Sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian panjang yang diwarnai doa dan air mata, hingga akhirnya Aira lahir sebagai keajaiban pertama bagi pasangan Nala (30 tahun) dan Arka (33 tahun).
Arka, seorang Lead Structural Engineer yang tegas, kaku, dan biasa menaklukkan proyek-proyek raksasa di lautan lepas, harus merelakan seluruh gengsinya runtuh tanpa sisa saat melangkah pulang. Kepulangannya ke rumah justru disambut kepolosan Aira (3 tahun) yang cadel dan dengan polosnya memanggil sang ayah "Om asing yang keluar dari HP".
Di saat Arka sibuk meluluhkan hati putri kecilnya dan memanjakan Nala setelah bertahun-tahun terpisah jarak, kebahagiaan mereka kembali diuji dengan kejutan indah: kehadiran calon bayi kedua mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odee_eeeee15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masih berlangsung
Jarum jam di atas meja nakas menunjukkan pukul 05.00 pagi. Suasana di luar masih gelap dan dingin, diiringi ketenangan subuh yang begitu syahdu.
Di kamar sebelah yang pintu penghubungnya tertutup rapat, Aira masih terlelap sangat lelap di balik selimut merah mudanya. Balita itu kelelahan setelah seharian bermain dan baru akan terbangun sekitar jam enam lewat nanti.
Di kamar utama, Arka sudah lebih dulu terbangun. Pria tegap itu menatap lekat wajah Nala yang masih tertidur lelap di sampingnya, lelah usai momen intim mereka semalam. Dengus napas halus istrinya terdengar begitu menenangkan.
Dengan gerakan sangat perlahan agar tidak mengusik tidur Nala, Arka menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah tubuh istrinya. Dalam satu gerakan mudah dan mantap, Arka menggendong tubuh Nala yang masih dibalut selimut tipis menuju kamar mandi utama.
Nala yang mendadak merasa tubuhnya melayang langsung tersentak kaget. Kelopak matanya terbuka lebar saat menyadari dirinya sudah berada di dalam genggaman tegap sang suami.
"Mas Arka! Kaget... ih!" bisik Nala mengusap dadanya yang berdebar kencang. Tangannya refleks mengalung erat di leher Arka. "Ini masih jam lima subuh, Mas... mau ngapain?"
"Mandi subuh bareng, Sayang," goda Arka dengan suara serak yang seksi di depan telinga Nala. Pria itu menyunggingkan senyum jahil saat mendudukkan Nala di atas meja wastafel granit yang dingin.
"Aira gimana? Nanti kalau dia bangun..."
"Aira itu biasanya baru bangun jam enam lewat, sayang . Kita masih punya banyak waktu," potong Arka rapat.
Uap air hangat dari shower membumbung tipis memenuhi ruangan. Suara kucuran air berpadu dengan detak jantung yang kembali berpacu cepat. Arka merengkuh tubuh Nala di bawah guyuran air hangat, menyandarkan dagunya di bahu mulus Nala yang basah.
"Mas... nanti ketahuan," bisik Nala halus, suaranya sedikit serak dan bergetar saat jemari Arka mulai bergerak nakal menyusuri garis leher hingga bahunya.
"Enggak akan, Sayang. Aira masih tidur nyenyak banget di kamarnya," gumam Arka berat di ceruk leher Nala. Bibirnya yang basah mendarat lembut di sana, memberikan kecupan-kecupan hangat yang membuat Nala menghembuskan napas terengah.
"Semalam rasanya belum cukup... Mas masih rindu."
"Ah... Mas Arka..." desah Nala perlahan, mencengkeram lengan tegap suaminya saat Arka memutar tubuh Nala hingga mereka berhadapan.
Di bawah guyuran air hangat subuh itu, mata gelap Arka menatap istrinya dengan pendar gairah dan kasih sayang yang membara.
Tanpa memberi jeda, Arka kembali meraup bibir lembut Nala dalam pagutan yang dalam dan manis. Lidahnya menelusuri setiap sudut sensitif, memancing desahan-desahan kecil dari bibir Nala yang tertahan di dalam kamar mandi.
"Nala... hah... kamu makin cantik," bisik Arka di sela-sela kecupannya yang kian intens. Suasana kamar mandi yang tertutup uap air menjadi saksi bisu ronde pagi mereka yang penuh kehangatan, gejolak rindu, dan kenikmatan ikatan pernikahan sah yang terbayar tuntas.
Nala pasrah dalam dekapan suaminya, menikmati setiap sentuhan dan kejantanan Arka yang begitu memanjakannya hingga mereka kembali mencapai puncak kenikmatan bersama di bawah kucuran air hangat.
satu jam kemudian, Arka keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya, memperlihatkan dada bidang dan perut berototnya yang masih berhias bintik-bintik air. Ia menggendong Nala yang dibalut jubah mandi (bathrobe) tebal dan mendudukkannya dengan lembut di tepi kasur.
"Mas... aku bisa jalan sendiri padahal," ujar Nala dengan wajah merona merah, tidak berani menatap langsung mata suaminya yang masih memancarkan binar menggoda.
"Enggak apa-apa, hari ini kamu Ratu-nya. Biar Mas yang urus semuanya," sahut Arka terkekeh rendah. Pria itu berjinjit mendekat, mengecup dahi Nala dengan penuh kelembutan.
Tepat saat jam menunjukkan pukul 06.15 pagi,
cklek
pintu penghubung kamar terbuka dengan dorongan yang agak kasar.
Aira berdiri di ambang pintu. Bukannya tersenyum manis seperti biasa, wajah bulat balita itu kini tertekuk tajam.
Bibirnya cemberut sangat maju, kedua tangan mungilnya bersedekap rapat di dada, dan matanya menatap Arka serta Nala dengan pandangan ngambek yang luar biasa menggemaskan.
Tangannya yang sebelah lagi menyeret boneka kelinci dengan tidak bersemangat.
"Papa nakay (nakal)!" seru Aira melengos, sengaja memalingkan wajahnya saat Arka mendekat.
Arka yang sudah selesai mengenakan kaos dan celana santainya berlutut di hadapan Aira.
"Loh, anak cantik Papa kok cemberut pagi-pagi? Kenapa, Sayang?"
"Aila (Aira) dibuang ke kamay (kamar) sebelah!" cicit Aira dengan nada ketus nan cadel.
"Semalam Aila (Aira) bubuk (tidur) peluk Papa, pas bangun kok sendiri di kamay (kamar) pink? Papa ndak sayang Aila (Aira) lagi! Papa cuma sayang Mama!"
Nala yang sedang menyisir rambut di depan meja rias langsung menggigit bibir, menahan tawa sekaligus merasa bersalah.
Sementara Arka mengusap tengkuknya, bingung harus memberi alasan apa pada balita tiga tahun yang sedang merajuk ini.
"Enggak dibuang, Sayang... Semalam Papa pindahin biar Aila (Aira) tidurnya lebih leluasa, enggak kesempitan," bujuk Arka lembut sembari mencoba merengkuh tubuh Aira.
Namun Aira menepis pelan tangan papanya, melangkah sengaja menjauh menuju ruang makan di lantai bawah. "Ndak mau! Aila (Aira) marah sama Papa!"
Aksi ngambek Aira berlanjut sampai ke meja makan. Di atas kursi khususnya, balita itu melipat tangan di dada, memalingkan muka rapat-rapat saat Nala menyajikan mangkuk bubur ayam dan roti bakar buatan Arka.
"Aila (Aira) mau makan ndak? Papa buatkan roti cokelat meses favorit Aila (Aira) loh," ujar Arka mencoba merayu sambil menduduki kursi persis di samping putrinya.
"Ndak mau! Roti Papa bau nakay (nakal)!" elak Aira memanyunkan bibirnya makin panjang, meski matanya sesekali melirik tergiur ke arah lelehan cokelat di atas roti.
Arka terkekeh rendah. Pria tegap itu tidak kehilangan akal. Ia mengambil sepotong roti cokelat hangat, lalu memotongnya kecil-kecil. Dengan gaya dramatis, Arka menggerakkan potongan roti itu di udara seperti pesawat terbang.
Nuuung...
"Ada pesawat roti cokelat mau mendarat di mulut Ratu Aira yang paling cantik..." bisik Arka dengan suara yang dibuat-buat heboh.
"Tapi karena Ratu Aira lagi marah, pesawatnya mendarat di mulut Papa aja deh..."
Arka pura-pura mau memasukkan roti itu ke mulutnya sendiri.
Mata bulat Aira seketika membelalak kaget. "Eeeh! Ndak boleh! Itu punya Aila (Aira)!"
Refleks, mulut mungil Aira terbuka lebar. Dengan cepat dan sigap, Arka menukikkan potongan roti itu tepat masuk ke dalam mulut putrinya.
Aira mengunyah roti cokelat itu dengan pipi mengembung. Rasa manis gurih yang lumer di lidah seketika meluluhkan pertahanan ngambeknya.
Mata bulat balita itu berbinar-binar gembira, meski ia masih berusaha menahan senyumnya agar terlihat "tetap marah".
"Enak ndak rotinya?" goda Arka mengusap lembut noda cokelat di sudut bibir Aira.
"Enak..." aku Aira pelan, akhirnya menyerah. Ia menatap papanya dengan mata berair mengiba.
"Tapi nanti malam Papa ndak boleh pindahin Aila (Aira) lagi ya? Aila (Aira) mau bubuk (tidur) sambil peluk Papa sama Mama."
Dada Arka berdesir hangat mendengar kepolosan putrinya. Pria itu merengkuh tubuh gempal Aira ke pangkuannya, mengecup pipi tembam Aira bertubi-tubi hingga balita itu tertawa geli dan lupa total pada rasa ngambeknya.
"Iya, Janji. Papa sayang banget sama Aila (Aira)," bisik Arka penuh kasih.
Nala tersenyum manis menyaksikan pemandangan itu dari seberang meja. Suasana pagi yang diawali aksi ngambek menggemaskan Aira kini berganti menjadi kehangatan keluarga yang utuh dan penuh cinta.
sekarang mama Nala ,juga ikut dramatis
mau di bilang benar tapi nggak benar juga