Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 11
Aurelia mengangkat dagunya, mempertahankan sisa-sisa keyakinan yang mati-matian ia bangun untuk menepis kenyataan pahit. Wajahnya menyiratkan ketidakrelaan yang kentara.
"Kenapa kalian kaget gitu?" balas Aurelia defensif, jemarinya meremas cangkir iced americano di depannya.
"Logika aja! Dulu, selama bertahun-tahun kita sama-sama tahu gimana kerasnya prinsip Reyden soal komitmen. Dia benci hal-hal yang ribet, dia anti banget diatur perjodohan keluarga. Dan selama aku di London, kalian sendiri tahu kan kalau Reyden nggak pernah sekalipun terlihat menggandeng wanita lain? Dia menutup diri."
Natasha mendengus pelan, menggelengkan kepalanya mendengar argumen Aurelia.
"Rel, lo itu terlalu mendasarkan semua hal dari masa lalu kalian berlima tahun yang lalu. Orang bisa berubah total dalam kurun waktu dua tahun, apalagi setelah diterpa dinamika rumah tangga setiap hari."
"Bener kata Natasha," sahut Merlyn menimpali dengan nada serius.
"Kalau lo bilang itu pernikahan kontrak, lu salah besar. Coba bayangkan, kemarin pas kumpul keluarga besar, saat sepupu-sepupu yang lain termasuk kita, nyindir-nyindir Misya terang-terangan soal latar belakangnya yang biasa aja... apa lu tahu apa yang Reyden lakuin?"
Aurelia terdiam, menatap Merlyn tajam. "Apa?"
"Dia ngamuk," jawab Merlyn telak.
"Reyden yang biasanya paling ogah bikin keributan di depan keluarga, kemarin mendadak bangkit dari kursinya, natap kita semua dengan tatapan mau membunuh, dan bilang kalau siapa pun yang berani merendahkan istrinya lagi, bakal berurusan langsung sama dia. He stood up for her, Rel! Laki-laki kalau cuma pura-pura menjalani pernikahan kontrak atau cuma sekadar formalitas demi orang tua, nggak bakal segitunya pasang badan melindungi perempuan yang nggak dicintainya."
Kalimat itu menghujam ulu hati Aurelia bagaikan belati bermata dua. Napasnya tercekat, namun ego setinggi langit di dalam dirinya menolak untuk menyerah begitu saja.
"Bisa jadi itu cuma akting di depan keluarga besar supaya nggak dicurigai, kan?" sangkal Aurelia cepat, suaranya sedikit meninggi.
"Kalian tahu sendiri gimana tekanan keluarga besar Dirgantara. Reyden harus menjaga wibawanya sebagai CEO muda. Membela istrinya di depan umum bukan berarti dia cinta mati, Merlyn! Bisa jadi itu bentuk tanggung jawab moral dia aja sebagai laki-laki."
"Memang sih masuk akal juga apa yang di omongin sama Aurel. Tapi aku ngak yakin kalau Rey sampai nekat melakukan nikah kontrak sama Misya!" ujar Merlyn.
"Terus, apa kamu juga masih cinta sama Rey?" goda Sherly.
Suasana di meja kafe itu mendadak berubah menjadi lebih riuh setelah Sherly melontarkan pertanyaan provokatif tersebut.
Merlyn, Sherly, dan Natasha saling melempar pandang penuh arti. Sifat iri dan rasa tidak suka mereka pada Misya yang selama ini terpendam kembali tersulut oleh standar kelas sosial yang diagungkan oleh lingkaran pertemanan mereka. Bahkan mengabaikan perasaan Misya yang notabene adalah istri dar Reyden. Dan mereka bertiga lebih pro kepada Aurel.
"Jujur aja, ya..." ucap Sherly memecah keheningan, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tatapan penuh provokasi.
"Kalau dipikir-pikir, dari awal kita juga nggak pernah sreg sama si Misya itu. Coba bayangin kalau seandainya Aurel balikan sama Reyden... it makes total sense! Mereka berdua itu paket komplit. Sama-sama berpendidikan tinggi, karier cemerlang, sepadan dari segi status sosial. Lah, si Misya? Mau dibawa ke forum bisnis mana pun juga bakal keteteran."
Merlyn dan Natasha mengangguk-angguk setuju. Mereka perlahan-lahan mulai terseret oleh arus obrolan yang memuja-muja masa lalu Aurelia dan Reyden.
"Bener juga sih yang dibilang Sherly..." gumam Merlyn pelan. Ia menatap Aurelia lekat-lekat.
"Gue inget banget gimana dulu kalian waktu kuliah. Pasangan paling sempurna di kampus. Dibandingin sama Misya yang bagaikan bumi dan langit... ya ampun, Rel, jujur aja, lu jauh kemana-mana."
Aurelia terdiam. Tatapannya menatap kosong ke dasar gelas iced americano-nya yang mulai mencair. Kata-kata dari ketiga sepupu Reyden itu bekerja bagai candu yang menyuburkan kembali egonya yang sempat runtuh. Mereka tidak menghalanginya; sebaliknya, mereka justru memvalidasi keyakinannya bahwa ia adalah pasangan yang jauh lebih pantas untuk Reyden dibandingkan Misya.
Natasha menggeser kursinya lebih dekat ke arah Aurelia, lalu menepuk pelan lengan wanita itu.
"Rel... listen to us," bujuk Natasha dengan nada serius.
"Kalau lo emang masih cinta sama Reyden, dan lo ngerasa rumah tangga mereka cuma dibangun atas dasar perjodohan kaku... kenapa lo harus nyerah segampang itu? Lima tahun bukan waktu yang sebentar buat menghapus kenangan kalian berdua."
Aurelia perlahan mengangkat wajahnya. Sorot mata ragu dan air mata kekecewaan yang tadi sempat membayang kini sepenuhnya lenyap, digantikan oleh kilatan ambisi yang membara.
"Kalian... benar-benar dukung aku buat balikan sama Rey?" tanya Aurelia memastikan, menatap satu per satu wajah Merlyn, Sherly, dan Natasha.
Tanpa ragu, ketiganya langsung mengangguk kompak.
"Dukunglah, Rel! Siapa lagi yang bisa ngimbangin otak bisnis Reyden kalau bukan lu?" seru Sherly menggebu-gebu.
"Anggap saja lu lagi merebut apa yang dari awal emang jadi hak lu. Lagian, pernikahan tanpa cinta kayak mereka itu gampang banget digoyang kalau ada tekanan yang pas."
"Betul!" tambah Natasha penuh semangat.
"Kita bakal bantu lo dari belakang, Aurel. Paling nggak, kita bakal kasih tau lo jadwal kegiatan keluarga atau informasi soal kelemahan si Misya itu di rumah. Biar lo gampang masuk."
Merlyn menambahkan dengan senyum penuh arti, "Pokoknya kalau lu butuh info apa pun soal dinamika keluarga besar atau gerak-gerik Reyden, lu bisa langsung tanya ke kita. Kita bakal pastikan lu menang, Rel."
Mendengar dukungan penuh dari orang-orang terdekat di lingkaran keluarga Reyden, sudut bibir Aurelia akhirnya terangkat membentuk sebuah senyuman penuh kemenangan. Rasa sakit di dadanya seketika menguap, digantikan oleh adrenalin beracun yang menuntut balas dan kepemilikan.
Ia meraih gelasnya, meneguk sisa minumannya dengan anggun, lalu menatap tajam ke arah jendela kafe.
"Terima kasih, kalian memang teman-teman terbaikku," ucap Aurelia dengan suara tenang namun penuh makna terselubung.
"Kalau kalian saja sepakat bahwa aku dan Reyden adalah pasangan yang sesungguhnya... maka aku tidak akan ragu lagi untuk mengambil kembali apa yang memang seharusnya menjadi milikku."
Aurelia yang terbiasa selalu mendapatkan semua yang di inginkan dan merupakan salah satu wanita ambisius, pada akhirnya merasa mendapatkan dukungan penuh untuk kembali kepada Reyden. Dengan keyakinan yang dia miliki jika Reyden masih sangat mencintai dia, dan dengan adanya kerjasama dua perusahaan maka menjadi kesempatan emas untuk bisa kembali dekat dan sedikit demi sedikit mengulang kenangan lama mereka. Dan pada akhirnya dia akan kembali bersama dengan Rey tanpa peduli Rey sudah menikah dengan Misya.