NovelToon NovelToon
Apoteker Matre Dan Dewa Perang Papan Tripleks

Apoteker Matre Dan Dewa Perang Papan Tripleks

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: heldahell

Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.

Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!

Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14: Paviliun bambu hitam yang mendadak heboh

Paviliun Bambu Hitam yang biasanya sunyi dan memancarkan aura ketegasan militer, kini berubah total hanya dalam waktu satu jam sejak kedatangan penghuni barunya. Shen Ruozi sama sekali tidak terlihat seperti seorang gadis desa yang sedang menumpang di rumah seorang Jenderal Besar. Sebaliknya, ia bertingkah layaknya seorang ratu yang baru saja memenangkan wilayah jajahan baru.

"Heh, Mbak-Mbak sekalian! Itu pot bunga yang isinya tanaman obat ditaruh di dekat jendela dong, biar kena matahari pagi!" seru Ruozi lantang sambil menunjuk-nunjuk dengan gaya bos besar.

"Terus itu, kasurnya tolong dijemur lagi ya. Meskipun empuk, baunya masih bau ruangan kosong. Hamba yang anggun ini tidak bisa tidur kalau ada bau apek!"

Tiga pelayan wanita paruh baya yang ditugaskan untuk melayaninya tampak pontang-panting menuruti perintah Ruozi. Wajah mereka cucuran keringat, namun tidak ada yang berani membantah.

Mereka semua tahu bahwa gadis berpakaian sutra ungu ini dibawa langsung oleh Jenderal Long menggunakan kereta militer pribadi sebuah perlakuan yang belum pernah diterima oleh wanita mana pun di kekaisaran ini.

Sementara para pelayan sibuk, Ruozi duduk santai di kursi kayu cendana sambil membuka sedikit tutup peti emasnya. Ia menghitung batangan emas murninya untuk kesekian kalinya.

"Satu, dua, tiga... aman. Nggak ada yang berani nyolong di rumah dewa perang," gumamnya puas. Namun, saat tatapannya beralih ke cermin giok besar di sudut ruangan, bayangan masa lalu mendadak berputar kembali di otaknya.

Ingatan Ruozi melayang pada kejadian sebulan lalu, tepat di hari pertama ia terbangun di zaman kuno ini. Ingatan kejam tentang pamannya sendiri, Shen Guiren, yang dengan tega menyeretnya keluar dari rumah dan membuangnya ke tepi hutan terlarang di dekat Desa Anggrek hanya karena alasan kelaparan.

Untung saja ia adalah mahasiswi kedokteran genius dari dunia modern. Jika tubuh asli ini tidak diisi oleh jiwanya yang tahu cara memanfaatkan tanaman herbal seperti buah Schisandra dan daun dewa, ia pasti sudah mati konyol menjadi santapan serigala di hutan itu.

"Shen Guiren... paman laknat," bisik Ruozi dengan seringai tipis yang sarat akan dendam. Sepasang matanya yang biasa terlihat jenaka kini berkilat tajam. "Kamu pikir dengan membuang aku ke hutan terlarang, hidup kamu sama keluarga kamu di Desa Anggrek bisa tenang di atas penderitaan ku? Tunggu aja pembalasan ku."

"Siapa yang mau kau balas?" sebuah suara bariton yang berat dan dingin tiba-tiba terdengar dari arah pintu, seketika membuyarkan lamunan balas dendam Ruozi.

Long Tianxu melangkah masuk ke dalam paviliun tanpa suara, membuat para pelayan langsung buru-buru menjatuhkan diri berlutut ke lantai dengan kepala menempel ke tanah.

Ruozi, yang tentu saja anti-berlutut-berlutut club, hanya memutar bola matanya malas. Aura tajam di matanya tadi langsung hilang, berganti dengan tatapan judes andalannya saat melihat kedatangan si 'cowok kulkas dua pintu'.

"Kepo banget sih, Mas Jenderal! Datang-datang gak pakai ketuk pintu pula, untung aku gak lagi ganti baju!" semprot Ruozi ketus.

Pria di depannya ini sekarang sudah melepas jubah zirah perangnya, hanya mengenakan jubah dalam hitam longgar yang entah mengapa malah membuatnya terlihat dua kali lipat lebih tampan dan intimidatif.

Long Tianxu memberi isyarat tangan agar para pelayan keluar dari ruangan. Setelah pintu tertutup, ia berjalan mendekati meja tempat Ruozi duduk, lalu meletakkan sebuah gulungan kertas perkamen di atas meja dengan suara debukan pelan. "Mata-mataku baru saja kembali dari Desa Anggrek di perbatasan barat," ujar Tianxu datar, namun matanya menatap Ruozi dengan intens. "Identitas aslimu sudah kudapatkan, Shen Ruozi. Termasuk informasi tentang pamanmu, Shen Guiren, yang langsung menjual sisa tanah peninggalan orang tuamu setelah membuangmu ke hutan sebulan lalu."

Ruozi tertegun sejenak, lalu tangan kurusnya mengepal kuat menahan amarah. "Wah, paman ku ternyata jauh lebih dajjal dari yang aku kira ya. Cepat banget dia gerak cari keuntungan setelah menyingkirkan aku," tanya Ruozi sambil menantang tatapan sang jenderal.

Long Tianxu maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga Ruozi bisa mencium aroma kayu cendana dari tubuh sang dewa perang. Tianxu menundukkan kepalanya sedikit, menatap tajam ke dalam mata Ruozi. "Pamanmu sudah berani membuang orang yang menyelamatkan nyawa Pangeran Kedua Kekaisaran. Kau ingin mereka hancur dengan cara seperti apa, Ruozi? Katakan saja, dan pasukanku akan meratakan rumah Shen Guiren di Desa Anggrek malam ini juga."

Mendengar tawaran eksekusi kilat dari sang jenderal besar, keheningan sempat menyelimuti Paviliun Bambu Hitam selama beberapa saat.

Ruozi menatap lurus ke dalam manik mata hitam milik Long Tianxu, mencoba mencari tahu apakah pria ini benar-benar serius dengan ucapannya atau hanya sedang mengujinya. Namun, dari tatapan sedingin es dan raut wajahnya yang tanpa ekspresi, Ruozi tahu bahwa meratakan sebuah rumah di desa terpencil bukanlah hal yang sulit bagi pria yang memegang kendali atas ratusan ribu pasukan perang kekaisaran ini.

Alih-alih merasa ketakutan atau gemetar mendengar kata 'meratakan rumah', Ruozi justru mendengus pelan dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu cendana dengan gaya super santai. Ia melipat kedua tangannya di dada sambil memasang senyum miring yang penuh dengan kelicikan khas anak modern. "Aduh, Mas Jenderal, makasih banyak ya atas tawaran jasanya yang sangat barbar itu. Tapi maaf banget nih, selera balas dendam aku enggak serendah itu sampai harus ngerepotin pasukan militer kekaisaran," jawab Ruozi dengan nada meremehkan yang sukses membuat alis Long Tianxu berkedut samar.

Ruozi bangkit berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mendekati jendela paviliun sambil memandangi hamparan pohon bambu hitam yang bergerak perlahan ditiup angin sore. "Kalau kamu ratain rumahnya malam ini pakai pasukan berbaju zirah, si paman dajjal itu cuma bakal ngira kalau dia lagi sial kena apes urusan politik atau hukum. Dia gak bakal tahu kalau kehancurannya itu bersumber dari ku, keponakan yang udah dia buang kayak sampah di hutan terlarang sebulan lalu," lanjut Ruozi dengan kilat kemarahan yang tertahan di sepasang mata indahnya.

Ia berbalik, menatap Long Tianxu kembali dengan binar tekad yang luar biasa kuat, membuat aura di dalam kamar tersebut mendadak terasa sedikit menekan. "Aku adalah mahasiswi kedokteran maksudnya, aku ini tabib sakti mandraguna yang otaknya penuh dengan ilmu pengetahuan luar biasa! Aku mau balik ke Desa Anggrek dengan kaki ku sendiri, berdiri di depan mukanya dengan status sebagai orang kaya baru, dan bikin dia nyesel setengah mati sampai nangis darah karena udah menyia-nyiakan aset berharga kayak aku," ucap Ruozi berapi-api sambil menepuk dadanya bangga.

Long Tianxu tetap bergeming di tempatnya berdiri, namun perhatiannya kini sepenuhnya terpusat pada setiap gerak-gerik gadis unik di hadapannya. Ada rasa kagum yang samar di lubuk hati sang pangeran kedua saat melihat bagaimana seorang gadis desa yang dulunya kurus kering dan terbuang, kini memiliki harga diri yang begitu tinggi dan menolak untuk berlindung di balik kekuasaan orang lain.

"Kau ingin menghancurkan mentalnya secara perlahan, begitu?" tanya Long Tianxu memastikan dengan suara baritonnya yang rendah.

"Tepat sekali! Seratus buat Mas Jenderal!" seru Ruozi sambil menjentikkan jarinya riang, sifat selengeannya seketika kumat kembali setelah beberapa detik lalu terlihat sangat serius.

"Tapi, kalau aku balik ke Desa Anggrek sekarang, itu namanya cari mati secara sosial. Paman dajjal ku itu pasti bakal nuduh aku nyolong, atau paling parah dia bakal minta bagian karena ngerasa pernah ngegedein aku. Lagian, hamba yang anggun ini belum punya aset apa-apa di ibu kota selain emas batangan dari kamu."

Ruozi berjalan kembali ke arah petinya, menepuk permukaannya dengan sayang. "Emas ini gak boleh cuma jadi pajangan. Aku mau pakai ini sebagai modal awal. Aku bakal sewa ruko strategis di pusat ibu kota, bangun toko obat herbal terbesar, dan bikin reputasi ku sebagai tabib sakti mandraguna diakui sama seluruh pejabat dan bangsawan kekaisaran. Aku mau punya rumah mewah sendiri, pelayan sendiri, dan nama yang bikin orang gemetar kalau denger."

Ia menatap Long Tianxu dengan mata berbinar penuh ambisi modern. "Setelah aku bener-bener sukses, kaya raya, dan punya kekuasaan mandiri tanpa perlu nebeng nama besar kamu, barulah aku bakal balik ke Desa Anggrek. Pas hari itu tiba, paman ku bahkan gak bakal punya muka buat sekadar natap ujung sepatu ku! Itu baru namanya balas dendam yang elegan dan bikin puas!"

Long Tianxu terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir gadis di depannya. Matanya yang sedingin es tampak berkilat takjub. Ia mengira Ruozi hanya gadis desa yang beruntung bisa memasak obat, tapi ternyata ambisi dan visi masa depannya jauh melampaui wanita-wanita bangsawan yang hanya tahu cara bersolek dan mencari muka di istana.

"Kau ingin membangun reputasimu sendiri di ibu kota? Di bawah hidung Yong xian yang sedang mengincarmu?" tanya Long Tianxu dengan suara baritonnya yang rendah, mencoba menguji kesiapan mental Ruozi.

"Halah, si Mas Pangeran Jubah Putih itu? Selama aku ada di bawah perlindungan rumah mu untuk sementara waktu, dia gak bakal berani macem-macem kan?" tantang Ruozi sambil menaikkan satu alisnya jenaka.

"Lagian, pengetahuan medis modern ku ini gak tertandingi di zaman ini. Sekali aku buka klinik, antriannya bakal sampai ke gerbang istana kekaisaran, taruhan deh!"

Long Tianxu akhirnya menghela napas pendek, sebuah senyuman super tipis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya sebelum ia berbalik menuju pintu paviliun. "Terserah apa maumu. Mulai besok, aku akan memerintahkan orangku untuk mencarikannya ruko terbaik di pusat kota. Tapi ingat, sebelum tokomu resmi dibuka, kau tidak boleh keluar dari kediaman ini tanpa pengawalanku," ucap sang jenderal besar sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu paviliun rapat-rapat.

1
sibaweh abduh
bagus sekali
Maria Lina
tambah dikit aj up nya hadeh😭😭🤔
heldahell: lagi sibuk kak,jadi 2 bab aja up nya🥹,tungguin besok lagi yaa
total 1 replies
Maria Lina
kenapa 2 lgi thor biasa 5 bab 🤣🤣🤣
Aisyah Suyuti
good
Maria Lina
wkwk kasian bocor
Maria Lina
mkasih thor ud up bnyk😘😘🙏🙏
lin sya
lucu klo baca ceritanya komedinya dpt thor
The Dream26: hai kak, Novel 'RUMAH' telah hadir, cerita spektakuler dan seru dari Author The Dream26, mampir ya
total 1 replies
Maria Lina
wkwk dsr lo rouzi haha..makasih thor ud up nya😘😘😘🙏🙏🙏
Maria Lina
mantap raouzi wkwk
Maria Lina
maaksih bnyk thor ud up nya🙏🙏😘😘
Maria Lina
mkasih thor ud up bnyk🙏🙏😘😘
Maria Lina
lanjut lgi thor wkwk..sebagian cerita mu ud ku baca thor wkwk
heldahell: terimakasih kak,sudah setia baca karya²ku, terharu banget🥹🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!