NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: JARUM DEWA DAN PENGIKUT BARU

Setelah semuanya selesai dan luka kelima wanita itu pulih total, Bima Samudra pun setuju untuk ikut bersama para wanita cantik itu menuju desa mereka.

Pemimpin wanita berambut kuncir kuda itu menghampiri Bima dengan wajah yang masih sedikit memerah karena malu dan kagum.

"Perkenalkan, nama ku Intania, biasa dipanggil Intan. Kalau boleh tahu, siapa nama Tuan...?" kata wanita itu memperkenalkan diri sekaligus bertanya dengan penuh rasa ingin tahu pada penyelamatnya.

"Nama ku Bima Samudra, tapi biasa dipanggil Bima. Kamu juga bisa memanggil ku Bima saja. Apa kamu mau menjadi temanku, Intan...?" kata Bima dengan santainya sambil tersenyum hangat.

"Tentu, ee maksudku Bima. Nama mu sangat bagus, sesuai dengan parasmu yang sangat tampan," kata Intan memuji Bima dengan tulus.

"Betulkah aku tampan...?" dengan percaya dirinya Bima pun ikut memuji dirinya sendiri sambil tersenyum bercanda, membuat suasana yang tadinya tegang jadi cair.

"Bima, kau begitu istimewa," kata Intan yang seketika membuat Bima penasaran.

"Kenapa bisa begitu...?" tanya Bima.

"Di dunia ini, yang kuat biasanya sombong dan suka menindas yang lemah. Tapi dirimu sangat kuat, jauh lebih kuat dari kami semua, namun bersikap begitu ramah dan rendah hati," kata Intan menyampaikan pendapatnya tentang Bima.

Bima tersenyum tipis, tatapannya menjadi dalam.

"Sikap ku tergantung pada sikap orang terhadap ku, Intan. Jika orang itu baik padaku, aku pun akan berusaha seratus kali lebih baik padanya. Namun jika orang itu jahat, aku pun bisa lebih kejam dari iblis. Jangankan jasadnya, jejak jiwanya pun akan ku musnahkan. Berbuat baik atau jahat itu harus sesuai tempatnya," jelas Bima dengan santai namun nadanya terdengar begitu mengerikan dan berwibawa, membuat Intan merinding.

Wanita itu mengangguk pelan, semakin kagum mendengar penjelasan Bima yang begitu dewasa.

"Ngomong-ngomong, berapa jauh jarak Perguruan Anggrek Putih mu itu, nona...?" tanya Bima yang mengalihkan topik pembicaraan agar tidak terlalu serius.

"Perjalanan satu hari jalan kaki dari sini, Bima. Lewat Desa Ngargoyoso, Karanganyar. Tapi sekarang hari sudah mulai gelap, bukankah lebih baik kita mencari tempat untuk bermalam terlebih dahulu...? Di depan sana, di pinggir Sungai Siangit, ada sebuah gua. Sepertinya kita bisa bermalam di sana," kata Intan sambil menunjuk ke arah hilir sungai.

Bima mengangguk tanda setuju, lalu mereka pun bergegas menuju gua itu. Sesampainya di gua, Bima memeriksa gua itu dengan indra jiwanya. Gua itu cukup luas, kering, bersih, dan aman dari binatang buas.

Setelah memastikan gua itu aman, Bima pun beristirahat di sana.

Sambil beristirahat, Bima memeriksa Cincin Semestanya. Di dalam tumpukan harta warisan Eyang Jagat, terlihat sebuah jarum putih mengkilat yang melayang-layang dengan aura suci.

Bima pun mengeluarkannya.

"Jarum Suci Legendaris," gumam Bima. Menurut ingatan dari warisan yang ia terima, jika disempurnakan, jarum ini bisa menjadi senjata yang mematikan dan juga bisa untuk mengobati segala penyakit. Efeknya seratus kali lipat dari jarum perak biasa yang dipakai tabib di Solo.

Dengan gembira, Bima segera mulai menyempurnakan Jarum Suci itu. Berkat bimbingan dari ingatan warisan Eyang Jagat, ia berhasil menyempurnakannya dengan sangat mudah. Jarum itu kemudian ia tanam di dalam lautan jiwanya dan ia bisa mengendalikannya hanya dengan kekuatan pikirannya. Jarum itu bisa membelah diri menjadi ratusan bahkan ribuan jarum sesuai keinginan penggunanya.

Mengetahui hal itu, Bima bangkit dan tersenyum puas. Setidaknya kini ia memiliki satu senjata rahasia yang hebat selain Pedang Pembalik Langit.

Setelah selesai dari kesibukannya, Bima melihat para wanita dari Perguruan Anggrek Putih itu telah selesai mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api unggun. Cahaya api unggun membuat wajah lelah mereka terlihat lebih hangat.

"Aku mau ke sungai sebentar mencari ikan untuk makan malam kita," kata Bima. Selesai berkata, Bima pun menghilang dari gua dengan Teknik Langkah Bayu.

Sesampainya di tepi Sungai Siangit, Bima langsung melepas jubah luarnya, menyisakan pakaian dalamnya, dan masuk ke dalam air yang jernih dan dingin. Begitu berada di dalam air, ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam sungai.

Ia pun menyelam untuk memeriksanya. Benar saja, ada seekor Ikan Mas Ajaib berukuran besar yang sedang berlari ketakutan menghindari sesuatu.

Bima tidak peduli dengan apa yang mengejarnya, ia segera mengejar ikan ajaib itu dan meluncurkan Jarum Suci nya.

"Wussshhh..."

Dengan satu serangan yang sangat presisi dari Jarum Suci, Ikan Mas Ajaib itu pun langsung pingsan, berhenti bergerak.

Melihat itu, Bima pun tersenyum puas dan langsung menyimpan ikan itu ke dalam Cincin Semesta miliknya untuk makan malam.

Tak lama setelah itu, air sungai pun bergejolak dengan hebat dan muncullah seekor Ular Kobra Emas raksasa sepanjang lima meter. Matanya menyala, ia sangat marah karena Bima merebut mangsanya.

"Manusia lancang, berani-beraninya kau merebut mangsaku...!" desis ular itu dengan suara yang bisa dimengerti Bima.

Mendengar omelan ular itu, Bima pun dengan senyum mengejek menjawab, "Siapa cepat dia dapat, Kobra. Rezeki sudah ada yang mengatur."

Ular Kobra Emas itu semakin marah dan melesat dengan kecepatan kilat untuk menyerang Bima. Namun Bima dengan sangat santainya melepaskan Jarum Suci nya lagi untuk mengunci pergerakan ular tersebut.

"Wussshhh..."

Seketika ular itu terkena Jarum Suci di tujuh titik meridian tubuhnya dan menjadi kaku seperti patung. Ia hanya bisa bicara namun tidak bisa bergerak sama sekali.

"Manusia sialan...! Apa yang kau lakukan padaku...?" teriak ular itu dengan marah.

"Apa yang kau lakukan...? Aku akan membunuhmu...!" kata ular itu dengan marah, namun semakin dia berusaha bergerak, tubuhnya semakin terasa sakit dan tersiksa seperti ditusuk ribuan semut.

Tanpa melihat ke arah ular itu, Bima dengan santai mengejeknya sambil terus berenang membersihkan diri.

"Daripada kau sibuk berpikir untuk membunuhku, lebih baik kau diam yang patuh di sana jadi penjaga. Lumayan, ada kobra emas jadi satpam sungai. Kapan lagi ular sepertimu bisa melihat pendekar tampan sepertiku mandi," kata Bima menjaili ular itu.

Ular itu tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah mematung di tepi sungai dengan wajah kesal.

Saat sedang asik membersihkan diri dan bersenandung kecil, para wanita dari Perguruan Anggrek Putih datang menghampiri tepi sungai.

Intania yang berada di paling depan berkata dengan malu-malu dari balik semak-semak.

"Bima, maaf mengganggu mu. Tapi apakah kamu sudah selesai...? Kami juga ingin membersihkan diri dan mengambil air wudhu, kalau boleh...?"

Tanpa ada rasa canggung, Bima yang masih berada di tengah sungai menjawab dengan suara lantang namun tetap sopan.

"Kenapa harus menunggu ku selesai...? Air sungai ini kan luas dan panjang. Kalian bisa pakai bagian hilir di sana, aku di bagian hulu sini. Jika kalian menunggu terlalu lama, hari akan segera gelap. Lagipula, tidak aman bagi wanita cantik berkeliaran malam-malam di hutan Lawu seperti ini."

Bima lalu menunjuk ke arah Ular Kobra Emas yang sudah mematung di sana.

"Lihat, ada penjaga gratis di sini. Ular jelek ini sudah ku amankan, jadi aman."

Sontak para wanita itu mengalihkan pandangan mereka ke arah yang ditunjuk oleh Bima.

Melihat ular raksasa yang begitu besar mematung di sana, para wanita itu kaget sekaligus ketakutan.

Sebab itu adalah Ular Kobra Emas, hewan ajaib yang langka dan sangat kuat di Gunung Lawu. Bahkan jika mereka berlima mengerahkan seluruh kekuatan dan bertarung sampai mati pun, tidak mungkin bisa mengalahkannya.

Tapi di tangan pria ini, ular itu tidak ada harga dirinya, hanya dibuat mainan dan jadi patung penjaga sungai.

Intania menggeleng-gelengkan kepalanya, bergumam pelan, "Sungguh kekuatan yang mengagumkan..."

"Nona, silakan pakai sisi hilir sana untuk membersihkan diri. Biar ular jelek ini jadi penonton yang patuh dan jaga kalian," kata Bima yang terus-menerus mengejek ular itu.

Dengan malu-malu dan wajah yang memerah, para wanita itu pun pergi ke bagian hilir sungai yang agak tertutup rimbunnya pohon, dengan jarak yang cukup jauh dari Bima, untuk membersihkan diri dan mencuci muka. Mereka tetap memakai pakaian luar mereka yang tipis, hanya membasuh wajah dan tangan serta kaki.

Bima yang melihat dari kejauhan hanya bisa menelan ludah melihat pemandangan yang indah itu, lima wanita cantik sedang bercanda ria sambil bermain air di senja hari. Suasana yang begitu hidup.

Para wanita yang merasakan tatapan Bima dari jauh pun menjadi sangat malu, karena ini kali pertama mereka membersihkan diri di sungai yang sama dengan seorang pria.

Intania pun berkata dengan suara agak keras agar terdengar sampai ke hulu, "Bima, apakah kamu sudah puas memandangi kami dari jauh...?" ujar Intania dengan malu.

Dengan tidak tahu malunya, Bima pun berkata sambil tertawa, "Bagaimana aku bisa mudah puas melihat pemandangan seindah senja di Lawu dan ditemani lima bidadari dari Anggrek Putih...?"

Intania yang mendengar ucapan Bima pun menjadi tersipu, namun ia membalas dengan berani.

"Bima, tubuh kami memang harus dijaga baik-baik, kami ini pendekar wanita. Harus kuat."

"Kenapa tidak kau saja yang menjaga keindahan Perguruan Anggrek Putih ini agar tetap aman, biar aku bisa selalu melihat senyum kalian," balas Bima dengan santai namun gombal.

Intania tersenyum nakal dari kejauhan, "Ucapan mu sungguh menggoda jiwa dan raga ku, Bima."

Seiring berjalannya waktu, mereka terus bercanda ria di tepi sungai sambil tertawa bahagia. Suasana canggung pun hilang, berganti menjadi keakraban.

Ular Kobra Emas yang telah lama hidup sendirian dan kesepian di sungai itu pun merasa ikut bahagia melihat candaan Bima dan yang lainnya. Sudah lama sekali ia tidak melihat manusia yang bisa tertawa setulus itu di hutan.

Seketika hati ular itu tergerak.

"Bagaimana jika aku mengikuti orang ini...? Aku merasa manusia ini orangnya baik, tulus, dan juga sangat kuat. Jauh lebih kuat dari tuan-tuan ku sebelumnya. Tidak ada salahnya jika aku mengabdi kepada nya," pikir ular itu di dalam hatinya.

"Namun apakah dia mau menerima ku...? Dia saja mengatakan aku jelek dan nakal. Tapi dia orang baik, aku akan tetap mencobanya," pikir ular itu mengambil keputusan besar dalam hidupnya.

Setelah selesai membersihkan diri dan merapikan pakaian, Bima dan yang lainnya mau bergegas kembali ke gua untuk makan malam.

Namun ular itu memanggilnya dengan suara yang sedih dan penuh harap.

"Tuan, tolong bebaskan aku dan biarkan aku menjadi pengikut mu. Aku akan setia melayani mu seumur hidupku," kata ular itu dengan sedih.

"Walaupun Tuan bilang aku jelek dan nakal, aku berjanji tidak akan nakal lagi. Aku akan patuh pada mu, Tuan," kata ular itu memohon dengan tulus.

Karena merasa kasihan dan juga melihat ketulusan di mata ular itu, Bima pun menarik kembali Jarum Suci nya agar ular itu kembali bisa bergerak.

Ular itu langsung menundukkan kepala besarnya yang berwibawa di hadapan Bima.

"Aku, Kobra Emas dari Sungai Siangit, bersedia membuat Kontrak Darah Kesetiaan dengan Tuan," kata ular itu.

Tanpa pikir panjang, Bima pun setuju. Ia meneteskan setetes darahnya ke dahi ular itu.

"Wunggg..."

Cahaya keemasan menyelimuti mereka berdua. Mulai hari itu, Ular Kobra Emas itu resmi menjadi pengikut keempat Bima, setelah tiga ratu klan di dalam Alam Jiwanya.

Bima tersenyum puas.

"Baiklah, mulai sekarang namamu adalah Kencana. Kobra Kencana. Ikutlah dengan kami kembali ke gua. Malam ini kita makan besar Ikan Mas Ajaib bakar madu."

Kencana, yang kini punya nama baru, mengangguk dengan sangat patuh dan mengikuti di belakang Bima dengan tubuhnya yang besar namun bergerak dengan anggun.

Malam itu, di dalam gua di pinggir Sungai Siangit, api unggun menyala hangat, ikan bakar harum menggugah selera, dan tawa bahagia terdengar hingga ke hutan.

BERSAMBUNG

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!