-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
****
Lampu kristal gantung bernuansa emas memancarkan pendar kemewahan di area VIP private dining Restoran Le Grand Ciel, salah satu restoran bintang lima paling eksklusif di ibu kota. Denting halus sendok perak yang beradu dengan piring porselen mengalun lembut, membaur dengan alunan musik klasik yang tenang.
Namun, di meja utama ruangan tersebut, atmosfer terasa begitu menyesakkan bagi dr. Ivandra Arya Wigunadi.
Ivandra duduk tegak dalam balutan setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap. Wajah tampannya terpasang sempurna bagai pahatan patung es—dingin, datar, dan tanpa ekspresi. Di sebelahnya, duduk seorang wanita muda bergaun merah glamor dengan riasan tebal. Clarissa, putri tunggal dari salah satu pengusaha properti terkemuka yang malam ini dijodohkan dengannya oleh sang Mama.
"Ivan, kamu harus coba steak ini. Dagingnya lembut banget, lho! Sini, aku suapin ya?" rengek Clarissa dengan nada suara yang sengaja dibuat manja. Wanita itu memiringkan tubuhnya, berusaha mendekatkan sepotong daging di ujung garpunya ke bibir Ivandra.
Ivandra tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun, hanya menggeser posisi duduknya dua inci menjauh.
"Saya punya tangan sendiri untuk makan," sahut Ivandra dingin, nadanya datar namun sarat akan penolakan yang tidak tertutup.
Mama Ivandra, Nyonya Rosalia Wigunadi, berdeham pelan mencoba mencairkan suasana yang mendadak canggung di depan calon besannya. "Ah, Ivan ini memang begitu kalau lagi capek habis dari rumah sakit, Clarissa sayang. Dia profesional banget, jadi kadang agak kaku."
Clarissa mengerucutkan bibirnya tebal-tebal, menyandarkan kepalanya secara terang-terangan di lengan atas Ivandra tanpa memedulikan gestur tubuh pria itu yang makin membeku.
"Ih, Ivan mah gitu! Masa sama calon istri dingin banget sih?" Clarissa menggoyangkan lengan Ivandra dengan manja. "Nanti kalau kita udah nikah, aku nggak mau ya kamu sibuk terus di rumah sakit! Kamu harus luangin waktu buat nemenin aku shopping ke Paris tiap bulan. Trus, kamu juga harus nurutin semua kemauan aku. Pokoknya tugas kamu cuma bikin aku seneng!"
Mendengar tuntutan yang tak masuk akal dan sikap manja yang kelewat batas itu, urat di pelipis Ivandra menegang. Kesabarannya yang setipis kertas akhirnya habis.
Ivandra menarik lengannya kasar dari genggaman Clarissa. Ia meletakkan pisau dan garpunya ke atas piring dengan bunyi klang yang cukup keras, menarik perhatian seluruh orang di meja tersebut.
"Clarissa," suara Ivandra berbariton rendah, namun sanggup membekukan kehangatan ruangan. "Pertama, saya tidak pernah menyetujui pernikahan ini. Kedua, jika kamu mencari pria yang bisa kamu jadikan pengawal pribadi dan mesin pencetak uang untuk menuruti semua rengekan manjamu, kamu salah besar mendatangi saya."
Wajah Clarissa seketika pucat kaget. "I-Ivan... kamu kok ngomongnya gitu?!"
"Ivan! Jaga bicaramu!" tegur Papanya, Tuan Wigunadi, dengan suara berat penuh wibawa.
Ivandra berdiri dari kursinya. Ia merapikan kancing jasnya dengan gerakan tenang dan elegan, menatap lurus ke arah orang tua Clarissa lalu ke arah ibundanya sendiri.
"Saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini," ujar Ivandra tegas tanpa ragu. "Tapi saya tegaskan malam ini juga, saya menolak perjodohan ini secara penuh. Saya hanya akan menikah dengan wanita yang memiliki akal sehat, menghargai profesi saya, dan pilihan saya sendiri. Permisi."
"Ivandra! Berhenti kamu!" pekik Mamanya histeris.
Tanpa memutar tubuhnya kembali, Ivandra melangkah lebar keluar dari ruangan VIP tersebut, meninggalkan kekacauan dan jeritan protes yang membahana di belakangnya.
Sementara itu, di sudut lain restoran yang sama, suasana yang jauh berbeda tengah tercipta.
Di area dining utama bernuansa hangat dekat jendela raksasa yang menampilkan pemandangan gemerlap lampu kota, Aini duduk bersama kedua orang tuanya. Malam ini, Ayah dan Bundanya sengaja mengajaknya makan malam di luar untuk merayakan keberhasilan Aini menyelesaikan stase pertamanya di Departemen Bedah Saraf.
Aini mengenakan gaun terusan simpel berwarna dusty pink dengan hijab segiempat berwarna senada yang terbingkai anggun. Wajah ayunya yang alami memancarkan kehangatan yang begitu menenangkan.
"Selamat ya, Aini sayang," tutur Bundanya lembut sembari mengelus jemari Aini di atas meja. "Bunda sama Ayah bangga banget kamu bisa melewati stase pertama kamu yang berat itu dengan nilai sangat baik."
Aini tersenyum manis, binar matanya berbinar tulus. "Terima kasih, Bunda, Ayah. Semua ini juga berkat doa dari Ayah dan Bunda."
Ayah Aini, Tuan Wijaya, menatap putri semata pembaganya dengan raut wajah penuh kasih sayang sekaligus beban tersembunyi. Ia menyeruput air putihnya pelan sebelum membuka suara.
"Aini... sebenarnya, selain merayakan kelulusan stase kamu, ada hal penting lain yang ingin Ayah dan Bunda bicarakan," ujar Tuan Wijaya dengan intonasi yang lebih serius.
Aini mengerutkan keningnya tipis, menatap Ayah dan Bundanya bergantian. "Hal penting apa, Ayah? Dari semalam Bunda bilang mau bicarain hal penting."
Bundanya menghela napas halus, memegang tangan Aini sedikit lebih erat. "Ini tentang masa depan kamu, Nak. Dan... tentang janji keluarga kita di masa lalu."
Aini makin bingung. "Janji masa lalu?"
Belum sempat Ayahnya menjelaskan lebih jauh, dari arah koridor utama restoran, langkah kaki tegap seorang pria berjas abu-abu gelap melintas cepat. Pria itu tampak sangat kesal, memancarkan aura intimidasi yang begitu dingin hingga beberapa pengunjung restoran sempat menoleh.
Pandangan mata Aini tak sengaja bergulir ke arah koridor tersebut. Seketika itu juga, napas Aini tertahan di tenggorokan.
Dokter Ivan?! batin Aini terbelalak kaget.
Ternyata Ivandra yang sedang berjalan lebar meninggalkan area VIP tak sengaja melirik ke arah meja area dining utama. Manik mata elangnya yang tajam membeku seketika saat menangkap figur gadis berhijab dusty pink yang sangat dikenalnya.
Aini.
Langkah kaki Ivandra terhenti mendadak di tengah koridor. Kemarahan dan kekesalan akibat tindakan manja Clarissa tadi seolah menguap begitu saja, berganti dengan rasa terkejut yang luar biasa.
Di sana, di bawah pendar lampu gantung yang hangat, Aini tampak begitu cantik, anggun, dan bersahaja. Berbeda jauh dengan penampilan Clarissa yang serba mencolok dan berisik.
Aini yang merasa tertangkap basah sedang memperhatikan dokter pembimbingnya langsung menundukkan kepalanya canggung. Jantungnya berdegup kencang karena kaget melihat keberadaan sang 'Dokter Iblis' di restoran mewah tempatnya makan bersama keluarga.
Ivandra memperhatikan bagaimana Aini dengan sopan kembali menatap kedua orang tuanya dan tersenyum lembut. Senyuman yang tenang dan menyejukkan—senyuman yang dalam beberapa minggu terakhir ini tanpa sadar selalu dicari oleh Ivandra.
Kenapa dia bisa ada di sini? batin Ivandra bertanya-tanya, matanya menancap lurus pada figur Aini dari kejauhan.
Dari arah belakang koridor, langkah kaki tergesa-gesa Tuan Wigunadi—Ayah Ivandra—terdengar menyusul putranya yang kabur dari ruang VIP.
"Ivandra! Berhenti kamu!" panggil Tuan Wigunadi dengan nada tertahan namun tegas.
Ivandra memutar tubuhnya perlahan, namun matanya sempat melirik kembali ke arah meja Aini. Tuan Wigunadi yang menghampiri putranya ikut mengalihkan pandangannya ke arah yang sedang ditatap Ivandra.
Ketika mata Tuan Wigunadi menangkap sosok pria paruh baya yang duduk di seberang Aini, mata pria tua itu mendadak melebar.
"Tunggu... itu bukannya... Handoko Wijaya?" gumam Tuan Wigunadi terkejut.
Ivandra mengerutkan keningnya. "Papa kenal dengan mereka?"
Tuan Wigunadi menatap putranya dengan binar mata yang mendadak berubah drastis—kemarahannya melorot seketika, berganti dengan senyuman misterius yang sarat akan wibawa.
"Tentu saja Papa kenal," sahut Tuan Wigunadi pelan. "Pria itu sahabat lama Papa... dan gadis cantik berhijab di sebelahnya itu adalah putri tunggalnya, Aini Zahru."
Deg.
Bersambung....
jangan gantung rasa penasaran saya... saya masih ngebayangin gimana cerita si Aini sama dokter 2 pintu itu di rumah sakit selama masa kehamilannya Aini 🥺🥺🥺
mampir ya ke novel ku