NovelToon NovelToon
Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:48k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.

Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.

Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.

Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.

Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Memperbaiki

Kabar tentang Permaisuri yang telah siuman kembali menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru istana. Bukan kelegaan yang muncul, melainkan ketakutan yang semakin dalam di hati para pelayan. Nama Mo Yuuran kembali disebut-sebut dengan bisikan penuh ketakutan seolah badai lama akan kembali menerjang.

Tentu siapa yang tidak takut dengan wanita kejam itu. Baru beberapa hari mereka sedikit bernapas lega karena Permaisuri tidak sadarkan diri. Tapi kini ia telah sadar.

Yang membuat suasana semakin gempar adalah kabar lain yang tak kalah mengejutkan bagi para pelayan dan juga anggota istana lainnya. Ning Ning, pelayan kesayangan Permaisuri disebut-sebut telah menerima hukuman cambuk karena dianggap tidak sopan.

“Xia Lu, katakan pada kami itu tidak mungkin, bukan?” tanya salah satu pelayan dengan suara bergetar tapi juga penasaran.

Mereka berkerumun di paviliun pelayan, menatap Xia Lu dengan penuh rasa ingin tahu sekaligus takut.

“Benarkah Ning Ning yang dihukum?” sahut pelayan lain cepat. “Bukan kau? Bukankah biasanya kau yang—”

Ia terdiam, namun semua orang tahu maksudnya.

“Tidak mungkin,” bisik seorang pelayan lainnya sambil menggeleng. “Ning Ning adalah orang kepercayaan Permaisuri. Mana mungkin dia dihukum?”

Xia Lu hanya diam. Tangannya bergerak pelan mengambil salep, lalu mengoleskan salep pada luka di lengannya, sementara pikirannya masih dipenuhi kejadian sebelumnya. Ia sendiri belum sepenuhnya percaya.

Selama ini, Permaisuri Mo Yuuran selalu memandangnya dengan dingin, bahkan penuh kebencian. Hanya karena ia adalah pelayan yang dikirim oleh Kaisar, ia dijadikan sasaran amarah karena Ning Ning. Padahal, tujuan Kaisar mengirimnya untuk menjaga Permaisuri.

Namun hari ini semuanya terasa berbeda. Tatapan itu bukan kebencian. Melainkan rasa bersalah.

Xia Lu mengerjap pelan, seolah ingin menghapus bayangan itu dari pikirannya. “Atau mungkin itu hanya sandiwara?” gumamnya dalam hati, ragu.

“Xia Lu!” suara seseorang memecah lamunannya. “Kau belum menjawab! Apa benar Ning Ning yang dihukum?”

Xia Lu menghela napas pelan. Ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini, apalagi membicarakan Permaisuri secara sembarangan.

“Sudahlah,” katanya singkat. “Lebih baik kalian kembali bekerja. Jangan membuat masalah, ingat dinding istana juga punya telinga.”

Namun ucapannya justru membuat para pelayan semakin penasaran.

“Jadi itu benar?” desak seorang pelayan, melangkah lebih dekat. “Ning Ning benar-benar dihukum?”

“Bagaimana bisa? Apa yang dia lakukan sampai membuat Permaisuri murka?” sambung yang lain.

Xia Lu tetap diam. Ia hanya terus mengoleskan salep dengan gerakan perlahan, berusaha mengabaikan pertanyaan yang terus menghujaninya.

Salah satu pelayan memperhatikan gerakannya, lalu menyipitkan mata. “Tunggu itu apa di tanganmu?”

Yang lain ikut mendekat, menatap lebih jelas. “Sejak kapan kau punya obat sebagus itu?”

Xia Lu sempat terdiam. Ia tahu jawabannya akan kembali memicu kegemparan. Namun ia tidak mungkin berbohong.

“Ini … salep luka,” ujarnya pelan. “Diberikan oleh Permaisuri.”

Sejenak, susana menjadi hening.

“Apa?!” seru beberapa pelayan bersamaan, suara mereka hampir memekakkan telinga.

“Permaisuri memberimu obat?” tanya seorang pelayan dengan mata membelalak. “Kau tidak sedang bercanda, kan?”

“Itu tidak masuk akal!” sahut yang lain. “Permaisuri bahkan tidak peduli jika kita mati, bagaimana mungkin dia memberimu salep?”

Xia Lu menggenggam wadah kecil itu sedikit lebih erat. Ia sendiri pun masih merasa semua ini seperti mimpi yang aneh.

“Aku tidak berbohong,” katanya pelan namun tegas. “Beliau sendiri yang memberikannya.”

Para pelayan saling berpandangan. Wajah mereka dipenuhi kebingungan, ketidakpercayaan, dan sedikit ketakutan akan perubahan yang tidak mereka mengerti.

“Ini pasti ada sesuatu,” bisik seseorang. “Permaisuri tidak mungkin berubah begitu saja.”

“Benar,” sahut yang lain pelan. “Perubahan seperti itu justru lebih menakutkan.”

Xia Lu terdiam mendengar itu. Tangannya berhenti bergerak, sementara pikirannya kembali mengingat tatapan Mo Yuuran sebelumnya. Lembut dan penuh luka.

Ia menunduk pelan, menggigit bibirnya. “Entah ini awal dari sesuatu yang baik atau justru badai yang lebih besar,” gumamnya dalam hati.

Baru saja para pelayan itu membuka mulut untuk kembali bertanya, tiba-tiba sebuah suara dingin terdengar dari arah pintu. Suara itu tidak keras, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan membeku dalam sekejap.

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

Para pelayan langsung menoleh dengan tubuh kaku. Wajah mereka seketika memucat saat melihat sosok Permaisuri Mo Yuuran berdiri di sana dengan ekspresi datar, matanya menyapu seluruh ruangan tanpa emosi.

Tanpa aba-aba, semua pelayan segera berlutut dan menundukkan kepala. “Salam hormat untuk Yang Mulia Permaisuri,” ucap mereka serempak dengan suara bergetar.

Xia Lu yang semula duduk pun buru-buru berdiri lalu ikut menunduk. Jantungnya berdegup cepat, tidak tahu apakah badai akan kembali datang.

Mo Yuuran melangkah masuk perlahan. Tatapannya berhenti sejenak pada kerumunan itu, lalu ia berkata singkat, “Kembali ke pekerjaan kalian masing-masing.”

Para pelayan terdiam sejenak, seolah tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Biasanya, berkumpul tanpa izin seperti ini akan berujung hukuman berat.

“Apa kalian tidak mendengarku?” suara Mo Yuuran terdengar lebih dingin, membuat bulu kuduk mereka meremang.

“Baik, Yang Mulia!” jawab mereka cepat. Tanpa berani menatap lagi, para pelayan segera berpencar meninggalkan paviliun dengan langkah tergesa.

Xia Lu ikut melangkah mundur, berniat pergi bersama yang lain.

“Kau ingin ke mana?” suara Mo Yuuran menghentikannya.

Xia Lu langsung membeku. Ia menelan ludah lalu menunduk lebih dalam. “Hamba … hendak kembali bekerja, Yang Mulia,” jawabnya polos.

Mo Yuuran menghela napas pelan. Ia memijat pelipisnya sejenak sebelum berkata, “Bukankah aku sudah mengatakan kau harus beristirahat sampai lukamu sembuh?”

Xia Lu terdiam. Tubuhnya sedikit gemetar. “Maaf, Yang Mulia Permaisuri,” cicitnya pelan, takut ucapannya dianggap membantah.

Mo Yuuran menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan. “Kemasi barang-barangmu.”

Xia Lu terkejut. Ia spontan mendongak, matanya membesar. Dalam pikirannya hanya ada satu kemungkinan, ia akan diusir.

“Yang Mulia … hamba—” ucapnya terbata.

“Cepat,” potong Mo Yuuran tanpa menjelaskan. “Jangan membuatku mengulang.”

Xia Lu tidak berani bertanya lagi. Ia segera bergerak, tangannya gemetar saat mengumpulkan pakaian-pakaiannya yang hanya beberapa lembar, sederhana dan lusuh.

Beberapa menit kemudian, ia berdiri kembali dengan bungkusan kecil di tangannya. Mo Yuuran sudah berbalik dan berjalan keluar lebih dulu.

“Ikut denganku,” katanya singkat tanpa menoleh.

Xia Lu hanya bisa menunduk dan mengikuti dari belakang. Setiap langkah terasa berat, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Namun ketika mereka tiba, Xia Lu tertegun. Di hadapannya berdiri Paviliun Phoenix kediaman utama Permaisuri.

Xia Lu mengerjap, tidak yakin dengan apa yang ia lihat. “Yang Mulia … ini .…” ucapnya ragu.

Mo Yuuran melangkah masuk tanpa ragu. “Mulai sekarang, kau akan tinggal di paviliun samping.”

Xia Lu semakin bingung. “Tapi itu adalah paviliun milik Ning Ning,” katanya pelan.

Mo Yuuran berhenti sejenak, lalu menjawab tanpa menoleh, “Sekarang tidak lagi.”

Jawaban itu membuat Xia Lu terdiam. Ia tidak berani bertanya lebih jauh. Dengan ragu, ia akhirnya mengangguk dan melangkah masuk ke paviliun yang ditunjukkan.

Sementara itu, Mo Yuuran berjalan menuju kediamannya sendiri. Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya penuh perhitungan.

Ia sengaja menempatkan Xia Lu di dekatnya. Karena kali ini ia tidak akan lagi membiarkan orang yang tulus padanya disakiti. Dan tentu memiliki niat lain juga.

Di sisi lain istana, suasana berbeda terlihat di sebuah paviliun megah yang dipenuhi aroma teh harum.

Tiga wanita duduk mengelilingi meja kecil, cangkir teh di tangan mereka, namun percakapan yang terjadi jauh dari kata damai. Ketiganya adalah istri kaisar terdahulu.

“Jadi Permaisuri itu akhirnya sadar juga,” ujar Dao Ling dengan senyum tipis yang sarat sindiran. “Aku kira dia akan terus berpura-pura sakit untuk menghindari tanggung jawab.”

Rong mendengus pelan, matanya menyipit. “Atau mungkin dia sedang merencanakan sesuatu lagi. Bukankah itu kebiasaannya? Kabur dari istana, membuat masalah, lalu kembali seolah tidak terjadi apa-apa.”

Dao Ling tertawa kecil. “Benar sekali. Permaisuri seperti itu sungguh memalukan bagi istana.”

Rong menyesap tehnya sebelum berkata dingin, “Yang lebih mengherankan adalah Yang Mulia Kaisar masih mempertahankannya. Padahal masih banyak wanita yang jauh lebih pantas.”

Ucapan itu membuat suasana sedikit berubah. Dao Ling melirik Rong dengan senyum tipis yang mengandung arti lain.

“Seperti dirimu?” tanyanya halus dan tajam.

Rong membalas tatapan itu tanpa ragu. “Setidaknya aku tidak mempermalukan istana. Bukankah kau jga begitu?”

Sementara itu, wanita paruh baya yang duduk di tengah hanya diam. Ia menyesap tehnya perlahan, seolah tidak tertarik pada pertengkaran kecil itu. Dia yang terpilih sebagai ibu suri.

Terlihat matanya yang tenang menyimpan sesuatu yang dalam.

Dao Ling dan Rong tampak saling menyerang, karena keduanya memiliki keinginan yang sama yaitu Kaisar Zi Xuan, putra tiri mereka.

1
tinie
kasian dia lu🤣
dia ketakutan
Maydian li Maydian
lanjut thor lebih banyak up nya
Fia Ayu
Akhirnya nongol jg, othor nya masih kecapean 😢🙏🏻
Atik Kiswati
next...
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Iih jangan janji 😅 siapa tau pas Zi Rui mamggil anda lagi ngadon 🤭
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Nah tusuk juga tu si bonteng Suri
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Iishh Xia Lu ini biarin aja jangan dibangunan, biar aja si bonteng suri nunggu sampe lumutan 🤣🤣
Mama Hasby
semakin seru thooor...😍😍
smngat terus buat up'y ya....💪💪
Icka Soesan
Alhamdulillah up juga terimakasih update nya Thor 🥰🙏🙏, semakin seru ceritanya.
Dew666
Lanjut dong
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Lucu kalian maling teriak maling /Facepalm/
Sekar
lanjut thor💪💪😍😍
Sekar
ckckck jalang teriak jalang
tinie
ya lagian jadi pelayan aja
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar
RheaAdelya
😍
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ini siapa yg tak tau malu
mama_im
mantap👍👍🤣🤣🤣
FAISHAL GAMING
luar biasa
💟노르 아스마💟
whuuuhhhh...keren!!!👏👏👏👏
Allfa Rizky
suka sama cerita spt ini FL nya Badas keren banget gak menye-menye,, sar set eksekusi man taappp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!