Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
Pagi itu, langit tampak cerah dengan semburat jingga yang perlahan berubah menjadi biru.
Sinar matahari menyusup di antara celah pepohonan, menerangi jalanan yang masih basah oleh embun. Udara terasa sejuk dan segar, sementara hembusan angin pagi membawa aroma tanah yang menenangkan.
Suara burung terdengar bersahutan dari kejauhan, berpadu dengan suara kendaraan yang mulai memenuhi jalan.
Perlahan, suasana yang semula sunyi berubah menjadi ramai. Orang-orang mulai bergegas menjalani aktivitas masing-masing, menyambut hari baru dengan kesibukan mereka.
Begitu juga dengan Laras.
Pagi-pagi sekali, ia sudah terbangun. Wanita itu sempat menatap suaminya yang masih tertidur pulas sebelum turun dari ranjang dengan hati-hati agar tidak membangunkannya.
Setelah mencuci muka dan merapikan diri, Laras mengambil baju kerja suaminya yang sudah ia siapkan sejak malam sebelumnya.
Ia meletakkannya dengan rapi di atas sofa, kemudian keluar dari kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Rutinitas itu sudah ia jalani selama tiga tahun.
Laras berusaha menjadi istri yang baik dan penurut. Ia mengurus rumah, menyiapkan keperluan suami, dan selalu berusaha memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
Tapi, ada satu hal yang belum melengkapi keluarga kecil mereka, yaitu suara tangisan seorang bayi.
Meski begitu, Laras tetap bersyukur. Setidaknya, selama tiga tahun pernikahan mereka, Robby tidak pernah menuntutnya untuk segera memiliki anak.
Setelah semua makanan tersaji di atas meja, Laras melepas celemek yang ia kenakan dan hendak memanggil suami dan ibunya. Tapi, baru saja berbalik, ponselnya tiba-tiba berdering nyaring.
Laras buru-buru meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia terdiam sesaat, melihat nama yang tertera di layar.
"Dokter Anna?" gumamnya.
Jantung Laras berdegup sedikit lebih cepat. Sejak menjalani pemeriksaan kesuburan bersama suaminya, ia memang masih menunggu hasilnya.
Laras menarik napas panjang sebelum mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Dok?"
"Maaf mengganggu Anda pagi-pagi begini, Bu Laras. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan Anda dan suami sudah keluar sejak kemarin," ujar Dokter Anna dari seberang sana.
"Benarkah? Lalu, bagaimana hasilnya, Dok?"
Dokter Anna terdiam sesaat sebelum menjawab. "Begini, Bu. Setelah saya memeriksa hasilnya, ada masalah pada tingkat kesuburan suami Anda."
Laras terdiam. Raut wajahnya berubah muram.
Di saat yang sama, Robby baru saja menginjakkan kaki di anak tangga terakhir. Ia hendak menghampiri istrinya, tetapi langkahnya terhenti saat melihat ekspresi Laras.
Begitu juga dengan Soraya, ibu Laras. Ia yang baru saja keluar dari kamar, ikut menghentikan langkahnya.
"Apa maksud Dokter?" tanya Laras dengan suara bergetar.
"Untuk saat ini, kami belum bisa memastikan secara pasti, Bu. Namun, dari hasil pemeriksaan, kemungkinan suami Anda akan sulit memiliki keturunan secara alami."
DEG!
Tubuh Laras menegang. Jantungnya berdetak semakin kencang.
"M-maksud Dokter... Kami tidak bisa mempunyai anak?"
Soraya menutup mulutnya dengan mata melebar, tidak percaya. Sedangkan Robby hanya bisa diam membeku di tempatnya.
"Laras mandul?" batinnya tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Belum tentu tidak bisa, Bu," jawab Dokter Anna di seberang. "Oleh karena itu, saya menyarankan Anda dan suami datang ke rumah sakit agar kami bisa melakukan pemeriksaan lanjutan dan menjelaskan kondisinya secara langsung."
Laras mengangguk. "Ba-baik, Dok. Saya akan bicara dengan suami saya. Terima kasih sudah memberitahu saya."
"Sama-sama, Bu."
Panggilan pun terputus.
Laras menurunkan ponselnya perlahan. Ia menggenggam benda itu erat-erat sambil berusaha mencerna ucapan Dokter Anna.
Namun, belum sempat ia mengatakan apa pun, air matanya lebih dulu mengalir.
Laras mendongakkan wajah, berusaha menahan tangis agar tidak semakin deras. Sayangnya, semua itu sia-sia.
Melihat itu, Soraya segera menghampirinya dan mencoba menenangkan.
"Sayang!"
Laras buru-buru menghapus air matanya dan menoleh. "Ma?"
Soraya mengusap pipi putrinya yang basah. "Mama sudah mendengar semuanya, Sayang. Jangan menangis."
Robby pun segera mendekat. Tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan Laras dengan lembut.
"Iya, Sayang. Jangan sedih. Tidak masalah kalau kita tidak bisa punya anak."
Laras mengernyitkan kening. "Apa maksudmu, Mas?"
Robby menatapnya penuh kasih. "Aku sudah mendengar semuanya. Aku tidak masalah kalau kamu tidak bisa hamil, Sayang."
Laras membeku. Ia menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.
"Kita masih bisa mengadopsi anak kalau memang diperlukan. Bagiku, aku mempunyai kamu saja sudah cukup."
Laras terdiam. Barulah ia menyadari jika ibu dan suaminya sudah salah memahami pembicaraan tadi. Tapi, Laras tidak segera meluruskan kesalahpahaman itu.
Bukan karena ingin membohongi mereka. Ia hanya terlalu terkejut dengan kenyataan bahwa setelah tiga tahun pernikahan, masalah yang selama ini mereka khawatirkan ternyata bukan berasal dari dirinya.
Soraya menatap Robby dengan tatapan tajam. "Kamu yakin bisa menerima Laras apa adanya?" tanyanya dengan nada sedikit ketus.
Robby mengangguk tanpa ragu. "Ma, aku tulus mencintai Laras. Aku tidak peduli dengan keadaannya. Yang penting, kami bisa tetap bersama. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."
Senyum tipis muncul di bibir Laras. Entah mengapa, mendengar ucapan itu membuat dadanya terasa hangat.
Soraya yang sejak awal kurang menyukai Robby perlahan luluh.
"Baiklah." Soraya menghela napas. "Kalau begitu, kamu jaga baik-baik putriku. Kalau kamu memang serius dengan ucapanmu, Mama bisa mempertimbangkan posisi direktur untukmu."
Mata Robby langsung berbinar. "Benaran, Ma?"
"Tergantung bagaimana sikapmu pada Laras."
Robby tersenyum lebar. "Mama tenang saja. Aku akan selalu membahagiakan Laras."
Laras tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. "Terima kasih, Ma."
"Sama-sama, Sayang."
Laras menatap Robby lalu memeluknya.
Selama ini, ibunya tidak terlalu menyukai Robby karena latar belakangnya.
Mereka bertemu saat ia di ganggu preman. Dan, dengan keberaniannya, Robby melawan preman-preman itu hingga terluka cukup parah. Sejak saat itu, mereka dekat dan saling jatuh cinta.
Tapi, Soraya selalu menentang hubungan mereka. Soraya menganggap Robby tidak pantas untuk Laras. Tapi, dengan kegigihan Robby memperjuangkan cinta mereka, akhirnya Soraya merestui hubungan mereka.
Tapi, semua itu tidak membuat Soraya bersikap baik pada Robby
Soraya secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya pada Robby. Bahkan, saat Robby bergabung di perusahaan, Soraya menempatkan pria itu sebagai karyawan biasa.
Tapi sekarang berbeda.
Kalau kesalahpahaman ini bisa membuat hubungan mereka baik, biarkan saja. Laras tidak ingin meluruskan nya.
Tidak untuk sekarang.
"Ya sudah." Laras melepas pelukannya. "Kalian cepat sarapan, nanti terlambat. Aku akan bersiap dulu."
Robby dan Soraya mengangguk. Soraya menarik kursi dan duduk. Sedangkan, Robby masih berdiri, menatap Laras yang menjauh.
Setelah Laras tidak terlihat, ekspresi Robby berubah dan tersenyum tipis penuh arti.
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti