“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”
• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.
• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.
• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.
• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.
• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Rahasia di Ruang Kerja
Hujan turun deras di luar Villa Vieri ketika Bianca berdiri di depan jendela kamarnya. Di tangannya, selembar foto Adrian tampak sedikit kusut karena sejak tadi ia menggenggamnya terlalu erat.
Wajah kakaknya terlihat jelas dalam foto itu. Adrian berdiri di depan sebuah gudang tua dengan ekspresi lelah, mengenakan jaket hitam dan gelang kulit yang sudah dikenalnya sejak kecil.
Di balik foto itu terdapat alamat gudang dan satu kalimat yang terus menghantui pikirannya.
Adrian masih hidup. Datanglah sendirian. Jangan bawa Dante Vieri jika kau ingin kakakmu pulang dengan selamat.
Bianca memejamkan mata.
Bagaimana mungkin ia pergi sendirian ketika Dante memiliki pengawal bersenjata di hampir setiap sudut rumahnya? Namun, bagaimana ia bisa mengabaikan kesempatan untuk menemukan Adrian?
Suara ketukan pintu membuatnya berbalik.
Dante berdiri di ambang pintu dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Rambut gelapnya sedikit berantakan, sementara mata biru safirnya langsung tertuju pada foto di tangan Bianca.
"Kau belum tidur."
"Bukankah kau juga belum?"
Dante menutup pintu di belakangnya. "Aku sedang memikirkan sesuatu."
"Luciano?"
"Selain dia."
Bianca mengangkat alis. "Kau ternyata bisa memikirkan hal lain selain musuh-musuhmu."
Sudut bibir Dante terangkat tipis. "Aku mulai menyadari bahwa istriku jauh lebih berbahaya daripada sebagian besar musuhku."
"Bagus. Setidaknya kau mulai mengenaliku."
Dante mendekat, tetapi berhenti sebelum jarak mereka terlalu dekat. Tatapannya turun ke foto Adrian.
"Aku sudah memerintahkan anak buahku memeriksa alamat itu," katanya. "Gudang tersebut milik perusahaan logistik yang bangkrut tujuh tahun lalu. Secara resmi, tempat itu sudah tidak digunakan."
"Dan secara tidak resmi?"
"Tempat itu berada di wilayah yang pernah dikuasai Luciano."
Jantung Bianca berdegup lebih cepat.
"Jadi, kau menduga adikku berada di tangan saudaramu sendiri?"
"Aku tidak akan menyebutnya dugaan sebelum memiliki bukti."
"Selalu begitu, bukan? Kau menunggu bukti, sementara orang lain mungkin sedang menderita."
Rahang Dante mengeras. Namun, ia tidak membalas dengan kemarahan.
"Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang penting bagimu," katanya pelan. "Aku tidak akan membiarkan Adrian menjadi korban hanya karena kita terburu-buru."
Bianca terdiam.
Untuk sesaat, ia melihat sesuatu di balik wajah dingin sang Don. Bukan kelemahan, melainkan ketakutan yang disembunyikan begitu lama hingga hampir menyerupai ketidakpedulian.
"Aku ingin memeriksa ruang kerjamu," ujar Bianca akhirnya.
Tatapan Dante berubah waspada. "Untuk apa?"
"Karena ada seseorang yang mengirimiku petunjuk tentang kematian ibuku. Pesan itu menyebut laci ketiga di mejamu."
Keheningan menyelimuti ruangan.
Dante tidak langsung menjawab. Ia menatap Bianca seolah sedang menimbang apakah kejujuran akan menyelamatkan mereka atau justru menghancurkan sesuatu yang baru saja mulai tumbuh di antara keduanya.
"Laci itu terkunci," katanya.
"Kalau begitu, bukalah."
"Bianca—"
"Aku tidak akan berhenti mencari kebenaran hanya karena kau memintaku menunggu."
Dante mengembuskan napas panjang.
"Baiklah."
Ia mengulurkan tangan, tetapi tidak menyentuh Bianca.
"Ikut aku."
Ruang kerja Dante berada di lantai dua, di balik pintu kayu ek yang dijaga seorang pria bersenjata. Ruangan itu luas, dengan rak buku menjulang hingga langit-langit, meja mahoni besar, dan jendela tinggi yang menghadap taman belakang.
Aroma kayu, kopi, dan parfum maskulin Dante memenuhi udara.
Bianca pernah memasuki ruangan itu beberapa kali, tetapi tidak pernah benar-benar memperhatikannya. Malam ini, setiap benda seolah menyimpan rahasia.
Dante menyalakan lampu meja, lalu membuka laci pertama dan kedua. Keduanya berisi dokumen perusahaan, laporan keuangan, serta beberapa berkas mengenai pergerakan keluarga Vieri.
Kemudian ia berhenti di depan laci ketiga.
Dari saku celananya, ia mengeluarkan sebuah kunci kecil.
"Kau menyimpan kunci ini setiap saat?" tanya Bianca.
"Untuk beberapa hal, aku tidak mempercayai siapa pun."
"Termasuk istrimu?"
Dante menoleh kepadanya.
"Terutama diriku sendiri ketika aku mulai ingin mempercayaimu."
Jawaban itu membuat Bianca kehilangan kata-kata selama beberapa detik.
Dante membuka laci tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah map kulit tua, sebuah amplop berwarna krem, dan kotak beludru kecil dengan lambang bulan sabit berkelopak delapan.
Bianca langsung mengenali lambang itu.
Lambang yang terukir pada dua liontin peninggalan ibunya.
Ia mengambil kotak tersebut dengan tangan gemetar.
"Ini milik ibuku?"
"Aku menemukannya di antara barang-barang ayahku setelah ia meninggal," jawab Dante. "Aku menyimpannya karena tidak tahu siapa yang seharusnya menerimanya."
Bianca membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah cincin perak dengan batu biru gelap. Pada bagian dalam cincin, terukir dua huruf kecil: E.L.
Elena Laurent.
"Ibuku tidak pernah mengenakan cincin seperti ini," bisik Bianca.
"Karena cincin itu bukan milik ibumu."
Dante mengeluarkan sebuah foto dari map kulit. Foto tersebut memperlihatkan Alessandro Vieri berdiri di depan sebuah rumah sakit. Di sampingnya terdapat seorang pria berjas putih yang wajahnya sengaja dicoret menggunakan tinta hitam.
Pada bagian belakang foto tertulis tanggal yang sama dengan tanggal kematian Elena.
Bianca merasakan tengkuknya meremang.
"Siapa pria ini?"
"Aku tidak tahu nama aslinya. Tetapi ayahku pernah menyebutnya sebagai dokter yang bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia."
"Dokter yang membayar seseorang untuk melakukan sesuatu pada ibuku?"
"Aku tidak tahu."
"Kau selalu mengatakan tidak tahu, Dante!"
Bianca meletakkan foto itu di atas meja dengan keras.
"Aku menikah denganmu karena ingin melindungi keluargaku. Aku berusaha memercayaimu, tetapi setiap kali aku menemukan sesuatu, ternyata ada rahasia lain yang kau simpan!"
Dante menerima kemarahannya tanpa bergerak.
"Kau berhak marah."
"Aku tidak membutuhkan izin darimu untuk marah."
"Aku tahu."
"Kalau begitu, berhentilah memperlakukanku seolah-olah aku perempuan rapuh yang tidak sanggup menerima kebenaran."
Dante menatapnya lama.
Lalu ia mengambil amplop krem dari laci.
"Ada satu alasan mengapa aku menyimpan semua ini," katanya. "Bukan untuk melindungi diriku sendiri."
Ia menyerahkan amplop itu kepada Bianca.
"Melainkan karena aku takut apa yang tertulis di dalamnya akan membuatmu membenciku."
Di dalam amplop itu terdapat surat yang sudah menguning.
Tulisan tangannya berbeda dari tulisan Alessandro yang pernah Bianca lihat sebelumnya. Huruf-hurufnya kecil dan rapi, seolah penulisnya berusaha mengendalikan emosi ketika menyusun setiap kalimat.
Bianca membaca surat tersebut dalam diam.
Alessandro,
Jika anak perempuan itu tumbuh besar dan mulai mencari asal-usulnya, jangan biarkan dia mengetahui semuanya sekaligus.
Darahnya membawa dua nama yang seharusnya tidak pernah dipersatukan. Jika keluarga Vieri mengetahui identitas ayah kandungnya, mereka akan menganggapnya ancaman.
Lindungi anak itu. Jangan biarkan Luciano menemukannya sebelum waktunya.
Bianca membaca kalimat terakhir berulang kali.
"Ayah kandungku," bisiknya. "Surat ini berbicara tentang ayah kandungku."
Dante mengangguk pelan.
"Ya."
"Apakah kau tahu siapa dia?"
Dante tidak menjawab.
Bianca mengangkat wajah. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi suaranya terdengar tajam.
"Kau tahu sesuatu."
"Aku memiliki kecurigaan."
"Katakan."
"Aku tidak ingin memberimu jawaban yang mungkin salah."
"Dan aku tidak ingin terus hidup dalam kebohongan!"
Suara Bianca menggema di ruang kerja.
Dante mengusap wajahnya sekali, kemudian mengambil foto lain dari map. Foto itu jauh lebih tua. Elena terlihat berdiri di taman, mengenakan gaun putih sederhana. Di sampingnya berdiri Alessandro. Namun, perhatian Bianca tertuju pada seorang pria yang berdiri sedikit jauh dari mereka.
Pria itu memiliki mata yang sama dengannya.
Bentuk rahang yang serupa.
Bahkan garis alisnya terlihat hampir identik.
Bianca mengambil foto itu dengan napas tertahan.
"Siapa dia?"
Dante menatap foto tersebut.
"Nama yang tertulis di belakangnya adalah Rafael Moretti."
Bianca menggeleng perlahan. "Moretti?"
"Dia pernah menjadi dokter keluarga Vieri sekaligus orang kepercayaan ayahku. Setelah Elena meninggal, Rafael menghilang dari Roma. Tidak ada catatan resmi mengenai keberadaannya setelah itu."
"Dan kau berpikir dia ayahku?"
"Aku belum bisa memastikan."
Bianca menatap foto itu sekali lagi. Ada sesuatu pada wajah Rafael yang terasa akrab, tetapi ia tidak tahu apakah itu kenyataan atau sekadar keinginan untuk menemukan jawaban.
Tiba-tiba, ponsel Dante bergetar di atas meja.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Dante membukanya, lalu ekspresinya berubah dingin.
"Apa yang terjadi?" tanya Bianca.
Dante menyerahkan ponselnya.
Pesan itu hanya berisi satu foto.
Seorang pria duduk di kursi besi dalam ruangan gelap, dengan wajah lebam dan kepala tertunduk. Meski penampilannya berubah, Bianca mengenali gelang kulit hitam di pergelangan tangannya.
Adrian.
Di bawah foto itu terdapat sebuah kalimat.
Jika Bianca ingin kakaknya tetap hidup, suruh Dante menyerahkan cincin bulan sabit sebelum tengah malam.
Bianca menutup mulutnya, menahan isak yang nyaris terlepas.
"Dia masih hidup," bisiknya.
Dante segera mengambil pistol dari laci lain, lalu memanggil kepala keamanannya melalui telepon.
"Siapkan kendaraan. Kita berangkat dalam sepuluh menit."
Namun, sebelum ia sempat melangkah, sebuah pesan kedua masuk.
Kali ini, pesannya ditujukan langsung kepada Bianca.
Jangan percaya kepada Dante. Dia bukan satu-satunya orang yang mengetahui siapa ayahmu.
Pesan berikutnya muncul beberapa detik kemudian.
Dan jika kau ingin tahu siapa yang membunuh ibumu, tanyakan kepada suamimu apa yang sebenarnya terjadi pada malam ketika Alessandro Vieri meninggal.
Bianca perlahan menurunkan ponsel.
Ia menatap Dante, mencoba membaca sesuatu dari mata biru safirnya.
"Apa yang terjadi pada malam ayahmu meninggal?"
Wajah Dante membeku.
Untuk pertama kalinya sejak Bianca mengenalnya, pria itu tampak benar-benar kehilangan kendali atas ekspresinya.
Di luar jendela, petir menyambar, menerangi ruangan selama sepersekian detik.
Dante akhirnya berbicara.
"Malam itu," katanya dengan suara rendah, "aku melihat seseorang keluar dari kamar ayahku dengan tangan berlumuran darah."
"Siapa?"
Dante menatap Bianca tepat di mata.
"Laki-laki yang selama ini kau panggil sebagai ayah."
Dunia Bianca seolah berhenti berputar.
Ayahnya sendiri?
Pria yang membesarkannya, yang selama bertahun-tahun ia yakini sebagai satu-satunya orang yang tersisa dari keluarganya?
Sebelum Bianca sempat mengajukan pertanyaan lain, suara tembakan terdengar dari luar villa.
Dante langsung menarik Bianca ke balik meja dan melindunginya dengan tubuhnya.
"Jangan bergerak," bisiknya.
Langkah kaki berlarian terdengar di koridor. Seseorang berteriak bahwa gerbang belakang telah ditembus.
Dante mengeluarkan pistolnya, sementara Bianca mencengkeram lengan kemejanya.
Di tengah kekacauan itu, sebuah pesan terakhir masuk ke ponsel Bianca.
Selamat datang di keluarga yang sebenarnya, Bianca Laurent.
Sekarang kau tahu: darahmu adalah alasan semua ini dimulai.
Bersambung — Bab 14: Malam yang Mengubah Segalanya
jangan lupa mampirr🤭