NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

“Kalau kamu terus melihat ponsel seperti itu, aku akan mulai curiga ada seseorang yang lebih menarik daripada gim di hidupmu.”

Raka mengangkat wajah dari layar ponselnya.

Bima berdiri di depan meja latihan dengan kedua tangan terlipat di dada. Ekspresinya mengandung rasa ingin tahu yang tidak pernah membawa kabar baik.

“Tidak ada,” jawab Raka.

“Kalimat favorit orang yang jelas-jelas menyembunyikan sesuatu.”

“Bukankah kamu punya pekerjaan?”

“Aku sedang menjalankan tugas sebagai rekan setim yang peduli.”

“Kalau begitu, berhentilah peduli.”

Bima tertawa, lalu melirik layar ponsel Raka yang kembali menyala.

“Wah, dia membalas?”

Raka segera membalik ponselnya.

Terlambat.

Bima sudah melihat nama yang muncul di bagian atas percakapan.

Nadira Prameswari.

“ASTAGA.”

“Bima.”

“Kamu dan Nadira sudah makan bersama lagi?”

Raka menatapnya dingin. “Bagaimana kamu bisa menyimpulkan itu dari sebuah notifikasi?”

“Karena kamu tersenyum.”

“Aku tidak tersenyum.”

“Kamu benar. Itu bukan senyum. Itu ekspresi seorang laki-laki yang baru saja mendapatkan kesempatan kedua dan takut merusaknya.”

Raka mengambil handuk dari kursi lalu melemparkannya ke wajah Bima.

Bima menangkapnya sambil tertawa.

“Baik, baik! Aku diam. Tapi kalau suatu hari kalian menikah, aku ingin menjadi orang pertama yang mengatakan bahwa aku sudah tahu sejak awal.”

“Kalau suatu hari kamu berhenti bicara selama lima menit, aku akan menganggapnya sebagai keajaiban.”

Bima berjalan mundur menuju ruang latihan.

“Tenang, Kapten. Aku akan mendukungmu dari jauh!”

“Bima!”

Tawa Bima terdengar sampai lorong.

Raka menghela napas panjang, lalu kembali melihat ponselnya.

Pesan Nadira hanya berisi foto secangkir kopi dan keluhan bahwa mesin kopi di kantor Media Arena kembali rusak.

Nadira: Sepertinya mesin ini punya dendam pribadi terhadap semua karyawan.

Raka mengetik balasan.

Raka: Mungkin mesin itu membaca artikelmu dan takut kamu akan mengkritik performanya.

Nadira: Kalau begitu, performanya memang layak dikritik.

Raka: Kamu bisa mengkritik apa pun, ya?

Nadira: Tentu. Itu keahlian profesional.

Raka tersenyum.

Mereka sudah kembali berbicara, meski belum sepenuhnya seperti dulu. Nadira masih menjaga batas, dan Raka tidak berusaha mendorongnya melewati batas tersebut.

Untuk sekarang, ia cukup senang mengetahui bahwa perempuan itu masih bersedia membalas pesan-pesannya.

Bahkan jika sebagian besar balasan tersebut berisi penghinaan yang dikemas dengan tata bahasa sempurna.

Sore harinya, Nadira mendapat tugas yang tidak pernah ia bayangkan akan membuatnya menghela napas panjang.

Dimas memanggilnya ke ruang redaksi.

“Kamu akan meliput acara komunitas akhir pekan ini.”

Nadira mengambil lembar penugasan yang disodorkan kepadanya.

“Turnamen amal?”

“Betul. Beberapa pemain profesional akan bermain bersama kreator konten dan perwakilan komunitas. Dana yang terkumpul akan disalurkan untuk program pendidikan digital.”

Ia membaca daftar peserta.

Kemudian berhenti.

ASTRAL tercantum di bagian atas.

Di bawahnya, ada nama Raka Adhitama.

Nadira mengangkat wajah perlahan.

“Mas Dimas, apakah redaksi kita sedang berusaha mempertemukan aku dengan Raka di setiap kesempatan?”

Dimas mengangkat alis.

“Kalau saya punya kekuasaan sebesar itu, saya akan menggunakannya untuk mendapatkan sponsor tambahan, bukan mengatur kehidupan sosialmu.”

“Sayang sekali.”

“Kenapa?”

“Tidak ada. Aku hanya memastikan.”

Dimas terkekeh.

“Saya menugaskanmu karena kamu memahami dunia esports dan bisa menulis tentang kegiatan komunitas tanpa menjadikannya sekadar promosi. Kamu bebas mewawancarai siapa pun, tetapi jangan membuat liputan ini berubah menjadi cerita tentang kehidupan pribadi Raka.”

“Tidak akan.”

“Bagus. Aku ingin artikel yang berfokus pada komunitas, akses terhadap esports, dan tujuan penggalangan dana.”

Nadira mengangguk.

Ia menyukai konsep acaranya. Selama ini, esports sering diperlakukan seolah-olah hanya berkaitan dengan kompetisi profesional dan hadiah besar. Padahal, ada banyak pemain muda yang ingin belajar tetapi tidak memiliki perangkat atau akses internet memadai.

Ia segera membuka catatan untuk menyusun daftar pertanyaan.

Satu pertanyaan muncul di kepalanya.

Apakah Raka akan tetap menjadi orang yang sama ketika tidak ada panggung, kamera, atau lawan yang harus dikalahkan?

Nadira segera menghapus pertanyaan itu dari pikirannya.

Itu bukan bagian dari tugasnya.

Setidaknya, belum.

Lokasi acara dipenuhi suara pengunjung, musik, dan sorakan dari arena utama.

Berbagai komunitas esports membuka stan untuk memperkenalkan kegiatan mereka. Di sudut ruangan, beberapa anak muda mencoba perangkat gim yang disediakan penyelenggara. Para sukarelawan membagikan informasi mengenai program bantuan perangkat belajar.

Nadira mulai bekerja begitu tiba.

Ia mewawancarai penyelenggara, mengambil catatan tentang target donasi, dan berbicara dengan beberapa peserta yang datang dari luar Jakarta.

Salah seorang peserta, mahasiswa bernama Fikri, mengaku harus bergantian menggunakan komputer di tempat penyewaan gim untuk berlatih.

“Kalau ada turnamen, kami harus memilih antara membayar waktu bermain atau menyimpan uang untuk kebutuhan kuliah,” katanya.

Nadira mencatat jawabannya.

“Kalau program seperti ini bisa memberikan fasilitas latihan, apa yang paling ingin kamu capai?”

Fikri tersenyum malu.

“Saya ingin membuktikan bahwa pemain dari daerah juga bisa bersaing. Tidak harus punya perangkat mahal sejak awal.”

Jawaban itu membuat Nadira terdiam sejenak.

Ia sering menulis tentang pemain yang menang, pemain yang kalah, dan tim yang gagal memenuhi ekspektasi. Namun, di hadapan Fikri, ia kembali melihat alasan mengapa ia memilih profesi ini.

Di balik setiap statistik, ada orang-orang yang berusaha mendapatkan kesempatan.

Dan terkadang, kesempatan itulah yang paling sulit diperoleh.

“Semoga kamu bisa mendapatkannya,” kata Nadira tulus.

Fikri mengangguk.

“Terima kasih, Kak.”

Ketika wawancara selesai, suara pembawa acara terdengar dari panggung utama.

“Selanjutnya, mari kita sambut kapten ASTRAL, Vex!”

Sorakan langsung memenuhi ruangan.

Raka muncul bersama rekan-rekan setimnya, mengenakan kaus sederhana dengan logo ASTRAL. Ia melambaikan tangan kepada penonton sebelum duduk di depan komputer.

Nadira mengarahkan kameranya ke panggung.

Dari sudut pandangnya, Raka tampak berbeda dari sosok yang berdiri di samping ayahnya pada konferensi Adhitama Global.

Di sini, ia tidak perlu mengenakan setelan mahal atau menjawab pertanyaan tentang warisan keluarga.

Ia hanya perlu bermain.

Dan ketika seorang anak kecil di barisan depan melambai dengan penuh semangat, Raka membalas lambaian itu sebelum memasang headset.

Nadira menurunkan kamera sesaat.

Ia tidak tahu mengapa pemandangan sederhana itu membuatnya tersenyum.

Mungkin karena untuk pertama kalinya, ia melihat Raka di lingkungan yang sepenuhnya ia pilih sendiri.

Pertandingan persahabatan berlangsung sengit, meski tujuan utamanya bukan kemenangan.

Raka bermain bersama dua kreator konten dan seorang pemain komunitas. Lawan mereka adalah tim campuran yang dipimpin Bima, yang tampaknya menganggap acara amal sebagai kesempatan untuk mempermalukan kaptennya di depan umum.

“Kalau kami menang, Kapten harus mentraktir semua orang!” seru Bima melalui mikrofon.

Raka menatapnya dari seberang arena.

“Kalau kalian menang, aku akan mempertimbangkannya.”

“Dengar itu, teman-teman? Dia takut!”

Penonton tertawa.

Pertandingan dimulai.

Raka segera mengambil alih komunikasi timnya, memberikan instruksi singkat tanpa meremehkan pemain yang baru pertama kali bermain dengannya.

Ketika seorang rekan melakukan kesalahan, ia tidak menyalahkannya.

“Tidak apa-apa. Kita perbaiki posisi. Fokus ke objektif berikutnya.”

Nadira merekam beberapa bagian pertandingan, termasuk saat Raka membantu pemain komunitas memahami strategi melalui komunikasi yang sederhana.

Tidak ada nada menggurui. Tidak ada ekspresi kesal ketika rekan setimnya terlambat mengikuti instruksi.

Di tengah permainan, Bima melakukan serangan mengejutkan yang membuat tim Raka kehilangan satu objektif penting.

Sorakan penonton meledak.

Bima mengangkat kedua tangan dengan penuh kemenangan.

“Bagaimana, Kapten? Mau mengakui kehebatanku?”

Raka tidak menjawab. Ia justru mengubah strategi dan memimpin timnya mengambil jalur berbeda.

Beberapa menit kemudian, timnya berhasil membalikkan keadaan.

Pertandingan berakhir dengan kemenangan tipis untuk Raka dan rekan-rekannya.

Bima langsung berdiri dari kursinya.

“Ini tidak adil! Aku sedang memberi kesempatan kepada penonton untuk menikmati pertandingan!”

“Alasan yang bagus,” jawab Raka melalui mikrofon. “Kamu bisa menggunakannya setiap kali kalah.”

Ruangan kembali dipenuhi tawa.

Nadira ikut tertawa sebelum menyadari kamera di tangannya masih menyala.

Ia segera mengarahkannya kembali ke panggung.

Sayangnya, seorang fotografer di dekatnya sudah menangkap ekspresi tersebut.

“Nah, itu foto yang bagus,” komentar fotografer itu.

Nadira menoleh.

“Foto apa?”

“Foto kamu tertawa waktu Raka bicara.”

“Ambil foto pertandingan saja.”

“Siap, Bu Wartawan.”

Nadira mendengus.

Ia tahu betul bagaimana satu foto bisa berubah menjadi bahan spekulasi di media sosial. Terakhir kali mereka terlihat bersama, orang-orang langsung membuat teori tentang hubungan mereka.

Ia tidak ingin kejadian itu terulang.

Namun, ketika melihat Raka membantu peserta kecil turun dari panggung dan menyerahkan hadiah kepadanya, Nadira tidak bisa menyangkal satu hal.

Ia menyukai sisi Raka yang seperti ini.

Bukan karena laki-laki itu pewaris perusahaan besar.

Bukan karena namanya selalu menjadi berita.

Melainkan karena ia tampak tulus ketika melakukan sesuatu yang tidak memberinya keuntungan pribadi.

Dan kesadaran itu justru membuat Nadira sedikit takut.

Setelah acara selesai, Nadira sedang menyimpan peralatan ketika seseorang meletakkan sebotol air di atas meja di sampingnya.

“Untuk wartawan yang bekerja terlalu keras.”

Ia menoleh.

Raka berdiri di sana, rambutnya sedikit berantakan setelah pertandingan.

Nadira melirik botol itu.

“Ini bukan bagian dari strategi agar aku menulis artikel yang bagus, kan?”

“Kalau begitu, seharusnya aku memberimu kopi.”

“Keputusan yang buruk. Kopi di kantorku sedang bermasalah.”

“Aku dengar mesin itu punya dendam terhadapmu.”

Nadira menatapnya curiga.

“Kamu sudah menyebarkan informasi itu?”

“Aku hanya berbicara kepada orang yang tepat.”

Ia tertawa kecil, lalu membuka botol air tersebut.

“Terima kasih.”

Raka mengangguk.

“Liputannya berjalan lancar?”

“Lumayan. Aku mendapat cerita yang bagus dari beberapa peserta komunitas.”

“Fikri?”

Nadira menoleh, sedikit terkejut.

“Kamu tahu namanya?”

“Aku sempat berbicara dengannya sebelum pertandingan. Dia bilang ingin masuk tim kompetitif.”

“Dia punya semangat besar.”

“Semangat saja tidak cukup. Tapi kalau dia mendapat kesempatan untuk belajar, dia punya peluang.”

Nadira memperhatikan Raka.

“Kadang-kadang kamu terdengar seperti orang yang benar-benar mengerti apa yang sedang kamu bicarakan.”

Raka meletakkan tangan di dada.

“Aku akan menganggap itu sebagai pujian.”

“Jangan terlalu cepat. Aku belum selesai.”

“Tentu saja.”

Nadira tersenyum tipis.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia tidak merasa perlu mencari alasan untuk segera pergi.

Mereka berdiri berdampingan sambil memperhatikan para sukarelawan membereskan perlengkapan acara.

“Aku senang kamu datang,” kata Raka tiba-tiba.

Nadira menoleh.

“Sebagai wartawan?”

Raka mempertimbangkan jawabannya.

“Sebagai wartawan juga.”

Nadira menangkap penekanan pada kata terakhir.

Ia bisa saja bertanya apa maksudnya. Ia bisa pula mengingatkan Raka bahwa mereka belum kembali ke keadaan semula.

Namun, ia memilih tersenyum kecil.

“Kalau kamu ingin aku datang lagi, pastikan acaranya memang layak diliput.”

“Baik. Aku akan menyampaikan permintaan itu kepada panitia.”

“Jangan menyalahgunakan pengaruh keluarga untuk mengatur penugasanku.”

Raka mengangkat kedua tangan.

“Aku tidak berani.”

“Bagus.”

Mereka tertawa bersama.

Dan kali ini, Nadira tidak langsung menyembunyikan senyumnya.

Di luar arena, langit Jakarta mulai gelap. Acara amal itu hampir selesai, tetapi sesuatu yang jauh lebih sederhana baru saja dimulai di antara mereka.

Bukan hubungan romantis.

Belum.

Hanya dua orang yang mulai belajar melihat satu sama lain tanpa harus selalu bersiap menghadapi serangan berikutnya.

Untuk sementara, itu sudah cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!