Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 11
Pagi itu, pancaran sinar matahari menembus jendela kaca dapur, memantul di permukaan cangkir keramik berisi teh hangat yang dipegang Zemima. Di hadapannya, laptop kerja menampilkan laporan keuangan Holdings Company. Suasana rumah yang hening mendadak terpecah oleh getaran ponsel di atas meja bar.
Layar ponselnya berkedip menampilkan nama pemanggil: Ibu Rahmi.
Zemima menatap layar itu beberapa detik. Sudut bibirnya terangkat tipis, sebuah senyuman dingin. Sejak pertengkaran hebat hampir empat bulan lalu, Arsyad menyerahkan seluruh kendali keuangan rumah tangga dan rekening keluarga kepada Zemima. Pria itu bahkan memutus akses kartu tambahan untuk ibu dan saudara-saudaranya. Namun rupanya, rasa malu Bu Rahmi tidak bertahan lama jika berhadapan dengan kebutuhan hidup yang biasa dimanja.
Zemima menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya tanpa bersuara lebih dulu.
"Halo? Zemima? Kamu dengar Ibu nggak?" suara Bu Rahmi menyapa dari ujung telepon, terdengar tergesa-gesa dengan nada yang berusaha dipasang selembut mungkin, walau menyisakan kecanggokan yang jelas.
"Iya, Bu. Dengar. Ada apa?" jawab Zemima datar, meminum tehnya tenang.
Mendengar nada dingin menantunya, Bu Rahmi berdehem pelan, mengusir rasa canggung.
"Anu... Mima, Ibu mau tanya. Ini kan sudah tanggal lima. Biasanya Arsyad sudah transfer jatah bulanan Ibu dari tanggal satu. Tapi sampai hari ini rekening Ibu masih kosong. Ibu telepon Arsyad dari kemarin nomornya sibuk terus, sulit sekali dihubungi."
"Mas Arsyad sedang sibuk luar kota, Bu. Banyak urusan proyek besar," balas Zemima singkat.
"Oh... begitu. Pantas saja," Bu Rahmi menghela napas, lalu mengubah intonasi suaranya menjadi sedikit meratap.
"Gini, Mima... Ibu ini kan sudah kehabisan uang dapur. Obat darah tinggi Ibu juga sudah habis dari lusa kemarin. Siska sama Rika juga minta dibantu bayar tagihan listrik rumah mereka, katanya Arsyad belum kirim uang seperti biasanya. Kamu tahu sendiri kan, Ibu ini sudah tua, nggak ada penghasilan lain..."
Zemima menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mengusap pinggiran cangkir keramiknya.
"Soal uang bulanan Ibu dan saudara-saudara Mas Arsyad, sekarang semuanya lewat aku, Bu. Mas Arsyad sudah menyerahkan penuh pengelolaan keuangan ke aku sejak empat bulan lalu."
Hening sejenak di ujung telepon. Bu Rahmi tampaknya terkejut dan tertahan oleh gengsinya, tetapi desakan kebutuhan membuatnya mengalah.
"Oh... jadi di kamu uangnya?" nada suara Bu Rahmi berubah sedikit menuntut, meski ditahan.
"Ya sudah kalau begitu, kamu transferkan saja jatah Ibu seperti biasa. Lima belas juta buat Ibu, terus buat Siska sama Rika masing-masing lima juta. Sekalian kirimkan tambahan lima juta lagi buat beli obat-obatan Ibu, ya? Biar Ibu nggak usah bolak-balik minta lagi."
Zemima tertawa pelan, sebuah tawa tipis tanpa nada humor sama sekali.
"Tiga puluh lima juta, Bu?" tanya Zemima perlahan.
"I... iya... kan biasanya Arsyad memang kasih segitu kalau ditotal semuanya," sahut Bu Rahmi, nadanya mulai agak tidak sabar.
"Loh sejak kapan, Bu? Bukannya selama empat bulan terakhir hanya lima juga?" Kaget Zemima.
"Ah iya itu... Maksudnya lima juta... Ya sudah kamu kirim ibu sekarang! Soalnya Ibu nggak bisa menghubungi Arsyad dari beberapa hari ini..."
TUUUTTT
TUUUTTT
Panggilan di putus sepihak oleh Bu Rahmi namun membuat banyak tanda tanya di kepala Zemima. Empat bulan ini dia selalu mengirim Lima Juta kepada mertuanya, dan selama itu pula mereka tak ada yang komplain dan bahkan jarang merusuh ke rumahnya. Apa yang di sembunyikan oleh suami dan keluarganya. Zemima sepertinya kecolongan karena dia terlalu percaya kepada Arsyad yang sudah berubah dan tidak menomorsatukan keluarganya. Tapi uang dari mana? Semua Gaji Arsyad di pegang olehnya sekarang.
Tangan Zemima mencengkeram erat ponselnya yang kini menyiarkan nada tut panjang. Rasa terkejut dan gelombang curiga menjalar cepat di seluruh tubuhnya.
Lima belas juta? Ditambah masing-masing lima juta untuk Siska dan Rika? Jadi selama empat bulan ini, total tiga puluh lima juta tetap mengalir ke mereka?
Padahal, selama empat bulan terakhir Zemima yang memegang kendali penuh atas rekening gaji Arsyad dan rekening bersama mereka. Setiap tanggal satu, ia hanya mentransfer tepat lima juta rupiah ke rekening Bu Rahmi. Dan anehnya, selama kurun waktu itu, mertua dan adik-adik iparnya tenang-tenang saja tanpa ada protes.
"Uang dari mana?" gumam Zemima pada dirinya sendiri, matanya menatap tajam layar laptop yang masih menampilkan laporan keuangan.
Gaji Arsyad sebagai manajer bersih masuk ke rekening yang ia pegang. Kartu kredit tambahan sudah diblokir. Lalu, bagaimana mungkin Bu Rahmi menganggap angka tiga puluh lima juta rupiah itu adalah hal yang "biasa" ditagihkan setiap bulan? Apakah Arsyad menyembunyikan rekening lain? Atau pria itu menggunakan dana lain demi menyenangkan keluarganya tanpa sepengetahuan Zemima?
Zemima bangkit dari meja bar dapur, melangkah cepat menuju kamar kerjanya. Ia mengambil ponsel khusus dan menekan tombol panggilan cepat.
"Maya," panggil Zemima begitu sambungan terhubung. Nadanya dingin dan tidak bisa dibantah.
"Ya, Bu Zemima? Ada instruksi?" suara Maya, asisten pribadinya yang cekatan, menjawab dari ujung telepon.
"Jemput saya satu jam lagi. Kita ke rumah Ibu Rahmi. Sekalian minta orang lapangan siapkan empat kotak makanan dari restoran fine dining langganan saya, dan siapkan uang tunai lima juta rupiah dalam amplop."
Maya sempat jeda sejenak di ujung telepon. "Baik, Bu. Apakah ada hal khusus yang perlu saya siapkan lagi untuk kunjungan ini?"
"Siapkan mentalmu. Kita akan melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi di sana. Kamu di sana akan pura-pura menjadi teman kerja saya. Jangan bawa mobil yang bagus," balas Zemima datar sebelum mematikan telepon.
Sore harinya, langit Jakarta diselimuti warna jingga keunguan. Sedan hitam yang dikendarai Maya berbelok memasuki gang perumahan tempat tinggal Bu Rahmi.
Namun, begitu mobil perlahan berhenti di depan pagar, dahi Zemima berkerut dalam. Langkahnya tertahan sejenak sebelum turun dari mobil. Di halaman rumah mertuanya yang tidak terlalu luas itu, terparkir sebuah mobil SUV keluaran terbaru berwarna hitam yang mengilap, serta sebuah sepeda motor matic besar berdesain sporty yang pelat nomornya bahkan masih menggunakan pelat putih sementara.
Maya melirik dari kaca spion tengah dengan raut bingung yang tak bisa disembunyikan.
"Bu Zemima... bukankah sebelumnya di rumah ini tidak ada kendaraan baru?"
Zemima menatap dua kendaraan gres itu dengan mata menyipit. "Setahu saya tidak ada. Mobil lama milik Arsyad yang dulu dipakai keluarganya pun sudah dijual dua tahun lalu. Dan setau saya kalau Mas Hendra juga hanya memiliki mobil lama sebagai transportasi mereka dan itu mobilnya juga masih ada."
Zemima turun dari mobil dengan tenang. Ia mengenakan atasan blouse sutra simpel namun berkelas, dipadu celana kulot. Maya mengikuti di belakangnya, membawa dua kantong kertas berlogo restoran mewah dan amplop putih tebal.