NovelToon NovelToon
Pacar Kontrak Sang Ketua Geng

Pacar Kontrak Sang Ketua Geng

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Bad Boy
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love

Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.

Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.

Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.

Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.

Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.

Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Festival Sekolah

Nama Axel Pratama dan Nadine Kirana sudah tertulis berdampingan di papan pengumuman kelas ketika Axel tiba di XII-2, Senin pagi.

Di bawah kedua nama itu, seseorang menambahkan gambar hati dengan spidol merah.

Axel berhenti di ambang pintu.

Beberapa murid yang sedang berkumpul di dekat papan langsung bersiul melihatnya.

“Wah, pemeran utamanya datang!”

“Sabtu depan jangan lupa menang, ya, X!”

“Kalau kalah, malu-maluin pacar sendiri!”

Tawa memenuhi kelas.

Axel mengamati papan itu sekali lagi. Ia memang sudah mendengar rencana kegiatan festival dari Dimas pada Jumat lalu, tetapi ia belum memberikan persetujuan apa pun. Nadine pun belum menyatakan kesediaannya.

“Siapa yang menulis nama kami?” tanyanya.

Bima mengangkat tangan dari bangkunya.

“Gue cuma mengusulkan. Ketua panitia yang mencatat.”

“Gue belum setuju.”

“Lah, tinggal bilang iya. Apa susahnya? Kalian kan pacaran.”

Axel menoleh kepadanya.

“Pacaran bukan berarti semua keputusan bisa dibuat orang lain.”

Ucapan itu membuat Bima mengangkat alis. Rio, yang sedang duduk di atas meja, langsung menyenggol Dimas.

“Catat tanggalnya. Axel baru saja menolak sesuatu tanpa bikin masalah.”

“Gue dengar,” kata Axel datar.

“Memang sengaja biar lo dengar.”

Dimas terkekeh, tetapi kemudian mengangguk ke arah papan.

“Serius, X. Mereka sudah mencatat nama kalian. Kalau lo nggak mau, bilang ke panitia. Kalau mau, tanya Nadine dulu.”

Axel tidak menjawab. Ia mengambil penghapus dari meja guru, menghapus gambar hati di samping nama mereka, lalu meletakkan kembali penghapus itu.

Nama mereka tetap berdampingan.

Setidaknya, ia tidak perlu mempermalukan Nadine dengan mencoret namanya di depan seluruh kelas.

“Gue akan bicara sama dia,” katanya.

“Jangan cuma bicara,” sahut Dimas. “Dengarkan juga jawabannya.”

Axel menatap sahabatnya.

“Lo pikir gue nggak bisa mendengarkan?”

“Gue pikir lo sedang belajar.”

Sebelum Axel sempat membalas, Nadine masuk ke kelas dengan sebuah map bening di tangan. Ia sempat berhenti ketika melihat beberapa teman mereka menunjuk papan pengumuman sambil tersenyum lebar.

Tatapannya berpindah ke nama yang tertulis di sana.

Lalu ke Axel.

“Ini apaan?”

Pertanyaan itu terdengar tenang. Justru ketenangan itulah yang membuat Axel tidak berani menjawab sembarangan.

“Usulan buat festival,” katanya. “Gue belum menyetujuinya.”

“Gue juga belum.”

“Gue tahu.”

Nadine meletakkan tasnya di kursi.

“Bagus. Berarti kita bisa membicarakannya setelah pelajaran.”

Ia tidak menunggu jawaban Axel sebelum berjalan menuju mejanya.

Dimas menahan senyum ketika Axel mengikutinya dengan pandangan.

“Selamat berjuang, Ketua.”

“Diam, Dim.”

“Gue diam. Tapi muka lo menarik banget pagi ini.”

Axel mengambil buku pelajaran dari tasnya.

Ia mulai merasa bahwa mengikuti permainan festival mungkin jauh lebih mudah daripada menghadapi komentar teman-temannya sendiri.

Sayangnya, ia belum tahu bahwa tantangan sebenarnya bukanlah memenangkan permainan.

Tantangan itu adalah memastikan Nadine tetap menjadi dirinya sendiri ketika seluruh sekolah menganggap mereka pasangan yang sempurna.

Pengumuman resmi festival disampaikan Bu Ratna setelah pelajaran pertama selesai.

Festival tahunan SMA Garuda akan berlangsung Sabtu depan. Setiap kelas diwajibkan membuka stan atau menampilkan kegiatan tertentu, sedangkan permainan antarkelas menjadi salah satu acara utama.

“Untuk permainan pasangan,” jelas Bu Ratna, “setiap kelas boleh mengirimkan satu pasangan. Kalian akan mengikuti beberapa tantangan yang menguji komunikasi, ketelitian, dan kerja sama.”

“Boleh pasangan pacar, Bu?” seseorang bertanya.

“Boleh. Boleh juga teman biasa. Yang penting keduanya bersedia.”

Beberapa murid langsung menoleh kepada Axel dan Nadine.

Nadine mengabaikan tatapan mereka dan mencatat jadwal festival di buku. Ia masih memiliki banyak hal yang harus diselesaikan minggu itu, termasuk memeriksa berkas beasiswa dan memastikan jadwal kerjanya di tempat fotokopi tidak berbenturan dengan kegiatan sekolah.

Festival boleh menjadi kegiatan menyenangkan, tetapi ia tidak ingin satu acara sekolah membuat urusannya berantakan.

Setelah bel istirahat berbunyi, Axel menghampiri mejanya.

“Bisa ngobrol sebentar?”

Nadine memasukkan pena ke dalam tempat pensil.

“Bisa. Soal nama kita di papan?”

“Iya.”

Mereka keluar ke koridor. Tidak jauh dari sana, beberapa siswa sedang sibuk membicarakan konsep stan masing-masing.

Axel berdiri di dekat jendela, sementara Nadine membuka mapnya untuk memastikan tidak ada dokumen yang tertinggal.

“Gue mau tanya dulu,” kata Axel. “Lo tertarik ikut permainan itu atau nggak?”

“Gue belum tahu aturan lengkapnya.”

“Gue juga belum.”

“Kalau begitu, kita baca dulu. Kalau kegiatannya masih masuk akal dan jadwalnya nggak mengganggu urusan gue, gue bisa mempertimbangkan.”

Axel mengangguk.

“Oke.”

Nadine memandangnya sebentar, seolah-olah menunggu kalimat lanjutan yang biasanya keluar dari mulut laki-laki itu.

Namun, Axel tidak menambahkan apa pun.

“Lo nggak mau meyakinkan gue supaya ikut?” tanya Nadine.

“Kalau gue ingin lo ikut, gue bisa bilang begitu. Tapi keputusan akhirnya tetap di lo.”

“Sejak kapan lo bisa membedakan keinginan lo dengan keputusan orang lain?”

Pertanyaan itu membuat Axel terdiam.

Ia bisa saja membalas dengan gurauan. Ia juga bisa berpura-pura tersinggung agar percakapan segera berakhir.

Namun, ia tahu Nadine tidak sedang mencari bahan untuk menggodanya.

“Sejak gue sadar kalau gue sering menganggap dua hal itu sama,” jawabnya.

Nadine tidak langsung menanggapi.

Ia belum yakin apakah Axel benar-benar memahami masalahnya atau hanya sedang berusaha mengatakan hal yang tepat. Pengalaman mereka selama beberapa minggu terakhir mengajarinya untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kirim aturan lengkapnya kalau sudah ada. Kita putuskan setelah membaca.”

“Gue kirim nanti.”

“Dan jangan daftarkan nama gue dulu.”

“Gue nggak akan.”

Nadine memasukkan kembali mapnya ke tas.

“Kalau begitu, gue harus ke perpustakaan. Raka sudah menunggu untuk membahas berkas beasiswa.”

Nama itu membuat rahang Axel menegang tanpa ia sadari.

Ia teringat foto yang dikirim Dimas beberapa hari sebelumnya. Foto Nadine dan Raka sedang duduk berdekatan di perpustakaan.

Pertanyaan-pertanyaan lama sempat muncul kembali.

Apa yang mereka bicarakan? Seberapa dekat mereka? Apakah Nadine lebih nyaman bersama Raka daripada bersamanya?

Namun, sebelum satu pun pertanyaan keluar dari mulutnya, Axel teringat percakapan mereka sebelumnya.

Nadine tidak berkewajiban membuktikan bahwa ia tidak melakukan kesalahan hanya karena Axel merasa tidak nyaman.

“Ya sudah,” jawabnya.

Nadine sedikit mengangkat alis.

“Lo nggak mau tanya apa-apa?”

“Memangnya gue harus tanya apa?”

“Entahlah. Biasanya lo punya banyak pertanyaan.”

Axel mengembuskan napas.

“Gue sedang berusaha mengurangi kebiasaan itu.”

“Bagus. Semoga berhasil.”

Nadine berbalik dan berjalan menuju perpustakaan.

Axel tetap berdiri di tempatnya selama beberapa detik.

Ia tidak merasa senang melihat Nadine pergi bersama Raka. Perasaan itu masih ada, sama mengganggunya seperti sebelumnya.

Bedanya, kali ini ia tidak menjadikan perasaan tersebut sebagai alasan untuk menghentikan Nadine.

Perubahan itu kecil.

Namun, bagi Axel, menahan diri ternyata membutuhkan usaha yang tidak sedikit.

Menjelang pulang sekolah, aturan permainan festival akhirnya dibagikan kepada seluruh kelas.

Nadine membacanya bersama Axel di bangku belakang. Ada tiga tantangan yang harus mereka ikuti jika terpilih sebagai wakil kelas.

Tantangan pertama mengharuskan salah satu peserta memberikan petunjuk untuk menyusun gambar, sementara pasangannya tidak boleh melihat contoh aslinya.

Tantangan kedua berupa permainan keseimbangan dengan nampan dan beberapa benda ringan.

Sementara itu, tantangan terakhir akan diumumkan pada hari festival.

“Yang pertama bisa,” kata Nadine.

Axel melirik lembar tersebut.

“Yang kedua juga.”

“Lo sudah pernah ikut permainan seperti ini?”

“Nggak.”

“Terus kenapa yakin?”

“Gue yakin bisa belajar.”

Nadine menahan senyum.

“Setidaknya jawaban lo masuk akal.”

Axel mengetuk meja sekali dengan telunjuknya, kebiasaannya ketika sedang berpikir.

“Ada satu hal yang perlu kita sepakati.”

“Apa?”

“Kalau permainan mengharuskan kontak fisik, kita pilih cara lain kalau tersedia. Kalau nggak ada pilihan lain, kita bahas dulu. Gue nggak mau lo merasa harus melakukan sesuatu hanya karena semua orang menonton.”

Nadine menutup lembar aturan.

“Bagus. Gue juga nggak mau lo tiba-tiba menarik tangan gue di depan satu sekolah hanya supaya kelihatan romantis.”

“Gue nggak akan melakukan itu.”

“Gue akan mengingatkan lo kalau lo lupa.”

“Silakan.”

Nadine memperhatikan wajahnya sebentar, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil lembar pendaftaran.

“Baik. Gue bersedia ikut, selama panitia tidak mengubah aturan tanpa memberi tahu peserta.”

Axel mengangguk.

“Gue juga setuju.”

Mereka membawa formulir itu kepada ketua panitia kelas. Setelah nama keduanya dicatat, beberapa teman langsung bersorak.

“Wah, akhirnya!”

“Sabtu depan kita punya hiburan!”

“Pokoknya harus menang!”

Nadine tersenyum tipis.

“Kami akan berusaha. Tapi jangan berharap terlalu banyak.”

“Kalau kalah, traktir satu kelas!” seru Rio.

“Kalau menang, lo juga tetap harus bantu beres-beres stan,” balas Nadine.

Rio langsung terdiam.

Bima tertawa sampai harus berpegangan pada meja.

Axel memperhatikan Nadine yang kembali ke tempat duduknya. Ada sesuatu yang ia sukai dari cara gadis itu menghadapi orang lain: Nadine tidak berusaha menjadi pusat perhatian, tetapi juga tidak membiarkan orang lain menentukan bagaimana ia harus bersikap.

Mungkin itulah salah satu alasan Axel memilihnya.

Namun, alasan tersebut belum sepenuhnya ia pahami sendiri.

Persiapan festival membuat kelas XII-2 lebih ramai daripada biasanya.

Mereka memutuskan membuka stan makanan dan minuman. Sebagian murid bertugas menghitung modal, sebagian lain membuat dekorasi, dan sisanya mengurus perlengkapan.

Nadine dipercaya mencatat pengeluaran dan persediaan karena ia cukup teliti dalam menghitung uang.

Axel kebagian mengurus perlengkapan bersama Bima dan Rio.

Pada awalnya, Axel hanya menganggap tugas itu sebagai pekerjaan biasa. Ia membantu memindahkan meja, mengangkat kardus, dan memasang papan stan.

Namun, menjelang sore, ia melihat Nadine masih duduk di meja dengan beberapa lembar catatan.

“Lo belum pulang?” tanyanya.

Nadine tidak mengangkat kepala.

“Sebentar lagi. Gue masih menghitung sisa modal.”

“Dari tadi?”

“Karena ada beberapa pengeluaran yang belum dicatat.”

Axel melirik jam di ponselnya.

“Kalau begitu, gue bantu.”

“Lo tahu cara menghitungnya?”

“Gue tahu cara menggunakan kalkulator.”

“Wah, hebat sekali.”

Axel mendengus.

“Lo selalu begini kalau gue mau bantu?”

“Kalau bantuan lo cuma membuat gue harus memeriksa ulang semuanya, lebih baik gue kerjakan sendiri.”

Kalimat itu membuat Axel terdiam sejenak.

Nadine menyadari ucapannya mungkin terdengar lebih tajam daripada yang ia maksudkan.

“Bukan berarti lo nggak bisa membantu,” tambahnya. “Tapi gue perlu menyelesaikan catatan ini dengan benar. Kalau lo mau membantu, tolong cocokkan jumlah barang dengan daftar yang dipegang Bima.”

Axel menerima daftar tersebut.

“Oke.”

Ia berjalan ke tempat perlengkapan dan mulai memeriksa kardus satu per satu.

Tidak ada protes. Tidak ada komentar bahwa Nadine seharusnya lebih menghargai bantuannya.

Ketika semua barang selesai dihitung, jumlahnya ternyata sesuai dengan catatan.

“Sudah,” kata Axel sambil meletakkan daftar di meja.

Nadine memeriksanya.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

“Lo boleh pulang duluan kalau sudah selesai.”

“Gue tunggu sampai lo beres.”

Nadine menatapnya.

“Kenapa?”

Axel hampir menjawab bahwa ia ingin memastikan Nadine pulang dengan aman. Namun, ia sadar gadis itu mungkin tidak membutuhkan alasan untuk setiap tindakan sederhana.

“Karena gue juga belum selesai membantu anak-anak,” katanya.

Nadine mengangguk dan kembali merapikan catatan.

Mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing tanpa percakapan panjang.

Anehnya, keheningan itu tidak terasa canggung.

Sabtu pagi, halaman SMA Garuda dipenuhi stan berwarna-warni.

Spanduk festival terpasang di dekat gerbang. Musik terdengar dari panggung utama, sementara para siswa berlalu-lalang membawa makanan, minuman, dan berbagai perlengkapan kegiatan.

Nadine tiba lebih awal untuk membantu menata stan kelasnya.

Ia mengenakan kemeja putih, celana panjang hitam, dan pita biru muda sebagai identitas kelas XII-2. Setelah meletakkan tas, ia langsung memeriksa persediaan gelas dan minuman.

Axel datang beberapa menit kemudian sambil membawa dua kantong perlengkapan.

“Lo sudah sarapan?” tanyanya.

“Sudah.”

“Beneran?”

Nadine menoleh.

“Kenapa? Lo mau memeriksa isi perut gue juga?”

Axel langsung mengangkat kedua tangannya.

“Gue cuma tanya.”

“Kalau begitu, jawaban gue sudah jelas.”

Axel meletakkan kantong di meja.

“Baik, Bu Ketua.”

Nadine menunjuk tumpukan gelas.

“Kalau sudah selesai bercanda, bantu susun itu.”

Axel menuruti perintahnya.

Pagi itu, mereka bekerja tanpa banyak masalah. Stan mulai ramai menjelang pukul sembilan, dan Axel membantu melayani pembeli ketika Rio terlalu sibuk mengobrol dengan pengunjung.

Dimas yang sedang menghitung uang hasil penjualan sesekali melirik mereka.

“Kalau gue nggak tahu kalian pacaran, gue bakal mengira kalian sedang membuka usaha bersama,” komentarnya.

Nadine tetap mencatat penjualan.

“Bagus. Berarti kami bisa bekerja sama.”

“Bukan itu maksud gue.”

“Terus apa?”

Dimas menoleh kepada Axel.

“X, tolong jelaskan kepada pacar lo ini.”

Axel mengangkat bahu.

“Gue setuju sama dia. Kita sedang bekerja.”

Dimas menatap mereka bergantian.

“Luar biasa. Kalian bahkan kompak menghindari pertanyaan.”

Nadine tertawa kecil.

Axel ikut tersenyum, meskipun ia segera mengalihkan perhatian ketika melihat beberapa siswa mendekati stan.

Menjelang pukul sebelas, panitia mengumumkan bahwa permainan berpasangan akan segera dimulai.

Nadine melepaskan celemek dan merapikan bajunya.

Axel menghampirinya.

“Siap?”

“Kalau gue bilang belum, kita bisa mundur?”

“Bisa.”

Nadine menatapnya sejenak.

“Gue siap.”

“Kalau begitu, ayo.”

Mereka berjalan menuju lapangan utama bersama pasangan lain yang mewakili kelas masing-masing.

Pembawa acara menjelaskan bahwa tantangan pertama adalah menyusun potongan gambar berdasarkan petunjuk. Salah satu peserta harus memberikan arahan, sedangkan pasangannya menyusun gambar tanpa melihat contoh.

Nadine mendapat tugas memberikan petunjuk. Axel menjadi penyusun gambar.

“Dengarkan baik-baik,” kata Nadine sebelum permainan dimulai.

Axel mengangkat alis.

“Gue tahu.”

“Gue serius.”

“Gue juga.”

Peluit berbunyi.

Nadine mulai membacakan petunjuk. Axel memindahkan potongan gambar satu per satu, tetapi ketika mendengar instruksi ketiga, ia merasa sudah memahami pola keseluruhannya.

Tanpa menunggu Nadine menyelesaikan penjelasan, ia langsung memindahkan dua potongan sekaligus.

“Bukan yang itu!” seru Nadine.

“Sebentar. Gue tahu polanya.”

“Kalau lo tahu, kita nggak akan salah susun!”

Beberapa penonton tertawa.

Axel merasakan panas menjalar ke wajahnya. Ia tidak suka membuat kesalahan di depan orang banyak, apalagi ketika semua mata sedang memperhatikannya.

Refleks pertamanya adalah membela diri.

Namun, Nadine tidak sedang berusaha mempermalukannya. Ia hanya memberikan petunjuk yang seharusnya didengarkan sejak awal.

Axel menarik napas.

“Ulangi dari petunjuk ketiga.”

Nadine membacakan instruksi itu sekali lagi.

Kali ini Axel menunggu sampai ia selesai berbicara sebelum memindahkan potongan gambar.

Mereka berhasil menyelesaikan tantangan, tetapi waktu mereka sudah terbuang cukup banyak.

Ketika peluit akhir berbunyi, pasangan mereka berada di urutan keempat.

Mereka lolos ke babak berikutnya, tetapi tidak menjadi yang tercepat.

“Bagus,” kata Nadine setelah mereka keluar dari area permainan.

Axel menatapnya.

“Bagus? Kita hampir kalah karena gue salah.”

“Lo memang salah.”

“Lo bisa menghibur gue sedikit.”

“Gue sedang jujur. Tapi lo juga memperbaiki kesalahan dan kita tetap lolos. Jadi, menurut gue, itu bagus.”

Axel tidak langsung menjawab.

Ia mengira Nadine akan mengomel lebih panjang. Namun, gadis itu justru mengakui bahwa ia telah memperbaiki kesalahannya tanpa berpura-pura bahwa kesalahan tersebut tidak pernah terjadi.

“Gue akan mendengarkan lebih baik di tantangan berikutnya,” katanya.

Nadine mengangguk.

“Semoga.”

Kali ini Axel tidak membalas dengan gurauan.

Ia tahu ucapan itu bukan sindiran kosong. Nadine sedang menunggunya membuktikan bahwa ia benar-benar bisa berubah.

Tantangan kedua berlangsung menjelang siang.

Setiap pasangan harus memindahkan beberapa benda ringan menggunakan nampan melalui jalur yang telah ditentukan. Peserta boleh menentukan cara membagi tugas selama semua benda sampai ke garis akhir tanpa terjatuh.

Nadine memilih memegang sisi kanan nampan, sedangkan Axel memegang sisi kiri.

“Jangan jalan terlalu cepat,” kata Nadine.

Axel mengangguk.

Mereka mulai bergerak ketika peluit berbunyi.

Pada bagian pertama, semuanya berjalan lancar. Namun, ketika mereka mencapai tikungan sempit, seorang peserta dari pasangan lain tidak sengaja menyenggol pembatas jalur.

Nampan mereka miring.

Salah satu benda hampir jatuh.

“Pelan!” seru Nadine.

Axel segera menyesuaikan posisi tangannya. Nadine menahan sisi lainnya, dan keduanya berhenti sejenak untuk memastikan semua benda masih berada di atas nampan.

Setelah melewati tikungan, mereka kembali melanjutkan permainan.

Kali ini Axel tidak berusaha mendahului langkah Nadine. Ia memperhatikan arahannya dan menyesuaikan kecepatan.

Mereka menyelesaikan tantangan tanpa menjatuhkan satu pun benda.

Ketika pengumuman hasil disampaikan, pasangan mereka menempati urutan kedua.

Bima dan Rio yang menonton dari pinggir lapangan langsung bersorak.

“Wah! Ketua geng bisa juga mengikuti instruksi!”

Axel menoleh tajam.

“Lo mau menggantikan gue di tantangan berikutnya?”

“Enggak. Gue cukup jadi penonton.”

Nadine tertawa kecil.

“Setidaknya lo tahu diri, Rio.”

Rio berpura-pura memegang dada.

“Gue datang untuk mendukung kalian, tapi malah diserang.”

Dimas menyela sebelum perdebatan mereka berlanjut.

“Sudah, sudah. Sebentar lagi final.”

Pembawa acara kembali memanggil para peserta yang lolos.

Axel dan Nadine termasuk di antara tiga pasangan yang berhasil melaju ke babak terakhir.

Nadine merapikan rambutnya sebelum berdiri di samping Axel.

“Lo masih gugup?” tanyanya.

“Sedikit.”

“Tumben mengaku.”

Axel menoleh.

“Gue bisa saja bilang nggak.”

“Tapi lo memilih jujur.”

“Jangan dibiasakan.”

Nadine tersenyum tipis.

Untuk sesaat, Axel merasa bahwa mereka benar-benar sedang menjalani hari sekolah yang biasa: saling menyindir, bekerja sama, dan tertawa karena hal-hal sederhana.

Lalu pembawa acara mengumumkan aturan babak final.

Dan suasana berubah.

“Untuk tantangan terakhir,” kata pembawa acara, “setiap pasangan akan mendapatkan satu pertanyaan yang harus dijawab bersama. Kalian diberi waktu dua menit untuk berdiskusi. Tidak ada jawaban mutlak benar atau salah. Juri akan menilai alasan, kejujuran, dan kesesuaian pendapat kalian.”

Seorang panitia membagikan kartu pertanyaan kepada masing-masing pasangan.

Nadine menerima kartu mereka dan membukanya.

Kemudian, ia terdiam.

Axel melirik tulisan di atas kartu itu.

Jika pasanganmu mendapatkan kesempatan besar untuk meraih impiannya, tetapi kesempatan itu mengharuskannya pergi jauh darimu, apa yang akan kamu lakukan?

Suara penonton masih terdengar riuh di sekeliling mereka, tetapi perhatian Nadine tertuju pada satu kalimat tersebut.

Pergi jauh.

Ia teringat berkas beasiswa yang sedang disiapkannya, universitas negeri yang ingin ia tuju, dan kemungkinan bahwa suatu hari ia harus meninggalkan rumah untuk membangun masa depannya sendiri.

Ia tahu pertanyaan itu hanya bagian dari permainan. Panitia tidak mungkin mengetahui semua persoalan pribadi mereka.

Namun, pertanyaan tersebut terasa terlalu dekat dengan sesuatu yang selama ini ia pikirkan sendirian.

Di sampingnya, Axel membaca kartu itu sekali lagi.

Ia sudah tahu apa yang ingin ia katakan.

Ia ingin mengatakan bahwa mereka bisa mencari jalan tengah. Bahwa ada kemungkinan Nadine memilih kampus yang lebih dekat. Bahwa jarak tidak harus menjadi penghalang jika keduanya mau berusaha.

Namun, ia menyadari bahwa sebagian dari jawaban itu muncul karena ia sendiri tidak ingin Nadine pergi.

Ia ingin mempertahankan gadis itu di dekatnya.

Dan keinginan tersebut membuatnya sulit membedakan mana yang benar-benar baik bagi Nadine dan mana yang hanya akan membuatnya merasa lebih nyaman.

“Waktu diskusi dimulai sekarang!” seru pembawa acara.

Nadine menoleh kepadanya.

“Menurut lo, apa jawabannya?”

Axel tidak langsung menjawab.

“Kalau gue bilang gue akan mendukung pasangan gue, lo bakal percaya?”

“Gue akan percaya kalau lo bisa menjelaskan maksudnya.”

Axel memandang kartu itu lagi.

“Gue pikir seseorang harus mendukung impian pasangannya. Tapi gue juga nggak akan pura-pura bilang kalau jarak itu gampang.”

Nadine menunggu.

“Kalau orang yang gue sayang harus pergi jauh untuk mendapatkan kesempatan yang penting buat hidupnya, gue mungkin akan merasa kehilangan. Gue mungkin juga takut hubungan itu berubah.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi gue nggak berhak meminta dia melepaskan kesempatan itu hanya supaya gue nggak perlu menghadapi rasa takut gue sendiri.”

Nadine terdiam.

Jawaban itu tidak sempurna. Axel tidak mengaku bahwa ia sudah bisa menerima segala kemungkinan dengan lapang dada.

Justru karena itulah, jawaban tersebut terasa lebih jujur.

“Gue setuju soal itu,” kata Nadine. “Tapi gue juga berpikir bahwa seseorang nggak boleh menjanjikan dukungan kalau sebenarnya dia akan terus membuat pasangannya merasa bersalah.”

Axel mengangguk perlahan.

“Benar.”

“Kalau dia memang belum siap menghadapi jarak, dia harus jujur. Bukan menyuruh pasangannya mengorbankan masa depan.”

Axel menatap Nadine.

“Jadi, menurut lo, kita harus jujur tentang ketakutan kita, tapi nggak menjadikan ketakutan itu sebagai alasan untuk membatasi pilihan orang lain?”

Nadine mengangguk.

“Kurang lebih begitu.”

Waktu diskusi hampir habis ketika pembawa acara memanggil mereka untuk maju.

Nadine menarik napas, lalu melangkah ke depan bersama Axel.

Mereka berdiri di hadapan para juri dan penonton.

“Silakan sampaikan jawaban kalian,” kata pembawa acara.

Nadine berbicara lebih dahulu.

“Menurut kami, impian seseorang bukan sesuatu yang harus dikorbankan hanya demi mempertahankan sebuah hubungan. Pasangan boleh berdiskusi tentang cara menghadapi jarak dan perubahan, tetapi keputusan mengenai masa depan tetap harus menghormati pilihan orang yang menjalaninya.”

Axel melanjutkan.

“Namun, mendukung bukan berarti kita harus berpura-pura tidak merasa takut atau sedih. Kita boleh mengakui perasaan itu. Yang penting, kita tidak menjadikannya alasan untuk menghalangi orang lain meraih sesuatu yang penting bagi hidupnya.”

Beberapa penonton bertepuk tangan.

Pembawa acara tersenyum.

“Jawaban yang menarik. Kalian terdengar seperti sudah memikirkan pertanyaan ini cukup lama.”

Nadine hanya tersenyum sopan.

Axel mengangkat bahu kecil.

Mereka tidak menjelaskan lebih jauh.

Tidak ada yang perlu mengetahui bahwa pertanyaan tersebut menyentuh sesuatu yang belum benar-benar mereka selesaikan.

Sebab di antara mereka, ada kontrak sembilan puluh hari yang suatu saat akan berakhir.

Ada masa depan Nadine yang tidak bisa ditunda hanya demi hubungan pura-pura.

Dan ada perasaan Axel yang semakin sulit ia anggap sebagai bagian dari sandiwara.

Ketika hasil akhir diumumkan, pasangan mereka mendapatkan penghargaan khusus untuk kerja sama terbaik.

Bukan juara pertama.

Namun, Dimas tetap bersorak seolah-olah mereka baru saja memenangkan kejuaraan nasional.

“Gue sudah tahu! Kalian memang cocok!”

Nadine tertawa.

“Yang ikut lomba kita, bukan lo.”

“Gue mendukung dari belakang layar.”

“Lo tadi makan tiga kali di stan,” kata Axel.

“Itu juga bentuk dukungan.”

Bima dan Rio tertawa keras.

Di tengah keramaian itu, Axel memandang Nadine yang sedang tersenyum bersama teman-teman mereka.

Ia ingin mengingat wajah itu.

Keinginan tersebut muncul begitu saja, membuatnya sedikit gelisah.

Karena semakin ia mengenal Nadine, semakin ia menyadari bahwa yang membuatnya tertarik bukan sekadar keberanian gadis itu mengatakan tidak kepadanya.

Ia menyukai caranya mempertahankan pilihan sendiri, bahkan ketika pilihan tersebut mungkin tidak sesuai dengan keinginan orang lain.

Dan ia mulai takut bahwa suatu hari, justru karena itulah Nadine akan pergi dari kehidupannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!