Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Ciuman Perpisahan
Sabtu sore, Nala menunggu di dalam mobil di depan pagar rumah Menteng selama satu jam empat puluh tujuh menit.
Dia tidak diundang masuk. Dia memang tidak berharap diundang. Rapat keluarga besar Hadiwijaya bukan tempat untuk sekretaris, apalagi sekretaris yang empat hari lalu membuat calon menantu keluarga itu menemukan jam tangannya sendiri di tas sendiri, di depan seratus lima puluh orang.
Mesin mobil dibiarkan menyala supaya pendingin ruangan tetap hidup. Pak Ujang duduk di depan, sesekali melirik ponselnya.
Di sepanjang trotoar, mobil-mobil lain berderet. Sopir-sopir keluarga besar berkumpul di bawah pohon ketapang dekat pos satpam, merokok dan mengobrol. Pak Ujang tadi sempat bergabung dengan mereka sebentar, lalu kembali ke mobil dengan wajah yang tidak bisa dia sembunyikan.
Ponselnya berbunyi lagi. Lalu lagi. Lalu terus-menerus, seperti hujan di atas seng.
"Ada apa, Pak?" tanya Nala.
Pak Ujang ragu. "Grup sopir, Bu. Sopirnya Bu Tante yang di dalam, dia dengar dari pintu."
"Dengar apa?"
Pak Ujang menyerahkan ponselnya ke belakang. Di layar, sebuah grup WhatsApp bernama Sopir Keluarga Besar H. Pesan terbaru dikirim tiga puluh detik lalu.
Pak Damar nolak. Di depan semua orang. Katanya nggak akan menikah sama Mbak Bianca, sekarang atau nanti. Eyang diem aja. Mbak Bianca nangis keluar.
Di bawahnya, belasan balasan. Waduh. Serius? Mampus. Terus sekretarisnya gimana?
Nala mengembalikan ponsel itu tanpa mengatakan apa-apa.
Lima menit kemudian, pintu utama rumah Menteng terbuka. Damar keluar sendirian. Dia berjalan menuruni tangga teras dengan langkah yang sama seperti biasa, tidak terburu-buru, tidak menoleh. Dia membuka pintu belakang mobil dan duduk di samping Nala.
Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa.
"Pulang," katanya.
Pak Ujang menjalankan mobil. Nala menatap kaca spion, ke pintu rumah Menteng yang semakin kecil. Di jendela lantai dua, sebuah tirai bergerak sedikit, lalu diam.
***
Senin pagi, Nala meletakkan map tipis di atas meja Damar.
"Arka Ardana," katanya. "Pemilik Gema Group. Orang-orang di industri menyebutnya bos muda Gema. Muncul di Jakarta sekitar dua tahun lalu, langsung membeli dua perusahaan media yang hampir bangkrut dan membesarkannya. Sumber modalnya tidak jelas. Latar belakang sebelum itu tidak bisa saya temukan."
"Tidak bisa, atau tidak ada?"
"Tidak bisa, Pak. Seperti ada yang sengaja menghapus."
Damar membuka map itu dan membaca halaman pertama. Hanya ada satu foto. Arka di sebuah acara peluncuran, tersenyum ke kamera dengan gelas di tangan.
"Dia bilang kalian pernah bertemu."
"Saya tidak ingat, Pak."
Itu bohong, dan Nala tahu Damar tahu itu bohong. Tapi dia tidak bisa mengatakan di mana. Dia tidak bisa mengatakan Batam.
Ketukan di pintu. Seorang kurir dari bagian resepsionis masuk membawa buket mawar merah, besar sekali, dibungkus kertas hitam dan pita emas.
"Untuk Bu Nala," katanya ragu-ragu, menatap Damar lalu Nala. "Pengirimnya minta diantar langsung ke ruangan."
Nala menerima buket itu. Di antara tangkai-tangkainya terselip sebuah kartu kecil berwarna krem.
Aku pernah bertemu setangkai mawar. Ia lupa padaku, tapi aku mengingatnya. A.
Dia belum selesai membaca ketika tangan Damar menarik buket itu dari pelukannya.
Damar berjalan ke sudut ruangan dan menjatuhkan buket itu ke dalam tempat sampah. Kartunya juga. Kelopak-kelopak merah berhamburan di karpet abu-abu.
Kurir itu sudah lari keluar.
"Rapat jam sepuluh," kata Damar sambil kembali ke kursinya. "Siapkan berkasnya."
Nala menatap kelopak mawar di karpet. Lalu dia menatap laki-laki yang pura-pura membaca map tentang Arka dengan rahang terkunci.
"Baik, Pak."
***
Pukul enam sore, kantor sudah separuh kosong.
Damar keluar dari ruang rapat lantai tiga puluh satu dan memilih tangga darurat, seperti biasa kalau dia tidak ingin bertemu siapa pun di lift. Nala tahu kebiasaan itu. Dia sudah menunggu di bordes antara lantai tiga puluh satu dan tiga puluh dua.
Lampu tangga darurat itu putih dan terlalu terang. Suara langkahnya menggema.
Damar berhenti dua anak tangga di bawahnya. Dari posisi itu, untuk pertama kalinya, mata mereka sejajar.
"Ada apa?"
Nala tidak menjawab. Dia turun satu anak tangga, meletakkan kedua tangannya di wajah laki-laki itu, dan menciumnya.
Damar membeku. Hanya sedetik. Lalu tangannya naik ke pinggang Nala, menariknya lebih dekat, dan dia membalas ciuman itu seperti orang kelaparan.
Nala yang menghentikannya. Dia mundur, satu tangan masih di dada Damar, merasakan detak jantungnya yang cepat di bawah kemeja.
"Ciuman tadi penutup," katanya.
Damar menatapnya.
"Mulai hari ini, aku cuma sekretarismu. Tidak lebih." Suaranya tenang, seperti sedang membacakan jadwal. "Kamu sudah punya tunangan, atau tidak punya, terserah. Tapi aku tidak mau jadi bahan cerita sopir-sopir di depan rumah Eyang. Akhir bulan ini aku pindah dari paviliun."
"Tidak."
"Aku tidak minta izin."
Dia berbalik untuk naik. Tangan Damar menangkap pergelangannya.
Dalam satu gerakan, punggungnya sudah menempel di pegangan tangga yang dingin. Besi itu menekan pinggangnya. Damar berdiri di depannya, satu tangan di pegangan tangga di sisi kiri tubuhnya, satu lagi masih menggenggam pergelangannya. Tidak menyakitinya. Tapi tidak juga melepaskannya.
Wajahnya dekat. Napasnya tidak teratur.
"Dengar baik-baik, Anala."
Suaranya rendah. Nala bisa merasakan getarannya.
"Selama aku belum bilang selesai, ini tidak pernah selesai."
Lampu tangga darurat berdengung. Di bawah, di lantai entah berapa, sebuah pintu terbuka lalu tertutup lagi.
Nala menatap mata laki-laki itu. Mata gelap yang di malam hari tidak bisa melihat dengan jelas. Mata yang sekarang menatapnya seolah dia satu-satunya hal yang terlihat.
Dia tidak menjawab. Dia menunggu sampai genggaman di pergelangan tangannya melonggar sendiri, lalu dia melepaskan diri dan naik ke lantai tiga puluh dua tanpa menoleh.
Di dalam toilet, dia mengunci pintu dan berdiri dengan kedua tangan di atas wastafel.
Tangannya gemetar. Bukan karena takut.
Bagus, pikirnya sambil menatap wajahnya sendiri di cermin. Dia tidak mau melepaskanmu. Untuk membuatnya membayar, kamu harus jadi orang yang paling tidak bisa dia lepaskan.
Dia mencuci muka sampai tangannya berhenti gemetar.
***
Rabu malam, ballroom hotel di Thamrin dipenuhi dua ratus orang berjas dan bergaun panjang.
Reza yang mengajaknya. Damar seharusnya hadir sebagai salah satu donatur utama malam amal itu, tapi pesawatnya dari Surabaya tertunda karena cuaca, dan Reza tidak mau datang sendirian.
"Kamu wakili Damar. Pilih apa aja yang kamu suka, nanti tagihannya ke dia," kata Reza sambil tertawa. "Anggap aja bonus menang tender."
Nala tidak tertarik pada lukisan, jam antik, atau anggur langka. Dia duduk di meja nomor tujuh dan membiarkan lot demi lot lewat.
Sampai lot nomor sebelas.
"Cincin Air Mata Sedap Malam," kata juru lelang. "Berlian putih dengan aksen berlian merah muda berbentuk tetesan air mata, dirancang oleh perancang perhiasan dari Yogyakarta. Seluruh hasil lelang akan disumbangkan untuk sekolah anak-anak pesisir."
Foto cincin itu muncul di layar. Lingkaran tipis berlian putih, dan di tengahnya, setetes merah muda yang jatuh seperti air mata.
Sedap malam.
Ada seseorang yang dulu memberitahunya apa arti bunga itu. Mereka sedang duduk di teras sebuah rumah di Bandung, dan bau sedap malam dari pot di pojok teras memenuhi udara.
Kebebasan yang tidak pernah mati, kata orang itu. Karena bunga ini mekarnya malam-malam, waktu semua orang tidur, waktu tidak ada yang bisa melarang.
Nala mengangkat papan nomornya sebelum dia sempat berpikir.
"Lima ratus juta, dari meja tujuh."
"Enam ratus." Suara itu datang dari meja seberang. Santai. Dikenal.
Arka mengangkat papannya tanpa menatap ke arahnya.
"Tujuh ratus," kata Nala.
"Delapan."
"Satu miliar."
"Satu setengah."
Bisik-bisik mulai terdengar di sekeliling ruangan. Reza menatapnya dengan mata membulat. "Nala. Itu bukan budget bonus lagi."
Nala tidak mendengarnya. Dia hanya menatap layar, ke tetesan merah muda itu.
Ada sepuluh miliar di rekeningnya. Tapi uang itu bukan untuk ini. Uang itu punya tujuan, dan tujuan itu tidak boleh disentuh. Yang boleh dia pakai hanya tabungannya sendiri, gaji dua tahun yang dia sisihkan sedikit demi sedikit.
"Dua miliar," kata Arka. Kali ini dia menoleh dan tersenyum ke arahnya.
Tabungannya tidak sampai dua miliar.
Jari-jari Nala mengendur di gagang papan. Dia menurunkannya perlahan, sampai hampir menyentuh meja.
"Dua miliar, satu kali," kata juru lelang. "Dua miliar, dua kali..."
"Tunggu."
Suara itu datang dari pintu ballroom. Pelan, tapi semua orang mendengarnya.
Suara yang masih membawa bau hujan.