Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Bletak.
Sebuah buah pinus kering berukuran besar tiba-tiba jatuh dan menghantam keras tepat di dahi Arga.
Pria itu mengaduh kesakitan dan terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang sambil mengusap dahinya yang berdenyut.
Huu.
Huu.
Hak.
Hak.
Suara tawa bernada mengejek dari puluhan kera terdengar menggema memenuhi udara di sekeliling Arga.
Hewan-hewan nakal itu perlahan mulai melempari Arga dengan ranting patah, buah liar yang sudah busuk, dan batu-batu kerikil.
"Pergi kalian dari sini dasar monyet sialan."
Arga mengibaskan obornya dengan brutal ke segala arah untuk melindungi kepalanya dari hujanan lemparan tersebut.
Namun jumlah kera yang sangat banyak membuat pria itu kelabakan dan kewalahan untuk menghindarinya sendirian.
Di tempat persembunyian yang jauh, Natasya membulatkan matanya melihat sang ayah diserang dengan sangat pengecut.
"Gaga, kita harus keluar dari sini dan menolong Ayah sekarang juga."
"Ayah bisa terluka parah kalau terus dilempari benda keras secara terus-menerus seperti itu."
"Tahan dirimu sebentar lagi, Natasya."
Gaga memblokir pergerakan tubuh gadis itu dan terus menatap lekat ke arah kawanan kera di atas pohon.
"Ada sesuatu yang terasa aneh dengan cara mereka menyerang ayahmu malam ini."
"Mereka biasanya tidak pernah berani menyerang manusia yang memegang api unggun secara terang-terangan seperti ini."
Sring.
Seekor kera jantan berukuran paling besar di kelompok itu tiba-tiba melompat turun dari dahan yang paling rendah.
Kera itu berayun sangat cepat menggunakan sebuah akar gantung dan melesat diam-diam ke arah punggung Arga.
Tanpa sempat disadari oleh Arga yang sedang sibuk menepis lemparan batu, kera besar itu langsung menendang tangan kiri pria tersebut dengan sangat keras.
Prak.
Tendangan yang sangat bertenaga itu mengenai tepat di pergelangan tangan Arga yang sedang mencengkeram obor bambu.
Rasa kebas yang luar biasa menyakitkan membuat genggaman tangan Arga terlepas seketika secara refleks.
Obor bambu itu terlempar bebas ke udara dengan api yang masih menyala terang melawan kegelapan.
Dengan gerakan akrobatik yang sangat lincah, kera besar itu menangkap gagang kayu obor tersebut langsung di udara.
Kera pencuri itu lalu berayun kembali ke atas pohon tinggi dan duduk santai di dahan yang aman dari jangkauan manusia.
"Tidak, cepat kembalikan oborku."
Arga berteriak histeris karena ia menyadari satu-satunya sumber cahaya pelindungnya telah dirampas secara paksa.
Ia mencoba melompat untuk memanjat pohon itu namun kulit batangnya yang berlumut licin membuatnya terus terjatuh kembali ke tanah.
Kik.
Kik.
Kik.
Kera besar itu melambaikan obor di tangannya ke kanan dan ke kiri seolah sedang dengan sengaja mengejek Arga yang bernasib malang.
Kera-kera lainnya bersorak gembira menepuk dada mereka merayakan keberhasilan sang pemimpin dalam mencuri barang berharga milik manusia.
Suasana di bawah pohon tempat Arga berdiri seketika berubah menjadi sangat gelap gulita bagaikan di dalam peti mati.
Cahaya bulan malam ini sama sekali tidak mampu menembus kanopi hutan yang sangat rapat di area tersebut.
Arga hanya bisa memegang goloknya dengan kedua tangan yang gemetar hebat sambil menyandarkan punggungnya ke batang pohon.
Grrr.
Grrr.
Suara geraman buas penuh kelaparan mulai terdengar bersahut-sahutan dari balik semak belukar di sekeliling Arga.
Mata-mata berwarna merah dan kuning terang yang tadinya patuh menjaga jarak kini mulai bergerak mendekat tanpa ragu sedikitpun.
Anjing-anjing liar kelaparan itu akhirnya tahu bahwa mangsa buruan mereka sudah tidak memiliki senjata api yang menakutkan lagi.
"Kali ini aku benar-benar akan mati membusuk di tempat ini."
Arga bergumam putus asa sambil memejamkan matanya pasrah menanti gigitan tajam serangan pertama dari hewan-hewan itu.
"Maafkan aku karena gagal membawa obatnya, Mira, Natasya."
"Gaga, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi dari ini."
Natasya berteriak pelan namun tegas sambil merosot turun dari punggung serigala raksasa sahabatnya itu.
"Aku sudah tidak peduli lagi kalau Ayah akan marah besar padaku, aku harus turun tangan menyelamatkannya sekarang juga."
"Aku yang akan mengurus anjing-anjing liar rendahan pengecut itu, Natasya."
Gaga menggeram rendah sambil memamerkan taringnya yang sangat panjang dengan mata kuning yang mulai menyala mematikan.
"Kamu urus saja kera-kera pencuri menyebalkan yang ada di atas pohon sana dengan caramu sendiri."
Auuuu.
Gaga melolong sangat panjang dan keras memecah keheningan mencekam di Hutan Hitam.
Suara lolongan serigala buas penguasa perbatasan itu bergema begitu kuat hingga membuat dedaunan di sekitar mereka bergetar.
Kawanan anjing liar yang baru saja hendak melompat menerkam Arga seketika menghentikan langkah kaki mereka secara serempak.
Mereka menoleh ke arah suara lolongan tersebut dengan telinga yang langsung turun merapat dan ekor yang terselip ketakutan di antara kedua kaki belakang.
Rasa gentar yang amat sangat langsung menyelimuti mental kawanan pemakan bangkai tersebut secara instan.
Wushhh.
Gaga melompat keluar dari tempat persembunyiannya seperti peluru dan mendarat dengan anggun tepat di depan Arga.
Serigala raksasa itu menggeram marah penuh ancaman ke arah kawanan anjing liar yang mencoba mencari masalah di wilayah kekuasaannya.
"Pergi kalian semua dari hadapanku sebelum aku merobek leher kalian satu per satu."
Suara geraman Gaga tentu saja tidak terdengar seperti susunan kata-kata yang jelas bagi telinga Arga atau bagi anjing liar di sana.
Namun insting membunuh yang dipancarkan secara sengaja oleh Gaga membuat anjing-anjing itu lari terbirit-birit ketakutan kembali ke dalam kegelapan hutan.
Arga membuka matanya perlahan dan terkejut setengah mati saat melihat sosok monster serigala raksasa telah berdiri membelakanginya.
Pria itu menempelkan punggungnya semakin erat ke batang pohon dengan golok yang diangkat ke depan dengan lengan bergetar.
"Jangan berani mendekat kepadaku, dasar monster."
"Ayah, tolong jangan serang dia dengan golok itu, dia itu adalah Gaga sahabatku."
Suara jernih khas anak perempuan tiba-tiba terdengar mengalun dari arah semak belukar gelap di sisi kiri.
Natasya berjalan keluar dengan langkah cepat mendekati ayahnya yang sedang dilanda ketakutan yang luar biasa.
"Natasya?"
Mata Arga terbelalak sangat lebar seolah sedang melihat hantu saat mendapati putri kecilnya muncul entah dari mana.
"Apa yang sedang kamu lakukan di tempat paling berbahaya di dunia ini, nak?"
"Aku menyusul diam-diam karena aku datang untuk menolong Ayah."