Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Hari-hari bersama Carlo
Dua minggu setelah Carlo membuka mata, Desa Karang Sewu sudah memasuki musim tanam. Dari celah dinding anyaman, Andien bisa melihat petani-petani berjalan beriringan ke sawah, caping mereka bergoyang di bawah matahari pagi.
Carlo belum boleh keluar. Itu aturan Bu Rukmini, dan perempuan kurus itu keras kepala untuk urusan yang menyangkut nyawa orang.
"Kalau ada yang lihat, bagaimana?" kata Bu Rukmini setiap kali Carlo menatap pintu dengan gelisah. "Kamu sendiri yang bilang ada yang ingin kamu mati."
Carlo tak pernah membantah. Ia hanya mengangguk, lalu kembali duduk di balai-balai dengan tatapan menerawang.
Pagi itu, Andien masuk membawa nampan berisi bubur jagung dan secangkir wedang jahe. Ia menahan senyum melihat Carlo sudah duduk bersandar di dinding, kemeja pinjaman milik almarhum ayahnya tampak kebesaran di tubuhnya yang masih kurus.
"Mas Carlo sudah bangun dari tadi?"
"Sejak ayam berkokok." Carlo menerima mangkuk itu. "Aku tidak terbiasa tidur lama."
"Padahal tiga hari pertama Mas tidur terus."
"Itu lain." Sudut bibirnya terangkat tipis, hampir seperti senyum. "Waktu itu aku tidak punya pilihan."
Andien duduk di bangku kecil di seberangnya. Ia sudah terbiasa dengan kehadiran pria ini, dengan caranya makan perlahan, dengan caranya mengamati segala sesuatu seolah sedang menghitung. Awalnya itu membuatnya canggung. Sekarang, entah sejak kapan, itu justru terasa menenangkan.
"Lukanya masih nyeri?"
"Sedikit." Carlo menyentuh bahu kirinya. "Tapi tidak sesakit kemarin. Ramuan Ibumu manjur."
"Itu daun sirih sama kunyit, Mas. Resep turun-temurun." Andien tersenyum bangga. "Kata Ibu, nenek moyang kami dulu obati prajurit yang luka perang pakai itu."
"Aku bukan prajurit."
"Tapi lukanya sama." Andien menunduk. "Orang yang berani bertahan hidup setelah dilukai seperti itu, menurut saya sama beraninya dengan prajurit."
Carlo terdiam. Sendok di tangannya berhenti di udara.
Sudah lama sekali tak ada yang menyebutnya berani. Di dunianya, orang menyebutnya cerdas, licik, atau berbahaya. Tak pernah berani. Dan tak pernah dengan nada setulus itu.
---
Hari-hari berikutnya mengalir dengan irama yang sederhana.
Pagi, Andien menumbuk jamu dan memasak. Siang, ia berangkat ke warung Mbok Darmi, pulang menjelang sore dengan sisa nasi dan lauk yang diberikan sang pemilik. Malam, mereka bertiga duduk mengelilingi pelita, makan seadanya, sementara jangkrik bernyanyi di luar.
Awalnya Carlo hanya diam. Tetapi lambat laun, ia mulai bertanya.
"Berapa umurmu, Dien?"
"Dua puluh dua, Mas."
"Belum menikah?"
Andien tertawa kecil, sedikit malu. "Siapa yang mau sama saya, Mas? Saya cuma anak buruh tani. Bapak sudah meninggal, harta kami cuma gubuk ini."
"Harta tidak ada hubungannya dengan itu."
"Bagi orang desa, ada."
Carlo menatapnya lama. Di bawah cahaya pelita yang bergetar, wajah gadis itu tampak lembut: mata bulat yang jernih, hidung kecil, bibir yang selalu seperti hampir tersenyum. Tak ada kepalsuan di sana. Tak ada perhitungan.
Di kota, ia dikelilingi perempuan-perempuan yang tahu persis bagaimana tersenyum, kapan menunduk, kata apa yang harus diucapkan. Sempurna dan terlatih. Dan mati rasa.
"Kamu sendiri, apa yang kamu inginkan?" tanyanya tiba-tiba.
Andien berkedip. "Saya?"
"Kalau kamu bisa minta apa saja."
Ia berpikir lama, jemarinya memilin ujung kain. "Saya ingin Ibu sembuh dari batuknya. Ingin punya warung kecil sendiri. Dan..." Ia terdiam, pipinya merona.
"Dan?"
"Ingin lihat laut. Saya belum pernah lihat laut, Mas."
"Belum pernah?"
"Desa kami jauh dari pantai. Kata orang, kalau dengar ombaknya, hati jadi tenang."
Carlo tidak menjawab. Ia memandangi api pelita, rahangnya mengeras oleh sesuatu yang tak ia ucapkan. Ia punya segalanya, rumah di tepi pantai yang tak pernah ia tinggali, kapal pesiar yang jarang disentuh. Dan gadis di hadapannya ini hanya ingin melihat laut.
*Suatu hari,* pikirnya, *aku akan membawanya.*
Pikiran itu muncul begitu saja, dan tak pernah ia pertanyakan. Itulah awal dari semuanya.
---
Memasuki minggu keempat, Carlo sudah bisa berjalan tanpa dipapah. Bu Rukmini mengizinkannya duduk di bale-bale depan rumah, asal pagi-pagi sekali dan tak ada orang lewat.
Suatu pagi, Andien menemukannya sedang mengamati sepetak kebun sayur di samping gubuk.
"Tanahnya kering," kata Carlo tanpa menoleh. "Kamu menyiram terlalu sedikit."
"Saya siram setiap sore, Mas."
"Sore terlalu panas, airnya menguap sebelum meresap. Siram pagi, sebelum matahari naik."
Andien melipat tangan, setengah tersinggung. "Mas tahu apa soal bertani?"
"Tidak banyak." Carlo tersenyum miring. "Tapi aku tahu soal hasil. Tanaman yang disiram tepat waktu hasilnya dua kali lipat."
Andien mendengus, tetapi keesokan paginya, ia menyiram kebun sebelum matahari terbit. Seminggu kemudian, daun-daun kangkung dan bayam itu tampak lebih hijau dari yang pernah ia lihat.
Ia tak mengatakan apa pun, tetapi saat menyajikan sayur bening malam itu, ia menyelipkan senyum kecil ke arah Carlo. Senyum yang dibalas dengan anggukan singkat dan sorot mata yang melunak.
Begitulah mereka. Tak banyak kata, tetapi ada percakapan yang berjalan di antara tatapan.
---
Suatu malam, Bu Rukmini batuk lebih parah dari biasanya.
Andien terbangun oleh suara batuk yang seperti merobek dada. Ia bergegas ke dipan ibunya dan mendapati perempuan itu terduduk, tubuh bergetar, tangan menutup mulut. Ketika tangan itu diturunkan, ada bercak merah di telapaknya.
"Ibu!"
"Tidak apa-apa, Nduk," Bu Rukmini terengah, tetapi wajahnya pucat pasi. "Cuma batuk biasa."
"Ini darah, Bu!"
Andien gemetar. Ia sudah berkali-kali meminta ibunya periksa ke puskesmas di kecamatan, tetapi biayanya, dan ongkos ojek ke sana, selalu menjadi tembok yang tak terlampaui.
Sebuah tangan menyentuh bahunya. Carlo sudah berdiri di belakangnya, wajahnya tenang meski matanya awas.
"Besok pagi kita bawa Ibu ke dokter."
"Tapi, Mas, kami tidak punya..."
"Aku punya." Suaranya datar, tak memberi ruang untuk bantahan. "Tapi tidak di sini. Aku harus ke kota untuk mengambilnya."
Andien menatapnya, bingung dan cemas. "Mas Carlo mau pergi? Tapi di luar sana, orang-orang yang..."
"Aku tahu risikonya." Carlo menatap Bu Rukmini yang terbatuk-batuk, lalu kembali ke wajah Andien. "Kalian menyelamatkan nyawaku tanpa meminta apa pun. Sekarang giliranku."
"Mas belum sembuh benar."
"Cukup sembuh untuk ini."
Malam itu tak ada yang tidur. Carlo menghabiskan berjam-jam di bale-bale, menulis sesuatu di secarik kertas bekas pembungkus beras dengan arang, nomor, nama, dan beberapa kata yang tak Andien mengerti. Ia melipatnya rapi dan menyelipkannya ke saku.
Menjelang subuh, ia keluar ke teras. Andien menyusul dengan selimut tipis.
"Mas pakai ini. Dingin."
Carlo menerimanya, lalu tanpa disangka menahan pergelangan tangan Andien sebelum ia berbalik. Genggamannya hangat dan agak canggung, seperti orang yang jarang menyentuh tanpa perhitungan.
"Dien."
"Iya, Mas?"
"Kalau aku kembali nanti..." Ia berhenti, seolah kata-katanya sendiri mengkhianatinya. "Kamu akan menunggu?"
Napas Andien tersangkut. Di bawah langit yang mulai memucat, ia melihat sesuatu di mata Carlo yang belum pernah ia lihat sebelumnya: kerentanan, dan di baliknya, sesuatu yang lain, sesuatu yang gelap dan tak terucap, yang terlalu cepat bersembunyi sebelum sempat ia pahami.
"Saya akan menunggu, Mas."
Carlo melepaskan tangannya perlahan. Ia mengangguk sekali, lalu berjalan menembus kabut pagi menuju jalan besar desa, bayangannya memanjang di tanah basah.
Andien berdiri di teras sampai sosok itu hilang di tikungan. Ia tak menyadari betapa kencang jantungnya berdetak, atau betapa kosong rasanya halaman itu setelah Carlo pergi.
Di balik pintu, Bu Rukmini yang tak jadi tidur menatap punggung putrinya lewat celah anyaman. Matanya sendu, dan ada kekhawatiran yang tak sempat ia ucapkan.
Ia pernah muda. Ia tahu persis tatapan seperti itu, tatapan seorang gadis yang baru saja memberikan hatinya pada seseorang yang bahkan belum ia kenal sepenuhnya.
Dan ia tahu pula betapa sering hati yang diberikan sepolos itu pulang dalam keadaan remuk.
---
*Bersambung ke Bab 3...*
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya