Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.
Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!
Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebaikan di Lembah Hijau
Lembah Kematian Naga yang biasanya tertutup badai salju abadi kini terasa jauh lebih tenang. Setelah pilar cahaya terobosan menghilang, suhu ekstrem yang membendung jurang perlahan melunak.
Melangkah keluar dari celah tebing terjal, Hu Jin menghirup udara segar. Jubah abu-abu sederhananya berkibar lembut diterpa angin, sementara topi jerami dimiringkan untuk menutupi separuh paras mewahnya. Di punggungnya, Pedang Hitam Kuno terikat rapi—kini memancarkan getaran energi yang jauh lebih dalam dan sulit ditebak.
Menembus Ranah Inti Jiwa (Soul Core) di usia lima belas tahun tidak membuat Hu Jin jemawa. Justru sebaliknya, aura kaisar dan kekuatan es murni di dalam tubuhnya kini tersimpan rapat, membuatnya tampak seperti pengembara biasa tanpa Qi.
Perjalanan panjang ditempuhnya menyusuri hutan perbatasan, menyeberangi sungai deras, hingga melintasi jalan setapak berdebu. Setelah beberapa minggu berkelana, Hu Jin tiba di sebuah pemukiman yang sangat ramai—Desa Lembah Hijau.
Desa ini berada di persimpangan jalur perdagangan utama, menjadi titik kumpul ratusan kultivator bebas, pedagang obat, hingga pemburu hadiah. Suara riuh penjual dan dentang besi tempaan senjata bergema di berbagai penjuru.
Hu Jin melangkah santai, menyusuri jalanan batu hingga matanya tertuju pada kedai kayu dua lantai di pusat desa. Ia melangkah masuk, memilih meja kecil di sudut ruangan yang tenang.
"Paman, bawakan teko teh hangat dan beberapa piring roti daging," panggil Hu Jin halus pada pelayan kedai.
Namun, sebelum teh hangat dituangkan, keheningan di dalam kedai pecah oleh benturan keras.
BANG
Pintu depan kedai hancur berantakan. Serpihan kayu beterbangan, mengejutkan seluruh pengunjung.
"Mana pemilik kedai ini?! Cepat serahkan seribu batu spiritual untuk pajak keamanan bulan ini!"
Sepuluh pria bertubuh kekar melangkah masuk dengan gaya arogan. Mereka mengenakan seragam bersulam lambang Geng Serigala Besi—kelompok kultivator bebas rendahan yang suka menindas warga tanpa latar belakang.
"T-Tuan..." Pemilik kedai, seorang pria tua bertubuh kurus, berlari mendekat sambil membungkuk ketakutan. "Bulan lalu pajak hanya seratus batu spiritual... Dari mana kami bisa mendapatkan seribu batu spiritual?"
"Banyak alasan, Tua Bangkai!"
Pemimpin geng—pria brewokan bertubuh tegap tingkat Pembentukan Qi Tahap Akhir—menendang dada pemilik kedai hingga pria tua itu terlempar dan memuntahkan darah di lantai.
"Hei! Jangan berbuat sewenang-wenang di sini!" teriak seorang kultivator bebas muda yang duduk di dekat sana seraya menarik pedangnya.
"Cah! Cuma serangga tak bernama berani ikut campur?!" cemooh pemimpin Geng Serigala Besi.
Pertarungan sengit pecah! Kelompok Geng Serigala Besi bergerak kejam. Mereka menggunakan senjata beracun dan teknik tebasan membabi buta. Beberapa kultivator bebas yang berniat membantu bertumbangan satu per satu, bersimbah darah. Warga sipil dan para pelayan berteriak panik, berlari berhamburan mencari perlindungan.
"Hahaha! Siapa lagi yang berani melupakan hukum Geng Serigala Besi di desa ini?!" teriak pimpinan geng sambil mengangkat golok berdarahnya, bersiap memenggal kepala kultivator muda yang tergeletak tak berdaya.
Kultivator muda itu memejamkan mata rapat-rapat, pasrah menyambut kematian.
Namun, sebelum mata golok menyentuh lehernya—
TAK
Satu sumpit kayu sederhana menahan bilah golok tajam itu tepat di udara! Tak peduli seberapa keras pimpinan geng menekan tangannya, golok besi itu tak berkutik sedikit pun, seolah tertahan oleh dinding baja tak terlihat.
Pimpinan geng tersentak, menoleh dengan wajah merah padam. Di sampingnya, berdiri pemuda bertopi jerami yang memegang sumpit kayu tersebut dengan wajah sangat santai.
"Pengembara gembel! Kau mencari mati?!" bentak pimpinan geng murka.
Hu Jin menatap sepuluh pria arogan itu dari balik bayang-bayang topinya. Pandangannya dingin. Ia melihat warga desa yang terluka, anak-anak yang menangis di sudut kedai, dan darah yang tercecer akibat keserakahan faksi ini.
Membunuh mereka hanya akan mengotori tanganku... tapi membiarkan mereka utuh adalah bencana bagi orang kecil.
SZZZT
Sebelum sepuluh anggota geng sempat bereaksi, Hu Jin menggerakkan lengannya. Gerakannya begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan tipis di udara!
Ia tidak menarik pedang hitamnya. Hanya dengan dorongan hawa es yang dipadatkan di ujung jarinya, Hu Jin menotok titik meridian utama di kedua kaki kesepuluh anggota Geng Serigala Besi secara presisi.
CRACK CRACK CRACK
Suara derakan halus dari retaknya pembuluh darah dan kelumpuhan saraf terdengar serentak!
"AGHHH!"
"K-kakiku! Kakiku tidak bisa digerakkan!"
"Setan! Apa yang kau lakukan pada kami?!"
Jeritan histeris bergema. Sepuluh anggota Geng Serigala Besi roboh serentak, meraung-raung kesakitan. Jalur meridian kaki mereka telah dibekukan dan dihancurkan sepenuhnya. Tanpa membunuh mereka, Hu Jin memastikan bahwa sepuluh perusuh ini menjadi cacat dan tidak akan pernah bisa menganiaya rakyat kecil lagi.
Satu jam kemudian, alun-alun Desa Lembah Hijau gempar. Sepuluh anggota Geng Serigala Besi diseret dan diikat di tiang alun-alun oleh warga desa. Sorak-sorai kebahagiaan meledak di seluruh penjuru desa!
Malam harinya, Desa Lembah Hijau menggelar pesta perayaan besar. Obor-obor dinyalakan, meja-meja panjang dipenuhi makanan lezat, dan musik tradisional bergema hangat di bawah naungan bintang-bintang.
Di tengah riuhnya pesta, Hu Jin duduk di atas balok kayu di tepi alun-alun. Ia menolak diperlakukan sebagai pahlawan, namun kehangatan warga desa membuatnya merasa nyaman.
Sejumlah anak kecil berkumpul di sekelilingnya, tertawa gembira saat Hu Jin membuatkan mainan burung kecil dari es yang melayang tipis di udara tanpa meleleh. Di dekatnya, beberapa kultivator bebas paruh baya dan tetua desa duduk melingkar sambil minum anggur bersama.
"Pendekar Muda, ketangkasanmu sungguh luar biasa," puji seorang kultivator bebas berkumis tebal sambil menuangkan anggur ke cangkir Hu Jin. "Jika kau tidak bertindak tadi siang, entah berapa banyak dari kami yang akan tewas."
Hu Jin tersenyum tipis, menyesap anggurnya hangat. "Aku hanya tidak suka melihat orang menggunakan kekuatannya untuk menindas yang lemah."
Para tetua desa mengangguk setuju, menatap pemuda bertopi jerami itu dengan rasa kagum dan hormat. Aura ketenangan dan kebaikan hatinya membuat semua orang merasa aman.
"Ngomong-ngomong, Pendekar Muda," lanjut kultivator berkumis itu berbisik. "Apakah perjalananmu ke arah selatan ini untuk menyaksikan Ujian Tiga Sekte Besar?"
Hu Jin menyimak tenang, menyembunyikan kilatan di matanya. "Ujian Tiga Sekte?"
"Benar! Tepat satu tahun dari sekarang, di Kota Besar Teratai Hitam!" sahut tetua desa penuh semangat. "Itu adalah tontonan paling megah di Benua Timur! Konon, seluruh jenius tingkat mitologi dari Sekte Pedang Langit, Sekte Awan, dan Sekte Teratai akan bertarung memperebutkan takhta nomor satu!"
"Dengar-dengar, Sekte Pedang Langit membawa jenius pemegang Tubuh Pedang Sembilan Nirwana yang sangat arogan, sementara Sekte Teratai dikabarkan sedang terdesak karena tidak memiliki kandidat utama," tambah kultivator lainnya menggelengkan kepala.
Mendengar nama Sekte Teratai, bibir Hu Jin mengukir senyuman tipis yang sarat makna.
Ia memandangi bintang-bintang di langit malam, memikirkan gurunya, Qian Renxue, yang saat ini pasti sedang menahannya di Puncak Es, serta ayahnya dan Jenderal Gu yang sedang menghimpun kekuatan di bayang-bayang.
Satu tahun lagi. Tepat di panggung arena Kota Besar Teratai Hitam itu, ia akan menginjakkan kaki tidak lagi sebagai pengembara biasa, melainkan sebagai Putra Mahkota yang siap mengguncang seluruh Benua Timur.
"Satu tahun..." gumam Hu Jin pelan di balik tegukan teh hangatnya, menikmati tawa anak-anak desa di sekelilingnya sebelum kembali melanjutkan perjalanannya yang agung.