Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK PANTAS
Melihat kotak itu, napas Edelyn seketika tercekat, mata cantiknya membelalak lebar, dan binar penuh ketamakan langsung terpancar di wajahnya.
"Itu dia! Kotak tempat stempel kerajaan disimpan! Akhirnya!" batin Edelyn histeris, jantungnya berdegup kencang karena terlalu bersemangat.
"Ayah mau memberikannya padaku sekarang? Kau membuatku terharu..." ucap Edelyn, suaranya kembali melembut.
Namun, sebelum Edelyn sempat menyentuh kotak kayu itu, Raja Veldora tiba-tiba menarik kembali tangannya, mendekap kotak itu erat-erat di dadanya sambil menatap tajam ke arah Edelyn.
"Tidak," jawab Raja Veldora tegas.
Deg
Senyuman di wajah Edelyn langsung membeku seketika. Tangannya menggantung di udara. Udara di sekitarnya mendadak terasa dingin dan menyesakkan.
"A-apa maksudmu, Ayah?" tanya Edelyn, suaranya mulai meninggi.
"Kenapa Ayah menolak?! Bukankah aku adalah Putri Mahkotamu?! Siapa lagi yang berhak memegang stempel ini kalau bukan aku?!" lanjut Edelyn, dengan dada naik turun.
"Karena...jika stempel ini jatuh ke tanganmu, Kerajaan Veldora bukan hanya akan runtuh... tapi akan berubah menjadi lautan darah..." ucap Raja Veldora, lirih.
"AYAH!"
Teriak Edelyn histeris, kesabarannya benar-benar habis.
Edelyn berdiri dari tepi ranjang dengan wajah merah padam karena murka.
"Kau sudah pikun! Racun itu sudah merusak otakmu! Berikan stempel itu padaku sekarang juga, atau-”
"Atau apa, Putri Mahkota?" potong Panglima Joel, sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Joel melangkah maju, berdiri di antara Edelyn dan ranjang Raja, menghalangi gadis itu dengan tubuh tegapnya.
"Beraninya Anda membentak dan mengancam Yang Mulia Raja di kamar peraduannya sendiri! Di mana letak adab dan rasa hormat Anda?!" ucap Joel, tegas.
"Singkirkan tubuhmu dari hadapanku, keparat!" maki Edelyn, menunjuk-nunjuk wajah Joel dengan napas memburu.
Edelyn sudah tidak peduli lagi pada citra kelembutan dan kebaikan yang selama ini dia jaga di depan umum, topeng anggunnya runtuh.
"Kalian berdua... kalian berdua sengaja bersekongkol untuk menghalangiku, kan?! Awas kalian! Begitu aku mendapatkan kekuasaan penuh, kalian berdua adalah orang pertama yang akan ku habisi dengan tanganku sendiri!" ancam Edelyn, dengan emosi yang meluap-luap.
Mendengar ancaman terbuka itu, Raja Veldora menutup matanya rapat-rapat, membiarkan air mata kekecewaannya menetes di pipinya yang tirus, hatinya hancur, melihat bagimana putri nya yang selama ini dia sayangi, tega ingin menghancurkan dirinya.
Monster yang selama ini bersembunyi di balik senyum manis putrinya kini telah menampakkan wujud aslinya secara terang-terangan.
"Keluar..." bisik Raja Veldora lemah, menunjuk pintu keluar tanpa sudi menatap wajah Edelyn lagi.
"Keluar dari kamarku sekarang juga, Edelyn!" lanjut Raja Veldora, benar-benar sangat kecewa.
Edelyn mendengus kasar, dadanya naik-turun menahan amarah yang masih meluap-luap, dia menatap tajam ke arah Raja Veldora dan Joel bergantian dengan seringai mengerikan di bibirnya.
"Baik! Simpan saja stempel tua itu!" seru Edelyn penuh kebencian.
"Tanpa stempel darimu pun, para menteri dewan sudah sepakat mendukungku! Lihat saja nanti, aku akan merebut takhta itu dengan caraku sendiri!" lanjut Edelyn, keluar dari kamar Raja.
Brak
Edelyn membanting pintu kamar tidur utama dengan sangat keras.
"Sialan! Dasar pria tua bangka, berani nya dia mempermainkan ku!" gerutu Edelyn, mengepalkan tangannya kuat.
Edelyn berjalan cepat menuju kamar nya, dia akan bersiap-siap untuk pergi menemui ibu kandung nya, dia butuh bantuan ibu nya.
BRAK
Sesampainya di kamar pribadinya, Edelyn membanting pintu dengan keras, mengunci dari dalam, lalu melangkah cepat ke arah meja rias nya, meraih jubah hitam nya dari dalam lemari rahasia dan mengenakannya untuk menutupi identitasnya.
"Tua bangka itu benar-benar menguji kesabaranku..." gerutu Edelyn, mencengkeram jubahnya erat-erat.
"Ayah sudah pikun, dan Panglima tua itu harus segera disingkirkan!" geram Edelyn.
Tanpa membuang waktu lagi, Edelyn menyelinap keluar istana melalui jalur rahasia, jalan yang hanya diketahui oleh dirinya, jalan menuju sebuah pondok tersembunyi di tepi hutan terlarang.
Suasana di dalam pondok kayu itu begitu lembap, diterangi hanya oleh beberapa lilin kecil.
Di sudut ruangan, seorang wanita paruh baya berambut panjang kusut, seorang penyihir hitam yang menguasai ilmu kutukan kuno.
BRAKKK
"Ibu!"
Teriak Edelyn, membuka pintu gubuk itu dengan kasar.
"Edelyn? Kenapa kamu datang siang-siang begini, tindakanmu sangat ceroboh," ucap Ibu Edelyn, dingin.
Edelyn melepas penutup kepalanya, melemparnya ke atas meja dengan kasar, lalu berjalan mondar-mandir.
"Ibu! Rencana kita hampir hancur!" seru Edelyn kesal, menghentakkan kakinya.
"Panglima Joel dan Ratu Alice tadi pagi mendadak bersatu di ruang sidang! Mereka berhasil memprovokasi para dewan untuk menunda sidang penobatan ku!" ucap Edelyn, menatap ibunya.
"Bahkan Raja tua itu berani ke permukiman ku Bu!" lanjut Edelyn, kemarahan nya kembali memuncak.
Ibu Edelyn perlahan membalikkan badan, sorot matanya tajam, memancarkan aura kelam yang berbahaya, dia berjalan mendekati putrinya, lalu melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Edelyn.
Plak
Edelyn terperanjat, memegang pipinya yang langsung memerah panas, menatap sang Ibu dengan mata berkaca-kaca karena terkejut.
"Ibu! Kenapa Ibu menamparku?!" protes Edelyn, suaranya bergetar.
"Bodoh!" bentak sang Ibu, menatap tajam penuh kemarahan.
"Sudah kubilang berapa kali, Edelyn? Di istana, kamu harus bermain cantik! Kenapa kamu tidak bisa menahan emosimu hah!?" bentak sang Ibu, marah.
"Aku sudah berusaha, Ibu! Tapi pria tua itu... Raja Veldora mulai mencurigai ku!" jawab Edelyn membela diri, air matanya mulai menetes karena frustrasi.
"Dia bahkan tidak mau menyerahkan stempel kerajaan! Dia bilang stempel itu akan membawa malapetaka jika jatuh ke tanganku!" lanjut Edelyn, geram.
Sang Ibu mendengus sinis, melipat tangannya di dada, wajahnya mengeras mendengar ucapan putrinya.
"Ibu harus melakukan sesuatu, aku sudah tidak tahan berpura-pura menjadi gadis manis, aku ingin segera menjadi Ratu!" desak Edelyn, tidak sabaran.
"Apa Ibu tahu, anak sialan itu sudah mulai berani melawan ku, Kalyca sialan itu berani menampar ku!" lanjut Edelyn mengadukan kejadian tadi.
Ibu Edelyn, mengerutkan keningnya, dia tidak percaya dengan ucap Putri nya itu.
"Omong kosong macam apa itu, tidak mungkin dia berani melawan mu Edelyn, kau saja yang bodoh!" ucap sang Ibu, mendengus dingin.
"Aku tidak berbohong! Ibu harus percaya pada ku," ucap Edelyn, cepat.
"Kau serius dengan perkataan mu Edely?" tanya sang ibu, mencari kebohongan dimata Putri nya.
"Iya. Aku ingin ibu segera membunuh gadis itu, jangan sampai dia mengacaukan rencana Kita, yang sudah kita susun bertahun-tahun," ucap Edelyn, dengan api kebencian yang berkobar di mata nya.
"Hem, kamu tenang saja, ibu tidak akan membiarkan siapapun menghalangi rencana kita, termasuk anak itu," ucap Ibu Edelyn, penuh percaya diri.
"Kamu kembali ke istana, dan letakan benda ini di depan kamar Raja dan Ratu," ucap Sang Ibu, memberikan sebuah batu kecil berwarna hitam.
"Jangan sampai ada orang yang mengetahui nya, ini akan membuat kesehatan Raja semakin buruk, dan mempercepat kematian nya," bisik Ibu Edelyn, tersenyum miring.
makaci crazy up nya 😍👍