Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Fondasi Pertama
Halaman belakang kediaman Pangeran Keempat—yang dulunya hanya dipakai untuk latihan memanah santai atau sekadar bermalas-malasan di bawah pohon—kini berubah menjadi arena latihan kecil yang sibuk setiap pagi sebelum matahari sepenuhnya terbit.
Lima orang berdiri berjajar di sana: Ah Fu, Xiao Hei, seorang gadis bernama Yue Er yang dulunya penimbang barang, pandai besi tua bernama Paman Guo, dan mantan tentara bernama Zhao Kai yang dulu dituduh pengecut.
Mereka bukan prajurit istana. Bukan pula bangsawan atau murid sekte ternama. Di mata dunia luar, mereka hanyalah orang-orang biasa yang gagal, dibuang, atau diabaikan.
Namun bagi Zhou Chen, mereka adalah fondasi dari sesuatu yang jauh lebih besar.
"Mulai hari ini," katanya, berdiri di hadapan mereka dengan tangan terlipat di belakang punggung, "kalian akan berlatih ulang dari dasar. Bukan karena kalian lemah—tapi karena selama ini kalian diajari dengan cara yang salah."
Xiao Hei, yang berdiri paling depan, menelan ludah gugup. "Yang Mulia yakin bisa membantu kami? Maksud hamba... tanpa bermaksud lancang, tapi Yang Mulia sendiri belum pernah dikenal ahli dalam bela diri."
Pertanyaan itu wajar. Bahkan Ah Fu sendiri, meski sudah merasakan manfaat dari perbaikan tekniknya, masih menyimpan keraguan kecil di hatinya.
Zhou Chen tidak marah mendengar pertanyaan itu. Sebaliknya, ia tersenyum tipis.
"Kalau begitu, biar kutunjukkan buktinya. Ah Fu, majulah."
Ah Fu melangkah maju, mengambil posisi kuda-kuda dengan pedang kayu latihannya. Ia memperagakan Teknik Pedang Dasar—Versi Sempurna yang sudah ia latih selama beberapa hari terakhir di bawah bimbingan Zhou Chen.
Gerakannya jauh berbeda dari sebelumnya. Lebih efisien, lebih mengalir, tanpa jeda kikuk di antara transisi gerakan. Bahkan Zhao Kai, sang mantan tentara yang sudah bertahun-tahun mengamati berbagai teknik pedang di medan perang, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Itu... bukan teknik dasar biasa," gumamnya, matanya menyipit mengamati setiap gerakan dengan seksama. "Rangkaiannya rapi sekali. Tidak ada tenaga yang terbuang percuma."
Setelah selesai, Ah Fu berhenti, napasnya sedikit terengah namun matanya berbinar bangga.
"Dua hari lalu," kata Zhou Chen, menatap keempat orang lainnya satu per satu, "Ah Fu mengalahkan dua prajurit senior dalam latihan tanding. Bukan karena bakatnya tiba-tiba berubah dalam semalam. Tapi karena tekniknya diperbaiki dari akar kesalahannya."
Hening sejenak. Keempat orang itu saling bertukar pandang, keraguan di wajah mereka perlahan mulai tergantikan oleh sesuatu yang lain—harapan yang nyaris mereka lupakan.
"Aku tidak bisa menjanjikan kalian akan langsung menjadi kuat dalam semalam," lanjut Zhou Chen. "Tapi aku bisa menjanjikan satu hal: aku akan melihat kalian sebagaimana kalian seharusnya dilihat. Bukan sebagai orang buangan. Tapi sebagai apa yang sebenarnya kalian mampu menjadi."
Latihan dimulai hari itu juga.
Zhou Chen mengarahkan Mata Dewa-nya satu per satu ke setiap orang, mencatat kelemahan dan potensi mereka ke dalam Kitab Langit Tanpa Akhir, lalu menyusun teknik yang telah disempurnakan sesuai kebutuhan masing-masing.
Yue Er Potensi: 76% (Tinggi) Kelemahan: Fokus mata terlalu tegang saat membidik, menyebabkan getaran halus pada tangan Teknik yang disarankan: Pernapasan Pemanah Tenang
Paman Guo Bukan tipe kultivator bela diri, melainkan pengrajin Potensi tersembunyi: Pemahaman logam tingkat tinggi, mampu meningkatkan kualitas senjata hingga 40% dari standar istana Catatan: Selama ini dibatasi oleh bahan baku dan metode pemanasan yang salah
Zhao Kai Potensi: 68% (Tinggi) Kelemahan: Trauma psikologis dari pertempuran sebelumnya, menyebabkan keraguan saat mengambil keputusan cepat Catatan: Sebenarnya memiliki insting taktis yang tajam, hanya butuh kepercayaan diri kembali
Setiap orang memiliki jalan berbeda menuju kekuatan mereka masing-masing—bukan sekadar latihan fisik semata, tetapi pemahaman mendalam tentang apa yang selama ini menghalangi mereka.
Bagi Paman Guo, misalnya, Zhou Chen tidak memintanya berlatih pedang atau bela diri. Sebaliknya, ia memberikan catatan rinci tentang metode pemanasan logam yang lebih optimal—pengetahuan yang seharusnya mustahil diketahui oleh seorang pangeran muda, namun entah bagaimana, sang pangeran tampak begitu yakin akan kebenarannya.
"Bagaimana Yang Mulia bisa tahu hal seperti ini?" tanya Paman Guo, terheran-heran membaca catatan yang diberikan padanya.
"Aku banyak membaca," jawab Zhou Chen singkat, jawaban yang mulai menjadi semacam alasan universal untuk setiap kemampuan anehnya yang muncul tiba-tiba.
Untungnya, di kerajaan kecil seperti Zhou, di mana perpustakaan istana memang menyimpan berbagai catatan kuno yang jarang dibaca siapa pun, alasan itu—meski terdengar sederhana—cukup masuk akal untuk tidak menimbulkan kecurigaan berlebihan.
Minggu-minggu berikutnya berlalu dengan cepat. Kelima orang itu berlatih setiap pagi sebelum menjalankan tugas mereka masing-masing, dan setiap malam, Zhou Chen menghabiskan waktu di ruang rahasia, memperdalam pemahamannya sendiri tentang Mata Dewa dan Kitab Langit Tanpa Akhir.
Perubahan mulai terlihat jelas.
Xiao Hei, yang dulunya kesulitan bahkan untuk mengalirkan tenaga dalam dengan benar, kini mulai menunjukkan kemajuan pesat setelah teknik pernapasannya diperbaiki total. Yue Er yang dulu hanya penimbang barang biasa, kini bisa mengenai sasaran kecil dari jarak lima puluh langkah dengan konsisten. Bahkan Zhao Kai, yang dulunya menunduk malu setiap kali nama lamanya disebut, kini mulai berani angkat bicara dalam diskusi strategi kecil-kecilan yang sesekali diadakan Zhou Chen.
Namun di antara semua perubahan itu, ada satu hal yang paling penting bagi Zhou Chen—sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar peningkatan kekuatan.
Loyalitas.
Kelima orang itu, yang dulunya dibuang dan diabaikan oleh dunia, kini mengikuti Zhou Chen bukan karena paksaan atau kekuasaan jabatannya sebagai pangeran, melainkan karena satu alasan sederhana: ia adalah satu-satunya orang yang benar-benar melihat mereka sebagaimana mereka seharusnya dilihat.
Malam itu, sambil menatap kelima orang yang tertidur lelap setelah latihan panjang di ruang istirahat sederhana yang telah ia sediakan bagi mereka, Zhou Chen tersenyum tipis pada dirinya sendiri.
Ini baru permulaan, pikirnya. Lima orang. Tapi kelak, ini akan menjadi jauh lebih besar dari yang siapa pun bayangkan.
Ia belum tahu bahwa fondasi kecil yang ia bangun malam itu, akan menjadi cikal bakal dari pasukan yang kelak ditakuti bahkan oleh kerajaan-kerajaan besar di seluruh benua.
Namun sebelum kekuatan itu bisa tumbuh lebih jauh, ada ancaman lain yang mulai mendekat—ancaman yang datang bukan dari luar, melainkan dari dalam istananya sendiri.
Bersambung ke Bab 6 — Mata-Mata di istana