Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Berharap yang terbaik.
Angin pagi berembus dingin saat Bang Satria melangkah mendekat, lalu kilas balik singkat muncul di benaknya.
Flashback kisah singkat Pitta dan Bang Satria on..
Sore.. Tiga tahun lalu, saat Pitta berjongkok di bawah pohon dan menangis sambil mencari semut merah.
Langkah besar seorang pria datang mendekat. Ia mengambil sesuatu dari saku bajunya.
"Ini untuk kamu..!!" Katanya.
Nama dada S. Branjangan terlihat jelas. Pria tersebut lalu berbisik pelan. "Jangan takut..!! Mereka seperti ini bukan berniat mau menyiksamu, mereka hanya mau kamu tidak melakukan hal sia-sia dalam hidupmu."
Mendengar kata-kata itu, Pitta pun kesal. Ia mengusap air matanya. "Aku memang nggak buat apa-apa. Mereka yang bertengkar, alu hanya berjalan cepat, mau beli cimol."
Bang Satria sampai berdehem. Kegiatan salah tangkap ini agaknya membuatnya merasa bersalah juga.
"Okee.. Saya secara pribadi dan mewakili anggota saya, mohon maaf karena sudah salah sangka sama kamu." Ucap Bang Satria mengakui kesalahannya, sikap itu ternyata sesuai dengan namanya.. Satria. "Kalau boleh saya tau, siapa namamu??"
"Anjani.. Panggil saja Pitta."
"Lah.. Kok jauh sekali, Anjani jadi Pitta??" Tanya Bang Satria dengan kening berkerut.
"Anjani Pramudhita.. Pitta."
"Oowwhh.." Bang Satria pun mengangguk paham.
Flashback kisah singkat Pitta dan Bang Satria off..
Bang Oscar hanya menatap adiknya sekilas, lalu mengangguk pada petugas PM yang sudah menunggu. Tanpa banyak bicara ia ikut berjalan menuju suatu tempat untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahan yang pernah di buatnya.
\=\=\=
Di sana, hukuman dan teguran keras dari para senior menantinya. Mereka mengira ia telah menyakiti dan menodai gadis muda itu.
Hari‑hari berlalu, tubuhnya semakin menyusut karena lelah dan tekanan batin, ia hanya diam menanggung semuanya sendirian, pantang juga mengadu pada keluarga atau memberitau Pitta agar gadis itu tidak stress.
Namun siapa sangka rahasia itu tidak bisa bertahan lama. Beberapa hari kemudian, Pitta mendengar percakapan dua anggota saat berjalan di halaman rumah.
"Letnan di hajar habis-habisan di sel karena di tuduh menodai Bu Pitta."
"Yang benar, kau... Masa Pak Oscar tidak melawan??" Respon seorang anggota lainnya.
Kini Pitta baru menyadari, Bang Oscar bukan pergi menangkap pelaku sabung ayam, melainkan ada di dalam sel militer. Hatinya terasa teriris, ia tidak bisa tidur dan makan dengan tenang. Sehari semalam Pitta terus menangisi suaminya sambil berpikir bagaimana caranya bertemu dengan Bang Oscar.
***
Tanpa memberitahu siapapun, dengan kandungan yang sudah berusia lima bulan, Pitta berangkat ke gedung penahanan Batalyon. Gedung itu terpisah dari kesatuan dan berada di puncak bukit.
Setelah membawa surat ijin dari 'Bang Satria', begitu melihat jeruji sel tempat suaminya berada, tekanan yang selama ini ia tahan tiba‑tiba meledak. Ia berteriak memanggil nama Bang Oscar sambil menangis histeris, namun saat berada pada sel terakhir, tiba‑tiba saja kakinya melemah dan ia terjatuh pingsan di depan pintu sel.
Bang Oscar yang sedang duduk di dalam sel langsung melompat berdiri, ia memng mendengar suara berisik itu, mengira suara tersebut hanya halusinasinya semata karena Pitta tak pernah tau keadaannya.
Tapi saat Bang Oscar berdiri dan melihat keluar pintu, jantungnya berdegup kencang melihat istrinya tergeletak di luar. Padahal petugas sudah memberitaunya bahwa besok pagi ia akan dibebaskan dan dikirim ke tempat tugas baru.
Sekujur tubuh Bang Oscar gemetar. Kepanikan meluap‑luap saat melihat Pitta tergeletak tak sadar di depan sel, tapi di tengah kegelisahan itu matanya tertuju pada perut istrinya yang sudah membuncit lima bulan, ada rasa bahagia kecil yang terselip, tanda nyawa kecil itu masih ada di sana.
"Mass.. Tolong buka sebentar pintunya. Istri saya pingsan."
"Pittaaaaaa..!!!" teriaknya sekuat tenaga, suaranya serak karena lelah selama ditahan. "Tolong..!!!!! Panggilkan dokter sekarang juga..!!!!"
Petugas jaga segera berlari mendekat, mereka membuka pintu. Bang Oscar segera menghambu. Ia memeriksa jalan nafas dan denyut nadi Pitta. Matanya sama sekali tak beralih dari tubuh istrinya, penuh rasa syukur namun juga ketakutan yang teramat sangat karena Pitta mendadak demam tinggi. Ia baru teringat kabar yang didapatkannya kemarin malam bahwa besok pagi ia akan dibebaskan dan pindah tugas.
"Jangan sampai ada apa‑apa, sayang… tunggu Abang semalam lagi…" bisiknya pelan, meskipun Pitta belum sadar mendengarnya. "Besok kita sudah bisa sama-sama, Abang nggak akan kemana-mana lagi."
Tak lama terdengar langkah cepat tim medis yang membawa tandu, lalu mereka mengangkat tubuh Pitta dengan hati‑hati untuk dibawa ke ruang pemeriksaan.
Bang Oscar nampak begitu gelisah, wajahnya sampai pucat pasi. Sampai kemudian seseorang berpangkat kapten tiba disana. Dia Kapten Alim.
"Tidak usah menunggu besok. Temani istrimu, saya yang tanggung jawab..!!" Kata beliau. "Tiga menit sebelum ambulans membawanya, kau sudah harus membawa barang pentingmu, sisanya di bawa ajudanmu besok..!!"
Tak berpikir panjang, Bang Oscar langsung menuju ruang penyimpanan ponsel dan barang berharga lainnya. Bang Oscar mengambil dompetnya saja kemudian kembali pada seniornya. "Ijin Abang, Terima kasih atas bantuannya."
Bang Alim menepuk bahu junior nya itu. "Sama-sama, cepat temani istrimu..!!"
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍