Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAUTAN JIWA TERLARANG
Malam makin kelam saat Ryu Jin menapakkan kakinya di celah Lembah Bintang Jatuh. Tempat ini merupakan jurang perbatasan yang memisahkan wilayah luar dengan Puncak Gunung Langit Merah—markas besar Sekte Pedang Suci.
Namun, tempat tersebut tidak lagi menampakkan keindahan alamnya. Udara di sana pekat oleh kabut racun berwarna merah tembaga yang mengeluarkan aroma manis menyeramkan—bau dari daging manusia yang meleleh akibat suhu tinggi. Reruntuhan candi kuno di sepanjang dinding tebing tampak samar di balik tirai merah, tertutup oleh lapisan lendir hitam yang membusuk.
Ryu Jin melangkah tanpa suara. Jubah kelabunya terkibas pelan ditiup angin lembah yang membawa hawa kematian.
GZZZZZZ...
Di punggungnya, Pedang Tulang Hitam bergetar lebih kencang dari biasanya. Dua pola ukiran mata merah di sarung senjata itu menyala terang, memancarkan cahaya darah yang memantul pada dinding-dinding cadas. Pusaka terkutuk tersebut merintih, merindukan pasokan jiwa baru demi memuaskan dahaganya yang tak pernah sirna.
Mata merah membara milik Ryu Jin menyapu kegelapan. Di dasar jurang yang dalam, terhampar sebuah pemandangan mengerikan yang sanggup membuat pendekar aliran benar sekalipun memuntahkan darah akibat kengeriannya.
Sebuah kawah perunggu raksasa seluas lapangan bertingkat berdiri di tengah-tengah area. Di bawah kawah, api spiritual berwarna ungu membara tanpa henti. Sementara di dalam cerobong raksasa tersebut... terikat ratusan warga yang diculik dari berbagai pemukiman.
Mereka tidak sekadar ditawan. Tubuh orang-orang itu dipaku pada tiang-tiang besi berukirkan mantra pengikat jiwa. Api ungu di bawah kawah perlahan-lahan memanaskan dasar perunggu, melebur kulit dan daging penduduk hidup-hidup demi mengekstrak pancaran tenaga dalam murni dari jiwa yang menjerit histeris.
"Tolong... ampun... panas!"
"Ibu! Ibu di mana?!"
Jeritan, tangisan, dan erangan kesakitan dari ratusan manusia yang sedang dilebur bergaung memenuhi dinding-dinding batu, menciptakan simfoni Neraka yang teramat mencekam.
Ryu Jin berdiri di tepi tebing, menatap lautan penderitaan itu dari ketinggian.
Wajahnya tidak menunjukkan rasa iba sedikit pun. Tidak ada sorot amarah di matanya, tidak pula ada niat heroik untuk bertindak sebagai penyelamat. Bagi Ryu Jin yang telah mengorbankan kemanusiaannya demi menahan kekuatan iblis selama 25 tahun, manusia-manusia di dalam kawah hanyalah wadah yang sudah hancur.
Ia tidak melihat mereka sebagai korban, melainkan sebagai deretan jiwa yang telah dicuri oleh Sekte Pedang Suci dari jangkauan pedangnya.
Di sekitar kawah perunggu, puluhan algojo berseragam zirah merah darah berjaga dengan senjata terhunus. Di atas panggung batu yang tinggi, berdiri pimpinan ritual tempat ini—Utusan Gu.
Pria paruh baya berwajah tirus dengan mata licik itu tersenyum puas melihat cairan emas bercampur darah yang mulai menetes dari dasar kawah menuju wadah kristal di bawahnya. Utusan Gu adalah seorang praktisi ranah Jiwa Kuno tingkat menengah, salah satu kepercayaan Tetua Agung Duan Feng.
"Bagus... terus tambahkan kayu bakar spiritual!" teriak Utusan Gu dengan suara melengking. "Empat ratus jiwa lagi dan wadah kristal ini akan penuh! Tetua Agung pasti sangat puas dengan hasil kerja keras kita!"
"Utusan Gu!" seorang algojo berlari terengah-engah dengan wajah pucat pasi. "L-Laporan dari Benteng Kota Perunggu... Tetua Lu Cien... beliau telah tewas!"
"Apa?!" Utusan Gu menoleh kasar, matanya membelalak. "Lu Cien berada di ranah Jiwa Kuno! Siapa yang sanggup membunuhnya di wilayah luar?!"
"I-Iblis itu... Iblis dari Desa Sunyi!" seru algojo itu gemetar. "Dia telah menghancurkan Kota Perunggu dan sekarang... dia sedang menuju ke—"
SIUUTT!
Kalimat algojo tersebut terputus seketika.
Bukan karena dihentikan oleh Utusan Gu, melainkan akibat sebuah garis hitam tipis yang mendadak muncul di lehernya. Satu detik kemudian, kepala pria itu terlepas dari pundak lalu jatuh berdenting ke atas lantai batu, memuntahkan cairan segar yang membasahi kaki sang pimpinan ritual.
Utusan Gu terlonjak mundur, mencabut dua bilah belati beracun dari pinggangnya. "Siapa di sana?!"
Dari balik kabut racun merah di tepi kawah, sesosok pemuda melangkah keluar.
Ryu Jin berjalan santai dengan tangan kiri berada di pinggang, sementara tangan kanannya menggenggam pelan gagang Pedang Tulang Hitam. Kehadirannya tidak membawa suara langkah kaki, namun gelombang hawa membeku yang meluap di sekitarnya seketika memadamkan sebagian api ungu di bawah kawah.
Bau amis yang memancar dari tubuh Ryu Jin begitu pekat, hingga beberapa algojo di barisan depan langsung berlutut dan muntah darah akibat organ dalam mereka tertekan oleh tekanan jiwa tingkat purba.
"Kau..." Utusan Gu menatap Ryu Jin dengan mata menyempit. Ketakutan yang amat sangat menyergap dadanya saat melihat dua bola mata merah membara milik pemuda tersebut. "Kau adalah Iblis Desa Sunyi!"
Ryu Jin tidak menjawab. Ia menghentikan langkahnya tepat sepuluh meter dari panggung Utusan Gu.
Utusan Gu berusaha menenangkan napasnya yang memburu. Sebagai praktisi ranah Jiwa Kuno tingkat menengah, ia tahu betapa berbahayanya lawan di hadapannya. Namun, otak liciknya mulai berputar.
"Anak muda!" teriak Utusan Gu mencoba bernegosiasi. "Aku tahu kau membenci sekte kami karena pembantaian desa itu! Tapi dengarkan aku! Kau memiliki kekuatan yang luar biasa. Kenapa harus membuang nyawamu untuk membela sampah-sampah tak berguna ini?!"
Ryu Jin menatap Utusan Gu dengan pandangan kosong yang mengerikan.
"Sekte kami... Tetua Agung Duan Feng telah bekerja sama dengan penguasa dari Benua Luar!" lanjut Utusan Gu dengan senyum licik, mencoba mengulur waktu sambil mengumpulkan tenaga dalam di belatinya. "Kami mengumpulkan Sepuluh Ribu Jiwa ini bukan hanya untuk pusaka kuno, melainkan demi membuka Gerbang Bencana! Jika kau bergabung dengan kami, Tetua Agung pasti akan memberimu posisi sebagai Penguasa Benua!"
Utusan Gu tertawa pelan, mengira penawarannya sanggup menggoyahkan pemuda di depannya.
Namun, jawaban Ryu Jin jauh dari apa yang ia harapkan.
"Kau terlalu banyak bicara," kata Ryu Jin datar. Suaranya begitu dingin, tanpa ada sedikit pun minat pada rahasia atau penawaran yang baru saja diucapkan. "Dan bicaramu... membuat pedangku bosan."
Wajah Utusan Gu seketika berubah menjadi sangat buruk. "Kepada iblis seperti mu, tidak ada gunanya berbelas kasih! Mati kau!"
Utusan Gu menghentakkan kakinya ke tanah. Bayangan raksasa berbentuk kalajengking beracun bermata hijau mencuat dari belakang tubuhnya—manifestasi wujud Jiwa Kuno tingkat menengah miliknya! Ribuan jarum racun hitam meletup dari tubuh monster tersebut, meluncur deras bagaikan badai yang siap melumat Ryu Jin!
Ryu Jin tidak menghindar. Dengan gerakan yang teramat dingin dan kejam, ia menarik Pedang Tulang Hitam keluar dari sarungnya... empat sentimeter.
KLIK-CRAAK!
Gelombang kegelapan berwarna merah kehitaman meledak dari celah empat sentimeter tersebut! Badai jarum racun milik Utusan Gu seketika hancur menjadi abu di udara. Cahaya hijau dari manifestasi wujud Jiwa Kuno berbentuk kalajengking itu tersedot secara paksa ke dalam celah senjata Ryu Jin!
"A-Apa?! Jiwa Kuno-ku!" jerit Utusan Gu histeris.
Sebelum Utusan Gu sempat memulihkan diri, Ryu Jin telah muncul tepat di hadapannya. Tangan kiri Ryu Jin yang menyerupai cakar besi menancap dalam-dalam ke leher Utusan Gu, mengangkat tubuh praktisi tersebut ke udara!
"Kau ingin menggunakan jiwa manusia untuk ritualmu?" bisik Ryu Jin pelan tepat di telinga Utusan Gu. "Kalau begitu, mari kita lihat bagaimana jiwamu sendiri dilebur."
CRES!
Dengan gerakan yang sangat sadis, Ryu Jin memutarkan pergelangan tangannya. Ia meremukkan tulang leher Utusan Gu, lalu secara paksa menarik keluar Bayi Jiwa berbentuk cahaya hijau dari dada pria itu menggunakan tangan telanjang!
Ryu Jin menjejalkan Bayi Jiwa hijau tersebut langsung ke celah empat sentimeter Pedang Tulang Hitam.
CZZZZZT!
Suara daging terbakar dan jeritan jiwa Utusan Gu yang dilumat habis oleh pedang iblis bergema di seluruh lembah sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya.
Jurus Pedang Tulang Iblis: Tentakel Darah Pembantai!
Puluhan cabang aura hitam berbentuk tentakel tulang melesat keluar dari bilah senjata Ryu Jin, mengejar puluhan algojo yang mencoba melarikan diri. Sulur-sulur tersebut menembus dada para algojo sekaligus, menyerap habis seluruh darah dan sumsum tulang mereka dalam hitungan detik.
Ryu Jin melangkah menuju tepi kawah perunggu raksasa.
Warga desa yang sekarat di dalam kawah merintih memohon bantuan. Namun Ryu Jin menatap mereka dengan mata merah yang tak bergeming. Bagi Ryu Jin, energi vital warga di dalam kawah ini sudah terlalu banyak terkuras—mereka hanyalah wadah kosong yang hanya akan bertahan dalam kesakitan beberapa jam lagi.
Ryu Jin mengarahkan ujung Pedang Tulang Hitam ke arah kawah perunggu.
"Rantai kalian sudah mengikat jiwa kalian," kata Ryu Jin dingin. "Daripada energi kalian dipakai oleh Sekte Pedang Suci... lebih baik kalian menjadi bagian dari pedangku."
WUUUSHHH!
Pedang Tulang Hitam memancarkan gelombang daya hisap yang luar biasa! Cairan tenaga dalam murni dan sisa-sisa energi kehidupan ratusan warga ditarik keluar, tersedot masuk seluruhnya ke dalam bilah pedang Ryu Jin. Ukiran mata ketiga di dekat ujung sarung pusaka itu kini terbuka penuh—menandakan tingkat kematangan baru telah dicapai.
DUAARR!
Kawah perunggu raksasa seketika meledak, hancur menjadi serpihan besi tak berguna.
Ryu Jin mengibaskan pedangnya, membiarkan beberapa tetes darah hitam milik Utusan Gu menetes ke dinding tebing batu raksasa. Menggunakan ujung jari yang dialiri hawa pembunuh, Ryu Jin menggoreskan huruf-huruf besar yang mengukir tebing batu:
"DUAN FENG, JIWAMU ADALAH SAJIAN BERIKUTNYA."
Satu jam kemudian, di Puncak Gunung Langit Merah.
Di dalam Aula Agung Sekte Pedang Suci, pimpinan tertinggi Tiga Sekte Besar—Tetua Agung Duan Feng dari ranah Penjelmaan Jiwa Tingkat Puncak—berdiri dari takhtanya setelah menerima kabar hancurnya Lembah Bintang Jatuh.
"Aktifkan Formasi Pelindung Gunung Langit Merah!" perintah Duan Feng dengan suara berat yang menggelegar. "Panggil seluruh murid inti dan tetua tertua dari Tiga Sekte! Siapkan Formasi Pembunuh Dewa!"
Para tetua terkejut. Mengaktifkan Formasi Pelindung Gunung adalah tindakan tertinggi yang hanya digunakan jika benua diserbu oleh pasukan luar.
"Dia bukan lagi manusia," jawab Duan Feng dingin. "Dia adalah bencana yang membawa pedang iblis. Jika kita tidak menghancurkannya di gerbang puncak malam ini, tidak ada satu pun dari kita yang akan melihat matahari besok!"
Di luar, di kaki tangga batu bersalju menuju Puncak Gunung Langit Merah.
Badai salju berembus kencang. Sesosok pemuda berselimut jubah kelabu berjalan menembus badai tersebut.
Ryu Jin menatap ke arah puncak gunung di atasnya. Tiga pola ukiran mata merah di sarung Pedang Tulang Hitamnya berkedip-kedip ritmis. Senyuman dingin, sadis, dan tanpa belas kasihan terukir di wajah Ryu Jin. Langkah kakinya meninggalkan jejak-jejak darah di atas salju putih, membawa takdir kematian menuju gerbang Tiga Sekte Besar.