NovelToon NovelToon
Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.

Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.

Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.

Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.

Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.

Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 - MALAM KETIKA AKU DIBUANG

Shanghai, pukul 19.30.

Hujan turun membasahi jalanan kota. Lampu-lampu gedung pencakar langit memantul di permukaan aspal, menciptakan pemandangan yang indah bagi siapa pun yang melihatnya dari kejauhan.

Namun, di sebuah penthouse mewah di kawasan Pudong, seorang wanita sedang berusaha menahan kesedihan yang perlahan menghancurkan hatinya.

Celine Wang berdiri di samping meja makan.

Di hadapannya terdapat hidangan yang dimasaknya sejak sore, sebotol anggur yang belum dibuka, dan sebuah kue kecil bertuliskan Happy Third Anniversary.

Sedang menghadiri rapat penting. Mungkin ada masalah di perusahaan. Mungkin ia lupa bahwa hari ini merupakan hari istimewa bagi mereka.

Celine mencoba mencari alasan untuk membenarkan ketidakhadiran pria itu.

Ia sudah terbiasa melakukannya.

Selama tiga tahun pernikahan mereka, Celine selalu menjadi orang yang memahami Alexander. Ketika pria itu pulang larut malam, ia menunggu. Ketika Alexander sedang marah karena masalah pekerjaan, ia memilih diam. Ketika suaminya melupakan ulang tahun pernikahan mereka pada tahun sebelumnya, ia hanya tersenyum dan berkata bahwa pekerjaan Alexander lebih penting.

Ia tidak pernah meminta hadiah mahal.

Ia hanya ingin sesekali diperlakukan sebagai seorang istri, bukan sekadar penghuni rumah yang kebetulan memiliki nama keluarga Wu.

Ponselnya bergetar.

Jantung Celine berdebar ketika melihat nama yang muncul di layar.

Alexander Wu.

Namun, pesan yang diterimanya bukanlah ucapan selamat.

Jangan menunggu. Aku akan pulang terlambat.

Celine menatap pesan itu lama sekali.

Jarinya bergerak perlahan.

Baiklah. Aku akan menunggumu.

Ia mengirim pesan tersebut, lalu meletakkan ponselnya.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Mungkin malam ini belum terlambat untuk memperbaiki hubungan mereka.

Ia mematikan sebagian lampu, menyalakan lilin di meja makan, dan duduk menunggu.

Satu jam berlalu.

Dua jam berlalu.

Hidangan yang semula hangat kini mulai dingin.

Tepat pukul 22.17, suara pintu utama akhirnya terdengar.

Celine segera berdiri.

“Alexander?”

Pintu terbuka.

Seorang pria tinggi dengan bahu tegap memasuki ruangan. Jas hitamnya terlihat sempurna, rambutnya tersisir rapi, dan wajahnya menampilkan ekspresi dingin yang sulit dibaca.

Alexander Wu, tiga puluh empat tahun, CEO Wu Group sekaligus pria yang telah menjadi pusat kehidupan Celine selama tiga tahun terakhir.

Ia melirik meja makan.

“Apa ini?”

Celine tersenyum kecil.

“Makan malam. Aku memasak hidangan kesukaanmu.”

“Aku sudah makan.”

Senyum Celine memudar sedikit.

“Oh. Tidak apa-apa. Kalau begitu, aku bisa menghangatkannya besok.”

Alexander tidak menjawab.

Ia melepas jasnya, menyerahkannya kepada pelayan yang datang menghampiri, kemudian berjalan menuju ruang tamu.

Celine mengikuti dari belakang.

“Kau sangat sibuk hari ini?”

“Biasa saja.”

“Kalau begitu, apakah kau ingat hari ini tanggal berapa?”

Alexander berhenti.

Ia menoleh dengan ekspresi tidak sabar.

“Ada apa?”

Celine menggenggam jemarinya sendiri.

“Hari ini ulang tahun pernikahan kita.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Untuk beberapa detik, Celine berharap akan melihat perubahan di wajah suaminya. Mungkin rasa bersalah. Mungkin senyuman. Atau setidaknya, pengakuan bahwa ia memang lupa.

Namun, Alexander hanya mengembuskan napas.

“Celine, aku tidak punya waktu untuk hal-hal seperti ini.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi bagi Celine, rasanya seperti seseorang baru saja memadamkan cahaya kecil yang selama ini ia pertahankan.

“Hal-hal seperti ini?” ulangnya pelan.

“Pekerjaanku sedang menumpuk. Aku tidak bisa terus-menerus memikirkan perayaan yang tidak penting.”

Celine menunduk.

“Maaf.”

Kata itu keluar secara otomatis.

Ia bahkan tidak tahu mengapa dirinya yang meminta maaf.

Alexander menatapnya sekilas, lalu mengambil sebuah amplop dari tas kerjanya.

“Bagus. Kalau begitu, ada sesuatu yang harus kau lakukan malam ini.”

Ia meletakkan amplop itu di atas meja.

Celine memandangnya.

“Apa itu?”

“Tanda tangani.”

Nada suaranya datar.

Entah mengapa, firasat buruk langsung menyergap hati Celine.

Ia membuka amplop tersebut dengan tangan gemetar.

Dokumen pertama yang terlihat adalah surat perjanjian perceraian.

Di bagian atas halaman, nama mereka tercetak dengan jelas.

Alexander Wu.

Celine Wang.

Untuk beberapa saat, ia hanya bisa menatap kedua nama itu.

Seolah-olah pikirannya menolak memahami apa yang sedang dibacanya.

“Alexander... apa maksudnya ini?”

“Seperti yang tertulis.”

“Perceraian?”

“Ya.”

Celine mengangkat wajahnya.

“Kenapa?”

Alexander berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, seolah pembicaraan itu tidak lebih penting daripada rapat bisnis biasa.

“Aku sudah memikirkannya.”

“Sejak kapan?”

“Tidak perlu membahas itu.”

“Tapi kita bahkan belum pernah membicarakan masalah ini.”

Alexander berbalik.

“Apakah setiap keputusan yang kuambil harus mendapatkan persetujuanmu?”

Celine terdiam.

“ diucapkan pria itu di hadapan keluarga mereka.

Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.

Betapa mudahnya manusia melupakan janji ketika hatinya sudah berpaling.

“Apakah ada wanita lain?” tanya Celine.

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Alexander berubah.

Hanya sedikit.

Namun, Celine melihatnya.

“Jangan menuduh tanpa bukti.”

“Aku tidak menuduhmu. Aku hanya bertanya.”

“Jawabannya tidak penting.”

Air mata mulai menggenang di mata Celine.

“Bagiku, itu penting.”

Alexander terdiam beberapa detik.

Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh dunia Celine terasa runtuh.

“Evelyn akan kembali ke Shanghai. Aku tidak ingin masa laluku menjadi masalah dalam kehidupan yang ingin kujalani sekarang.”

Celine merasa seolah-olah seseorang baru saja menghantam dadanya.

Evelyn Zhao.

Nama yang selama ini hanya muncul sesekali dalam percakapan keluarga Wu.

Wanita yang disebut sebagai cinta pertama Alexander.

Wanita yang dahulu meninggalkan Shanghai untuk melanjutkan hidup di luar negeri.

Dan sekarang, wanita itu kembali.

“Jadi, kau menceraikanku karena dia?”

“Jangan menyederhanakan masalah.”

“Lalu bagaimana aku harus memahaminya?”

Alexander tidak menjawab.

Keheningannya terasa lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.

Celine menggeleng pelan.

“Aku tidak pernah meminta banyak darimu, Alexander.”

Pria itu menatapnya.

“Aku hanya ingin kau pulang sesekali untuk makan malam bersamaku. Aku hanya ingin kau mengingat hari pernikahan kita. Aku hanya ingin kau melihatku sebagai istrimu.”

Suaranya mulai bergetar.

“Apakah semua itu terlalu sulit?”

Alexander mengalihkan pandangan.

“Aku tidak ingin berdebat.”

Ia mendorong dokumen perceraian itu sedikit lebih dekat kepada Celine.

“Tandatangani. Kau akan menerima kompensasi yang sesuai.”

Celine menatap dokumen tersebut.

Kompensasi.

Seolah-olah tiga tahun kehidupan mereka hanyalah transaksi bisnis yang dapat diselesaikan dengan sejumlah uang.

“Apakah selama ini kau pernah mencintaiku?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Alexander tidak segera menjawab.

Di luar jendela, kilat menyambar langit.

“Aku pernah berusaha,” katanya.

Celine tersenyum pahit.

Pernah berusaha.

Bukan pernah mencintai.

Bukan masih mencintai.

Hanya pernah berusaha.

Ia menunduk, membiarkan air mata jatuh tanpa suara.

Lalu, perlahan-lahan, ia menghapusnya.

“Baiklah.”

Alexander mengernyit.

“Apa?”

“Aku akan menandatanganinya.”

Untuk sesaat, Alexander tampak terkejut. Mungkin ia mengira Celine akan menangis lebih lama, memohon, atau mencoba mempertahankan pernikahan mereka.

Namun, Celine mengambil pena dari meja.

Tangannya masih gemetar.

Ia membaca dokumen tersebut sekali lagi, memastikan tidak ada klausul yang memaksanya menyerahkan sesuatu yang bukan milik Alexander.

Lalu ia menandatangani namanya.

Celine Wang.

Satu tanda tangan.

Tiga tahun pernikahan berakhir di atas selembar kertas.

Ia meletakkan pena dan mendorong dokumen itu kembali kepada Alexander.

“Sudah.”

Alexander mengambilnya.

“Bagus. Pengacara akan mengurus sisanya.”

Celine menatapnya untuk terakhir kali malam itu.

“Alexander, aku ingin mengatakan satu hal.”

Pria itu mengangkat wajah.

“Apa lagi?”

“Suatu hari nanti, mungkin kau akan mengingat malam ini.”

Alexander tidak menunjukkan reaksi.

“Lalu?”

Celine menarik napas panjang.

“Semoga saat itu tiba, kau tidak perlu merasakan apa yang kurasakan sekarang.”

Ia berbalik dan berjalan menuju kamar mereka.

Bukan.

Kamar yang selama tiga tahun mereka tempati.

Mulai malam ini, kamar itu tidak lagi menjadi tempatnya.

Celine membuka lemari dan mengambil sebuah koper kecil. Ia memasukkan beberapa pakaian, dokumen pribadinya, sebuah kalung peninggalan ibunya, dan foto ayahnya yang telah meninggal dunia.

Ia tidak membawa perhiasan yang dibelikan Alexander.

Ia tidak menyentuh uang yang dijanjikan sebagai kompensasi.

Ia juga tidak mengambil satu pun barang mewah di rumah itu.

Setelah selesai berkemas, Celine berdiri di depan cermin.

Wajahnya pucat. Matanya merah. Bibirnya gemetar.

Namun, ia memaksa dirinya untuk berdiri tegak.

Ia tidak ingin mengingat malam ini sebagai malam ketika dirinya memohon untuk dicintai.

Ia ingin mengingatnya sebagai malam ketika dirinya akhirnya berhenti memohon.

Celine menyeret kopernya menuju pintu utama.

Alexander masih berada di ruang tamu.

Pria itu melirik koper di tangan mantan istrinya.

“Kau mau pergi sekarang?”

Celine mengangguk.

“Ya.”

Kau tidak perlu bertindak berlebihan. Kita bisa tetap berhubungan baik.”

Celine berhenti sejenak.

Kemudian ia menoleh.

“Berhubungan baik?”

Alexander mengerutkan kening.

“Bukankah itu lebih baik daripada bermusuhan?”

Celine menatapnya lama sekali.

“Ketika aku menjadi istrimu, kau tidak pernah benar-benar memperlakukanku sebagai pasanganmu. Sekarang setelah kau menceraikanku, kau ingin kita tetap berhubungan baik?”

Ia tersenyum tipis.

“Maaf, Alexander. Aku tidak bisa memberikan itu kepadamu.”

Tanpa menunggu jawaban, ia membuka pintu.

Udara malam yang dingin menyambutnya.

Celine melangkah keluar.

Pintu tertutup di belakangnya.

Dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, ia benar-benar sendirian.

Di dalam penthouse, Alexander berdiri memandangi pintu yang baru saja tertutup.

Ia tidak merasa lega seperti yang dibayangkannya.

Ada sesuatu yang terasa aneh.

Biasanya, Celine akan kembali beberapa menit kemudian untuk menanyakan apakah ia sudah makan. Ia akan mengingatkan Alexander untuk beristirahat, menyiapkan air hangat, atau meninggalkan secangkir teh di meja kerjanya.

Malam ini, tidak ada siapa pun.

Alexander mengabaikan perasaan itu.

Ia mengambil ponselnya.

Sebuah pesan masuk dari Evelyn.

Sudah selesai? Aku tidak sabar bertemu denganmu besok.

Alexander membalas singkat.

Sudah. Kita bisa bertemu besok.

Tidak lama kemudian, sebuah foto masuk.

Evelyn sedang duduk di sebuah restoran mewah, tersenyum ke arah kamera.

Terima kasih karena akhirnya memilihku, Alexander.

Ia menatap foto itu beberapa saat.

Kemudian meletakkan ponselnya.

Di meja makan, lilin ulang tahun pernikahan Celine telah padam.

Kue kecil itu masih utuh.

Di sampingnya terdapat dua gelas yang tidak pernah digunakan.

Alexander memandang semuanya dengan perasaan yang tidak dapat dijelaskannya.

Namun, ia segera mengalihkan pandangan.

Baginya, keputusan sudah dibuat.

Ia tidak tahu bahwa di balik pintu yang baru saja ditutup, seorang wanita sedang memulai perjalanan yang kelak akan mengubah seluruh kehidupan keluarga Wu.

Dan ia tidak tahu bahwa Celine Wang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang kompensasi yang ditawarkannya.

Sebuah rahasia.

Rahasia yang dapat menghancurkan kerajaan bisnis keluarganya.

Di tempat lain, pukul 23.06

Celine duduk di kursi belakang taksi yang melaju menembus hujan.

Kota Shanghai tampak kabur di balik kaca jendela.

Ia memeluk tas kecilnya, mencoba menenangkan napas yang masih tidak teratur.

Air matanya telah berhenti mengalir, tetapi rasa sakit di dadanya belum mereda.

Ponselnya bergetar.

Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.

Celine mengangkatnya setelah beberapa detik.

“Halo?”

Suara seorang pria terdengar dari seberang.

“Nona Wang?”

“Ya. Siapa ini?”

“Nama saya Daniel Zhou. Saya pengacara yang dahulu menangani beberapa urusan bisnis keluarga Anda.”

Celine mengernyit.

Ia pernah mendengar nama itu dari ibunya, tetapi mereka belum pernah berbicara secara langsung.

“Ada apa, Tuan Zhou?”

“Saya sudah berusaha menghubungi Anda selama beberapa minggu. Saya baru mengetahui bahwa Anda telah meninggalkan kediaman keluarga Wu.”

Celine terdiam.

“Bagaimana Anda mengetahui hal itu?”

“Itu tidak penting untuk saat ini. Yang lebih penting, saya menemukan sesuatu yang ditinggalkan ibu Anda.”

Jantung Celine berdegup lebih cepat.

“Ibu saya?”

“Benar. Sebuah dokumen dan surat yang seharusnya diberikan kepada Anda setelah Anda berusia dua puluh tujuh tahun.”

Celine menatap pantulan wajahnya di kaca.

Usianya baru saja menginjak dua puluh tujuh tahun beberapa bulan lalu.

“Apa isi surat itu?”

Daniel menarik napas panjang.

“Saya tidak ingin menjelaskannya melalui telepon. Kita perlu bertemu.”

“Apakah ini ada hubungannya dengan ayah saya?”

Keheningan singkat terdengar.

Kemudian Daniel menjawab dengan suara rendah.

“Ya. Dan saya khawatir, Nona Wang, kematian ayah Anda bukanlah kejadian yang sesederhana yang selama ini Anda percayai.”

Celine membeku.

Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Selama bertahun-tahun, keluarganya diberi tahu bahwa sang ayah mengalami kecelakaan setelah menghadapi masalah bisnis.

Tidak ada yang pernah mempertanyakan cerita tersebut.

Termasuk dirinya.

“Apa maksud Anda?”

“Saya akan menjelaskan semuanya ketika kita bertemu. Datanglah ke kantor saya besok pukul sembilan pagi. Bawalah dokumen apa pun yang masih Anda miliki tentang keluarga Wang.”

Sebelum Celine sempat menjawab, Daniel menambahkan satu kalimat lagi.

“Dan satu hal lagi, Nona Wang. Untuk sementara, jangan percayai siapa pun dari keluarga Wu.”

Panggilan terputus.

Celine menurunkan ponselnya perlahan.

Di luar, hujan semakin deras.

Malam itu, ia kehilangan suaminya.

Namun, ia baru saja menemukan pintu menuju sebuah kebenaran yang selama puluhan tahun tersembunyi.

Celine menatap pantulan dirinya sendiri.

Matanya masih menyimpan kesedihan.

Tetapi di balik kesedihan itu, sesuatu mulai berubah.

Jika selama ini hidupnya dikendalikan oleh kebohongan orang lain, maka mulai sekarang ia akan mencari kebenaran dengan tangannya sendiri.

Ia tidak tahu siapa yang harus disalahkan.

Ia juga tidak tahu apakah Alexander terlibat dalam rahasia keluarganya.

Namun, satu hal telah ia putuskan.

Ia tidak akan kembali menjadi wanita yang sama.

1
niaww
semngat kak jangan lupa mampir🥰❤
Isabell: siap kakak terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!