Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 — Tahun-Tahun yang Tumbuh Diam-Diam
Pagi pertama setelah mereka resmi pindah dan menetap di toko buku itu, segalanya terasa sangat berbeda bagi Maya.
Ketika kelopak matanya perlahan terbuka, hal pertama yang disambut oleh pandangannya bukanlah dinding kamar kontrakan lama yang kusam, mengelupas, dan berbau apak. Melainkan susunan kardus-kardus kokoh berisi tumpukan buku tua. Dari celah tirai pembatas kamar kecil itu, beberapa punggung rak kayu yang menjulang tinggi tampak mengintip, seolah mengucapkan selamat pagi.
Maya duduk perlahan di atas kasur tipisnya. Ia mengusap kedua matanya yang masih dibebani sisa kantuk, lalu seulas senyum tulus perlahan merekah di wajahnya yang mungil.
Ia benar-benar tinggal di sini. Di tempat ini. Bersama ibunya. Di sebuah toko buku yang dipenuhi ribuan cerita.
Tanpa membuang waktu, Maya turun dari tempat tidur. Ia melipat selimut pudar miliknya dengan sangat rapi, lalu melangkah keluar dari balik tirai.
Clara sudah berada di bagian depan toko. Pintu geser utama baru saja dibuka lebar-lebar. Udara pagi yang masih sejuk berembus masuk, membawa serta aroma embun dan sayup-sayup deru mesin kendaraan dari jalan raya.
“Ibu,” sapa Maya dengan suara pelan.
Clara menoleh dari balik meja kasir. Gurat kelelahan masih tersisa di wajahnya, namun tak sekeras biasanya. “Kamu sudah bangun?”
“Iya, Bu.”
“Cuci muka dulu di belakang.”
Maya mengangguk patuh. Setelah membersihkan diri dan kembali ke depan, Clara segera menyodorkan sebilah sapu ijuk kepadanya.
“Bersihkan bagian depan. Jangan sampai ada debu yang tersisa di sela-sela rak,” perintah Clara.
“Iya, Bu!”
Maya langsung mengambil sapu itu dan mulai bekerja dengan penuh semangat. Sejak hari itu, kehidupan mereka mulai menemukan polanya sendiri—sebuah ritme yang mengalir tenang layaknya sungai kecil. Pagi hari dihabiskan untuk membuka toko; Maya menyapu lantai dan membersihkan debu di rak, sementara Clara menata meja kasir dan mencatat barang masuk. Siang hari, ketika matahari berada di puncaknya dan toko sepi pengunjung, Maya akan tenggelam dalam bacaannya. Sore harinya, ia kembali membantu melayani jika ada pembeli. Dan saat malam tiba, mereka makan malam dengan menu sederhana di ruangan belakang, lalu beristirahat.
Hari demi hari berganti. Minggu demi minggu berlalu bergulung menjadi bulan. Dan tanpa mereka sadari, waktu mulai berlari.
Di antara deretan rak-rak buku yang berdebu itu, Maya menemukan sebuah semesta yang sama sekali baru.
Pada awalnya, ia hanya mampu mengeja kata-kata sederhana dengan suara yang terbata-bata. Kemudian, ia mulai bisa merangkainya menjadi kalimat-kalimat pendek. Perlahan namun pasti, ia sanggup membaca satu paragraf utuh tanpa terhenti.
Setiap kali ia menemukan kata atau kalimat yang tidak ia mengerti, Maya tidak pernah langsung menyela atau mengganggu ibunya. Ia menyimpan pertanyaan itu baik-baik di dalam kepalanya, menunggunya dengan sabar sampai Clara terlihat tidak sedang sibuk dengan catatannya.
“Ibu,” panggil Maya suatu siang.
“Apa?” sahut Clara tanpa mengangkat wajah dari buku besarnya.
“Ini... maksudnya apa?”
Clara mengalihkan pandangannya, menatap kalimat di buku yang disodorkan Maya. “Baca dulu kalimat sebelumnya dari titik.”
Maya menuruti perintah itu, membaca kalimatnya dengan suara yang cukup lancar. Clara mendengarkan, lalu ujung pulpennya menunjuk pada satu kata spesifik. “Yang ini, kamu tahu artinya?”
Maya menggeleng pelan.
“Itu artinya bekerja keras untuk mencapai sesuatu.”
“Oh...” gumam Maya. Ia kemudian mengulang kalimat tersebut di dalam kepalanya, menyatukannya dengan arti yang baru saja diberikan Clara. Kini, kalimat itu menjadi sangat masuk akal baginya.
Clara kembali menunduk pada pekerjaannya. Sementara Maya, dengan senyum kecil yang menghiasi bibirnya, kembali melanjutkan penjelajahannya di lautan aksara.
Begitulah dinamika yang terjadi hampir setiap hari. Clara tidak pernah duduk formal layaknya seorang guru di depan kelas. Ia tidak pernah sekali pun secara lisan mengakui bahwa ia sedang mengajari putrinya. Namun sedikit demi sedikit, Maya belajar. Dan semakin banyak buku yang ia serap, semakin banyak pula rasa ingin tahu yang tumbuh di kepalanya.
Hingga suatu sore, sebuah ujian kecil datang. Maya sedang bertugas membantu menghitung uang kembalian untuk seorang pelanggan yang baru saja membeli dua jilid novel bekas.
Maya menatap lembaran uang di tangannya. Dahinya berkerut serius saat ia mencoba menghitung selisih harganya menggunakan bantuan jari-jari kecilnya. Setelah yakin, ia menyerahkan uang kembalian itu. Pelanggan tersebut mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu melangkah pergi.
Begitu pelanggan itu keluar, Clara yang sejak tadi mengawasi dari jauh melirik sisa uang di laci.
“Maya,” panggil Clara dengan nada datar.
Maya langsung menoleh, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang salah. “Iya, Bu?”
“Kemarilah.”
Maya mendekat dengan langkah ragu. Clara mengambil beberapa lembar uang dari laci dan meletakkannya di atas meja.
“Tadi, hitungan kembalianmu salah.”
Wajah Maya langsung memucat seputih kertas. Rasa bersalah dan ketakutan menyergapnya. “M-maaf, Bu...”
“Tidak apa-apa,” sela Clara tenang. Sebuah kalimat yang tak pernah Maya bayangkan akan keluar dari mulut ibunya di saat ia berbuat salah.
Maya menatap ibunya dengan mata membulat. Clara menunjuk lembaran uang di atas meja.
“Coba kamu perhatikan. Kalau harga barangnya segini, dan pembelinya membayar dengan uang segini... berapa seharusnya kembalian yang harus kamu berikan?”
Maya menelan ludah. Ia mulai menghitung kembali di dalam kepalanya. “Ini...?” tebaknya ragu.
Clara menggeleng. “Hitung lagi.”
Clara berdiri di sana, diam menunggu. Ia tidak memarahi anak itu. Ia tidak mendesah kesal, apalagi merampas uang itu dari tangan Maya dengan kasar. Ia memberikan ruang dan waktu bagi otak anak itu untuk menemukan jalannya sendiri.
Sampai akhirnya, mata Maya berbinar. Ia menyodorkan susunan uang yang berbeda. “Yang ini, Bu.”
Clara meliriknya, lalu mengangguk tipis. “Benar.”
Senyum lega yang luar biasa merekah di wajah Maya. Namun Clara belum selesai; wanita itu menyodorkan studi kasus yang baru. “Coba hitung yang ini.”
Maya kembali menghitung. Salah. Ia menghitung lagi. Benar. Diberi soal baru lagi. Salah. Dihitung lagi. Benar.
Proses itu terus berulang sampai akhirnya logika matematika dasar itu benar-benar tertanam di kepala Maya. Sejak hari itu, Clara tidak lagi membatasi tugas Maya hanya untuk menyusun buku atau menyapu lantai. Ia mulai memercayakan anak itu untuk menghitung uang transaksi.
Maya belajar secara langsung dari kerasnya pekerjaan. Ia belajar dari tumpukan buku yang dibacanya. Ia belajar dari setiap kesalahan yang ia buat.
Dan Clara... tanpa pernah menyadarinya sendiri, tengah menanam dan menyirami sebuah benih yang di masa lalu justru sangat ingin ia hancurkan dan ratakan dengan tanah: masa depan anak itu.
Suatu malam di pertengahan tahun, hujan turun mengguyur kota dengan sangat deras.
Toko sudah dikunci dan ditutup rapat dari dunia luar. Di bagian belakang, Maya duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin, memeluk kedua kakinya sambil membaca sebuah buku cerita. Tak jauh darinya, Clara sedang duduk melipat pakaian yang baru kering.
Hujan menghantam atap seng dengan konstan. Tik. Tik. Tik. Suara berisik itu justru membuat keheningan di dalam ruangan terasa semakin pekat dan mengisolasi.
Maya membaca beberapa halaman lagi, menghentikan gerakannya, lalu mendongak menatap ibunya.
“Ibu.”
“Hm?” sahut Clara tanpa menghentikan gerakan tangannya melipat baju.
“Kalau orang punya banyak uang... apakah dia sudah pasti bahagia, Bu?”
Tangan Clara mendadak berhenti di udara. Ia terdiam selama beberapa detik sebelum bertanya pelan, “Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“Karena di buku cerita ini, orang-orang kayanya punya rumah yang sangat besar dan mobil yang bagus.”
“Lalu?”
“Tapi mereka tetap saja menangis dan bertengkar setiap hari.” Maya menatap sampul bukunya dengan raut bingung. “Berarti... punya rumah besar itu tidak bisa membuat orang bahagia ya, Bu?”
Clara kembali melanjutkan melipat pakaian, meskipun gerakannya kini jauh lebih lambat. “Tidak selalu.”
“Kalau begitu... apa sebenarnya yang membuat orang bisa bahagia?”
Pertanyaan itu melayang di udara, terlalu polos namun begitu mendalam. Clara tidak segera menjawab. Bukan karena ia tidak mau, melainkan karena ia sendiri tidak tahu apa jawabannya. Hidupnya terlalu lama digerogoti oleh dendam dan kehilangan.
Maya menunggu dengan sabar. Akhirnya, suara serak Clara memecah suara hujan. “Tidurlah, kalau bacaanmu sudah selesai.”
Maya tidak mendesak. Ia mengangguk patuh. “Baik, Bu.”
Gadis kecil itu kembali menundukkan wajahnya ke arah buku. Clara ikut menunduk, meneruskan pekerjaannya. Tetapi, meskipun raganya ada di ruangan itu, pikirannya sudah terbang melanglang buana, terseret ke masa lalu yang paling menyakitkan.
Malam semakin larut merayap menuju dini hari. Maya sudah lama terlelap di kamarnya.
Namun Clara masih terjaga. Ia duduk sendirian di ruangan belakang toko yang hanya diterangi oleh sebuah lampu meja kecil yang temaram.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, dadanya terasa sesak seolah dihimpit batu besar. Clara segera meletakkan tangannya di dada. Napasnya berubah menjadi pendek dan memburu. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di pelipisnya.
Ini bukan kali pertama. Sudah beberapa kali perasaan seperti ini datang mencekiknya. Serangan panik ini selalu muncul setiap kali malam terasa terlalu sunyi, setiap kali hujan turun mengingatkannya pada malam kelam di rumah sakit, dan setiap kali pikirannya kembali terseret kepada bayangan Elena.
Sudah berapa lama waktu berlalu? Berapa tahun lagi aku harus hidup seperti ini? Apakah Elena masih mengingat wajahku? Apakah anak itu pernah menangis mencariku? Apakah dia pernah memanggil namaku di tengah malam?
Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu merobek-robek kewarasannya, membuat napasnya semakin berat dan tersengal.
Clara memejamkan matanya erat-erat. “Elena...” Suaranya bergetar hebat, hancur berkeping-keping. Air mata yang panas jatuh menitik dari sudut matanya. Ia menunduk dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya yang gemetar.
Di tengah isak tangisnya yang tertahan, terdengar suara langkah kaki kecil mendekat.
Clara tersentak. Ia segera mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menutupi jejak-jejak kerapuhannya.
Maya sudah berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan raut wajah cemas. “Ibu?”
Clara membuang muka, tidak menjawab.
Maya melangkah mendekat, matanya yang jernih langsung menangkap mata ibunya yang memerah. “Ibu sakit?”
“Tidak.”
“Tapi... Ibu menangis.”
“Ibu bilang tidak, Maya.”
Maya terdiam. Ia tidak membantah, tetapi ia juga tidak berbalik pergi. Gadis itu berjalan perlahan menuju meja kecil, menuangkan air putih dari teko ke dalam sebuah gelas, lalu membawanya kembali ke hadapan ibunya.
“Minum dulu, Bu,” bujuknya lembut.
Clara menatap gelas itu dengan pandangan kabur. Tangannya masih gemetar saat ia meraih gelas tersebut dan meneguk airnya perlahan.
Maya kemudian duduk bersila tepat di samping ibunya. Ia tidak bertanya lagi. Ia tidak memaksa Clara menceritakan beban apa yang sedang dipikulnya. Ia hanya duduk di sana, menemani ibunya menembus malam yang dingin.
Beberapa menit berlalu. Napas Clara perlahan-lahan mulai teratur dan membaik.
Maya kemudian mencondongkan tubuhnya ke samping, lalu menyandarkan kepalanya dengan sangat hati-hati ke bahu Clara.
“Ibu jangan takut,” bisik Maya tulus, suaranya mengalahkan gemuruh hujan.
Clara membeku di tempatnya.
“Aku di sini, Bu.”
Kalimat sederhana dan murni itu justru bekerja seperti belati tajam yang kembali menusuk ulu hati Clara. Ia menunduk, menatap pucuk kepala anak yang menyandar di bahunya.
Anak ini... anak yang tidak tahu apa-apa. Anak yang tidak pernah tahu mengapa Clara sering kali membentak dan menatapnya penuh kebencian di masa lalu. Anak yang tidak sadar bahwa keberadaannya di tempat kumuh ini adalah akibat dari sebuah kejahatan yang merampas hak aslinya.
Maya hanya tahu satu kebenaran sederhana: ibunya sedang bersedih, dan ketika ibunya bersedih, ia harus ada di sana untuk menemaninya.
Clara memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha menelan duri di tenggorokannya. “Tidurlah, Maya. Sudah malam.”
Maya menggeleng pelan. “Nanti dulu, Bu.”
“Kenapa?”
“Kalau Ibu masih sedih... biarkan aku menemani Ibu sebentar lagi.”
Clara terdiam, membisu total. Maya tidak akan pernah menyadari bahwa kalimat yang diucapkannya barusan jauh lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan fisik. Karena selama bertahun-tahun Clara jatuh bangun dalam kesusahan yang paling menyiksa... memang hanya anak inilah satu-satunya manusia yang selalu setia berada di sisinya.
Malam itu, setelah Maya kembali tertidur di kamar kecilnya, Clara melangkah masuk dengan sangat perlahan.
Ia berdiri di samping tempat tidur. Maya tidur dengan wajah yang begitu damai, satu tangannya masih menggenggam erat ujung selimut pudar yang melindunginya dari hawa dingin.
Clara memandangi wajah itu cukup lama. Kemudian, seolah digerakkan oleh insting yang tak bisa ia bendung, tangannya perlahan-lahan terangkat ke udara. Ia sangat ingin menyentuh rambut Maya. Mengusapnya dengan kasih sayang, meski hanya sekali seumur hidup.
Tangannya sudah melayang, nyaris menyentuh pucuk kepala anak itu.
Namun di detik terakhir, gerakan itu terhenti. Tangannya menggantung kaku di udara.
Jangan, bisik sisi gelap yang menguasai pikirannya. Ini darah daging musuhmu. Darah daging Vera. Jangan pernah terlalu dekat.
Namun, sebuah suara nurani yang jauh lebih jujur bangkit melawan di dalam hatinya. Tapi dia tidak melakukan kesalahan apa pun padamu, Clara. Dia bahkan tidak tahu apa yang telah kau lakukan padanya.
Clara memejamkan matanya rapat-rapat. Pertarungan batin itu membuat air matanya kembali luruh. Ia menarik tangannya mundur, mengepalkannya di depan dada.
“Maaf...”
Satu kata itu keluar terbisik sangat pelan, lenyap tersapu udara sebelum sempat menyentuh telinga Maya. Clara berdiri di sana untuk beberapa saat lagi, sebelum akhirnya berbalik, keluar dari kamar, dan menutup pintunya tanpa suara.
Tahun pertama di toko buku itu berlalu tanpa terasa.
Maya semakin lancar membaca buku apa pun yang ia temukan. Di tahun-tahun berikutnya, ia mulai belajar menulis dengan sangat rapi. Ia mampu memahami isi buku-buku tebal yang dahulu hanya bisa ia kagumi sampulnya saja. Kadang-kadang, ia menemukan buku ensiklopedia atau sains yang bahasanya jauh lebih rumit, namun ia tetap mencoba menelaahnya tanpa menyerah.
Melihat hal itu, Clara diam-diam mulai menyisihkan sedikit uang untuk membelikan beberapa buku tulis bekas yang masih kosong, dan alat tulis yang sudah tidak terjual di pasaran. Tidak banyak, ia memberikannya satu demi satu.
Ketika Maya bertanya dengan mata berbinar dari mana buku-buku itu berasal, Clara selalu menjawab dengan wajah datar, “Dari sisa stok toko.”
Maya tidak pernah peduli dari mana asalnya. Ia selalu tersenyum bahagia. “Terima kasih banyak, Ibu.”
Clara hanya merespons dengan anggukan singkat. Namun, setiap kali malam tiba dan ia memeriksa kamar Maya... Clara akan melihat buku-buku itu tersusun rapi di samping tempat tidur putrinya. Dan entah mengapa, pemandangan itu selalu berhasil memberikan sedikit rasa lega yang menyejukkan hatinya.
Waktu adalah penenun takdir yang paling sunyi. Ia terus berjalan, mengubah segala sesuatu yang dilewatinya.
Maya tumbuh dari seorang gadis cilik menjadi seorang remaja. Tubuhnya mulai lebih tinggi dan semampai. Rambut hitamnya semakin panjang dan selalu diikat rapi di belakang kepalanya. Tulisan tangannya berubah menjadi elegan, dan ia kini sudah sepenuhnya mampu menghitung uang pemasukan toko serta membuat pembukuan tanpa bantuan Clara sedikit pun.
Bahkan, beberapa pelanggan setia mulai sangat mengenalnya.
“Anak gadismu ini pintar dan cekatan sekali, Bu,” puji seorang pria tua suatu sore setelah Maya membantunya mencarikan buku yang sulit ditemukan.
Maya hanya menundukkan wajahnya, tersenyum malu-malu mendengar pujian itu.
Clara, yang berdiri tak jauh dari sana sedang menyusun setumpuk novel, mendengar kalimat tersebut dengan jelas. Ia tidak pernah ikut memuji putrinya di depan orang lain. Tetapi, ia juga tidak pernah lagi menyangkalnya atau merendahkannya.
Saat seorang pelanggan lain kembali memujinya di hari yang berbeda, berkata, “Anak ini rajin sekali membantu ibunya.”
Clara menghentikan gerakannya menyusun buku. Ia melirik sekilas ke arah Maya, lalu menatap pelanggan itu dan menjawab singkat, “Memang.”
Hanya satu kata. Namun, telinga Maya menangkapnya dengan sempurna. Gadis itu menoleh ke arah ibunya dengan mata yang sedikit melebar. Pandangan mereka bertemu selama sedetik, sebelum Clara dengan cepat memalingkan wajah dan kembali sibuk dengan buku-bukunya.
Maya tersenyum sangat manis. Ia tidak mengatakan apa-apa, membiarkan kehangatan kecil itu memenuhi dadanya.
Pada suatu malam yang sangat sepi, ketika toko sudah lama ditutup, Clara duduk sendirian dan membuka laci kecil di meja kerjanya.
Kotak kayu itu masih berada di sana, setia menyimpan sejarah hidupnya. Ia membukanya perlahan. Barang-barang milik Elena masih tersimpan rapi tanpa cacat di dalamnya. Pita merah muda. Gelang bayi. Mainan kecil. Kenangan-kenangan lama yang menyesakkan dada.
Clara menyentuh benda-benda suci itu satu per satu. Dan seperti biasa, dadanya kembali sesak oleh kerinduan yang membara. Elena masih berdiam di sana, tetap menjadi nama yang terukir paling dalam dan tak tersentuh di dasar hatinya. Hal itu tidak ada yang berubah.
Namun... di antara semua benda kenangan masa lalu itu, terdapat satu benda yang berbeda.
Sebuah lukisan sederhana yang digambar di atas kertas kusam. Lukisan seorang ibu dan anak yang saling menggenggam tangan di bawah sinar matahari. Lukisan buatan Maya.
Clara menyentuh permukaan kertas itu dengan jari telunjuknya. Kali ini, ia tidak lagi bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa benda itu ada di sana, berdampingan dengan harta karun Elena. Ia tidak lagi menyangkalnya. Ia hanya memandanginya dalam diam, mengusap debu imajiner di atasnya, lalu menutup kotak itu dengan perlahan.
Clara mungkin belum sepenuhnya menyadari bahwa tahun-tahun terakhir ini telah mengubah sesuatu yang sangat mendasar di dalam jiwanya. Maya tidak lagi menjadi tempat bagi Clara untuk membuang seluruh racun dan dendam masa lalunya. Ketika Maya melakukan kesalahan, Clara mengajarinya. Ketika Maya jatuh sakit, Clara merawatnya dengan cemas. Dan ketika Maya terlihat sangat kelelahan, Clara yang akan menyuruhnya berhenti untuk beristirahat.
Di tempat yang paling dalam di hati Clara, Elena memang masih belum tergantikan. Maya belum mengambil alih tempat utama itu. Belum.
Tetapi mungkin saja... tanpa pernah disadari atau diakui oleh Clara... anak gadis itu diam-diam sudah mulai membangun tempatnya sendiri. Sebuah tempat yang kokoh, yang suatu hari nanti mungkin akan menjadi terlalu besar untuk bisa diabaikan atau disingkirkan oleh siapa pun.
Dan waktu... terus berjalan tanpa ampun. Bergerak maju membawa Maya semakin dekat menuju usianya yang kelima belas tahun.