NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Perjodohan
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.

Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.

Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolakan Yang Sia-Sia 02.

Kata 'perjodohan' yang meluncur dari mulut pria paruh baya di hadapannya terasa seperti hantaman godam tepat di ulu hati Novia.

Dunianya runtuh, menyisakan reruntuhan ego yang seketika hancur berkeping-keping.

Novia menatap Reyhan, menuntut penjelasan atas lelucon paling tidak lucu abad ini.

Namun, cowok di seberang meja itu tetap bergeming.

Wajahnya sekaku patung lilin, sedingin es, seolah pembicaraan tentang masa depan mereka tak lebih penting dari sekadar membaca laporan OSIS di mading sekolah.

"Nggak mungkin," desis Novia pelan, namun cukup tajam untuk memotong keheningan ruang tamu.

"Novia! Jaga sopan santun kamu!" Suara Baroto meninggi, sarat akan ancaman yang disamarkan lewat senyuman paksa ke arah tamunya. "Duduk."

Bukannya patuh, Novia justru mengambil satu langkah mundur. Kakinya yang telanjang terasa dingin menyentuh lantai marmer. "Ayah pasti bercanda, kan? Nikah? Sama robot ini? Aku bahkan belum lulus SMA, Yah! Dan dia... dia itu musuh aku di sekolah!"

Reyhan akhirnya bergerak. Dia meletakkan cangkir teh porselen yang dipegangnya ke atas tatakan dengan ketukan halus yang terdengar begitu dominan. Cowok itu mendongak, menatap Novia lurus-lurus.

"Musuh adalah kata yang terlalu dramatis untuk seseorang yang cuma menegakkan aturan, Novia," ucap Reyhan tenang. Nadanya yang teratur justru terdengar seperti ejekan di telinga Novia.

"Lo—" Novia hendak merangsek maju, namun tatapan membunuh dari ayahnya menghentikan kalimatnya di udara.

Kakek Reyhan yang duduk di tengah, melambaikan tangan dengan senyum bijak yang dipaksakan. "Novia, Nak. Ini adalah wasiat mendiang kakekmu sebelum beliau berpulang. Beliau ingin memastikan kamu berada di tangan yang tepat. Dan kami percaya, Reyhan bisa membimbing kamu."

Membimbing? Dia bilang membimbing?

Novia ingin tertawa keras. Skrip hidupnya mendadak berubah.

"Aku nggak peduli soal wasiat! Ini hidup aku!" sentak Novia, dadanya naik turun menahan emosi yang bergejolak. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya mengabur. "Aku nggak mau dijodohin. Terutama sama cowok yang bahkan nggak punya hati kayak dia!"

Setelah kalimat itu terlontar, Novia berbalik arah dan berlari menaiki tangga. Dia mengabaikan teriakan murka ayahnya yang memanggil namanya berkali-kali.

Begitu sampai di kamar, dia membanting pintu kayu kamarnya dengan keras hingga menimbulkan bunyi dentuman yang menggema ke seluruh penjuru rumah.

Novia mengunci pintu, lalu merosot di baliknya. Dia mencengkeram kaus grunge kedodorannya, mencoba meredam sesak yang kian menghimpit dadanya.

Penghinaan di sekolah oleh Reyhan tadi pagi belum sembuh, dan sekarang cowok itu datang untuk merenggut sisa kebebasan yang dia miliki.

Ketukan tegas sebanyak tiga kali di pintunya membuat Novia tersentak.

"Pergi! Gue nggak mau bicara sama siapa pun!" teriak Novia, suaranya serak.

"Ini gue. Reyhan." Suara bariton di balik pintu itu terdengar sangat dekat. "Buka pintunya, Novia. Orang tua kita minta kita bicara berdua."

Novia bangkit dengan amarah yang menyala-nyala. Dia memutar kunci dan menyentak pintu terbuka. Reyhan berdiri di sana, masih dengan setelan jasnya yang sempurna, tampak sangat kontras dengan penampilan urakan Novia.

"Mau pamer kemenangan lo, hah?" semprot Novia langsung, menatap Reyhan dengan benci. "Lo sengaja, kan? Lo udah tahu dari awal kalau cewek yang dijodohin sama lo itu gue? Makanya lo sok berkuasa tadi pagi!"

Reyhan menatap Novia datar. Alih-alih membalas dengan emosi, dia melangkah masuk tanpa permisi, membuat Novia terpaksa mundur. Reyhan menutup pintu di belakangnya, menguncinya kembali dari dalam.

"Gue baru tahu tadi sore saat Papa ngasih berkas keluarga lo," jawab Reyhan pendek. Dia bersandar pada meja belajar Novia yang berantakan, menatap dekorasi kamar gadis itu yang penuh dengan poster band dan coretan cat semprot. "Dan kalau lo pikir gue bahagia sama perjodohan konyol ini, lo salah besar."

Novia mengernyit, sedikit terkejut dengan kejujuran cowok itu. "Kalau lo nggak mau, kenapa lo nggak tolak aja tadi di bawah? Lo kan anak emas, cowok jenius pujaan guru. Suara lo pasti didengar!"

Reyhan menghela napas pendek. Untuk pertama kalinya, Novia melihat gurat kelelahan yang nyata di wajah cowok perfeksionis itu. Topeng robotnya retak sesaat.

"Ada hal-hal di dunia ini yang nggak bisa ditolak cuma pakai logika, Novia. Ini tentang korporasi, tentang nama baik keluarga, dan... tentang kesehatan Kakek gue," kata Reyhan, suaranya merendah, menyiratkan beban berat yang selama ini dipikulnya sendirian. Dia menatap Novia, kali ini tanpa keangkuhan. "Gue butuh pernikahan ini formalitasnya berjalan sampai Kakek pulih. Setelah itu, kita bisa cari jalan keluar masing-masing."

Novia terpaku. Interaksi nyata ini terasa menjebak. Di satu sisi, dia melihat kerapuhan Reyhan yang disembunyikan di balik jas mahalnya. Di sisi lain, ego Novia menolak untuk menjadi pion dalam catur keluarga mereka.

"Gue nggak peduli sama urusan keluarga lo," desis Novia, berusaha mengeraskan hatinya kembali. "Gue tetep nggak mau. Gue bakalan kabur malam ini juga kalau perlu!"

"Kamu tidak akan pergi ke mana-mana, Novia Maharani."

Suara berat yang sangat Novia kenal tiba-tiba menginterupsi dari arah ambang pintu yang rupanya sedikit terbuka.

Baroto berdiri di sana. Wajah pria paruh baya itu merah padam karena amarah, matanya menatap Novia seolah gadis itu adalah aib terbesar dalam hidupnya.

Reyhan langsung menegakkan tubuhnya, kembali ke mode formalnya yang sopan dalam sekejap. "Om Baroto."

Baroto mengabaikan Reyhan. Langkah kakinya yang berat maju mendekati Novia. "Kamu pikir kamu siapa bisa mengatur-atur keputusan Ayah? Kamu cuma anak pembawa masalah yang tahu menghabiskan uang!"

"Ayah!" air mata Novia akhirnya luruh juga, membasahi pipinya. "Kenapa Ayah selalu egois? Ini hidup aku! Ibu nggak akan pernah suka lihat Ayah maksa aku kayak gini!"

Mendengar kata 'Ibu', rahang Baroto mengeras. Dia menatap Novia dengan pandangan yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Sebuah senyuman kejam terukir di bibir ayahnya.

"Jangan bawa-bawa nama perempuan itu," bisik Baroto, suaranya bergetar penuh ancaman yang mematikan. Pria itu menunjuk ke arah lemari tua di pojok kamar Novia—tempat di mana Novia menyimpan satu-satunya peninggalan berharga dari almarhum ibunya: sebuah kotak musik tua dan album foto masa kecil mereka.

"Dengar baik-baik, Novia," lanjut Baroto dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Kamu tanda tangani surat kesepakatan perjodohan ini besok, atau malam ini juga... semua barang peninggalan ibumu akan Ayah bakar sampai jadi abu. Tidak akan ada yang tersisa."

Jantung Novia serasa berhenti berdetak. Dunia di sekitarnya mendadak hening, menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan. Lemari itu adalah satu-satunya alasan Novia masih bertahan hidup di rumah neraka ini.

Novia menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya, dadanya terkoyak hebat oleh rasa sakit yang teramat sangat. Di sudut ruangan, mata elang Reyhan melebar tipis, menangkap kilat kehancuran total di mata bulat gadis pemberontak itu.

......................

...****************...

Tbc,

1
Shabrina Darsih
sama2 keras kepala fan sama2 gengsi reyhan dan novia
Shabrina Darsih
nivia ga peka Reyhan uda suja sm novia
Shabrina Darsih
laura laura naksir Rehyan samoe segitu nya sm Novia
Gege Mas
otor berusaha untuk mulai mematik apa yang bisa di sulut...naees...🤣
Gege Mas
Dan terjadi lagi...Nov..Nov...ck..ck..ck
Gege Mas
Dan ondolomon pun muncul ditengah kegelapan...🤣
Gege Mas
lanjuut Thor..belom berasa ini....10k kata gasss luncurkan
Gege Mas
yuklaah gass kasih intrik intrik kekinian yang membakar cemburu Dan bikin senyum senyum sendiri...semangaat..luncurkan 10k kata Thor...💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!