Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 MISTERI DI RUMAH SAKIT
Prahara besar di Ruang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Cimanuk Perkasa berakhir dengan kemenangan telak di pihak keluarga Hartono. Prabu Baskara, bersama seluruh jaringan korupsi dan tangan kanannya, berhasil digelandang oleh aparat penegak hukum atas dasar bukti otentik penggelapan lahan, percobaan pembunuhan berencana, hingga dokumen palsu yang diserahkan langsung oleh Tuan Wiratman dan Larasati. Gedung pencakar langit itu kini bersih dari cengkeraman tangan-tangan kotor.
Tiga hari setelah insiden tersebut, suasana di kediaman kolonial Ciumbuleuit kembali tenang. Halaman belakang yang dinaungi pohon kamboja tua kembali damai, dihiasi tawa ringan dan aroma masakan rumahan yang mengepul dari dapur.
Raka Ardian, yang kini bisa bernapas sedikit lega, sedang duduk bersila di teras pendoponya sambil memeriksa beberapa catatan herbal. Namun, kedamaian pagi itu mendadak terusik oleh suara ketukan pintu gerbang kayu jati utama, disusul suara sapaan yang sangat akrab di telinga.
"Permisi... Assalamu'alaikum!" suara lembut seorang wanita terdengar dari arah halaman depan.
Nadia, yang saat itu sedang membantu Bibi menyiapkan sarapan di dekat jendela ruang makan, langsung menghentikan gerakannya. Ia mengintip lewat kaca jendela dan melihat seorang gadis berpenampilan modis namun anggun berjalan masuk ke halaman ditemani oleh Tuan Wiratman.
Gadis itu adalah "Kirana" mahasiswi kedokteran yang kakeknya pernah disembuhkan oleh Raka beberapa waktu lalu. Di tangannya, Kirana membawa sebuah rantang susun besar berukir rotan.
Mengingat sejarah pertemuan pertama mereka yang sempat memicu api cemburu buta di hati Nadia, bulu kuduk Nadia mendadak meremang. Ia buru-buru keluar menghampiri teras, berdiri tepat di samping Raka dengan dagu terangkat dan ekspresi wajah yang dibuat-buat sesinis mungkin.
"Wah, rupanya sang tabib sakti kita sedang bersantai," sapa Kirana ramah begitu ia menaiki tangga teras pendopo, membawa senyuman lebar. Ia menoleh ke arah Nadia dan melambaikan tangan. "Eh, ada Nadia juga! Halo, Nadia."
Nadia mengerjap sesaat, lalu balas melambaikan tangan kaku. "Ehm... halo juga, Kirana. Tumben pagi-pagi sekali datang ke pendopo? Ada... ada urusan medis apa lagi nih?" tanyanya dengan nada suara yang sedikit ditekan, menyiratkan rasa cemburu masa lalu yang belum sepenuhnya reda.
Kirana tertawa kecil, menyadari nada bicara Nadia yang ketus. Ia langsung membuka tutup rantang rotan di tangannya, membebaskan aroma sedap soto ayam kampung hangat yang langsung menyerbu indra penciuman.
"Tenang saja, Nadia. Aku tidak datang untuk merebut Raka kok!" ucap Kirana sambil terkekeh renyah. "Aku ke sini selain membawa soto buatan Kakek sebagai ucapan terima kasih karena Raka sudah menyelamatkan nyawanya, juga ada satu hal penting yang ingin kubicarakan."
Nadia mengerjap beberapa kali, pipinya mendadak bersemu merah karena merasa malu sendiri atas sikap defensifnya. Ia melirik sekilas ke arah Raka, yang justru duduk tenang sambil menahan senyum geli melihat tingkah cemburu kekasihnya itu.
"Hal penting apa, Kirana?" tanya Raka serius, menghentikan kegiatannya merapikan jarum perak.
Kirana menghela napas panjang, ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi cemas. "Ini soal sahabat baikku sekaligus rekan sekelasku di Fakultas Kedokteran, namanya Maya.
Sudah seminggu terakhir dia dirawat di ruang isolasi rumah sakit karena kondisi fisiknya terus memburuk secara misterius."
"Bukankah kau anak kedokteran? Kenapa tidak ditangani secara medis di rumah sakit?" tanya Nadia mulai tertarik, melupakan rasa cemburunya sejenak.
"Itulah masalahnya!" keluh Kirana frustrasi. "Secara klinis, hasil laboratorium, MRI, dan tes darah Maya bersih dari penyakit organik. Tapi tubuhnya mendadak lumpuh, matanya kerap membelalak kosong, dan yang paling mengerikan... suaranya berubah menjadi sangat berat dan menyeramkan setiap kali malam jumat atau jam-jam tertentu tiba. Ia sering meracau menggunakan bahasa kuno yang tidak ia kenal, dan kekuatannya menjadi berkali-kali lipat seperti bukan tenaga manusia biasa.
Para dokter mendiagnosisnya mengalami psikosis akut atau gangguan kejiwaan berat, tapi aku tahu persis Maya bukan orang seperti itu."
Raka terdiam sejenak. Pikirannya langsung melayang pada berbagai kasus spiritual dan warisan ilmu hitam yang kerap ia temui selama bertapa di Hutan Mandalagiri.
Gejala yang dituturkan Kirana bukanlah murni gangguan medis psikologis, melainkan indikasi kuat adanya energi negatif atau entitas gaib asing yang merasuki serta mengendalikan kesadaran tubuh Maya.
"Kau menduga ada sesuatu yang bersifat non-medis?" tanya Raka memastikan.
Kirana mengangguk ragu namun penuh harap. "Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal bagi anak kedokteran sepertiku, Raka. Tapi saat aku menunggunya semalam, suhu di ruangannya mendadak turun drastis, dan Maya berbisik dengan suara bukan miliknya, mengatakan bahwa ada yang 'mengurungnya' di dalam tubuhnya sendiri. Hanya kau satu-satunya orang berilmu yang kumintai tolong."
Nadia menoleh ke arah Raka, melihat sorot mata pemuda itu yang menyiratkan ketegasan. Rasa cemburu yang sempat singgah di hati Nadia kini sepenuhnya berganti menjadi rasa empati terhadap sahabat Kirana.
"Raka, jika memang itu ulah ilmu hitam atau makhluk halus yang mengendalikannya, kau harus menolong teman Kirana," ucap Nadia lembut, meletakkan tangannya di lengan Raka.
Raka berdiri perlahan, mengambil tas kecil berisi ramuan penawar dan jarum akupunktur khususnya. Ia menatap Kirana dengan tenang. "Baiklah, Kirana. Mari kita pergi ke rumah sakit sekarang. Kita lihat apa yang sebenarnya sedang mempermainkan tubuh sahabatmu itu."