Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?
Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 9
Gua Akar Naga yang tadinya merupakan tempat peristirahatan sakral kini tak ubahnya rumah jagal. Bau anyir darah Mo Tu menggenang, bercampur dengan aroma dari sisa-sisa formasi yang terbakar.
Qin Mu duduk bersimpuh di samping Gu Shanyin, matanya tak berkedip menatap wajah kakek angkatnya. Jari-jarinya yang masih berlumuran noda darah mencengkeram erat lututnya sendiri.
Satu tarikan napas. Dua tarikan napas.
Tiba-tiba, tubuh Gu Shanyin mengejang hebat.
Pembuluh darah di leher dan pelipis lelaki tua itu menonjol keluar, berubah warna menjadi merah gelap yang nyaris hitam. Suara gemeretak tulang terdengar dari dadanya. Gu Shanyin membelalakkan mata, mulutnya terbuka lebar meraup udara seperti orang yang baru ditarik dari dasar danau, lalu memuntahkan gumpalan darah berwarna ungu pekat yang berbau busuk.
"Kakek!" Qin Mu panik, segera menahan bahu Gu Shanyin agar tidak membentur lantai batu. "Obat itu... apakah aku memberikan racun?!"
Gu Shanyin terbatuk keras, dadanya naik turun dengan liar. Matanya yang biasa sayu kini dipenuhi jaring urat merah. Ia mencengkeram pergelangan tangan Qin Mu dengan kekuatan yang mengejutkan, napasnya berdesis menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Bocah gila..." suara Gu Shanyin serak dan bergetar. "Apa yang... kau suapkan ke mulutku?"
"Pil dari mayatnya," jawab Qin Mu cepat, menunjuk ke arah tubuh Mo Tu yang terkapar di tengah gua. "Napasmu hampir berhenti. Aku tidak punya pilihan lain."
Gu Shanyin menoleh dengan susah payah. Ketika matanya menangkap mayat Mo Tu yang tertelungkup dengan lubang menganga di dada, lelaki tua itu membeku. Pandangannya perlahan beralih kembali ke wajah Qin Mu, menatap noda darah di pipi pemuda itu, lalu turun ke lengan kiri Qin Mu yang kini terlihat jauh lebih padat dan kokoh dari sebelumnya.
Sebagai mantan pendekar puncak, mata Gu Shanyin tidak bisa ditipu. Ia bisa melihat sisa-sisa kotoran fana di kulit Qin Mu dan merasakan aura buas yang baru saja lahir dari tubuh pemuda itu.
"Kau... menembus Penempaan Tubuh," gumam Gu Shanyin, suaranya kehilangan nada sarkastisnya, digantikan oleh kerumitan yang mendalam. "Kau membunuhnya."
"Dia yang ingin membunuh kita," jawab Qin Mu dingin, rahangnya mengeras. "Jika aku membiarkannya hidup, kita berdua yang akan menjadi mayat di sini."
Gu Shanyin melepaskan cengkeramannya dari tangan Qin Mu dan tertawa pelan. Tawa itu terdengar sumbang, perpaduan antara kelegaan, kebanggaan yang pahit, dan penyesalan yang tak terukur.
"Kau beruntung, Bocah," kata Gu Shanyin, mengusap sisa darah ungu dari bibirnya. "Itu adalah Pil Pembakar Darah dari Sekte Bayangan Darah. Pil itu memaksa jantung untuk memompa sisa-sisa Qi dan meregenerasi luka dengan cara memakan fondasi kultivatornya. Jika aku masih berada di ranah Foundation Establishment yang utuh, pil ini akan menghancurkan kultivasiku secara permanen dan membuatku cacat."
"Lalu... sekarang?" tanya Qin Mu, rasa bersalah sempat menyelinap di matanya.
"Fondasiku sudah lama menjadi debu," kekeh Gu Shanyin, meski wajahnya masih sepucat kertas. "Tidak ada lagi rumah yang bisa dibakar. Pil ini... hanya memberiku pinjaman waktu. Jantungku kembali berdetak, tapi racun darahnya akan bersarang di tulangku."
Gu Shanyin memaksakan diri untuk duduk. Ia menatap Mo Tu sekali lagi, menggelengkan kepalanya. Seorang ahli yang ditakuti di dunia hitam, mati di tangan anak berusia empat belas tahun yang bermodalkan sebilah pisau buru dan keputusasaan.
"Bawa kantung di pinggangnya ke mari," perintah Gu Shanyin.
Qin Mu menurut. Ia mengambil Kantung Penyimpan bersulam emas itu dan menyerahkannya.
"Artefak ini diikat dengan Tanda Jiwa milik Mo Tu. Karena kau belum memiliki Qi untuk menghapusnya secara perlahan, dan karena dia sudah mati, ikatannya melemah," jelas Gu Shanyin. Lelaki tua itu menggigit ujung jarinya sendiri, meneteskan setitik darah ke atas kantung itu.
Sebuah kilatan cahaya keperakan sisa terakhir dari Niat Pedang Gu Shanyin menusuk kantung tersebut. Terdengar suara letupan kecil seperti kaca pecah.
"Buka," kata Gu Shanyin kelelahan.
Qin Mu membuka tali kantung itu dan menuangkan isinya ke lantai. Tidak banyak benda yang keluar, yang membuktikan bahwa Mo Tu sedang dalam misi perburuan, bukan bepergian jauh. Terdapat belasan batu kristal seukuran ibu jari yang memancarkan energi murni, beberapa batang perak fana, sebuah peta gulung dari kulit binatang, dan sebuah medali perunggu berbentuk tengkorak bertaring.
"Batu Roh tingkat rendah. Mata uang sekaligus sumber energi di dunia kultivasi," jelas Gu Shanyin, menunjuk kristal-kristal itu. "Dan medali itu... buang. Itu token Sekte Bayangan Darah. Membawanya hanya akan mengundang anjing-anjing pelacak mereka yang lain."
Qin Mu mengangguk. Ia memungut Batu Roh dan perak itu, memasukkannya kembali ke dalam kantung, lalu mengikatkannya di balik jubahnya. Ia kemudian berjalan ke arah altar, mengambil gulungan bambu Sutra Penempaan Tulang Kehampaan, dan memasukannya dengan hati-hati ke dalam buntalannya.
Sebelum berbalik, Qin Mu menangkupkan kedua tangannya dan membungkuk hormat kepada kerangka tulang emas di atas altar. Ia telah mengambil warisan pendahulu ini, dan ia menyadari utang karma yang mengikatnya sekarang.
"Kita harus pergi. Sekarang," ucap Gu Shanyin, memecah keheningan. "Gua ini sudah terbuka. Bau darah Mo Tu, dicampur dengan energi liar yang kau lepaskan sebelumnya, akan menarik binatang buas spiritual tingkat menengah sebelum matahari terbit."
"Kita pergi ke mana?" Qin Mu berjongkok, kembali menawarkan punggungnya untuk memapah Gu Shanyin.
"Ke timur. Keluar dari pegunungan ini," Gu Shanyin naik ke punggung Qin Mu dengan susah payah. Tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya, seolah pil tadi telah membakar sebagian esensi dagingnya. "Menuju Kota Linlang. Kota perbatasan Kerajaan Tianhe. Di sana, kita akan tenggelam di lautan manusia fana dan kultivator kelas rendah."
Qin Mu mengencangkan ikatan buntalannya, menguatkan kuda-kudanya, dan melangkah keluar dari Gua Akar Naga. Hujan telah berhenti sama sekali. Udara malam yang sedingin es menyambut mereka, membawa bau getah pinus dan tanah basah. Pemuda itu tidak menoleh ke belakang, melangkah menembus kegelapan hutan dengan langkah yang jauh lebih ringan dan pasti dibandingkan saat ia datang.
Puluhan li dari Pegunungan Qingluo, jauh di dalam sebuah lembah yang diselimuti kabut beracun berwarna merah, terdapat sebuah aula bawah tanah yang dindingnya diterangi oleh obor api hijau.
Aula itu sunyi senyap, dindingnya dipenuhi rak-rak batu. Di atas rak tersebut, tersusun rapi ratusan lempeng giok kecil yang memancarkan cahaya kehidupan. Ini adalah Ruang Jiwa dari cabang Sekte Bayangan Darah.
KRAK!
Di barisan rak tingkat tiga, sebuah lempeng giok yang bertuliskan aksara 'Mo Tu' mendadak retak, lalu hancur menjadi debu abu-abu.
Seorang penjaga yang duduk bersila di sudut ruangan tersentak bangun. Matanya membelalak ngeri melihat debu yang berjatuhan. Ia segera bangkit dan memukul sebuah lonceng perunggu di dekat pintu. Suara lonceng yang berat dan suram menggema ke seluruh kompleks bawah tanah.
Sesaat kemudian, pintu batu raksasa di ujung aula terbuka. Seorang pria paruh baya melangkah masuk. Ia mengenakan jubah sutra merah yang sangat bersih, wajahnya pucat tanpa emosi, dan sepasang matanya hitam kelam tanpa bagian putih. Setiap langkahnya membuat suhu ruangan turun drastis.
"Penatua Mo Tu... jiwanya telah padam, Tuan Kepala Cabang!" lapor penjaga itu sambil bersujud di lantai, tubuhnya bergetar hebat.
Pria bermata kelam itu berjalan mendekati rak batu. Ia meraup sejumput debu giok milik Mo Tu, mendekatkannya ke hidung, dan menarik napas panjang.
"Gagal melacak sisa-sisa Balai Penjaga Langit, dan sekarang mati di tangan... seseorang yang bahkan Qi-nya tidak terasa seperti kultivator?" gumam pria itu dengan nada dingin yang mengiris. Ia melepaskan debu itu, membiarkannya tertiup angin dari pintu.
"Kirim Tiga Belas Bayangan," perintah pria itu tanpa menoleh. "Sisir seluruh pinggiran Kerajaan Tianhe. Siapa pun yang mengambil Kantung Penyimpan Mo Tu, bawa kepalanya ke hadapanku. Jika kepalanya tidak ditemukan, bawa seluruh penduduk desa terdekat sebagai persembahan darah."
"Baik, Tuan!"
Pria itu menyipitkan mata kelamnya menembus dinding batu, seolah bisa melihat langsung ke arah Pegunungan Qingluo. Roda takdir telah berputar lebih cepat dari yang ia perkirakan, dan percikan darah yang tertumpah malam ini, perlahan akan membakar seluruh langit Kerajaan Tianhe.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️