Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Di Galeri
Hari pertama Isyana kembali sebagai Nyonya Alkantara tidak semanis bayangannya di pesawat kemarin.
Galeri di lantai 2 kediaman utama Alkantara yang Brayen hadiahkan semalam memang indah sekali. Dinding putih bersih, lampu sorot hangat yang menyorot tiap lukisan, lantai marmer yang mengkilap. Lukisan-lukisan Isyana yang dulu hanya tergulung dan tersimpan di pojok apartemen kecilnya, kini tergantung anggun dengan bingkai kayu jati. Di tengah ruangan ada tulisan emas dengan lampu: _ISYANA'S GALLERY_.
Isyana berdiri di tengah galerinya sendiri. Masih pakai piyama sutra krem dan rambut yang masih agak berantakan habis tidur, tapi matanya berkaca-kaca bahagia. Kunci kecil dengan gantungan tulisan _Isyana's Gallery_ masih dia genggam erat. Kunci yang semalam dia bawa tidur di dada Brayen.
"Masyaallah... ini beneran punya aku, Mas?" bisiknya lirih.
Brayen datang dari belakang, sudah rapi pakai kemeja putih yang lengan nya digulung, wangi parfum mahal. Dia memeluk pinggang Isyana dari belakang, dagunya diletakkan di bahu Isyana yang harum.
"Punya kamu. Sepenuhnya. Sertifikat ruangan ini aja atas nama kamu," bisik Brayen, "Nanti kamu bisa bikin pameran pertama kamu di sini. Undang temen-temen model kamu, undang pelukis lain. Mas yang biayain semua."
Isyana berbalik. Matanya sudah banjir air mata haru. Dia mau memeluk Brayen erat, tapi langkahnya terhenti karena suara high heels yang naik dari tangga marmer. Suara yang keras dan percaya diri.
"Oh wow... jadi ini galeri yang heboh itu? Yang katanya Brayen bangun semalam jadi buat istrinya?"
Seorang wanita muncul di pintu galeri. Cantik, tinggi semampai, rambut panjang di-blow sempurna, dress bodycon merah menyala yang ketat, tas Hermes Birkin orange, dan kacamata hitam yang ditaruh di kepala. Cantiknya tajam, mahal, tapi senyumnya tidak tulus sama sekali.
Brayen langsung menegakkan badan. Pelukannya di pinggang Isyana mengencang jadi protektif. Rahangnya mengeras.
"Carla. Kenapa kamu di sini?" suara Brayen langsung berubah dingin. Dingin yang Isyana jarang dengar.
Carla. Isyana langsung ingat. Nama itu pernah disebut Mama Alkantara saat makan malam. Mantan tunangan Brayen. Anak dari rekan bisnis Alkantara Group. Model senior yang dulu sempat digosipkan akan menikah dengan Brayen sebelum Brayen dijodohkan dengan Isyana.
Carla tersenyum, matanya menyapu Isyana dari atas ke bawah. Dari piyama sutra Isyana yang sederhana, ke wajah Isyana yang tanpa makeup, ke kunci galeri di tangan Isyana. Tatapan menilai. Merendahkan.
"Hai Brayen. Lama gak ketemu. Kangen deh. Aku kesini mau ketemu Tante, sekalian dengar kabar kamu udah nikah sama... model juga ya? Aku kan sekarang kurator tamu di Jakarta Art Week, jadi penasaran dong sama galeri barunya Nyonya Alkantara."
Dia berjalan masuk tanpa dipersilakan. Mendekati salah satu lukisan Isyana. Lukisan pantai Maladewa yang Isyana lukis sendiri dari foto honeymoon mereka kemarin. Lukisan dengan warna biru dan jingga yang hangat.
Carla menyentuh ujung kanvas itu dengan ujung kuku merahnya yang panjang, "Hmm... ini lukisan kamu? Warnanya... agak norak ya? Agak terlalu terang. Komposisinya juga... ya, untuk ukuran galeri pribadi Alkantara, aku kira standarnya akan lebih tinggi. Lebih... berkelas."
Isyana membeku. Tangannya yang memegang kunci mengepal. Dadanya sesak. Kalau ini Isyana yang dulu, Isyana yang masih jadi model sampul yang sering dihina karena tidak punya backing, dia pasti langsung menunduk, minta maaf, dan lari ke kamar sambil nangis.
Insecure lamanya muncul lagi. Bisikan-bisikan lama muncul: _kamu cuma model kecil, kamu gak pantas jadi Nyonya Alkantara, kamu cuma beruntung_.
Tapi sebelum air matanya jatuh, Brayen sudah maju selangkah di depan Isyana. Badannya yang tinggi menghalangi Carla untuk menyentuh lukisan lagi.
"Jangan sentuh lukisan istri saya dengan tangan kamu, Carla," kata Brayen. Suaranya pelan tapi menusuk, semua orang di lantai itu bisa merasakan amarahnya, "Sekali lagi kamu sentuh, saya panggil security."
Carla terkejut. Dia menurunkan tangannya.
"Brayen, aku cuma kasih masukan profesional sebagai kurator-"
"Masukan profesional kamu tidak dibutuhkan di rumah saya," potong Brayen tegas tanpa ampun. Tangannya menarik Isyana merapat ke sisinya, merangkul pundaknya erat, "Dan galeri istri saya tidak butuh validasi dari kurator seperti kamu. Apalagi kurator yang galerinya sendiri sepi pengunjung bulan lalu."
Carla terdiam, wajahnya menahan malu karena disindir balik.
Lalu tatapannya beralih ke Isyana lagi. Senyum sinisnya keluar lagi.
"Isyana kan? Aku kenal kamu. Kamu kan dulu model di agency kecil itu? Yang sering jadi model katalog baju murah? Wah, hebat ya loncatan karirnya. Dari model katalog 500 ribu sekali foto, sekarang jadi Nyonya Alkantara yang punya galeri satu lantai. Cerita Cinderella banget."
Itu pukulan telak. Lebih telak dari hinaan soal lukisan.
Isyana merasakan lututnya lemas. Dia menunduk. Air matanya mulai menggenang.
Brayen mau membentak lagi, tapi dia menahan diri. Dia menatap Isyana. Lalu dengan gerakan lembut yang Isyana kenal dari Maladewa, dia mengangkat dagu Isyana pelan dengan jarinya. Memaksa Isyana menatap matanya.
"Berlian," bisik Brayen pelan, tapi cukup keras didengar Carla, "Kamu mau jawab sendiri, atau Mas yang hancurin dia sekarang?"
Isyana menatap mata Brayen. Mata yang selalu bilang _kamu aman, kamu berharga, kamu Berlian Mas_.
Isyana menarik napas panjang. Dia menghapus air matanya dengan punggung tangan. Lalu dia berdiri lebih tegak. Dia melepaskan pelukan Brayen pelan, maju selangkah sendiri.
Untuk pertama kalinya, dia tersenyum ke Carla. Senyum anggun. Senyum Nyonya Alkantara. Bukan senyum model kecil yang takut.
"Kak Carla, terima kasih sudah mampir dan kasih masukan," kata Isyana dengan suara lembut tapi jelas, tidak gemetar lagi, "Iya, aku memang dulu cuma model katalog. Model kecil yang dibayar murah. Aku gak malu sama itu. Karena dari kerja keras jadi model kecil itu, aku bisa beli kanvas pertama aku. Dari situ aku bisa bikin lukisan yang norak ini."
Isyana menatap lukisannya sendiri dengan bangga.
"Untuk lukisan saya yang norak ini, suami saya yang kasih nilai paling mahal di dunia. Dia bangunin satu lantai ini cuma untuk pajang lukisan saya. Jadi saya rasa, pendapat Kakak soal warna dan komposisi tidak terlalu saya butuhkan. Galeri ini bukan untuk Jakarta Art Week. Ini hadiah cinta dari suami saya untuk saya. Dan saya bahagia."
Carla terdiam total. Wajahnya merah padam menahan malu dan amarah. Tidak menyangka Isyana yang dia kira cupu ternyata bisa menjawab seanggun itu.
Brayen? Dia menatap Isyana dengan tatapan... terpesona. Sama seperti saat Isyana pakai kalung Diamonds Alkantara di pantai Maladewa. Mata nya berbinar bangga. Sangat bangga.
Brayen lalu bertepuk tangan pelan, "Dengar itu, Carla? Istri saya sudah jawab."
Dia lalu menekan bel kecil di dinding.
"Yanti! Antarkan tamu pulang. Dan mulai hari ini, tanpa undangan dari saya atau Isyana, jangan biarkan siapapun naik ke lantai 2."
Carla akhirnya pergi dengan high heels yang menghentak keras, wajahnya kesal.
Begitu pintu galeri tertutup, Isyana langsung lemas. Semua keberaniannya tadi hilang. Lututnya gemetar hebat. Dia bersandar di dada bidang Brayen, menangis.
"Mas... aku tadi berani gak? Aku gak malu-maluin Mas kan?" bisiknya, terisak di kemeja putih Brayen.
Brayen langsung menggendong Isyana ala bridal style, mendudukkannya di sofa beludru di tengah galeri. Dia memeluknya erat, mencium puncak kepalanya, keningnya, pipinya berkali-kali.
"Berani banget. Kamu keren banget, Berlian Mas. Mas bangga setengah mati sama kamu. Kamu bukan lagi model kecil, kamu Nyonya Alkantara yang paling berani yang pernah Mas lihat."
Isyana menangis di dada Brayen, tapi kali ini bukan tangis sedih. Tangis lega dan bangga.
Karena dia tau, setelah honeymoon yang indah di Maladewa, ujian sebenarnya sebagai Nyonya Alkantara baru saja dimulai. Dan dia tidak lagi sendirian.
Dia punya Brayen. Dan dia punya dirinya yang baru yang sudah berani melawan.
---Bersambung---