lalu-lalang membungkuk hormat saat ia melintas.

"Selamat pagi, Pak Dimas," sapa seorang manajer lapangan paruh baya dengan penuh rasa hormat.

"Selamat pagi, Pak Rudi. Bagaimana rekapitulasi pengiriman suku cadang armada truk untuk wilayah barat pagi ini? Apakah semua kontainer sudah jalan?" jawab Dimas ramah seraya menghentikan langkahnya sejenak.

"Sudah aman sepenuhnya, Pak. Sistem pengodean barang yang Bapak rancang membuat proses pemuatan barang hemat waktu hampir dua jam dibanding standar lama. Semua pengemudi sudah mengantongi resi digital," lapor Pak Rudi dengan rasa kagum yang tak disembunyikan.

Dimas tersenyum hangat, menepuk bahu manajer lapangan itu pelan. "Luar biasa. Terima kasih atas kerja keras tim lapangan, Pak Rudi. Jaga selalu keselamatan kerja."

Dimas melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja utamanya di lantai dua. Ruangan luas berkaca transparan itu menyuguhkan pemandangan langsung ke arah area gudang pusat yang riuh oleh lalu-lintas forklift dan truk-truk kontainer. Di atas meja kerjanya yang bersih dari kayu mahoni, tersusun rapi beberapa berkas laporan keuangan, iPad kerja, serta sebuah papan nama kuningan bertuliskan: DIMAS KURNIAWAN – MANAJER OPERASIONAL REGIONAL.

Dimas mendudukkan dirinya di kursi kulit yang empuk. Ia menarik napas dalam-dalam, meresapi keheningan yang menenangkan di dalam ruangan itu.

Setiap kali ia memandangi papan namanya sendiri, kenangan masa lalu terkadang melintas sekilas seperti bayangan tipis. Namun tidak ada lagi sisa rasa sakit, kepahitan, atau amarah di dalam dadanya. Proses hukum yang telah selesai dan keputusannya untuk memaafkan secara tulus telah memerdekakan jiwanya secara utuh. Kini, seluruh fokus dan energinya tercurah untuk membangun masa depan yang bermartabat.

Tok, tok, tok.

Ketukan pintu ruang kerja memecah lamunannya.

"Masuk," ujar Dimas ramah.

Pintu terbuka, dan Pak Gunawan melangkah masuk dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah bahagianya. Pengusaha senior itu membawa sebuah map emas berisi laporan audit bulanan awal.

"Selamat pagi, Dimas! Bagaimana hari pertamamu mengawal laporan bulanan penuh?" sapa Pak Gunawan seraya mendudukkan diri di kursi seberang meja kerja Dimas.

"Selamat pagi, Pak Gunawan. Semua berjalan sesuai target. Laporan efisiensi biaya logistik kita bulan ini menunjukkan penurunan angka kerugian barang hingga sembilan puluh delapan persen," jawab Dimas seraya menyodorkan iPad kerjanya yang menampilkan grafik pertumbuhan usaha.

Pak Gunawan memandangi grafik tersebut, lalu menatap Dimas dengan raut bangga yang amat tulus.

"Pilihan saya sama sekali tidak salah, Dimas," puji Pak Gunawan mantap. "Kamu bukan cuma mengamankan operasional perusahaan ini, tapi kamu juga membawa standar integritas baru untuk seluruh karyawan. Dewan komisaris sangat puas dengan kinerjamu."

"Terima kasih banyak atas kesempatannya, Pak Gunawan. Semua ini berkat kerja keras seluruh tim di lapangan," balas Dimas rendah hati.

Pak Gunawan terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Oh iya, Dim. Nanti sore Pak Joko dan Sari akan datang ke sini, kan? Kita ada jamuan makan malam syukuran kecil-kecilan untuk peresmian area gudang baru."

Mendengar nama Sari diucapkan, binar mata Dimas mendadak berubah menjadi lebih lembut dan hangat. Sebuah senyuman tipis yang jujur terukir di bibirnya.

"Iya, Pak Gunawan. Pak Joko tadi telepon, beliau dan Mbak Sari berangkat dari bengkel sekitar jam empat sore," jawab Dimas tulus.

Pak Gunawan menatap Dimas dengan raut wajah seorang ayah yang bijaksana, mengangguk-angguk pelan. "Sari itu wanita yang sangat luar biasa, Dimas. Dia berpendidikan, cerdas, bersahaja, dan yang paling penting... dia selalu memandangmu dengan rasa hormat yang tulus sejak kamu belum menjadi siapa-siapa. Orang tua seperti Pak Joko pasti akan sangat bahagia jika melihat kalian berdua melangkah lebih jauh."

Dimas menundukkan kepalanya sedikit, meremas jemarinya di atas meja. Kata-kata Pak Gunawan menyentuh sudut terdalam di dalam hatinya—mengingatkannya pada sesosok wanita yang selalu berdiri teduh di sampingnya di saat dunia sedang menguji ketabahannya.

Sementara itu, di sebuah perkampungan padat yang tenang, terik matahari siang menyinari teras rumah sederhana Bu Ratna.

Suara derit mesin jahit engkol tua terdengar ritmis dari arah dalam rumah: krek-krek-krek... krek-krek-krek...

Di dalam ruang tengah yang rapi, Arini sedang tekun menjahit tepi selembar kain gamis katun berwarna krem. Di sekeliling meja jahitnya, tertata rapi beberapa gulungan benang warna-warni, gunting kain, serta buku catatan pesanan jahitan yang diisi dengan tulisan tangannya sendiri.

Penampilan Arini kini sungguh berbeda total. Ia mengenakan busana muslimah sederhana berwarna abu-abu muda tanpa perhiasan mencolok. Wajahnya yang polos tanpa riasan mahal memancarkan ketenangan batin yang jernih. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan atau kegelisahan yang dulu selalu membakar jiwanya.

Sejak persidangan selesai, Arini mendedikasikan seluruh waktunya untuk bekerja keras membantu ibunya. Dari keterampilan menjahit yang diajarkan almarhum ayahnya dulu, Arini mulai menerima pesanan perbaikan baju dan pembuatan busana wanita dari tetangga-tetangga sekitar perkampungan. Uang hasil keringatnya sendiri—meskipun tidak seberapa dibanding lembaran uang kartu kredit dulu—terasa begitu nikmat, halal, dan membawa keberkahan yang menenangkan tidurnya di malam hari.

Kring... kring...

Suara bel sepeda tua terdengar dari luar teras. Seorang wanita paruh baya tetangga sebelah rumah melangkah masuk membawa sebungkus kain bahan.

"Permisi... Mbak Arini," sapa wanita itu ramah.

Arini menghentikan injakan pedal mesin jahitnya, berdiri dengan senyuman tulus yang hangat. "Eh, Bu Sumi. Silakan masuk, Bu."

"Ini, Mbak Arini... saya mau minta tolong buatkan dua stel baju gamis untuk acara pengajian minggu depan. Tetangga-tetangga di RT sebelah pada puji jahitan Mbak Arini rapi sekali dan modelnya sangat anggun," puji Bu Sumi seraya menyerahkan kain bahannya.

Arini menerima kain tersebut dengan kedua tangannya, membungkuk pelan penuh rasa syukur. "Alhamdulillah... terima kasih banyak atas kepercayaannya, Bu Sumi. Saya ukur dulu ya, Bu."

Bu Ratna yang baru keluar dari kamar membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat tersenyum haru menyaksikan pemandangan itu dari balik tirai. Air mata bahagia menetes pelan di pipi wanita tua itu. Anak tunggal yang dulu sempat tersesat dalam keangkuhan duniawi kini telah benar-benar kembali sebagai sosok wanita yang rendah hati, jujur, dan tahu cara menghargai arti sebuah kerja keras.

Setelah Bu Sumi pamit pulang, Arini duduk kembali di depan mesin jahitnya. Ia mengusap permukaan kain katun yang halus di atas mejanya, lalu melirik sekilas ke arah jendela luar.

Di balik riak daun-daun pisang yang bergoyang ditiup angin siang, Arini berbisik pelan di dalam hatinya:

"Terima kasih, Ya Allah... telah Kau hancurkan keangkuhanku agar aku bisa menemukan kembali jalan yang benar. Dan terima kasih untuk Mas Dimas... yang telah memberiku pelajaran terindah tentang arti sebuah ketulusan dan harga diri."

Arini tersenyum damai. Ia kembali menginjak pedal mesin jahit tua milik ayahnya, merajut lembar demi lembar takdir barunya dengan kejujuran dan kerendahan hati.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!