Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadwal Baru dan Langkah Tersembunyi
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar Clyrine, memantul di layar ponsel yang dipegangnya dengan kedua tangan. Mengabaikan pegal-pegal yang masih tersisa di bahu dan lengannya, jemari Clyrine bergerak lincah menulisi pesan untuk Damien.
Clyrine: Kak, hari apa aja Kakak bisa ngajarin gue tinju sama belajar pelajaran sekolah?
Di tempat lain, di dalam sebuah unit penthouse di Aurelia Residences—apartemen mewah berarsitektur modern di kawasan pusat kota—Damien baru saja menyelesaikan secangkir kopi hitamnya. Di usianya yang baru 21 tahun, Damien sebenarnya sedang berada di akhir semester 6 jurusan International Business di kampus ternama The London Academy of Arts & Sciences. Di balik statusnya sebagai mahasiswa akhir, belum ada satu orang pun di keluarganya yang tahu bahwa ia telah mendirikan sebuah perusahaan konsultan investasi skala kecil yang perlahan mulai berkembang pesat.
Ponsel di meja bertaut bunyi. Damien membaca pesan Clyrine, lalu mengetik balasan dengan tenang.
Kak Damien: Senin, Kamis, Minggu.
Clyrine yang melihat balasan cepat itu langsung duduk tegak di atas kasurnya.
Clyrine: Trus pembagiannya gimana, Kak? Hari apa gue belajar tinju, trus hari apa belajar sekolah?
Kak Damien: Senin buat latihan tinju di sasana. Kamis sama Minggu buat belajar pelajaran sekolah.
Kak Damien: Tapi untuk belajar sekolah, kemungkinan besar bakal sering di rumah lo. Gue perlu izin dulu sama orang tua lo biar nggak ada fitnah atau masalah baru.
Clyrine tertegun membaca pesan terakhir itu. Wajahnya meringis membayangkan Damien harus berhadapan langsung dengan Tuan dan Nyonya Rexander untuk meminta izin mengajarinya di rumah.
Clyrine: Lo yakin mau izin ke daddy sama mommy gue, Kak? Mereka tuh agak ribet...
Kak Damien: Gue yang urus. Lo cukup fokus sekolah dan siap-siap buat latihan hari Senin nanti.
Clyrine tersenyum tipis menatap layar ponselnya. Keputusan tegas Damien selalu berhasil membuatnya merasa aman, seolah pria itu punya cara untuk menyelesaikan segala kerumitan yang ada di hidupnya.
Keesokan paginya, suara alarm dari ponsel Clyrine berderit nyaring. Setelah mandi dan mengenakan seragam Rexanswood Academy dengan sedikit lebih rapi—meski dasinya tetap sengaja ia longgarkan—Clyrine melangkah keluar dari kamarnya menuju lantai bawah.
Begitu ia menuruni anak tangga terakhir, aroma harum kopi pekat dan roti panggang mentega langsung tercium dari arah ruang makan.
Clyrine menghentikan langkahnya sejenak saat melihat pemandangan di meja makan utama. Seluruh anggota keluarga Rexander berkumpul lengkap pagi ini—sebuah pemandangan langka yang biasanya justru membuat suasana terasa kian menyesakkan.
Di ujung meja duduk sang kepala keluarga, Charles Rexander, pria paruh baya berwajah tegas dengan setelan jas rapi yang tengah membaca koran bisnis.
Di sebelah kanannya, Runica—mommynya—sedang menuangkan teh hangat, sementara Alaric dan Claire duduk berdampingan. Claire tampak anggun mengenakan kardigan pastel, melemparkan senyum manis begitu melihat kehadiran Clyrine.
"Pagi, Clyrine," sapa Runica lembut, meski matanya menatap sekilas seragam Clyrine yang kurang rapi dengan helaan napas kecil. "Sini, duduk. Sarapan dulu sebelum ke sekolah."
Clyrine menarik kursi di sudut yang agak jauh dari Claire, lalu mendudukkan dirinya dalam diam. Ia hanya mengambil selembar roti tawar dan mengolesinya dengan selai stroberi tipis-tipis.
"Bagaimana sekolahmu, Clyrine?" suara berat Charles menggelegar dari ujung meja, tanpa menengadah sedikit pun dari koridor bisnisnya.
"Saya dengar dari pihak sekolah minggu lalu kamu sempat membuat keributan lagi."
Clyrine menelan ludahnya yang terasa kelat. Belum sempat ia membuka mulut untuk membela diri, Claire langsung mendahului dengan nada sok manis.
"Ah, Daddy... Clyrine kemarin cuma salah paham sama temen-temen kok," bela Claire lembut, namun sengaja menyiratkan kesan meremehkan. "Tapi untunglah kemarin ada Kak Damien yang datang ke sekolah buat nolongin dia. Jadi masalahnya cepat selesai."
Mendengar nama Damien disebut, Alaric yang sedang menyesap kopinya langsung menengadah menatap adiknya. Charles pun melipat koridor di tangannya, menaikkan sebelah alisnya ke arah Clyrine.
"Damien Vance?" tanya Charles dengan nada menyelidik. "Untuk apa sahabat Alaric itu datang mengurus urusan sekolahmu?"
Clyrine menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang dan tidak tersulut emosi di hadapan sang kepala keluarga.
"Iya, Dad," jawab Clyrine datar, menatap lurus ke arah piringnya. "Kak Damien—teman Kak Alaric—dia yang bantu. Lagi pula, guru nggak bisa asal kasih hukuman tanpa bukti yang jelas."
Suasana meja makan mendadak hening sejenak. Alaric menatap adiknya dengan sebelah alis terangkat, merasa aneh mendengar Clyrine bisa membela diri dengan argumen logis seperti itu.
Biasanya, adiknya hanya akan diam membisu atau marah-marah jika disidang oleh Charles.
Charles Rexander terdiam beberapa detik, meneliti ekspresi wajah putri bungsunya. Pria paruh baya itu menghembuskan napas pelan, melipat koridor bisnisnya, lalu meletakkannya di atas meja.
"Bagus kalau kamu mulai mengerti logika, Clyrine," ujar Charles dengan nada suara yang melunak—sebuah gestur langka yang hampir tidak pernah ia tunjukkan. "Tapi jangan pernah ulangi lagi membuat keributan yang menyeret nama baik keluarga Rexander."
Charles mengambil cangkir tehnya, meneguknya sedikit, lalu menatap Clyrine lekat-lekat.
"Belajar yang benar. Kalau kamu berhasil lulus sekolah dengan nilai yang bagus dan membanggakan, Daddy akan kasih kamu hadiah," lanjut Charles tegas.
Clyrine tertegun. Janji hadiah dari daddynya adalah hal terakhir di dunia yang pernah ia harapkan. Selama ini, standar kesuksesan di rumah itu hanya milik Claire.
Di sebelah Charles, senyum manis di wajah Claire tampak sedikit menegang. Sudut bibirnya berkedut menahan rasa tidak suka mendengar daddynya mulai melunak pada Clyrine.
Sebelum sempat Clyrine menikmati kelegaan kecil itu, Claire tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menyunggingkan senyum paling manis yang ia miliki ke arah Charles.
"Dad, kalau gitu biar aku aja yang bantu ajarin Clyrine di rumah!" tawar Claire antusias.
"Nilai-nilaiku kan selalu jadi yang terbaik di sekolah. Biar Clyrine nggak ketinggalan pelajaran."
Clyrine langsung mendengus pelan, menatap Claire dengan tatapan tajam penuh kejengkelan. "Hmm, Dad... aku nggak mau diajarin Claire," tolak Clyrine tanpa ragu, suaranya terdengar ketus. "Nanti Kak Damien yang jadi guru les-ku. Bahkan, nanti dia sendiri yang bakal datang langsung buat izin ke Daddy."
Ucapan santai Clyrine itu seketika membuat seisi meja makan terperanjat kecil. Alaric, yang sedang menyesap kopi terakhirnya, hampir tersedak. Pria berusia 21 tahun itu langsung menatap adiknya dengan kening berkerut dalam, merasa benar-benar bingung. Sejak kapan Damien mau repot-repot jadi guru les privat buat anak SMA?
Namun, Alaric memilih tidak ambil pusing. Pikirannya sederhana: Damien adalah sahabat baiknya, jadi wajar saja kalau pria itu berbaik hati menolong adiknya demi mendongkrak nilai sekolah.
Charles Rexander tampak cukup terkesan. Pria paruh baya itu mengangguk setuju. "Bagus kalau begitu. Kalau memang Damien bersedia membimbingmu, manfaatkan kesempatan itu dengan benar, Clyrine."
Runica, sang mommy, ikut tersenyum hangat melihat perubahan atmosfer meja makan pagi itu. "Bagus kalau kamu mau berubah dan serius belajar, Cly."
"Iya, Mom," jawab Clyrine singkat dengan senyum tipis penuh kemenangan.
Melihat perhatian kembali berpusat pada Clyrine, mata Claire menyipit tajam. Ego dan rasa penasarannya bergejolak hebat. Kalau Damien Vance—pria tampan dan berwibawa yang selama ini mati-matian ia incar—bisa datang ke rumah mereka sebagai guru les Clyrine, maka ia harus ikut ambil bagian.
"Mom, kalau gitu aku boleh juga nggak belajar sama Kak Damien?" potong Claire cepat dengan nada merajuk manja. "Kan seru kalau kita belajar bareng-bareng."
Runica menatap Claire sejenak, lalu tersenyum maklum. "Coba kamu ngomong dulu sama Nak Damien, dia mau atau nggak repot-repot ngajarin dua orang sekaligus."
Claire segera menoleh ke arah Alaric dengan mata berbinar penuh harap. "Kak Al! Nanti tolong bilangin ya ke Kak Damien, bilang aku mau ikut belajar juga sama dia!"
Alaric menghela napas malas, melirik adiknya sekilas sebelum mengangguk. "Iya, nanti gue bilangin. Jangan rewel."
Mendengar jawaban itu, Claire menyunggingkan senyum penuh arti. Kalau gue ikut belajar, gue bakal pastikan Kak Damien lihat siapa yang jauh lebih layak bersanding dengannya—bukan si pembuat onar itu.
Alaric berdiri dari kursinya, merapikan jas kampusnya. "Udah, ayo sekarang Kakak antar kalian berdua ke sekolah. Sesudah itu Kakak harus langsung ke kampus."
Clyrine dan Claire kompak berdiri. Saat berjalan beriringan menuju mobil di garasi, Clyrine menyempatkan diri melirik Claire sekilas dengan senyum miring mengejek—membuat Claire mendengus kesal dan membuang muka. Rencana besar sudah tersusun di kepala masing-masing, dan hari-hari tenang di kediaman Rexander tampaknya akan segera berakhir.
"Baik, Dad," jawab Clyrine pelan, menyembunyikan kebingungannya di balik seulas senyum tipis.