IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Benang yang Digunting
Beberapa hari berlalu sejak insiden memalukan di kantor Whitmore Group. Brooklyn memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Namun meski luka itu masih terasa perih, ia belum sepenuhnya menyerah untuk memperbaiki hubungan mereka—setidaknya, agar mereka bisa hidup berdampingan tanpa harus saling menyakiti setiap hari.
Malam itu, Brooklyn menghabiskan waktu berjam-jam di dapur penthouse mewah mereka, menyiapkan makan malam yang jauh lebih istimewa dibandingkan biasanya. Ia memasak salmon panggang dengan saus lemon mentega, dilengkapi dengan asparagus panggang dan risotto jamur truffle—hidangan yang ia pelajari khusus dari koki pribadi keluarganya, dengan harapan bisa menciptakan suasana makan malam yang lebih hangat di antara mereka.
Meja makan telah ia tata dengan rapi, lengkap dengan lilin aromaterapi lembut dan taplak meja putih bersih. Ia bahkan mengenakan gaun sederhana namun elegan, mencoba menciptakan suasana yang nyaman, bukan untuk romantisme yang berlebihan, melainkan sekadar usaha kecil untuk menunjukkan bahwa ia masih peduli.
Ketika Liam pulang sekitar pukul delapan malam, ia tampak terkejut melihat meja makan yang telah tertata rapi dengan hidangan mewah menunggu di atasnya.
"Apa ini?" tanyanya datar, melepas jasnya dan menggantungkannya di sandaran kursi.
"Aku memasak makan malam untuk kita," jawab Brooklyn dengan senyum yang ia paksakan, mencoba terdengar seceria mungkin. "Aku pikir mungkin kita bisa makan malam bersama, seperti pasangan pada umumnya."
Liam menatap hidangan di atas meja sejenak, ekspresinya sulit dibaca. Untuk beberapa saat, Brooklyn nyaris berharap bahwa kali ini mungkin akan berbeda, bahwa mungkin Liam akan duduk dan setidaknya mencicipi masakan yang telah ia siapkan dengan sepenuh hati.
Namun harapan itu kembali pupus.
"Aku sudah makan di kantor," ucap Liam singkat, berjalan melewati meja makan tanpa menoleh sedikit pun ke arah hidangan yang telah disiapkan Brooklyn dengan susah payah.
"Tapi... aku sudah menyiapkan ini khusus untukmu, Liam. Setidaknya cicipi sedikit saja," pinta Brooklyn, suaranya mulai terdengar putus asa.
Liam berhenti sejenak di ambang pintu menuju kamarnya, menghela napas panjang seolah percakapan ini sudah terlalu melelahkan baginya. "Aku tidak lapar, Brooklyn. Simpan saja makanannya, atau buang jika kau mau. Aku tidak peduli."
Ia melanjutkan langkahnya menuju kamar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Brooklyn sendirian di ruang makan yang temaram oleh cahaya lilin, dikelilingi hidangan mewah yang perlahan mulai mendingin tanpa pernah tersentuh sama sekali.
Brooklyn duduk sendirian di kursi makan, menatap piring-piring berisi salmon dan risotto yang kini terasa begitu hambar meski aromanya masih menggoda. Ia menghela napas panjang, mencoba menahan kekecewaan yang kembali menyerang hatinya untuk kesekian kalinya.
"Setidaknya aku sudah mencoba," bisiknya pelan pada diri sendiri, mencoba menghibur hatinya sendiri yang semakin lama semakin terasa kebas oleh penolakan demi penolakan yang terus ia terima.
...***...
Seminggu kemudian, meski luka dari berbagai penolakan sebelumnya belum sepenuhnya sembuh, Brooklyn kembali mencoba peruntungan lain. Kali ini, ia memutuskan untuk membuat sesuatu yang lebih personal—sebuah sweater rajut tangan berwarna abu-abu gelap, warna yang ia tahu disukai Liam berdasarkan pengamatannya selama beberapa minggu terakhir.
Ia menghabiskan waktu berjam-jam setiap malam setelah Liam tertidur, duduk sendirian di ruang baca kecil dekat kamarnya, merajut benang demi benang dengan penuh kesabaran. Jari-jarinya sering kali terasa pegal, bahkan beberapa kali tertusuk jarum rajut karena kelelahan, namun ia tetap melanjutkan pekerjaannya dengan tekun.
Baginya, sweater itu bukan sekadar hadiah biasa. Itu adalah simbol dari harapan kecil yang masih tersisa dalam dirinya—harapan bahwa suatu hari, betapapun kecilnya, Liam akan mulai melihatnya bukan sebagai beban atau kewajiban, melainkan sebagai seseorang yang tulus peduli padanya.
Setelah hampir dua minggu bekerja keras, sweater itu akhirnya selesai. Brooklyn melipatnya dengan rapi, membungkusnya dengan kertas kado sederhana namun elegan, lalu menyimpannya di lemari kamarnya, menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya kepada Liam.
Kesempatan itu datang pada suatu malam ketika suasana hati Liam tampak sedikit lebih tenang dibandingkan biasanya. Ia baru saja pulang dari kantor dan duduk di ruang keluarga sambil menikmati segelas wine, tampak sedang membaca laporan bisnis di tablet miliknya.
Brooklyn mengambil kesempatan itu, mengambil kotak berisi sweater rajut dari kamarnya dan membawanya menuju ruang keluarga dengan hati yang berdebar kencang.
"Liam," panggilnya pelan, "aku punya sesuatu untukmu."
Liam mendongak dari tabletnya, menatap Brooklyn dengan ekspresi datar seperti biasa. "Apa itu?"
"Aku membuat ini sendiri," jawab Brooklyn sambil menyerahkan kotak tersebut, senyumnya sedikit gugup namun penuh harap. "Sebuah sweater rajut. Aku perhatikan cuaca mulai dingin akhir-akhir ini, jadi aku pikir kau mungkin membutuhkannya."
Liam menatap kotak itu sejenak sebelum akhirnya membukanya dengan gerakan yang terkesan enggan. Ketika ia mengeluarkan sweater rajut berwarna abu-abu gelap itu dari dalam kotak, ekspresinya berubah—bukan menjadi haru atau tersentuh seperti yang diharapkan Brooklyn, melainkan berubah menjadi dingin dan tidak menyenangkan.
"Untuk apa kau repot-repot membuat ini?" tanyanya, suaranya mulai terdengar kesal.
"Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku peduli, Liam. Aku tahu kita belum—"
"Berhenti," potong Liam tajam, berdiri dari sofa dengan gerakan cepat. "Berhenti mencoba membuatku merasa bersalah dengan segala usahamu ini, Brooklyn! Aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku tidak menginginkan pernikahan ini, dan aku tidak menginginkan segala perhatian palsu yang terus kau berikan!"
"Ini bukan perhatian palsu!" bantah Brooklyn, untuk pertama kalinya suaranya mulai meninggi, menahan kesabaran yang sudah mulai menipis. "Aku menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk membuat ini dengan tanganku sendiri, Liam! Setidaknya hargai usahaku, meski kau tidak bisa membalas perasaanku!"
Namun alih-alih meredakan amarahnya, kata-kata Brooklyn justru semakin membuat Liam kehilangan kendali. Ia berjalan cepat menuju laci meja kerja di sudut ruangan, mengambil sebuah gunting yang biasa digunakan untuk memotong kertas dokumen, lalu kembali menghadap Brooklyn dengan tatapan yang penuh amarah.
"Kau ingin aku menghargainya?" ucapnya dengan nada sinis, sebelum tiba-tiba mengangkat sweater rajut itu dan mulai menggunting kain rajutan tersebut tepat di hadapan Brooklyn yang terpaku kaget.
"Liam! Apa yang kau lakukan?!" jerit Brooklyn, mencoba merebut sweater itu dari tangan Liam, namun terlambat.
Gunting itu terus bergerak, merobek benang demi benang yang telah Brooklyn rajut dengan penuh kesabaran selama hampir dua minggu penuh. Suara gesekan gunting yang memotong kain rajutan itu terdengar begitu menyakitkan di telinga Brooklyn, seolah setiap guntingan itu juga merobek hatinya yang sudah rapuh.
Setelah sweater itu tercabik-cabik menjadi potongan-potongan kecil yang tidak berbentuk, Liam melemparkan sisa-sisa kain itu ke lantai, lalu melangkah menuju tempat sampah di sudut dapur dan membuang gunting serta sisa potongan kain tersebut ke dalamnya dengan kasar.
"Sekarang kau tahu betapa sia-sianya semua usahamu, Brooklyn," ucap Liam dingin, menatap Brooklyn yang berdiri mematung dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya. "Berhentilah mencoba. Kau hanya membuang-buang waktu dan tenagamu untuk sesuatu yang tidak akan pernah berhasil."
Brooklyn berjongkok perlahan, memungut sisa-sisa potongan benang rajut yang berserakan di lantai, tangannya gemetar hebat menahan tangis yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. Setiap potongan kecil itu mengingatkannya pada berjam-jam yang telah ia habiskan, pada harapan-harapan kecil yang ia rajut bersamaan dengan benang-benang itu, dan kini semuanya hancur berantakan di lantai marmer yang dingin.
Liam berjalan meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun lagi, tidak peduli dengan Brooklyn yang masih berjongkok di lantai, mengumpulkan sisa-sisa hadiah yang telah ia buat dengan sepenuh hati.
Malam itu, Brooklyn duduk sendirian di lantai ruang keluarga yang mewah namun terasa begitu dingin, menggenggam sisa-sisa benang rajut yang tidak lagi berbentuk apa pun.