NovelToon NovelToon
Crimson Vows

Crimson Vows

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Mafia / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: yao na

Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 — Pilihan yang Menentukan

Ketegangan di tepi jurang itu terasa seperti bisa dipotong dengan pisau. Gerald menatap Enzo, pikirannya berputar cepat mempertimbangkan setiap kemungkinan — jika ia membunuh Enzo sekarang, rekaman rahasia itu mungkin benar-benar terkirim, menghancurkan segala sesuatu yang tersisa dari keluarganya. Tapi jika ia membiarkan Enzo hidup, pria itu tidak akan pernah berhenti mengincar mereka.

"Apa yang kau inginkan sebenarnya, Enzo?" tanya Gerald akhirnya, mencoba mencari jalan keluar dari kebuntuan mematikan ini. "Kekuasaan? Uang? Katakan syaratmu."

"Terlambat untuk negosiasi, Gerald," jawab Enzo dingin. "Aku sudah melihat terlalu banyak untuk mempercayai belas kasihan keluarga Moretti. Satu-satunya hal yang tersisa untukku sekarang adalah memastikan kalian berdua jatuh bersamaku."

Dalam gerakan cepat yang mengejutkan, Enzo mengeluarkan pistol tersembunyi dari balik jaketnya, mengarahkannya langsung ke Yao — bukan Gerald.

"Kau adalah kesalahan terbesarku, Yao Conti," katanya, jarinya mulai menekan pelatuk. "Seharusnya aku memastikan kau mati bersama orang tuamu tujuh belas tahun lalu."

Waktu seolah melambat bagi Yao, matanya terpaku pada moncong pistol yang terarah padanya, pikirannya dipenuhi kilasan kenangan — wajah ayahnya, suara ibunya, pelukan hangat Sofia, dan senyum Gerald di bawah cahaya bulan Taormina.

Gerald bergerak lebih cepat dari pikiran siapa pun, mendorong tubuh Yao ke samping dengan sekuat tenaga tepat saat suara tembakan menggelegar di kesunyian malam.

Yao jatuh ke tanah, jantungnya berdegup kencang karena keterkejutan, hanya untuk mendapati dirinya menatap ngeri saat melihat Gerald terhuyung mundur, tangannya mencengkeram bahu kirinya yang kini berlumuran darah.

"Gerald!" jeritnya, merangkak mendekat dengan panik.

Tapi meski terluka, Gerald tidak roboh. Dengan sisa tenaga dan amarah yang membara, ia mengangkat pistolnya sendiri dan menembak balik tanpa ragu.

Peluru itu menembus dada Enzo tepat di jantungnya.

Pria yang telah menghancurkan dua keluarga besar, yang telah menyimpan rahasia kelam selama tujuh belas tahun, dan yang telah merancang kehancuran demi ambisinya sendiri, terjatuh mundur ke tepi jurang — dan dengan satu gerakan terakhir yang mengerikan, tubuhnya jatuh ke dalam kegelapan jurang di bawahnya, menghilang selamanya ke dalam kesunyian hutan pegunungan Como.

Yao segera berlutut di samping Gerald yang terengah kesakitan, tangannya menekan luka di bahunya dengan panik. "Bertahanlah," bisiknya, air mata mengalir deras di pipinya. "Kumohon, Gerald, bertahanlah untukku."

Gerald tersenyum lemah di tengah rasa sakitnya, tangannya yang tidak terluka meraih pipi Yao dengan lembut. "Sudah kubilang," bisiknya pelan, suaranya mulai melemah, "aku akan melakukan apa saja untukmu, Yao Conti. Apa saja."

Marco dan tim mereka segera berlari mendekat, salah satu kapten segera mengambil alih untuk menekan luka Gerald dengan kain yang dirobek dari kemejanya sendiri, sementara Marco memanggil bantuan medis darurat melalui radio yang tersembunyi di jaketnya.

"Bertahan, Gerald," kata Marco tegas, wajahnya pucat melihat darah yang terus mengalir. "Helikopter akan membawamu ke rumah sakit dalam beberapa menit. Bertahanlah."

Yao tidak melepaskan genggamannya pada tangan Gerald sepanjang perjalanan menuruni bukit menuju titik penjemputan helikopter, air mata terus mengalir sementara ia berbisik kata-kata penyemangat yang bahkan ia sendiri tidak yakin benar-benar didengar oleh pria yang mulai kehilangan kesadaran di pelukannya.

Gerald dilarikan ke rumah sakit swasta rahasia yang biasa digunakan keluarga Moretti untuk kasus-kasus yang tidak bisa dibawa ke fasilitas umum. Peluru Enzo mengenai bahunya, cukup dalam untuk merusak jaringan otot tapi meleset dari organ vital — sebuah keberuntungan yang membuat dokter keluarga menyebutnya "hampir seperti keajaiban."

Yao tidak meninggalkan sisi ranjangnya sedetik pun selama operasi berlangsung, mondar-mandir di ruang tunggu dengan tangan masih berlumuran darah Gerald yang belum sempat ia bersihkan.

"Dia akan baik-baik saja," kata Sofia, yang datang segera setelah mendapat kabar, mencoba menenangkan Yao yang jelas berada di ambang kehancuran emosional. "Kau mencintainya sungguhan, ya?"

"Aku tidak pernah berencana untuk itu," bisik Yao, air mata mengalir tanpa henti. "Tapi ya, Sofia. Aku mencintainya. Lebih dari yang pernah kubayangkan mungkin untuk kurasakan pada siapa pun."

Sofia memeluknya erat, mengusap punggung Yao seperti yang selalu ia lakukan sejak gadis itu masih kecil. "Ferdinand akan mengerti," katanya lembut. "Dendam bukan satu-satunya warisan yang bisa kau bawa dari orang tuamu, Yao. Cinta yang mereka miliki satu sama lain — cinta lintas dunia yang menyatukan ayahmu dan ibumu — itu juga warisanmu."

Operasi berlangsung selama empat jam yang terasa seperti selamanya bagi Yao. Ketika dokter akhirnya keluar dengan kabar bahwa Gerald akan pulih sepenuhnya, meski membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk terapi bahu, Yao merasakan lututnya melemas karena lega yang begitu besar.

Ia duduk di samping ranjang Gerald sepanjang malam, menggenggam tangannya yang tidak terluka, menunggu pria itu sadar dari pengaruh obat bius.

Ketika mata kelabu itu akhirnya terbuka pelan menjelang fajar, hal pertama yang dicari Gerald adalah wajah Yao.

"Kau masih di sini," bisiknya lemah, suara serak karena efek obat.

"Aku tidak akan pergi ke mana-mana," jawab Yao, mencium tangannya lembut. "Tidak sekarang, tidak pernah."

Gerald tersenyum lemah, matanya berkaca-kaca karena emosi yang bercampur dengan kelelahan fisik. "Aku sungguh-sungguh dengan apa yang kukatakan," bisiknya. "Sebelum aku tertembak. Aku mencintaimu, Yao. Apa pun yang dilakukan ayah kita satu sama lain, apa pun darah yang ada di antara keluarga kita — aku memilihmu. Aku memilih kita."

Yao membungkuk, mencium keningnya lembut, air mata bahagia dan lega bercampur menjadi satu. "Aku juga mencintaimu, Gerald Moretti," bisiknya. "Meski dunia kita penuh dendam dan kebohongan, aku memilihmu juga."

Beberapa hari berikutnya dihabiskan dalam pemulihan yang lambat namun penuh kehangatan. Yao mengambil cuti dari segala urusan investigasi, memilih untuk sepenuhnya hadir di sisi Gerald selama masa pemulihannya. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya berbicara — tentang masa kecil mereka yang berbeda namun sama-sama kesepian, tentang impian-impian kecil yang tidak pernah mereka bagikan pada siapa pun, tentang kemungkinan masa depan yang mulai terasa nyata bagi keduanya.

"Apa yang akan kau lakukan setelah semua ini selesai?" tanya Gerald suatu sore, duduk bersandar di ranjangnya sementara Yao membacakan artikel berita untuknya karena ia masih kesulitan menggunakan tangan kanannya.

"Aku tidak pernah benar-benar memikirkan hidup setelah dendam," jawab Yao jujur. "Selama tujuh belas tahun, seluruh hidupku berputar pada satu tujuan. Sekarang..." Ia terdiam, mencoba memahami perasaannya sendiri. "Sekarang aku mulai berpikir mungkin ada kehidupan lain yang menungguku. Kehidupan yang tidak didefinisikan oleh apa yang telah kuhilangkan."

Gerald meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Aku harap kehidupan itu termasuk aku di dalamnya," katanya lembut.

"Selalu," jawab Yao, tersenyum melalui air mata yang tiba-tiba menggenang di matanya.

1
yao na
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!