Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Emas di Bawah Lampu Kristal
Lampu gantung kristal berukuran raksasa membiaskan kilau keemasan ke seluruh penjuru ruangan VIP The Glasshouse, sebuah restoran dan kafe eksklusif yang terletak di lantai teratas salah satu pusat perbelanjaan paling mewah di jantung kota. Udara di dalam ruangan itu terasa sejuk dan harum—aroma campuran antara bunga lili segar, kopi berasap tipis, dan wewangian mahal berharga jutaan rupiah yang merebak dari busana para tamunya.
Suara denting gelas kristal bertabrakan pelan, berpadu dengan alunan musik jazz lembut yang mengalun dari sudut ruangan. Di balik jendela kaca besar bertingkat yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, pemandangan gedung-gedung pencakar langit kota berdiri megah di bawah langit sore yang mulai memerah.
Di sudut ruangan yang agak terpencil, dekat dengan pilar marmer berukir, Arini berdiri menggenggam sebuah gelas lemon squash. Ia sengaja memilih minuman itu—minuman paling murah di buku menu yang harganya masih setara dengan uang belanja sayurannya selama tiga hari.
Arini berusaha keras menjaga postur tubuhnya tetap tegak. Gaun hitam polos berpotongan pas badan yang ia keluarkan dari lemarinya tadi pagi tampak membungkus lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan terurai bergelombang di bahu, dan riasan wajahnya dipoles sehalus mungkin untuk menutupi raut lelah serta garis-garis kecemasan yang terukir di sekitar matanya. Dari luar, ia tampak seperti seorang wanita bangsawan yang anggun dan dingin. Namun di balik gaun itu, jantungnya berdegup kencang, dihantam rasa minder yang luar biasa setiap kali matanya menatap sekeliling.
"Arini! Ya ampun, Arini! Ini beneran kamu?!"
Sebuah suara melengking berkesan dibuat-buat memecah lamunan Arini. Seorang wanita dengan gaun warna merah menyala mendekat sambil mengayunkan tas tangan bermerek dengan logo emas yang berkilat-kilat. Itu Siska, ditemani oleh dua kawan lama mereka dari masa SMA.
Arini memasang senyum terbaiknya, senyum tipis yang ia latih di depan cermin retak tadi siang. "Hai, Siska. Apa kabar?"
"Kabar baik dong, Rin! Aduh, kamu kok makin langsing saja sih? Cantik banget," ujar Siska sambil menyodorkan pipi kanan dan kirinya untuk cipika-cipiki. Namun, tatapan mata Siska tidak bisa berbohong. Sepasang matanya yang tajam memindai penampilan Arini dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan kecepatan luar biasa—menilai, menghitung harga, dan mencari celah.
"Makasih, Ka. Kamu juga kelihatan segar sekali," balasan Arini penuh kepalsuan.
"Yaa begitulah, Rin. Suamiku baru saja ambil proyek pembangunan resort di Bali, jadi bulan depan kami mau terbang ke sana sekalian liburan," Siska tertawa renyah, tawa yang penuh pamer yang tak disembunyikan. Matanya lalu melirik gelas di tangan Arini, lalu berpindah ke sepatu hak tinggi Arini yang tampak sedikit terkikis di bagian tumit belakangnya.
"Ngomong-ngomong, suami kamu mana, Rin? Si Dimas?" tanya Siska dengan nada keakraban yang terasa seperti sembilu tajam di telinga Arini. "Kok tidak kelihatan ikut? Atau dia sibuk banget di kantornya? Sekarang kerja di mana dia, Rin? Masih di bagian administrasi gudang logistik itu, ya?"
Dua teman wanita di samping Siska tersenyum tipis, saling melempar pandangan rahasia yang penuh arti.
Darah Arini seketika mendidih. Wajahnya terasa panas seolah disiram air raksa. Rasa malu yang luar biasa menancap dalam di dadanya, mencabik-cabik sisa-sisa harga diri yang mati-matian ia pertahankan sejak melangkah masuk ke tempat ini. Ia ingin berbohong, ingin mengaku bahwa Dimas adalah seorang manajer atau direktur perusahaan, tetapi ia tahu rumor di antara kawan-kawan lamanya menyebar lebih cepat daripada api di padang rumput kering.
"Dimas... dia sibuk," jawab Arini kaku, berusaha menahan getaran di suaranya. "Banyak urusan yang harus dia selesaikan."
"Oh... sibuk ya? Wah, hebat dong ya. Ya ampun, kamu harusnya suruh dia istirahat sesekali, Rin. Kerja keras begitu tapi kalau posisinya cuma staf biasa kan kasihan juga tenaganya," tutur Siska dengan nada prihatin palsu yang sangat menusuk.
Tepat saat Arini mengepalkan jemarinya di sekitar gelas hingga buku-buku jarinya memutih, hendak meluapkan amarahnya tanpa peduli tempat, sebuah suara bariton yang dalam, berwibawa, dan sarat akan daya pikat menginterupsi pembicaraan mereka.
"Permisi... Apakah saya boleh bergabung dengan lingkaran para wanita cantik ini?"
Suara itu bergema dengan tenang, namun sanggup menyedot perhatian seluruh meja di area VIP tersebut.
Arini dan ketiga wanita itu menoleh bersamaan.
Seorang pria tinggi berpostur atletis berdiri tak jauh dari mereka. Pria itu mengenakan setelan jas custom fit berwarna biru gelap buatan penjahit kelas atas, membungkus bahunya yang tegap dengan sangat pas. Kemeja putih di dalamnya terbuka satu kancing di bagian kerah, memperlihatkan lehernya yang kokoh. Di pergelangan tangan kirinya, sebuah jam tangan emas Rolex Submariner berkilau diterpa tembusan lampu kristal. Rambutnya disisir rapi ke belakang dengan gaya modern, dan di wajahnya yang tampan terukir sebuah senyuman percaya diri yang begitu karismatik.
Pria itu adalah Rian.
Rian, pria yang semasa sekolah dulu dikenal sebagai sosok yang cerdas namun pendiam, kini telah menjelma menjadi seorang pengusaha muda sukses yang wajahnya mulai sering menghiasi majalah-majalah bisnis nasional.
"Rian?!" seru Siska terperanjat, seketika mengubah nada suaranya menjadi sangat ramah dan penuh perhatian. "Astaga, Rian! Akhirnya kamu datang juga! Kami pikir pengusaha sibuk seperti kamu tidak punya waktu buat reuni kecil begini!"
Namun, Rian sama sekali tidak menoleh ke arah Siska. Pandangan matanya yang tajam bagaikan elang melewati ketiga wanita itu begitu saja, mengabaikan sambutan antusias mereka, dan berhenti tepat di satu titik: pada diri Arini.
Rian melangkah mendekat. Setiap pijakan sepatunya di atas lantai marmer seolah memancarkan wibawa dan dominasi yang mutlak. Bau parfum Tom Ford yang mewah—aroma kayu langka bercampur rempah manis yang hangat—langsung menyeruak masuk ke indra penciuman Arini, menghentak kesadarannya.
Rian berhenti tepat satu jengkal di hadapan Arini. Senyumnya mengembang lebih lebar, memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi.
"Arini..." Rian berbisik pelan, suaranya mengandung getaran magnetis yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. "Luar biasa... Waktu rupanya sangat berhati-hati padamu. Kamu tidak berubah sedikit pun. Malah... jauh lebih mempesona daripada saat terakhir kali kita bertemu di kampus."
Pipi Arini seketika merona merah padam. Jantungnya meloncat hebat di dalam dada.
Selama tiga tahun terakhir, yang ia dengar dari suaminya hanyalah bisikan kata maaf, keluhan tentang beban kerja, atau obrolan monoton tentang harga beras dan sewa kontrakan. Ia sudah lupa bagaimana rasanya dipuja oleh seorang pria yang memiliki kekuasaan dan kekayaan. Pujian Rian tidak sekadar menyentuh telinganya, tetapi meresap langsung ke dalam jiwanya yang dahaga akan pengakuan.
"Terima kasih, Rian..." bisik Arini malu-malu, menundukkan kepalanya sedikit demi menyembunyikan getaran di bibirnya. "Kamu... kamu juga kelihatan sangat sukses sekarang."
Rian tertawa pelan, suara tawa yang begitu renyah dan terdengar sangat mapan. Pria itu perlahan mengulurkan tangan kanannya ke arah Arini.
"Sukses tidak ada artinya kalau tidak bisa dinikmati bersama orang yang tepat, Arini," ucap Rian dengan tatapan mata yang seolah menguliti seluruh pertahanan batin Arini.
Arini menatap uluran tangan itu. Kulit tangan Rian terlihat bersih, halus, dan terawat—sangat kontras dengan tangan Dimas yang kasar, berjelaga oli, dan dipenuhi bekas luka goresan besi bengkel. Dengan jemari yang sedikit gemetar karena sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya, Arini meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Rian.
Kehangatan menyengat kulitnya saat jemari Rian menggenggam tangannya dengan lembut namun penuh penekanan—sebuah genggaman yang tidak hanya menyapa, tetapi seakan memancarkan janji palsu tentang dunia kemewahan yang selama ini Arini impikan.
Di tempat lain, puluhan kilometer dari restoran mewah itu, hujan deras mulai mengguyur kota. Di dalam sebuah bengkel sparepart yang gelap dan berbau oli menyengat, Dimas sedang berlutut di atas lantai semen yang dingin, memikul blok mesin mobil yang berat dengan otot-otot lengannya yang gemetar karena kelelahan. Keringatnya bercampur dengan air hujan yang menetes dari atap seng yang bocor, mengalir membasahi kemeja kusamnya.
Dimas berhenti sejenak untuk mengusap dadanya yang mendadak terasa sangat sesak dan perih—tanpa pernah menyadari bahwa di bawah kilauan lampu kristal kafe termewah di pusat kota, istrinya telah membuka pintu pertama menuju kehancuran rumah tangga mereka.